Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak laki-lakinya itu.
Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.
Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.
Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?
ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Permintaan Maaf
Vanya terbangun dari tidurnya karena alarm di kedua ponsel nya berbunyi secara bersamaan menimbulkan suara berisik yang sangat mengganggu pendengaran.
"Duh, kok badan gw masih gak enak aja ya rasanya. Ini masih hari kamis lagi, masa iya gw izin sakit" oceh Vanya sambil menyiapkan seragam sekolah nya.
"Sarapan di sekolah aja deh"
*****
Vanya baru saja tiba di parkiran motor sekolah nya. Tiba-tiba ada seorang siswi menghampirinya dengan tergesa-gesa.
"Elo Vanya kan? Vanya gw minta maaf. Plisss maafin gw. Gw nggak mau dikeluarin dari sekolah. Plis Vanya maafin gw. Gw kemaren sengaja nabrak elo karena cemburu mantan gw deketin lo" siswi itu berlutut di depan Vanya sambil beberapa kali membungkukkan badan.
Semua murid yang melihat itu menatap ke arah mereka dengan tatapan bertanya-tanya. Beberapa ada yang merekam kejadian itu.
"Lo tuh kenapa sih? Ini maksudnya apa?" tanya Vanya. Jujur ia sangat bingung melihat apa yang siswi itu lakukan.
"Gw kemaren nabrak elo di deket perpus. Lo inget? Setelah itu, keluarga gw tiba-tiba bangkrut dan gw di keluarin dari sekolah ini. Ada nomer asing yang nge hubungin gw dan bilang kalo gw harus minta maaf sama elo" jelas siswi itu dengan wajah ketakutan.
Vanya membaca name tag gadis itu. Silvia Azzahra tertulis di sana.
"Sil_vi_a.... Oke gw inget kejadian itu. Gw udah maafin lo. Lagian gw nggak kenapa-kenapa kok. Semoga kejadian ini nggak terulang lagi. Nanti gw bantu elo untuk ngomong sama pihak sekolah" Vanya mengeja nama gadis itu.
Gadis bernama Silvia itu langsung bangun dengan wajah sumringah. Ia memegang salah satu tangan Vanya.
"Beneran lo mau bantuin gw? Gw janji nggak akan kayak gitu lagi. Gw janji"
Vanya melepas dengan pelan tangan yang Silvia genggam tadi. Sebisa mungkin ia tersenyum ramah agar tidak tersebar kabar buruk tentangnya.
"Iya nanti gw bantuin" jawab Vanya mantap.
"Woi! Lo apain temen gw?" Lea baru saja datang bersamaan dengan Trio Edun.
"Elo? Lo bukan nya yang kemaren nabrak dia ya?" tanya Vano sambil mengingat-ingat.
"Ada apa sih ini?" tanya Rain yang juga baru saja datang.
"Nggak papa. Yuk ke kelas. Udah clear kok" ajak Vanya dengan santai.
Lea dan Rain yang mengerti Vanya pun ahirnya mengalah dan memilih mengikutinya menuju ke kelas mereka.
"Sayanggg. Nanti istirahat ke kantin bareng yaaaaa" teriak Tian dengan kencang karena Lea sudah mulai jauh dari tempat ia berdiri.
"Brisik bangsat! Suara lo ngalahin speaker masjid" omel Vano sambil menutup kedua telinga.
"Udah ayok. Tinggalin aja dia. Gw malu" Radit mengajak Vano meninggalkan Tian yang kini menjadi pusat perhatian usai berteriak kencang.
"Lololo....Vano, Radit, tungguin gw" Tian mengejar langkah kedua sahabatnya.
Sedangkan di kelas Vanya, kini kedua sahabatnya mulai menanyainya berbagai macam pertanyaan.
"Oalah gitu..... Kata gw sih kapok!" komentar Lea dengan pedas usai Vanya menceritakan semuanya.
"Om Danu keren banget njir, lo cuman di gituin aja langsung di bikin bangkrut keluarga tuh cewek, apalagi beliau tau kalo anak ceweknya di bikin patah hati"
"Tuh kan, lo mah pasti ujung-ujungnya bahas itu mulu. Males gw" raut wajah Vanya langsung berubah masam.
"Eh iya iya maap. Jangan ngambek plisss" mohon Rain dengan wajah takut.
"Haha muka lo tuh kaya tikus kejepit" ledek Vanya.
"Wah emang kampret nih anak" ucap Lea sambil geleng-geleng kepala.
"Ganti baju yuk guys, jam pertama olahraga nih" ajak Rain sambil melihat ke arah jam di pergelangan tangan nya. 10 menit lagi bel masuk berbunyi.
Raza menghampiri meja mereka bertiga. Semenjak Lea memiliki kekasih, dengan inisiatif Raza memilih pindah tempat karena tak ingin mendapat masalah.
"Vanya, lo ngga papa kan? Gw baru aja liat berita di akun gosip sekolah"
"Gw nggak papa kok. Dia cuman minta maaf aja" jawab Vanya jujur.
"Syukurlah kalo gitu. Yaudah buruan ganti baju, bentar lagi bel" sebelum meninggalkan meja Vanya, Raza mengacak pelan puncak kepala gadis itu lalu berlari dengan cepat sebelum ia kena marah.
"Duh gilak, elo yang di elus malah gw yang baper" ucap Lea dramatis.
"Lebay lo ah. Ayo cepet ganti" Vanya menjitak pelan kepala Lea.
Mereka bertiga pun ahirnya menuju ke toilet bersama untuk berganti seragam olahraga.