Zoran Shihai adalah pemuda 19 tahun dari Bumi yang hidup sebagai perampok jalanan. Ia mencuri bukan karena rakus, melainkan demi bertahan hidup. Namun satu kesalahan fatal yakni merampok keluarga kaya yang terhubung dengan dunia gelap membuat hidupnya berubah selamanya.
Dikejar para pembunuh bayaran, Zoran terjebak dalam pelarian putus asa yang berakhir pada sebuah retakan ruang misterius. Ketika ia membuka mata, ia tidak lagi berada di Bumi, melainkan di Dunia Pendekar, sebuah dunia kejam tempat kekuatan menentukan segalanya.
Terlempar ke Hutan Angin dan Salju, Zoran harus bertahan dari cuaca ekstrem, binatang buas, manusia berkuasa, dan kelaparan tanpa ampun. Di dunia ini, uang Bumi tak berarti, belas kasihan adalah kelemahan, dan bahkan seorang pemilik kedai tua bisa memiliki kekuatan mengerikan.
Tanpa bakat luar biasa, tanpa guru, dan tanpa sistem,
Ini adalah kisah tentang bertahan hidup, ironi, dan kebangkitan seorang manusia biasa di dunia yang tidak memberi ampun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kon Aja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku akan menjadi kejahatan itu.
Nging
Kepala Zoran berdengung hebat, seperti dipukul dari dalam.
Pikirannya retak.
Apa hanya begini sikap kalian… saat nyawa anak kalian diancam di depan mata? Tidak melindungi Tidak membela? Tidak melawan?
Boom!
Energi spiritual Zoran meledak liar. Ruian yang berada tepat di bawah pedangnya bergidik,
namun ia tetap diam.
Tidak berteriak.
Tidak menangis.
Tidak memohon.
Itu membuat dada Zoran semakin sesak.
Brak!
Zoran menendang Ruian hingga terpelanting.
Tubuh gadis itu jatuh membentur lantai.
Zoran berbalik, menatap ayah Ruian dengan mata merah menyala, pedangnya teracung tinggi. “Kamu…” suaranya bergetar oleh amarah yang hancur, “Apa kamu masih layak disebut seorang ayah?!”
Boom!
Zoran melesat. Pedangnya berayun, namun bukan dengan sisi tajam, melainkan sisi tumpul.
Brak!
Tubuh ayah Ruian terhempas dan jatuh ke lantai.
Ruian dan ibunya segera berlari menghampiri, menopang tubuh pria itu.
Pemandangan itu membuat pikiran Zoran benar-benar runtuh. “Kalian…” suaranya serak, hampir pecah, “Masih menolong bajingan itu?!”
Tidak ada jawaban.
Mereka hanya bekerja dalam diam, mengangkat, menopang, menenangkan, dengan wajah yang tetap tenang.
Bukan karena tidak peduli.
Tapi karena mereka tidak membenci.
Zoran tertawa.
Apa desa ini yang gila?
Atau… sebenarnya aku?
Ia tidak tahu. Yang ia tahu, hari ini, sesuatu di dalam dirinya benar-benar hancur.
Brak!
Zoran berbalik dan keluar, membanting pintu keras-keras. Suara benturannya menggema di rumah yang tetap sunyi.
Apa itu kedamaian bagi Zoran?
Bagi Zoran, kedamaian adalah keadaan di mana orang-orang bisa hidup tenang, rukun, dan saling menolong. Tidak ada ketakutan yang tidak perlu. Tidak ada ancaman yang terus mengintai.
Lalu bukankah desa ini seperti itu?
Benar. Di desa itu, semua orang tersenyum. Saling membantu. Tidak ada pertengkaran, tidak ada kebencian.
Namun justru di situlah masalahnya.
Desa ini memang damai, bahkan terlalu damai hingga bahkan mereka tidak lagi ingat kalau ada kejahatan yang harus dilawan.
Bagi Zoran, kedamaian tanpa keberanian menghadapi kejahatan bukanlah kedamaian, melainkan pembusukan yang dibungkus senyum.
Jika semua kesalahan selalu dimaafkan, lalu apa bedanya kesalahan kecil dan kejahatan besar?
Jika tidak ada risiko dalam berbuat salah, lalu ke mana perginya tanggung jawab?
Jika seseorang bisa melukai, merusak, bahkan membunuh, lalu hanya diminta “bersiap untuk dimaafkan”, maka yang mati bukan hanya korban,
tapi makna keadilan itu sendiri.
Bagi Zoran, kedamaian sejati adalah tempat di mana seseorang bisa hidup tenang, namun tetap sadar akan setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Tanpa itu, yang tersisa hanyalah manusia-manusia yang membiarkan kebusukan tumbuh, lalu menyebutnya harmoni.
\*\*\*
Tok. Tok. Tok.
Zoran mengetuk pintu sebuah rumah.
Pintu terbuka.
Seorang pria dewasa muncul, wajahnya sama seperti penduduk desa lainnya, tenang, ramah, dan tersenyum hangat.
“Ada yang bisa saya bantu, tuan?” tanyanya.
Zoran menatap pria itu tanpa emosi. “Kalau aku memukulmu… apa kamu akan memaafkanku?”
Pria itu terlihat sedikit bingung, namun senyumnya tidak pudar. Ia mengangguk pelan. “Tentu, tuan. Memaafkan adalah...”
Boom!
Belum sempat kalimat itu selesai, pedang Zoran sudah lebih dulu menghantam wajahnya.
Pria itu terhempas ke dalam rumah.
Zoran tidak menunggu reaksi. Tidak melihat ke belakang. Ia berbalik dan pergi begitu saja.
Bagi Zoran, kedamaian tanpa keberanian hanyalah ilusi. Memaafkan tanpa batas adalah bentuk kekerasan pasif. Dan tidak semua senyum berarti kebaikan. Kebaikan yang menolak melawan, pada akhirnya bisa membunuh makna keadilan itu sendiri.
Dengan pedang bertengger di bahunya, Zoran berjalan menyusuri desa. Langkahnya tenang, wajahnya dingin. Ia mengetuk satu rumah. Lalu rumah berikutnya. Dan berikutnya lagi.
Di setiap rumah, pertanyaannya selalu sama.
“Kalau aku memukulimu dengan sengaja, apa kamu akan marah dan membalasku?”
“Tidak,” jawab mereka. “Aku akan memaafkanmu.”
Boom.
Pedang tumpul menghantam tubuh itu.
“Kalau aku memukuli keluargamu di depan matamu?”
“Aku tidak akan membalas.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku akan merawat mereka setelahnya. Dan jika kau datang lagi… aku akan menyambutmu dengan cara yang sama.”
Boom.
“Aku akan membunuhmu.”
“Jika itu yang kau inginkan, aku tidak bisa menghentikanmu.”
“Kenapa kamu tidak melawan?”
Pria itu tersenyum, tenang. “Jika aku melawan, berarti aku masih ingin menang. Aku tidak hidup untuk menang.”
Boom.
Setiap jawaban yang tidak memuaskan,
setiap ketenangan yang menolak perlawanan,
dibalas Zoran dengan pukulan.
Ia tidak peduli laki-laki atau perempuan.
Ia tidak peduli tua atau muda.
Pedangnya tidak tajam, namun rasa sakitnya tetap nyata.
Dalam hitungan jam, desa itu berkumpul di satu tempat. Bukan untuk melawan. Bukan untuk mengutuk.
Mereka berdiri melingkar, tubuh memar, wajah pucat, namun tidak ada kebencian di mata mereka.
Sebagian duduk bersila.
Sebagian menunduk.
Sebagian… berdoa.
Bukan untuk diri mereka sendiri.
Bukan untuk keluarga mereka.
Melainkan, untuk Zoran.
“Kebaikan yang tidak berani melukai ketenangan akan selalu membiarkan kejahatan berjalan pulang.”
Zoran mengangkat pedangnya, lalu menurunkannya ke bahu. “Kalau begitu, aku akan menjadi kejahatan itu.”
“Agar otak kalian kembali waras.”
“Agar kalian sadar bahwa tidak semua kesalahan layak dimaafkan.”
“Dan agar kalian belajar melawan.”
Ia melangkah ke tengah lapangan tempat para penduduk berkumpul.
Prak. Prak. Prak.
Cangkul, pisau dapur, pisau daging, sabit rumput,
semuanya dilempar ke tanah di hadapan mereka. Benda-benda yang biasa digunakan untuk hidup,
kini ditawarkan untuk melawan.
“Ambil,” ucap Zoran keras. “Dan lawan aku.”
Jika mereka tidak waras, maka biarlah ia yang menyadarkan mereka, meski dengan darah.
Para penduduk saling berpandangan.
Tidak panik.
Tidak berteriak.
Seorang lelaki tua melangkah maju satu langkah.
Matanya menatap senjata di tanah, lalu kembali pada Zoran. “Jika kami mengangkat senjata karena dipaksa,” katanya tenang, “maka yang salah bukan lagi perbuatanmu.”
Seorang wanita berbicara lirih. Bukan dengan ketakutan, melainkan kelelahan. “Kalau kami melawanmu karena kau menyuruh,” katanya, “lalu apa bedanya kami dengan dirimu?”
“Jika hari ini kami harus mati agar hatimu puas, maka biarlah kami mati sebagai orang
yang tidak menambah kejahatan ke dunia.”
Zoran tertawa keras. Ia adalah orang jahat yang berdiri di hadapan mereka. Ia datang untuk melukai. Untuk membunuh.
Namun mereka… bahkan tidak mau melawan?
Boom.
Mengabaikan para penduduk desa, Zoran melesat. Pedang di tangannya mengaum, niat membunuhnya tak lagi disembunyikan.
Ia tidak peduli. Jika kedamaian ini busuk, maka biarlah ia dihancurkan.
Namun sebelum ujung pedang itu menyentuh siapa pun,
Krakk.
Suara retakan terdengar, seperti kaca raksasa yang pecah di udara.
Boom!
Dunia meledak.
Kesadaran Zoran terguncang hebat, seolah ditarik keluar dari tubuhnya dengan paksa.
\*\*\*
Boom.
Zoran membuka matanya.
Ia kini berada di sebuah ruangan remang-remang, diterangi cahaya kuning kusam yang menggantung tanpa sumber jelas.
Udara di sekitarnya terasa berat dan mati.
“Di mana ini…?”
Ia bangkit perlahan, kepalanya masih berdengung. Ruangan itu kosong, tidak ada perabot, tidak ada jendela. Hanya dinding polos… dan satu pintu di hadapannya.
Tidak ada yang lain.
“Apa tadi hanya ilusi…?” gumamnya.
Namun kenangan itu terlalu nyata. Hari-hari di desa itu, aroma makanan, senyum Ruian, suara orang-orang yang memaafkan, semuanya terlalu hidup untuk disebut mimpi.
“Kalau itu ilusi… Kenapa rasanya lebih nyata dari dunia mana pun yang pernah kujalani?”
Ia mengepalkan tangan.
“Atau… itu jebakan?”
“Atau… aku yang sudah gila?”
Zoran menoleh ke sekeliling, mencari celah, retakan, jalan lain. Namun... Tidak ada.
Hanya pintu itu. Satu-satunya pilihan.
“Apa pintu ini jalan keluar… atau neraka lain?”
Jantungnya berdegup lebih cepat. Kenangan sebelumnya terlintas, bagaimana satu pintu pernah membawanya ke dunia yang sepenuhnya asing.
Takut?
Iya.
Tapi apakah ia punya pilihan?
Zoran menghembuskan napas panjang, lalu melangkah mendekat ke pintu.