Bagi Araluna, Arsen Sergio adalah kakak tiri paling menyebalkan yang hobi memanggilnya "Bocil". Namun, di balik kejailan Arsen, Luna menyimpan rahasia besar: ia jatuh cinta pada kakaknya sendiri.
Demi menutupi rasa itu, Luna bertingkah menjadi "cegil" yang agresif dan obsesif. Situasi makin gila saat teman-teman Arsen menyangka Luna adalah pacarnya. Luna tidak membantah, ia justru mulai melancarkan taktik untuk menjerat hati sang kakak.
Di antara status saudara dan perasaan yang dilarang, apakah Luna berhasil membuat Arsen berhenti memanggilnya "Bocil" dan berganti menjadi "Sayang"?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Malam itu di ruang tengah, suasana rumah sebenarnya cukup tenang sebelum Araluna mulai melancarkan aksi "gangguan" rutinnya. Arsen sedang fokus dengan laptop di pangkuannya, mungkin sedang mengerjakan tugas mata kuliah Seni Budaya, sementara Luna berbaring melintang di sofa panjang dengan kaki yang sengaja ia naikkan ke paha Arsen.
Satu menit sekali, Luna akan menggerakkan jempol kakinya untuk menggelitik pinggang Arsen atau sengaja menendang pelan lengan kakaknya agar kursor di layar laptop Arsen melompat.
"Luna, diem atau gue pindahin lo ke gudang?" ancam Arsen tanpa menoleh, suaranya berat dan penuh peringatan yang sudah dihafal Luna sebagai 'ancaman kosong'.
"Gudang kan gelap, Kak. Nanti kalau gue takut, lo juga yang repot harus nemenin gue tidur di sana," sahut Luna santai sambil memindahkan channel TV dari acara berita ke kartun favoritnya.
Tiba-tiba, ponsel Luna yang terletak di atas perutnya bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar. Nama Galaksi terpampang jelas di sana. Luna mendengus kencang, suaranya sengaja dibuat dramatis agar Arsen mendengarnya.
Luna membuka pesan itu dengan malas. Isinya tipikal Galaksi: sok asik, sok akrab, dan sangat gigih.
Galaksi: Lun, besok ada pameran seni di galeri pusat. Gue ada tiket lebih. Mau bareng nggak? Sekalian gue jemput ke rumah lo.
Luna memutar bola matanya. Ia langsung mematikan ponselnya dan menatap Arsen yang masih pura-pura sibuk. Jiwa "cegil"-nya melihat ini sebagai peluang emas untuk memancing reaksi sang kakak.
"Kak! Temen lo tuh, si Galaksi. Sumpah ya, dia ngebet banget sama gue. Geli tau nggak!" seru Luna sambil melempar ponselnya ke samping bantal.
Arsen hanya bergumam pendek, "Hmm."
Kesal karena hanya mendapat respons satu suku kata, Luna bangkit duduk dan menarik paksa laptop Arsen hingga tertutup. "Dengerin dulu! Dia ngajak gue jalan. Dia itu bener-bener bukan tipe gue, Kak. Kenapa sih temen-temen lo nggak ada yang bener?"
Arsen akhirnya menatap Luna. Matanya yang tajam menatap adek tirinya dengan datar. "Galaksi itu pinter, Lun. Dia salah satu mahasiswa terbaik di jurusan kita. Apa salahnya kenalan? Siapa tahu lo jadi waras dikit kalau temenan sama dia."
"Nggak mau!" potong Luna cepat. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Arsen, hingga hidung mereka hampir bersentuhan. Arsen refleks mundur, tapi Luna menahan bahunya.
"Tipe gue itu tinggi, hidungnya mancung, rambutnya berantakan tapi keren, suka pake jaket kulit, dan yang paling penting... namanya Arsen Sergio. Kalau dia kayak lo, baru gue mau!" ucap Luna lantang, suaranya memenuhi ruang tengah.
Arsen terdiam. Ada jeda beberapa detik di mana dunia seolah berhenti berputar. Arsen mendengus kesal, sebuah dengusan yang sebenarnya dilakukan untuk menutupi rasa canggung yang mulai merayap di tengkuknya.
"Lo... beneran udah nggak ketolong, Araluna," gumam Arsen sambil menjauhkan tangan Luna dari bahunya. "Gue ini kakak lo. Lo nggak bisa terus-terusan jadi cegil yang halu begini."
"Halu? Ini namanya konsisten, Kak!" balas Luna pantang menyerah. Ia kembali merebahkan kepalanya di pangkuan Arsen, menatap cowok itu dari bawah dengan tatapan memuja yang berlebihan. "Gue bakal bikin lo sadar kalau Galaksi atau cewek-cewek di kampus itu cuma figuran. Pemeran utamanya itu gue."
Arsen mencoba kembali membuka laptopnya, namun jemari Luna mulai memainkan kancing kemeja Arsen. Arsen memegang tangan Luna, menguncinya agar tidak bergerak lagi.
"Gue bilang ke Galaksi ya, kalau lo mau jalan sama dia," goda Arsen, mencoba menyerang balik.
Wajah Luna langsung berubah garang. "Coba aja lo bilang gitu, gue bakal bakar jaket kulit kesayangan lo yang ada di kamar! Gue bakal bilang ke Papa kalau lo yang ngerusakin vas bunga kesayangan Mama minggu lalu!"
Arsen tertawa, suara tawa yang jarang ia keluarkan tapi selalu terdengar seperti musik di telinga Luna. "Tuh kan, makin kelihatan sifat aslinya. Galaksi bakal lari ketakutan kalau liat lo kayak reog begini."
"Biarin dia lari! Emang itu tujuan gue. Yang penting lo nggak boleh lari," bisik Luna pelan, kali ini dengan nada yang lebih serius, membuat Arsen mendadak kehilangan kata-kata.
Malam itu berakhir dengan Arsen yang akhirnya menyerah mengerjakan tugas dan memilih menonton kartun bersama Luna, meski mulutnya tak henti-henti mengomel setiap kali Luna mencoba memeluk lengannya. Bagi Luna, ini adalah kemenangan kecil. Satu hari lagi berhasil ia lewati dengan tetap menjadi satu-satunya gangguan terbesar di hidup Arsen Sergio.