"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Alya memegang teguh janjinya. Setiap sore, tanpa absen, ia melewati lorong-lorong putih rumah sakit jiwa yang berbau karbol tajam untuk menemui Rangga. Ia membawakan masakan rumah, buku-buku puitis, dan senyuman yang ia paksakan agar terlihat tulus.
Di sana, Rangga menunjukkan perubahan yang luar biasa. Ia menjadi pasien teladan—tenang, kooperatif, dan selalu meminum obatnya tepat waktu.
"Bagaimana kabarmu hari ini, Mas?" tanya Alya sambil menyuapkan potongan buah apel di taman rumah sakit.
Rangga menatap Alya dengan tatapan yang sangat jernih. Tidak ada lagi kilatan gila atau kemarahan yang meluap. "Aku merasa jauh lebih baik, Alya. Obat-obatan itu... mereka membantu suara-suara di kepalaku menghilang. Aku hanya ingin pulang dan memulai hidup baru bersamamu. Hidup yang normal."
Bahkan tim dokter pun takjub. "Ini adalah pemulihan tercepat yang pernah kami lihat," ujar Kepala Psikiater kepada Alya. "Rangga menunjukkan empati yang tinggi dan kontrol diri yang stabil. Kami yakin gangguan psikotiknya sudah dalam fase remisi total."
Setelah enam bulan menjalani observasi ketat, pengadilan akhirnya memutuskan untuk membebaskan Rangga Dirgantara dengan status sembuh total, meski tetap diwajibkan kontrol rutin.
Malam pertama Rangga kembali di mansion, suasana terasa sangat sunyi. Rangga berdiri di tengah ruang tamu, menghirup aroma rumahnya dengan mata terpejam.
"Akhirnya... aku pulang," bisik Rangga. Ia berbalik dan memeluk Alya dengan lembut—pelukan yang terasa sangat manusiawi, tidak ada cengkeraman posesif seperti dulu.
Alya merasa lega, namun ada sesuatu di lubuk hatinya yang tetap waspada. Ia memperhatikan Rangga yang kini sangat rajin beribadah, memasak untuknya, dan bahkan berbicara lembut pada pelayan rumah. Arka yang baru ini tampak terlalu sempurna untuk menjadi nyata.
Seminggu kemudian, Alya sedang merapikan pakaian di lemari saat ia menemukan botol obat penenang milik Rangga yang seharusnya diminum setiap malam. Botol itu masih penuh. Padahal, Alya selalu melihat Rangga memasukkan obat itu ke mulutnya setiap malam sebelum tidur.
Jantung Alya berdegup kencang. Ia segera menuju dapur dan memeriksa tempat sampah kecil di sana. Di balik tumpukan sisa sayuran, ia menemukan puluhan butir obat yang sudah hancur, sengaja dibuang oleh Rangga
“Dia tidak pernah meminum obatnya...” batin Alya ketakutan.
Malam itu, Alya berpura-pura tidur saat Rangga masuk ke kamar. Ia merasakan Rangga duduk di pinggir ranjang, membelai rambutnya dengan sangat perlahan.
"Kau sangat cantik saat tidak ketakutan padaku, Alya," suara Rangga terdengar, namun nadanya tidak lagi selembut tadi siang. Ada nada dingin yang kembali muncul, seperti es yang menusuk kulit.
Rangga membungkuk, berbisik di telinga Alya yang sedang menahan napas.
"Kau pikir dokter-dokter bodoh itu bisa menyembuhkanku? Tidak ada yang bisa menyembuhkanku, karena aku tidak sakit. Aku hanya sedang berlatih cara menjadi aktor yang lebih baik agar mereka melepaskanku kembali padamu."
Rangga kemudian mencium kening Alya dengan penuh kasih, namun tangan satunya diam-diam mengeluarkan sebuah foto dari balik bantalnya. Itu adalah foto Bima, si asisten magang, yang kini diberi tanda silang merah besar.
"Besok adalah hari pembersihan, Sayang. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkanmu menggagalkannya."
Arka bangkit dan keluar dari kamar dengan langkah tanpa suara.Alya membuka matanya dalam kegelapan, air mata mengalir di pipinya. Arka tidak pernah sembuh.
Bersambung.....
- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/