NovelToon NovelToon
Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Pendekar Naga Bintang : Perjalanan Yang Sesungguhnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Fantasi Timur / Anak Genius / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:109.4k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Lanjutan dari Novel Pendekar Naga Bintang

Gao Rui hanyalah murid lemah di Sekte Bukit Bintang, bocah yatim berusia tiga belas tahun tanpa latar belakang, tanpa pelindung, dan tanpa bakat mencolok. Setelah gurunya, Tetua Ciang Mu, gugur dalam sebuah misi, hidup Gao Rui berubah menjadi rangkaian hinaan dan penyingkiran. Hingga suatu hari, ia hampir mati dikhianati oleh kakak seperguruannya sendiri. Dari ambang kematian, Gao Rui diselamatkan oleh Boqin Changing, pendekar misterius yang melihat potensi tersembunyi dalam dirinya.

Di bawah tempaan kejam Boqin Changing di dunia khusus tempat waktu mengalir berbeda, Gao Rui ditempa bukan untuk cepat menjadi kuat, melainkan untuk tidak runtuh. Ketika kembali, ia mengejutkan sekte dengan menjuarai kompetisi bela diri dan mendapat julukan Pendekar Naga Bintang. Namun perpisahan dengan gurunya kembali memaksanya berjalan sendiri. Kali ini, Gao Rui siap menghadapi dunia persilatan yang kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesembuhan Nao Jiang

Fajar pagi menyelinap perlahan melalui celah-celah jendela kayu. Cahaya lembut itu menyingkirkan sisa-sisa dingin malam, menandai pergantian hari tanpa suara. Burung-burung mulai berkicau di pepohonan sekitar kediaman Keluarga Nao, seolah ikut merayakan datangnya harapan baru.

Hari telah berganti. Di dalam kamar utama, suasana terasa berbeda dari kemarin. Aroma obat masih ada, namun tidak lagi begitu menekan. Udara di ruangan itu terasa lebih “hidup”, seakan sesuatu yang sempat layu kini mulai berakar kembali.

Pintu kamar terbuka pelan. Gao Rui masuk lebih dulu, diikuti Tetua Peng Bei dan putri Nao Jiang. Langkah mereka ringan, nyaris tanpa suara, seolah takut mengganggu keseimbangan rapuh yang baru saja terbentuk.

Di atas ranjang, Nao Jiang terbaring dengan posisi yang sama. Namun kali ini, matanya terbuka lebih jelas. Tatapannya tidak lagi kosong. Meski masih lemah, ada kesadaran yang nyata di sana.

“Paman Jiang,” sapa Gao Rui pelan.

Bibir Nao Jiang bergerak. Awalnya sangat lambat, seperti otot-otot di wajahnya harus diingatkan kembali bagaimana cara bekerja. Lalu terdengar suara… serak, pelan, namun jelas.

“Gao… Rui…”

Satu kata itu saja sudah cukup.

Tetua Peng Bei yang berdiri di samping ranjang seketika membeku. Matanya melebar, lalu perlahan memerah.

Ia melangkah maju setengah langkah, menundukkan badan, menatap wajah Nao Jiang dengan ekspresi yang sulit digambarkan. Antara lega, haru, dan rasa syukur yang mendalam.

“Kau… sudah bisa berbicara…” gumamnya, suaranya tertahan.

Nao Jiang berusaha mengangguk, meski gerakannya masih sangat terbatas. Sudut bibirnya terangkat tipis, sebuah senyum lemah namun tulus.

Gao Rui tidak langsung berbicara lagi. Ia melangkah mendekat dan meletakkan dua jarinya di pergelangan tangan Nao Jiang, menyalurkan sedikit tenaga dalam untuk memeriksa kondisinya. Aliran energi yang ia rasakan kali ini jauh lebih stabil dibandingkan kemarin.

Fondasi tubuh sudah mulai terbentuk kembali, luka-luka lama belum sepenuhnya pulih… namun ada sesuatu yang jelas berbeda.

“Ada perkembangan signifikan,” ucap Gao Rui akhirnya. “Jauh lebih baik dari yang aku perkirakan.”

Ia menarik tangannya dan menghela napas kecil, bukan karena lelah, melainkan karena lega.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Gao Rui menggerakkan cincin ruang di jarinya. Sebuah kilatan cahaya lembut muncul, lalu sebuah botol giok kecil jatuh ke telapak tangannya. Botol itu tampak sederhana, namun permukaannya memancarkan kilau halus yang menandakan kualitasnya tidak biasa.

Saat tutup botol giok itu dibuka, aroma pil yang sangat kuat langsung memenuhi ruangan.

Bukan aroma tajam yang menusuk, melainkan wangi herbal yang dalam, pekat, dan terasa “berat”. Bahkan sebelum pil itu terlihat jelas, energi murni yang terkandung di dalamnya sudah membuat udara di sekitar bergetar halus.

Tetua Peng Bei menghirup napas dalam-dalam, matanya langsung menyipit.

“Aroma ini…” katanya pelan, nyaris berbisik. “apakah ini pil penyembuh luka tingkat tinggi?”

Gao Rui menggelengkan kepala perlahan.

“Bukan,” jawabnya singkat.

Ia mengangkat botol itu sedikit, memperlihatkan pil bulat berwarna hijau pucat di dalamnya, permukaannya halus sempurna tanpa cacat sedikit pun.

“Ini pil penyembuh luka tingkat sempurna.”

Ruangan itu kembali sunyi. Tatapan Tetua Peng Bei terkunci pada pil tersebut. Untuk sesaat, ia bahkan lupa bernapas. Sebagai seseorang yang telah hidup puluhan tahun dan melihat berbagai harta langka, ia tahu betul apa arti sebuah pil tingkat sempurna.

Itu bukan sekadar obat. Itu adalah sesuatu yang bahkan sekte besar pun belum tentu bisa memperolehnya dengan mudah.

“Pil… tingkat sempurna…” ulangnya lirih, seolah takut jika mengucapkannya terlalu keras akan membuat pil itu lenyap.

Gao Rui menutup botol giok itu kembali dengan hati-hati.

“Pil ini buatan guruku,” ujarnya tenang. “Aku sendiri… belum mampu membuat pil penyembuh luka tingkat sempurna.”

Ia tersenyum kecil, senyum yang jujur, tanpa rasa iri ataupun rendah diri. Hanya pengakuan sederhana atas batas kemampuannya saat ini.

Tetua Peng Bei menelan ludah. Kerutan di wajahnya semakin dalam, bukan karena ragu, melainkan karena kekhawatiran.

“Rui’er,” katanya hati-hati. “Apakah… tidak apa-apa jika Saudara Jiang menelan pil sebagus ini?”

Ia melirik Nao Jiang sejenak, lalu kembali menatap Gao Rui.

“Aku takut… gurumu akan murka jika tahu kau memberikan pil tingkat sempurna kepada orang lain. Terlebih lagi kepada seseorang yang bukan murid atau kerabatmu.”

Gao Rui terdiam sejenak. Lalu ia tertawa kecil.

Tawa itu ringan, tulus, tanpa beban.

“Tidak apa-apa, Tetua,” katanya sambil menggeleng. “Guru tidak akan marah.”

Ia menatap pil di tangannya, lalu mengangkat pandangan, sorot matanya jernih.

“Jika guru berada di posisiku,” lanjutnya pelan, namun mantap, “ia juga akan melakukan hal yang sama.”

Tetua Peng Bei menatap bocah di hadapannya lama sekali. Pada saat itu, ia tidak hanya melihat seorang tabib muda berbakat… tetapi seseorang dengan hati yang jauh lebih besar dari usianya.

Di atas ranjang, Nao Jiang menatap Gao Rui dengan mata yang berkaca-kaca, seolah ingin mengucapkan terima kasih. Bukan hanya karena nyawanya diselamatkan, tetapi karena ketulusan yang jarang ditemui di dunia yang keras ini.

Gao Rui tersenyum tipis, lalu mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke Nao Jiang. Dengan gerakan hati-hati, ia membuka mulut Nao Jiang sedikit dan meletakkan pil hijau pucat itu di lidahnya.

Nao Jiang menelan perlahan, setiap gerakan tampak berat, namun tidak ada penolakan. Begitu pil itu masuk ke tubuhnya, sebuah sensasi hangat menyebar dari tenggorokannya, merambat ke seluruh tubuhnya.

Gao Rui menatap tangan kirinya, lalu menyalurkan teknik Phoenix Biru Ektomi. Api biru muncul dari telapak tangannya, menari di udara sebelum menyentuh tubuh Nao Jiang. Setiap sentuhan api itu bukan untuk membakar, melainkan menembus luka-luka dalam yang selama ini tersembunyi, mengobati dan menata kembali jaringan tubuh yang rusak.

Putri Nao Jiang berdiri di sisi ranjang, memegang tangan ayahnya, matanya berkaca-kaca. Ia melihat kilatan biru itu menelusup ke tubuh ayahnya, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, wajah Nao Jiang tampak lebih rileks, napasnya lebih stabil.

Sepuluh menit berlalu, dan perlahan, Gao Rui menarik tangannya. Ia menghela napas panjang, mata memerah sedikit karena tenaga dalamnya terkuras habis. Batas kemampuannya memang hanya sebatas ini, pikirnya. Teknik Phoenix Biru Ektomi, meski luar biasa, membutuhkan seluruh fokus dan kekuatan. Hari ini, itulah batasnya.

“Sudah cukup untuk hari ini,” kata Gao Rui lembut. “Besok… seharusnya Paman Jiang sudah bisa beraktivitas normal kembali, meski kekuatanmu belum sepenuhnya pulih.”

Nao Jiang mengangguk pelan, suaranya masih serak.

“Terima… kasih…”

Putrinya menunduk, menahan air mata, lalu berkata lirih,

“Terima kasih, Tuan Muda Rui…”

Gao Rui tersenyum dan menoleh ke arah Tetua Peng Bei.

“Besok, mungkin kita bisa kembali ke sekte. Tapi… sebelum itu, bolehkah Tetua Bei membantu aku mencari sesuatu?”

Tetua Bei mengerutkan alis, bingung.

“Mencari… sesuatu? Maksudmu apa, Rui’er?”

Gao Rui menatap ke jendela sejenak, lalu memutar pandangan ke arah semua yang ada di kamar. Ia ingat perilaku gurunya yang membeli banyak barang ketika berada di Kekaisaran Zhou ini. Ketika Gao Rui bertanya, gurunya hanya berkata bahwa ini oleh-oleh untuk dibawa ke Kekaisaran Qin nantinya. Entah mengapa kejadian itu membekas di benak Gao Rui.

“Seumur hidup, aku belum pernah memberikan oleh-oleh kepada orang lain… Aku ingin… mulai hari ini, aku ingin memulainya dari kota ini. Setidaknya dari sekarang.”

Tetua Bei menatapnya beberapa detik, lalu bibirnya melengkung membentuk senyum hangat. Perlahan, senyum itu menular ke wajah putri Nao Jiang dan bahkan ke Nao Jiang sendiri. Mereka semua tersenyum, tersentuh oleh ketulusan bocah itu yang sederhana, namun luar biasa.

“Kalau begitu,” kata Tetua Bei akhirnya, suaranya hangat, “Rui’er, mari kita bantu carikan oleh-oleh yang layak. Hari ini, bukan hanya Paman Jiang yang sembuh, tapi hatimu pun… membuat semuanya terasa lebih ringan.”

Gao Rui tersenyum lebar, matanya berbinar, seakan energi baru menyelimuti ruangan itu. Bukan hanya dari penyembuhan, tapi dari ketulusan hati yang menular kepada semua yang ada di sana.

Suasana kamar yang sebelumnya penuh ketegangan kini menjadi hangat, diwarnai senyum, harapan, dan janji kecil yang indah. Hari baru ini memang membawa kesembuhan, namun juga pelajaran tentang kebaikan yang sederhana namun dalam.

1
Eko Lana
mantap ayooo tunjukkan kemampuan mu Gao Rui
Andi Heryadi
ayo Gao Rui basmi semua siluman,biar mereka tahu kehebatanmu.
Tosari Agung
persis seperti gurunya chang er muridmu berkembang
Mamat Stone
🐲💥
Mamat Stone
Pria sejati 😈💥
Mamat Stone
🔪💥
Mamat Stone
👊💥
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
/Tongue/
Mamat Stone
/Drool/
Mamat Stone
💥
Mamat Stone
Mamat Stone
/Joyful//Smirk/
Mamat Stone
bocah tua nakal 😈
Zainal Arifin
joooooooosssss 🤲🤲🤲
Mahayabank
Yaudah lanjuuuut lagi 🔁🔁
Mahayabank
👍👍👍💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!