Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 : Kolam Keabadian dan Kesadaran yang Terlalu Dewasa.
Pagi berikutnya.
Aku dibawa ke mata air yang tersembunyi di tengah lembah yang tepat seperti di drama wuxia yang penuh dramatisasi, hanya saja aku ada di dalamnya.
Airnya jernih kebiruan, gelembung-gelembung kecil naik ke permukaan seperti sedang menari, tapi bukan menari yang lucu.
Lebih seperti mereka sedang mengejekku. Selamat datang di kolam keabadian, bocah kecil.
Ibu menurunkan pakaianku dengan hati-hati, menyisakan kain kecil yang menempel di tubuhku. “Pelan-pelan, Nak,” bisiknya. Ah, suara Ibu itu selalu terdengar menenangkan … tapi di otakku, aku tidak bisa tidak berpikir, wow, ini posisi yang cukup kompromi untuk seorang bayi yang sarkastik.
Tapi aku sudah terlalu terbiasa dengan dada Ibu yang setiap harinya kuhisap, tidak ada hasrat apapun kepadanya.
Lin Jie memasukkan tangannya ke air, mengaduknya perlahan. “Suhunya pas. Qi-nya stabil.”
Aku menatapnya dengan mata setengah mengantuk tapi penuh observasi, ya, stabil.
Bagus.
Bagaimana dengan kesenanganku? Aku pikirkan hal-hal penting juga, jangan salah. Walaupun dada Lin Jie yang besar, bulat dan mengkal itu memantul dengan indahnya. Aku penasaran, berapa usia kakak ibuku ini.
Kemudian, mereka menurunkanku perlahan ke air. Sensasi pertama. Sejuk. Nyaman. Dan … Qi-nya.
Oh, Qi ini bukan main-main. Ini bukan udara yang bisa aku hirup sembarangan. Ini seperti air itu sadar akan kehadiranku, membelai kulitku, masuk ke dalam setiap pori, dan berkata. Hei, kau siapa dan kenapa kau bayi tapi pikirannya orang dewasa?
Aku membuka mata spiritualku sedikit, dan melihat aliran biru terang menari di sekeliling tubuhku. Mungkin mereka menyebutnya Qi, tapi aku lebih suka memikirkan itu sebagai … selimut supernatural yang menyanjungku.
Dan biji cahaya di dahiku? Ah, teman kecil itu. Biasanya tenang, tapi sekarang bereaksi, bukan menyala terang seperti lampu disko, tapi menyerap seperti tanaman yang haus setelah berminggu-minggu tanpa hujan.
Hangat.
Menenangkan.
Aku menahan diri untuk tidak mengoceh, ini cukup nyaman untuk bayi sarkastik yang punya jiwa dewasa.
Yu Yan menatap dari tepi mata air. “Lihat, cahaya di dahinya …”
Benar. Cahaya itu berpendar keemasan, denyutnya selaras dengan detak jantungku seolah semesta sedang menepuk punggungku dengan lembut dan berkata. Ya, kau memang istimewa, bocah kecil.
Aku membalas dengan senyum nakal di dalam hati, karena siapa yang akan tahu kalau bayi ini punya pikiran yang mesum dan dewasa?
Lin Jie mengangguk serius, mengamati tiap gerakan aliran Qi.
“Bagus. Air kehidupan menstabilkannya. Memberinya fondasi.”
Bagus.
Fondasi.
Keren.
Tapi aku pikir, fondasi ini juga bisa dijadikan alasan untuk … ehm, menikmati sensasi. Sementara itu, aku mengapung, mata setengah tertutup, menikmati kedamaian yang sedikit ironis. Bayi di kolam Qi yang betapa dramatisnya hidupku.
Aku membiarkan kesadaranku meresap ke biji cahaya, merasakan lapisan luar yang beriak, lapisan tengah yang berputar, inti yang padat.
Dan di inti itu … ada sesuatu yang lebih besar. Aku bukan hanya Shen Yu. Aku bukan hanya Ma’Ling Sheng yang reinkarnasi. Aku … entitas dengan cahaya ini. Pewaris. Penjaga. Penghubung.
Penghubung antara apa? Ah, itu pertanyaan dramatis yang hanya semesta yang tahu jawabannya.
Aku mengangkat bahu dalam hati, puas dengan ketidakpastian.
Sepuluh menit berlalu, Lin Jie mengangkatku keluar. Dibungkus handuk hangat, aku merasa … berbeda. Lebih ringan, lebih jelas.
Mata spiritualku tampak lebih tajam, tapi juga lebih terkendali. Aku menatap tangan kecilku, ya, tangan bayi, tapi pikirannya sangat dewasa, dan sedikit mesum.
“Bagus sekali, Shen Yu,” kata Ibu, mencium keningku. Aku meringis puas, sedikit mengoceh tanpa suara. Terima kasih, ibu. Tapi jangan lihat aku terlalu lama, ya … bayinya sudah cukup mesum untuk hari ini.
Aku menguap lebar, tubuhku lelah tapi jiwa ini … puas. Perendaman pertama selesai. Dan aku, bayi sarkastik dari Beijing yang terjebak di tubuh ini, sudah siap untuk sarkasme berikutnya.