Aroel Mahardika kembali ke desa setelah lima tahun pergi, diam-diam tanpa memberi tahu siapa pun. Tujuannya hanya satu: menenangkan hati yang selalu gelisah. Tapi desa itu menyimpan lebih dari sekadar ketenangan.
Di Saung Langit, tempat yang pernah menjadi saksi masa lalunya, Aroel dipukul secara misterius. Tidak ada saksi, tidak ada jejak, hanya rasa sakit yang nyata. Di tengah sawah, seorang bocah kecil muncul dan menghilang dengan tatapan yang penuh teka-teki. Warga desa terlalu tenang, terlalu diam, seolah menyimpan sesuatu yang tidak ingin mereka ungkapkan.
Siapa yang memukulnya?
Apa maksud bocah itu selalu muncul di tempat yang salah?
Dan rahasia apa yang selama ini disembunyikan oleh desa dan Saung Langit?
Setiap langkah Aroel menimbulkan pertanyaan baru, dan setiap jawaban yang ia dapat justru menimbulkan lebih banyak ketegangan. Dalam atmosfer yang menekan, emosinya meledak antara marah, takut, salah tingkah, dan penasaran. Masa lalu yang kelam, rahasia yang tersembunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arroels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wajah Yang Menjadi Misteri
Malam turun perlahan di atas kota, membawa hujan yang tidak deras, tapi cukup untuk membuat udara terasa lebih dingin dari biasanya. Langit seperti menahan sesuatu. Tidak benar-benar menangis, tapi juga tidak benar-benar tenang.Di teras belakang rumah besar itu, seorang bocah sepuluh tahun duduk sendirian.Kakinya menggantung di anak tangga terakhir. Ujung sandal karetnya menyentuh genangan air tipis yang terbentuk di bawah talang. Setiap tetes hujan jatuh, riaknya melebar, lalu hilang. Sama seperti hari-harinya.Di dalam rumah, lampu menyala terang.
Suara orang dewasa terdengar samar. Tegas. Berwibawa. Penuh perintah.Ia tidak dipanggil.
Ia memang jarang dipanggil.Herman memeliharanya. Memberinya pakaian, makanan, tempat tinggal. Tidak pernah membiarkannya kelaparan. Tidak pernah membiarkannya benar-benar terluka. Tapi juga tidak pernah memeluknya.Hubungan mereka lebih mirip penjaga dan benda berharga.Dijaga.Diamankan.
Dikendalikan.
Bocah itu menunduk, memandangi telapak tangannya. Di sana ada tanda kecil. Bukan luka. Bukan goresan. Seperti bentuk samar yang lahir bersama dirinya.Ia sering menatapnya diam-diam.Entah kenapa setiap melihat tanda itu, dadanya terasa hangat sekaligus kosong.
Ia tidak ingat masa kecilnya sebelum Herman. Ia tidak tahu ruoa wajah ibu dan ayahnya.Yang Ia tahu sejak kecil sudah berada di tempat Herman.
Sejak itu hidupnya seperti ruangan tertutup. Aman. Tapi tanpa jendela.Ia mendengar langkah kaki mendekat dari dalam rumah. Refleks tubuhnya tegang.Herman berdiri di ambang pintu.
“Kenapa duduk di luar?” suaranya datar.
Bocah itu tidak menoleh.
“Hujan,” jawabnya singkat.
“Aku tahu itu hujan.”
Sunyi sebentar.
“Masuk. Kau bisa sakit.”
Bocah itu tetap duduk. Hujan mengenai rambutnya. Air menetes ke pelipisnya. Ia tidak benar-benar peduli.Herman berjalan mendekat. Berdiri di sampingnya. “Jangan buat orang repot.”
Kalimat itu bukan bentakan. Tapi lebih menyakitkan daripada bentakan.Bocah itu akhirnya berdiri pelan. Masuk tanpa berkata apa-apa. Melewati Herman begitu saja.Herman tidak menahannya.Tidak pernah.
Di sisi lain kota, di sebuah rumah yang lebih sederhana namun terasa hangat, Aroel berdiri di depan jendela. Hujan yang sama jatuh di sana.
Ia tidak tahu kenapa malam itu dadanya terasa berat.Putri keluar dari dapur membawa dua cangkir teh hangat. “Kamu melamun lagi.”
Aroel tersenyum kecil, tapi tidak benar-benar tersenyum. “Aku cuma… kepikiran sesuatu.”
“Apa?” Aroel menggeleng pelan. “Entah. Rasanya seperti ada bagian dari hidupku yang hilang. Seperti… aku lupa sesuatu yang penting.”
Putri terdiam. Ada rasa yang ikut tersentuh dalam dirinya." Tapi Aku tidak Ingat sama sekali,ntahlah ". Putri menunduk. “Mungkin cuma perasaan.”
“Mungkin,” jawab Aroel pelan.
Tapi rasa itu tidak pergi.Ia teringat sosok bocah yang muncul tiba-tiba beberapa kali di sekitar mereka. Di saung. Di pasar. Di halaman.
Setiap kali muncul, hanya sebentar.
Dan setiap kali bocah itu menatapnya, ada sesuatu yang membuat jantungnya terasa aneh.
Bukan takut.Bukan curiga.
Tapi seperti rindu yang tidak punya nama.
Di kamarnya, bocah itu berbaring menghadap langit-langit. Lampu kamar dimatikan. Hanya cahaya hujan yang memantul dari jendela.
Ia tidak bisa tidur.Tiap kali memejamkan mata, yang muncul adalah wajah pria di halaman itu. Cara pria itu melindungi perempuan di sampingnya. Cara pria itu menoleh cepat ketika ia berdiri di dekat pagar.Tatapan itu.Hangat.
Berbeda.Tidak seperti tatapan orang-orang di rumah ini.Ia berguling, memeluk bantal.
“Kenapa aku pengin balik ke sana…” gumamnya pelan.Ia tidak mengerti.
Ia selalu ingin kabur.
Bukan karena ia tidak diberi makan. Bukan karena ia dipukul. Herman tidak pernah memukulnya.Tapi rumah ini terasa seperti tempat ia disimpan, bukan tempat ia dibesarkan.
Setiap kali ia kabur, ada dorongan aneh di dalam dirinya. Kaki-kakinya seolah tahu harus pergi ke mana.Dan anehnya… selalu berakhir di tempat yang sama.Dekat Aroel.
Seolah ada benang tak terlihat yang menariknya.
Ia menyentuh tanda di tangannya lagi.
“Siapa aku sebenarnya…” bisiknya.
Matanya mulai panas. Ia membalik tubuhnya menghadap dinding. Ia tidak suka menangis.
Tapi air mata tetap jatuh.Pelan.Tanpa suara.
Herman duduk sendiri di ruang kerjanya.
Ia tidak benar-benar kejam. Tapi ia juga tidak pernah belajar menjadi lembut.
Bocah itu ia pelihara sepuluh tahun lalu,Ketika Mengejar Aroel.dan Anak buah Herman Menemukan bocah itu dan menyerahkannya Pada Herman.Yang ia lihat waktu itu hanya seorang anak kecil dengan tanda aneh di tubuhnya.Dan sesuatu dalam pikirannya langsung bekerja.Bukan perasaan.Bukan belas kasih.Strategi.Anak itu bisa berguna.
Dan sejak saat itu, ia menjaganya. Memberinya pendidikan terbaik. Melatihnya diam-diam. Mengawasinya.
Tapi anak itu… selalu kabur.
Seolah ada yang memanggilnya.
Herman menghela napas panjang.
“Kau mau ke mana sebenarnya…” gumamnya.
Ia tidak tahu bahwa jawaban itu lebih sederhana dari yang ia bayangkan.
Anak itu hanya ingin pulang.
Pagi datang dengan langit kelabu.
Bocah itu bangun dengan mata sembab. Ia menyembunyikannya dengan air dingin di wajahnya.
Herman sudah menunggu di ruang makan.
“Tidurmu?”
“Baik.”
Bohong.
Herman menatapnya lama. “Jangan kabur lagi.”
Bocah itu terdiam.
“Aku tidak suka dikhianati.”
Kalimat itu berat. Terlalu berat untuk anak sepuluh tahun.
Bocah itu menunduk. “Aku cuma jalan-jalan.”
“Kau selalu jalan-jalan ke tempat yang sama.”
Sunyi.
Herman menyandarkan tubuhnya. “Siapa yang kau cari?”
Bocah itu mengangkat wajahnya pelan. Untuk pertama kalinya ada keberanian kecil di matanya.
“Aku nggak tahu.”
Dan itu jawaban paling jujur yang pernah ia berikan.
Herman terdiam.
Di rumah lain, Putri Seperti biasa duduk di Depan,Seakan Ia tidak memiliki memori masa lalu.Ia merasa belum benar-benar aman dan tetap Waspada,Kepercayaan terhadap Aroel pun sudah mulai berkembang lebih jauh.
Malam semakin larut...Purnama bersinar terang,Hujan mereda,awan yang cerah.
Bersambung......