NovelToon NovelToon
COLD MAFIA, WILD FLAME

COLD MAFIA, WILD FLAME

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nurizatul Hasana

Damian Alveros adalah CEO berwajah dingin yang memimpin jaringan mafia berbahaya di balik kekuasaannya. Hidupnya terkontrol, tanpa emosi, tanpa celah.

Semua berubah ketika ia bertemu Lyra Arsetha—gadis bar-bar yang tak sengaja menyelamatkannya di negara asing dan tanpa sadar terseret ke dunia gelap yang seharusnya tak pernah ia sentuh.

Ia adalah badai yang tak bisa dikendalikan.
Ia adalah es yang tak bisa dicairkan.

Namun di tengah pengkhianatan, kejar-kejaran maut, dan perang mafia internasional, mereka menemukan satu kebenaran berbahaya:

Semakin mereka mencoba menjauh…
semakin takdir memaksa mereka bertahan bersama.

Ketika cinta lahir di medan perang, hanya ada dua pilihan—
hidup berdampingan… atau hancur bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Tiga hari setelah forum itu, kota masih membicarakan apa yang terjadi.

Sebagian orang mulai menyebutnya sebagai awal perubahan.

Sebagian lagi menyebutnya sandiwara yang terlalu rapi.

Namun api yang sebenarnya tidak muncul di ruang publik.

Ia muncul tengah malam, ketika sebagian besar orang sedang tidur dan merasa aman.

Alarm berbunyi tepat pukul 02.17.

Bukan alarm sistem biasa.

Ini alarm infiltrasi internal.

Ruang kendali menyala dalam hitungan detik. Lampu putih dingin memantulkan bayangan tegang di wajah semua orang yang berlari masuk.

Lucian sudah duduk di kursinya bahkan sebelum layar utama sepenuhnya aktif.

“Ada akses ilegal ke server forum,” katanya cepat, jari-jarinya bergerak di atas layar holografik. “Seseorang mencoba menyuntikkan rekaman.”

“Rekaman apa?” tanya Kael dengan nada rendah tapi tajam.

Lyra berdiri di samping Lucian dan melihat file yang hampir berhasil dipublikasikan secara massal.

Itu potongan video forum.

Tapi diedit.

Diputar sedemikian rupa sehingga terdengar seperti Damian berkata:

“Kami tetap akan mengambil keputusan apa pun yang kami anggap perlu, dengan atau tanpa persetujuan publik.”

Kalimat itu diambil dari konteks diskusi darurat.

Dipenggal.

Dibalik maknanya.

Lyra merasakan dadanya menegang.

“Kalau ini tersebar tanpa klarifikasi, semuanya runtuh,” katanya pelan tapi jelas.

Damian berdiri beberapa langkah di belakang mereka, menatap layar tanpa ekspresi panik.

“Sudah tersebar?” tanyanya tenang.

Lucian menggeleng cepat. “Belum sepenuhnya. Kami berhasil menghentikan rilis utama, tapi beberapa potongan sudah keluar di jaringan bawah tanah.”

Aidan masuk dengan wajah tegang.

“Sentimen publik mulai naik tajam. Orang-orang mengira forum itu memang jebakan legitimasi.”

Kael mengepalkan rahangnya.

“Ini bukan kerja amatir,” katanya. “Ini dirancang untuk meledakkan kepercayaan, bukan sistem.”

Damian melangkah maju perlahan.

“Lacak sumbernya,” katanya. “Jangan hanya server perantara. Aku ingin tahu siapa yang memulai ini.”

Lucian berhenti sejenak sebelum menjawab.

“Aku bisa mempercepat pelacakan dengan metode agresif,” katanya pelan. “Tapi itu berarti menembus beberapa jaringan sipil.”

Lyra menoleh cepat.

“Itu berarti kita melanggar prinsip yang baru saja kita deklarasikan.”

Lucian menatapnya langsung.

“Dan kalau kita tidak melakukannya, narasi itu akan menguasai kota dalam waktu beberapa jam.”

Ruangan menjadi panas.

Bukan karena suara yang meninggi.

Tapi karena keputusan ini akan menentukan arah mereka ke depan.

Damian tidak langsung menjawab.

Ia menatap layar, lalu menatap timnya satu per satu.

“Apa menurut kalian ini kebetulan?” tanyanya pelan.

Aidan menggeleng. “Tidak. Ini respons terhadap forum. Seseorang tidak ingin percakapan berjalan.”

Lyra menyilangkan tangannya, mencoba menenangkan pikirannya sendiri sebelum berbicara.

“Kalau kita menyerang balik secara agresif sekarang, kita membuktikan narasi itu benar,” katanya perlahan tapi tegas. “Mereka akan bilang, ‘lihat, mereka hanya peduli pada citra, bukan prinsip.’”

Lucian menekan rahangnya.

“Dan kalau kita tidak bertindak cepat, mereka akan membakar reputasi kita hidup-hidup.”

Damian akhirnya berbicara dengan suara yang lebih dalam dari biasanya.

“Kita tidak akan menembus jaringan sipil,” katanya tegas. “Tapi kita juga tidak akan diam.”

Lucian menatapnya.

“Lalu bagaimana?”

Damian menoleh ke Raven.

“Rilis rekaman lengkap. Tanpa edit. Tanpa sensor. Biarkan orang melihat konteksnya sendiri.”

Raven mengangkat alis.

“Itu berisiko. Ada bagian diskusi darurat yang bisa disalahartikan.”

Damian mengangguk.

“Kepercayaan tidak bisa setengah-setengah,” katanya pelan. “Kalau kita percaya pada transparansi, ini saatnya membuktikan.”

Lyra menatapnya dengan campuran kagum dan cemas.

“Kau tahu ini bisa jadi bumerang,” katanya lebih lembut.

Damian menatapnya kembali.

“Kalau ini bumerang, setidaknya itu karena kita memilih terbuka, bukan karena kita bersembunyi.”

---

Dua jam kemudian, rekaman lengkap forum dipublikasikan di semua kanal resmi dan independen.

Tanpa potongan.

Tanpa musik dramatis.

Hanya percakapan apa adanya.

Reaksi kota terbagi tajam.

Beberapa orang mulai menyadari manipulasi edit yang beredar.

Beberapa tetap marah, mengatakan bahwa kalimat itu tetap menunjukkan kecenderungan otoriter.

Dan di tengah kekacauan opini itu, sesuatu yang lebih panas terjadi.

Ledakan kecil di gardu distribusi listrik bagian timur kota.

Bukan sabotase besar.

Tapi cukup untuk memicu ketakutan.

Kael berdiri tegak ketika laporan masuk.

“Ini eskalasi,” katanya tegas. “Seseorang sedang mencoba menciptakan atmosfer krisis.”

Lucian akhirnya menemukan sesuatu di layar.

“Aku punya jejak,” katanya cepat. “Injeksi video itu berasal dari jaringan yang pernah digunakan Orion. Tapi alamatnya sudah berpindah tangan.”

Lyra merasakan dingin menjalar di punggungnya.

“Jadi ini bukan hanya Arsen,” katanya pelan.

Damian menatap layar yang kini menampilkan lokasi samar di pinggiran kota.

“Tidak,” katanya dengan nada yang lebih keras dari sebelumnya. “Ini seseorang yang ingin mengubah percakapan jadi konflik.”

Hening satu detik.

Lalu Kael berkata dengan suara yang tidak lagi menahan diri.

“Kita tidak bisa menghadapi ini hanya dengan forum dan transparansi. Kita harus bergerak.”

Damian menatapnya.

“Siapkan tim,” katanya tegas. “Kali ini kita tidak datang untuk berdiskusi.”

---

Sementara itu, Arsen berdiri di tengah kerumunan kecil yang memprotes di luar gedung publik.

Ia terlihat bingung melihat eskalasi yang terjadi.

Seseorang mendekatinya dari belakang.

Pria yang sama seperti sebelumnya.

“Kau lihat?” katanya pelan di telinga Arsen. “Mereka tidak pernah benar-benar berubah. Semua ini hanya permainan citra.”

Arsen menatap layar ponselnya yang menampilkan rekaman lengkap forum.

“Mereka merilis semuanya,” katanya pelan. “Itu bukan langkah orang yang ingin menyembunyikan sesuatu.”

Pria itu tersenyum tipis.

“Kadang keterbukaan adalah cara paling cerdas untuk mengendalikan persepsi.”

Arsen terdiam.

Api keraguan kembali dinyalakan.

Dan di saat yang sama, sirene mulai terdengar dari kejauhan, memecah malam yang tadinya hanya penuh debat menjadi malam yang penuh kemungkinan benturan nyata.

---

1
Cicih Sophiana
Lyra👍👍👍
Cicih Sophiana
Lara dan Damian seperti nya nanti berjodoh
Cicih Sophiana
apa Damian mafia?
Cicih Sophiana
cerita nya seru...cewek yg keren
Cicih Sophiana
Lyra cewek keren...👍
Cicih Sophiana
hadir ach thor...
seperti seru nih...
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
cape aku thor.. kayak aku yang berlari, sembunyi .. hampir kehilangan nyawa😭 kapan giliran dia yang dburu🤣🤣
adisty aulia
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
jebakan demi jebakan kapan mereka yang di depan
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
deg² an thorr
☕︎⃝❥ᴍᴀʀɪᴀ
keren cerita nya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!