Lyra Graceva hanyalah seorang sekretaris teliti yang hidup dalam bayang-bayang trauma ibunya dan status "anak haram". Namun, dunianya runtuh sekaligus bangkit saat bosnya yang obsesif, Sean Nathaniel Elgar, menjeratnya dalam sebuah pernikahan kontrak yang berubah menjadi kepemilikan mutlak. Di balik gairah panas dan sikap posesif Sean, tersembunyi rahasia kelam masa lalu yang melibatkan kedua orang tua mereka. Lyra yang awalnya rapuh, bertransformasi menjadi "Ratu" yang dingin demi membalaskan dendam ibunya dan mengungkap kebenaran tentang asal-usulnya, sementara Sean bersumpah akan menghancurkan siapa pun—termasuk keluarganya sendiri—demi menjaga Lyra tetap di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9. Harga Diri dan Sangkar Emas
Dentingan lonceng di pintu kafe yang biasanya terdengar menenangkan, kini terdengar seperti lonceng kematian bagi Lyra. Tanpa menoleh pun, ia tahu siapa yang datang. Aroma parfum kayu cendana yang mahal dan aura dingin yang menusuk tulang itu hanya milik satu orang.
Sean Nathaniel Elgar berdiri di ambang pintu, napasnya sedikit memburu, matanya merah karena amarah dan kepanikan yang menyatu. Para pengunjung kafe menyingkir, merasakan tekanan dari pria yang tampak seperti dewa kematian yang sedang mencari mangsanya.
Sean melangkah maju, sepatunya beradu dengan lantai kayu, menciptakan irama yang menakutkan hingga ia berhenti tepat di depan meja Lyra.
"Kau berani mematikan ponselmu, Lyra?" suara Sean rendah, namun penuh ancaman yang tertahan.
Lyra tetap menatap keluar jendela, ke arah gedung rumah sakit. Ia bahkan tidak berkedip. "Saya sedang izin sakit, Pak Sean. Bukankah orang sakit berhak untuk istirahat dari gangguan?"
"Gangguan?" Sean menarik kursi di depan Lyra dengan kasar dan duduk. "Aku mencarimu ke seluruh penjuru kota. Aku mengerahkan tim keamanan hanya untuk menemukanmu duduk di kafe murahan ini sambil melamun? Kau tahu berapa banyak rapat yang aku tinggalkan?"
Lyra akhirnya menoleh. Matanya yang sembap dan merah menatap Sean dengan datar. "Kenapa repot-repot? Bukankah hiburan bisa dicari di mana saja? Anda bisa memanggil Celia kembali. Dia pasti jauh lebih menghibur daripada sekretaris yang 'sakit' ini."
Rahang Sean mengeras. "Jadi karena itu? Karena kata-kata itu kau kabur seperti pengecut?"
"Pengecut?" Lyra tertawa getir, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Saya bukan kabur, Sean. Saya hanya sadar diri. Saya sadar di mana tempat saya. Ternyata benar kata orang-orang, pria seperti Anda tidak pernah benar-benar menikahi wanita seperti saya. Anda hanya membeli 'hak pakai' atas diri saya."
"Jaga bicaramu, Lyra Graceva!" bentak Sean, tangannya mengepal di atas meja.
"Kenapa? Apa saya salah? Di depan wanita itu, Anda menyebut saya 'hiburan'. Di depan ibumu pun mungkin saya hanya dianggap sebagai pelayan yang beruntung. Semalam... semua yang kita lakukan... apakah itu juga bagian dari hiburan Anda?"
"Kau tahu aku tidak bermaksud begitu!" Sean mencondongkan tubuhnya, suaranya kini bergetar antara marah dan frustrasi. "Celia mendesakku. Ibuku mendesakku. Kau sendiri yang memintaku merahasiakan pernikahan ini, bukan? Lalu apa yang kau harapkan aku katakan padanya? Bahwa kau adalah istriku? Bahwa aku sudah mengikatmu selamanya? Bukankah kau yang ingin kita tetap profesional di kantor?"
Lyra menggelengkan kepala, air mata kembali jatuh membasahi pipinya. "Ada perbedaan besar antara merahasiakan pernikahan dan merendahkan istri Anda sendiri, Sean. Anda bisa bilang saya asisten penting, Anda bisa bilang saya tunangan Anda jika perlu—tapi 'hiburan'? Kata itu membunuh sisa harga diri saya yang selama ini saya jaga di depan ibu saya."
"Lyra..."
"Anda tahu kenapa saya sangat menjaga diri?" suara Lyra melemah, dipenuhi kepedihan. "Karena saya lahir tanpa ayah. Sepanjang hidup saya, orang-orang memandang ibu saya rendah. Saya tidak mau menjadi seperti itu. Saya bekerja keras, saya menjadi sekretaris terbaik Anda, saya menjaga kehormatan saya sampai semalam... hanya untuk disebut 'hiburan' oleh pria yang memilikinya?"
Hening menyergap meja mereka. Sean terdiam, kata-kata Lyra menghantam ego dan hatinya lebih keras daripada kehilangan kontrak bisnis miliaran rupiah. Ia melihat kehancuran di mata istrinya, sebuah kehancuran yang ia ciptakan sendiri dengan lidahnya yang tajam.
"Aku bicara begitu karena aku ingin dia pergi," ujar Sean dengan suara yang jauh lebih lembut, hampir seperti bisikan permohonan. "Aku tidak ingin dia menyentuhmu atau mencari tahu tentang kita. Jika aku bilang kau penting, dia akan menghancurkanmu. Celia tidak semudah itu menyerah."
"Lalu dengan menyebut saya 'hiburan', Anda pikir Anda melindungi saya? Tidak, Sean. Anda hanya menegaskan apa yang selama ini saya takutkan. Bahwa bagi Anda, saya tetaplah gadis kecil yang tidak punya latar belakang, yang bisa Anda mainkan sesuka hati karena Anda sudah membayar biaya rumah sakit ibu saya."
Sean merengsek maju, meraih tangan Lyra dan menggenggamnya kuat, seolah takut jika ia melepaskannya, Lyra akan hilang selamanya. "Demi Tuhan, Lyra. Aku mencintaimu sejak hari pertama aku melihatmu di zebra cross itu. Kau pikir aku melakukan semua ini, menjeratmu, memaksamu menikah denganku hanya untuk hiburan? Aku terobsesi padamu hingga aku gila! Aku tidak bisa melihat pria lain menatapmu!"
"Tapi itu obsesi bukan cinta, Sean," bantah Lyra, mencoba menarik tangannya namun gagal. "Cinta itu menghargai. Cinta itu tidak membuat pasangannya merasa seperti sampah di depan orang lain."
"Maka ajari aku!" Sean berseru, membuat beberapa pengunjung kafe menoleh. Ia tidak peduli. "Ajari aku cara mencintaimu dengan benar jika caraku selama ini salah. Tapi jangan pernah pergi dariku. Jangan pernah mematikan ponselmu dan menghilang ke tempat seperti ini lagi. Aku nyaris gila memikirkan kau kembali ke pelukan pria seperti Deryl."
Lyra menatap genggaman tangan Sean. "Anda tidak takut kehilangan saya, Sean. Anda hanya takut kehilangan kendali atas barang milik Anda."
"Kau bukan barang!" Sean berdiri, menarik Lyra ikut berdiri bersamanya. "Ayo pulang. Kita selesaikan ini di rumah."
"Saya mau di sini. Saya mau melihat ibu saya pulang kerja."
"Ibumu akan baik-baik saja. Aku sudah menempatkan dua orang untuk menjaganya. Tapi kau... kau harus ikut denganku sekarang." Sean mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu, meletakkannya di meja tanpa menghitungnya.
"Sean, lepaskan! Semua orang melihat!"
"Biarkan mereka melihat! Biarkan seluruh dunia tahu kalau aku sedang membawa pulang istriku yang keras kepala!" Sean tidak memberi celah. Ia merangkul pinggang Lyra dengan posesif, menuntunnya keluar kafe dengan langkah yang tak terbantahkan.
Di dalam mobil, suasana masih tegang. Lyra membuang muka, sementara Sean memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
"Mulai besok, tidak ada lagi syal-syal bodoh itu," ujar Sean tiba-tiba saat mobil berhenti di lampu merah.
"Maksudmu?"
"Aku akan memberitahu seluruh kantor bahwa kau milikku. Tidak ada lagi rahasia. Aku tidak peduli dengan profesionalisme jika itu membuatmu merasa seperti 'hiburan'. Aku akan memasang foto pernikahan kita di lobi jika perlu."
Lyra menoleh dengan mata membelalak. "Kau gila? Kau akan menghancurkan karierku!"
"Aku lebih baik menghancurkan kariermu daripada melihatmu menangis karena kata-kataku sendiri," jawab Sean tanpa ragu. Ia meraih tangan Lyra, mencium punggung tangannya dengan intensitas yang panas. "Siapkan dirimu, Nyonya Elgar. Karena mulai malam ini, aturan mainnya kembali berubah. Tidak akan ada lagi rahasia, dan tidak akan ada lagi pria yang berani memanggil namamu, kecuali aku."
Lyra terdiam. Ia tahu, meskipun ia marah, jerat Sean Nathaniel Elgar kini justru semakin mengencang, melilitnya hingga ke relung hati yang paling dalam.
Rame sih ....
shack... shick.... shock..
cepet terungkapnya ... jebreet jebret...