Ryuga Soobin Dewangga adalah CEO dingin yang terjebak dalam trauma masa lalu dan konspirasi bisnis yang mengancam nyawanya. Hidupnya yang kaku berubah total saat ia bertemu Kiara Adiningrat, asisten pribadi tangguh yang lebih ahli memegang senjata dan memperbaiki jam antik dari pada menyeduh kopi.
Di tengah ancaman pembunuhan dan pengkhianatan orang terdekat, keduanya terpaksa menjalin kesepakatan tengah malam yang berbahaya. Antara tuntutan profesional, hobi yang saling bersinggungan, dan ego yang setinggi langit, mereka harus menghadapi musuh yang mengintai di balik bayang-bayang.
Mampukah cinta tumbuh di antara peluru dan rahasia, ataukah kesepakatan ini justru menjadi awal kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Lembur yang Mengusik Jantung
Kantor Dewangga Tower biasanya sudah sepi pada pukul sembilan malam, namun lantai eksekutif masih menyala terang. Pasca penangkapan Bramasta, tumpukan dokumen audit dan pemulihan sistem membuat Ryuga dan Kiara terjebak dalam rutinitas lembur yang melelahkan.
Ryuga duduk di balik meja mahoni nya, kemejanya sudah dilipat hingga siku, menampakkan urat nadi di tangannya yang sedang sibuk menandatangani berkas. Sementara itu, Kiara duduk di sofa tak jauh dari sana, dikelilingi oleh komponen jam tangan milik mendiang ayah Ryuga yang sedang ia bersihkan satu per satu.
"Istirahatlah, Kiara. Ini sudah hampir tengah malam," ucap Ryuga tanpa mengalihkan pandangan dari layar monitor.
"Satu roda gigi lagi, Pak," sahut Kiara fokus. Ia mengenakan kacamata pembesar loupe yang membuatnya terlihat sangat serius. "Mekanisme ini sensitif terhadap suhu. Kalau tidak segera dibersihkan dari sisa embun laut kemarin, logamnya bisa korosi."
Ketegangan yang Sunyi
Ryuga akhirnya meletakkan penanya. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di lantai di depan meja kopi, sejajar dengan Kiara. Kehadiran Ryuga yang tiba-tiba membuat Kiara sedikit gugup. Aroma sandalwood dari tubuh Ryuga bercampur dengan bau minyak pelumas jam, menciptakan suasana yang intim di tengah keheningan kantor.
"Biar aku bantu," ucap Ryuga pelan.
"Anda tahu cara memegang pinset presisi?" tanya Kiara sangsi.
Ryuga tidak menjawab dengan kata-kata. Ia meraih tangan Kiara Tindakan yang membuat jantung Kiara seolah berhenti berdetak sesaat dan mengambil pinset itu.
Dengan gerakan yang sangat halus dan stabil efek dari hobinya melukis detail kecil, Ryuga menjepit sebuah baut mikroskopis dan menempatkannya di wadah pencuci.
"Jangan meremehkan tangan seorang pelukis," bisik Ryuga. Jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter. Kiara bisa melihat bayangan dirinya di mata gelap Ryuga.
hubungan itu kini bukan lagi soal ledakan atau pengejaran, tapi soal napas yang tertahan di antara dua orang yang berpura-pura sibuk dengan baut kecil padahal pikiran mereka tertuju pada satu sama lain.
✨✨✨✨
Di lobi bawah, Dino sedang berdebat sengit dengan petugas keamanan malam. Ia membawa tiga kantong plastik besar berisi martabak telur dan kopi susu.
"Aduh, Pak Satpam! Ini namanya bantuan kemanusiaan darurat!" seru Dino. "Bos Anda dan sahabat saya itu sedang lembur. Kalau mereka kelaparan, bisa-bisa laporan keuangan besok isinya gambar makanan semua!"
Setelah perdebatan panjang dan sogokan sepotong martabak, Dino akhirnya diperbolehkan naik. Saat pintu lift terbuka di lantai 50, Dino sudah bersiap untuk berteriak "SURPRISE!", namun ia langsung mengerem langkahnya saat melihat posisi Ryuga dan Kiara yang sangat dekat di lantai.
"Waduh... waduh..." Dino menutup matanya dengan satu tangan, tapi jari-jarinya terbuka lebar. "Sepertinya martabakku datang di saat yang salah. Apakah aku mengganggu sesi 'restorasi hati' ini?"
Kiara langsung menarik tangannya dan pura-pura sibuk dengan kain lap. Ryuga berdehem, berusaha mengembalikan wibawa CEO-nya meski wajahnya sedikit memerah.
"Dino, kau berisik sekali," keluh Ryuga sambil berdiri.
"Berisik tapi sayang!" balas Dino sambil menaruh makanan di meja.
"Ayo makan dulu. Kiara, wajahmu pucat, pasti kurang asupan micin.
Dan Pak Bos, jangan galak-galak, martabak ini mengandung energi cinta dari abangnya."
Sambil mengunyah martabak di tengah malam, mereka bertiga duduk melingkar. Dino mulai bercerita tentang "Mbak Siti" yang ternyata mengirimkan pesan singkat yang ternyata hanya berisi pengingat denda parkir, membuat suasana yang tadi tegang menjadi penuh tawa.
Saat Dino sedang asyik bercerita, Ryuga tanpa sadar mengambil serbet kertas dan sebuah pulpen.
Sambil mendengarkan, tangannya bergerak cepat.
Beberapa menit kemudian, Kiara melihat kertas itu. Ryuga telah membuat sketsa cepat wajah Kiara saat sedang fokus memakai kaca pembesar tadi. Garisnya tegas, namun terasa penuh perasaan.
"Boleh saya simpan ini?" tanya Kiara pelan.
Ryuga menatap Kiara, matanya melembut. "Anggap saja itu upah lembur mu yang mengusik jantungku malam ini."
Dino tersedak potongan martabak. "KODE KERAS! TOLONG, SESEORANG BERIKAN AKU OKSIGEN!"
Dino masih sibuk menepuk dadanya karena tersedak, sementara Kiara menatap sketsa di serbet kertas itu dengan perasaan campur aduk.
Garis-garis yang dibuat Ryuga seolah mampu menangkap sisi dirinya yang paling rapuh sesuatu yang bahkan jarang ia tunjukkan pada Dino.
"Pak Ryuga, Anda benar-benar berbakat," bisik Kiara, jarinya mengusap pinggiran kertas itu.
"Hobi yang menyelamatkanku dari kegilaan, Kiara," jawab Ryuga. Ia kembali menyesap kopi hitamnya yang sudah dingin. "Setiap kali dunia terasa terlalu bising dengan angka dan pengkhianatan, aku melukis. Itu satu-satunya cara bagiku untuk menghentikan waktu."
Dino, yang sudah mulai tenang, mencomot potongan martabak terakhir. "Yah, kalau Pak Bos jadi pelukis, mungkin aku yang bakal jadi manajernya. Tapi jujur, sketsa itu... auranya beda. Biasanya Pak Bos cuma gambar gedung atau jam yang rusak. Baru kali ini ada objek yang... bernapas."
Dino tiba-tiba teringat sesuatu. Ia mengeluarkan kamera DSLR-nya dari tas punggung yang selalu ia bawa.
"Ngomong-ngomong soal seni, tadi sore aku sempat memotret di lobi saat polisi membawa Bramasta," ucap Dino. Ia menunjukkan layar kameranya pada mereka berdua.
Bukan foto Bramasta yang ia tunjukkan, melainkan sebuah foto candid: Ryuga yang sedang berdiri di jendela besar lantai 50, membelakangi kamera, sementara bayangan Kiara terlihat di pantulan kaca sedang mengemasi alat-alatnya.
"Aku akan menamakan foto ini 'The Silence After the Storm'," ucap Dino bangga. "Aku mau ikut kompetisi fotografi internasional bulan depan.
Kalau menang, aku mau buka galeri sendiri. Jadi aku nggak perlu lagi tidur di van butut atau nungguin denda parkir dari Mbak Siti."
Kiara tersenyum bangga. "Kau pasti bisa, Dino. Kau punya mata yang tajam untuk momen-momen kecil."
"Tentu saja! Dan kalau aku sukses, kalian berdua harus jadi model pertamaku. Gratis... tapi tetap bayar pajak ya," canda Dino.
Lembur yang Belum Usai
Waktu menunjukkan pukul 01.30 WIB. Dino akhirnya tertidur di sofa dengan mulut sedikit terbuka, kelelahan setelah seharian menjadi mata-mata digital. Ryuga dan Kiara masih terjaga, duduk bersisian di meja kerja besar yang kini dipenuhi remah martabak dan skema jam tangan.
Ryuga berdiri untuk meregangkan ototnya, lalu ia berjalan menuju sudut ruangan tempat sebuah kanvas besar ditutupi kain hitam.
"Kiara, kemarilah," panggilnya.
Kiara mendekat dengan ragu. Ryuga menarik kain itu perlahan. Di sana, terdapat sebuah lukisan cat minyak yang belum selesai. Sebuah pemandangan gudang di pesisir, tapi digambarkan dengan warna-warna yang cerah, bukan kelam. Di tengah-tengah lukisan itu, ada satu figur wanita yang sedang memegang obeng kecil, menatap ke arah laut.
"Ini... saya?" Kiara terpana.
"Aku melukis ini dari ingatanku saat kita terjebak di gudang itu," ucap Ryuga, suaranya merendah. "Saat itu aku berpikir, jika kita tidak keluar hidup-hidup, setidaknya aku ingin mengingatmu sebagai orang yang membawa warna kembali ke kanvasku."
Kiara merasa matanya memanas. Di ruangan yang sunyi ini, hanya ditemani dengkur halus Dino, perasaan di antara mereka terasa mencapai puncaknya. Tidak ada ciuman dramatis, hanya genggaman tangan Ryuga yang perlahan mencari jemari Kiara di bawah cahaya lampu meja yang temaram.
"Waktunya pulang, Kiara. Besok kita punya misteri baru untuk dipecahkan," bisik Ryuga.
"Misteri apa?"
Ryuga mengambil sebuah kunci kuno dari laci mejanya. "Surat wasiat kakekku menyebutkan sebuah tempat di pinggir kota. Jam Menara Tua yang tidak pernah berdetak sejak perang berakhir. Katanya, jantung keluarga Dewangga ada di sana."
ini juga teman kocak si Dino gangguin aja, 🤣🤣
tp seru dan tegang.. penasaran kode apa itu ya?