NovelToon NovelToon
Santet Kelamin

Santet Kelamin

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Duniahiburan / Selingkuh / Dendam Kesumat / PSK / Playboy
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

Setiap kali Bimo berhasrat dan mencoba melakukan hubungan seks dengan wanita malam,maka belatung dan ulat grayak akan berusaha keluar dari lubang pori-pori kelaminya,dan akan merasa terbakar serta melepuh ...

Apa yang Bimo lakukan bisa sampai seperti itu?

Baca ceritanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diana

Sinar matahari pagi menembus kaca-kaca gedung perkantoran di kawasan Sudirman, menyinari meja kerja Bimo yang tertata rapi. Hari ini, Bimo tampil dengan kepercayaan diri yang dipaksakan. Ia memakai kemeja biru muda yang disetrika licin, rambutnya klimis, dan ia terus menebar senyum kepada setiap rekan kerja yang menyapanya.

Bagi orang lain, Bimo tampak sehat. Diagnosa rumah sakit dua hari lalu yang menyatakan dirinya "normal" menjadi pegangan satu-satunya untuk tetap waras. Kejadian mengerikan di hotel tempo hari ia kubur dalam-dalam sebagai episode "halusinasi buruk" akibat kelelahan. Selama ia tidak berpikir kotor, tubuhnya terasa tenang. Ulat-ulat itu seolah-olah memang hanya ilusi yang menghilang tertelan realitas pekerjaan.

"Pagi, Bim! Udah segeran lu?" sapa Joni, teman sebangkunya.

"Pagi, Jon. Biasalah, kurang liburan doang kemarin," jawab Bimo ringan. Namun, di dalam hatinya, ia terus merapal mantra untuk dirinya sendiri: Jangan mikir macem-macem. Fokus kerja. Fokus angka.

Kehadiran Sang Penggoda

Pukul sebelas siang, suasana kantor yang tadinya sunyi oleh ketukan keyboard mendadak berubah sedikit riuh. Seorang wanita dari bagian HRD berjalan menuju deretan meja pemasaran, diiringi oleh seorang wanita yang segera menjadi pusat perhatian seluruh mata pria di ruangan itu.

"Selamat siang semuanya. Kenalkan, ini Ibu Diana. Beliau akan bergabung di tim kita sebagai Senior Business Development," suara HRD itu memecah konsentrasi.

Bimo mendongak, dan seketika jantungnya berdegup lebih kencang. Diana bukanlah gadis muda berumur dua puluhan yang masih polos. Ia adalah wanita paruh baya, mungkin di awal empat puluhan, namun memiliki aura yang sangat matang. Rambutnya dipotong bob rapi, tatapan matanya tajam namun ramah, dan ia mengenakan setelan rok kerja yang membalut tubuhnya dengan sangat pas menunjukkan lekuk tubuh yang tetap terjaga meskipun ia sudah memiliki anak.

"Selamat siang. Panggil Diana saja ya, mohon bimbingannya," ucapnya dengan suara alto yang serak-serak basah, sebuah suara yang terdengar sangat sensual di telinga para pria.

Diana ditempatkan di meja yang persis berada di depan Bimo. Hanya terhalang oleh sekat plastik rendah.

Sepanjang sisa jam sebelum makan siang, kantor yang biasanya profesional berubah menjadi ajang pamer bagi para pria. Joni berkali-kali membetulkan kerah bajunya, sementara pria-pria dari divisi lain mendadak punya alasan untuk lewat di depan meja Diana hanya untuk sekadar menyapa atau menawarkan bantuan.

"Gila, Bim. Itu yang namanya milf kualitas super. Mateng banget," bisik Joni sambil menatap punggung Diana.

Bimo hanya menelan ludah. Ia merasakan sebuah desir halus di bawah sana, sebuah getaran kecil yang sangat ia kenali sebagai awal dari petaka. Dengan cepat, Bimo memejamkan mata dan membayangkan tumpukan laporan keuangan yang membosankan. Ia harus menekan gairahnya sebelum ulat-ulat itu terbangun.

Kelincahan Lidah Sang Predator

Hari-hari berikutnya, Diana menjadi primadona kantor. Namun, Bimo bukanlah pria sembarangan. Ia tahu bahwa mendekati wanita seperti Diana tidak bisa menggunakan cara kasar seperti yang dilakukan teman-temannya yang lain. Ia menggunakan keahlian utamanya: kata-kata manis dan sikap penuh empati senjata yang dulu ia gunakan untuk menjerat Ratih hingga menjadi budaknya.

"Mbak Diana, kalau butuh data vendor tahun lalu, saya sudah rapikan di folder ini. Supaya Mbak nggak perlu repot bongkar arsip lama," ujar Bimo suatu pagi, menyodorkan sebuah flashdisk dengan senyum paling tulus yang bisa ia buat.

Diana mendongak, tersenyum manis. "Wah, makasih banget ya, Bimo. Kamu perhatian sekali. Yang lain cuma nanyain alamat rumah, kamu malah bantu kerjaan."

Bimo tertawa kecil, posisi duduknya ia condongkan sedikit ke depan. "Saya tahu rasanya jadi orang baru, Mbak. Apalagi posisi Senior, tekanannya pasti tinggi. Saya cuma mau Mbak Diana merasa nyaman di sini."

Taktik itu berhasil. Dalam waktu singkat, Bimo menjadi orang terdekat Diana di kantor. Mereka sering pergi makan siang bersama, meskipun Bimo selalu berusaha menjaga pikirannya tetap di jalur "profesional". Namun, setiap kali Diana tertawa dan menyentuh lengan Bimo secara tidak sengaja, Bimo merasakan perjuangan batin yang luar biasa.

Rasa gatal itu mulai muncul kembali. Tipis, seperti gesekan bulu, namun konstan.

Aroma Mawar dan Bahaya yang Mengintai

Suatu sore, saat jam kantor hampir berakhir, hujan turun deras di luar. Sebagian besar karyawan sudah pulang, menyisakan Bimo dan Diana yang masih sibuk dengan laporan akhir bulan.

"Duh, hujan deras banget ya, Bim," keluh Diana sambil merapikan tasnya. Aroma parfum mawarnya yang elegan menguar, memenuhi ruang sempit di antara meja mereka.

Bimo mendongak. Ia melihat Diana sedang menyeka lehernya yang sedikit berkeringat dengan selembar tisu. Gerakan lehernya, kilatan anting emasnya, dan cara wanita itu membasahi bibirnya yang kering membuat benteng pertahanan Bimo mulai retak.

"Mau bareng saya, Mbak? Kebetulan saya sedang pesan taksi online," tawar Bimo. (Ia berbohong, sebenarnya ia membawa motor, namun ia rela memesan taksi online demi bisa berduaan dengan Diana).

"Nggak merepotkan?" Diana menatap Bimo dengan pandangan yang dalam, seolah mengundang.

"Sama sekali tidak, Mbak."

Di dalam hatinya, Bimo merasa menang.

Mata di Balik Hujan

Di seberang jalan, di bawah sebuah halte yang gelap, seorang wanita berdiri diam dengan payung hitam. Ratih.

Meskipun hujan menderas, mata Ratih tidak pernah lepas dari pintu keluar gedung kantor itu. Ia telah mengikuti Bimo sejak pagi. Ia tahu tentang "wanita baru" di kantor Bimo. Ia tahu setiap gerak-gerik Bimo yang sedang mencoba menebar pesona kembali.

Ratih melihat Bimo keluar dari lobi gedung bersama Diana. Ia melihat Bimo membukakan pintu untuk wanita itu dengan sikap yang sangat sopan. Ratih menggenggam gagang payungnya hingga jemarinya memutih.

"Kasihan wanita itu," bisik Ratih di tengah deru hujan. "Dia tidak tahu kalau pria di sampingnya adalah bangkai yang berjalan."

Ratih tahu, sistem kerja ulat sengkolo itu sangat adil. Semakin Bimo merasa sukses dalam godaannya, semakin tinggi hormon dopamin dan gairahnya, maka semakin lapar pula ulat-ulat itu akan bangun. Kegagalan Bimo di hotel melati kemarin hanyalah "pemanasan". Kali ini, ulat-ulat itu akan menunggu hingga Bimo benar-benar berada di titik puncak gairahnya sebelum mereka merobek semuanya dari dalam.

Godaan yang Menghancurkan

Di dalam kendaraan, Bimo mencoba mengontrol napasnya. Suasana di dalam mobil (taksi online mewah yang ia sewa) sangat intim. Musik jazz mengalun pelan, dan aroma Diana semakin memabukkan.

"Bimo, kamu tahu nggak? Kamu itu beda dari pria-pria lain di kantor," Diana bicara pelan, tubuhnya sedikit bersandar ke arah Bimo.

"Beda gimana, Mbak?"

"Kamu... punya cara sendiri buat bikin wanita merasa diperhatikan. Aku suka itu." Diana meletakkan tangannya di atas paha Bimo. Hanya sebuah sentuhan kecil, namun bagi Bimo, itu adalah pemicu ledakan.

Seketika, rasa panas yang luar biasa menyengat selangkangan Bimo.

Zrutt... Zrutt...

Ia merasakan sesuatu bergerak di dalam celananya. Kali ini lebih kuat, lebih agresif. Ulat-ulat itu seolah sedang menggeliat bangun dari tidur panjangnya, menuntut makan karena Bimo baru saja membiarkan nafsunya bergejolak.

Bimo meringis, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.

"Bim? Kamu sakit?" Diana menatapnya khawatir.

"N-nggak apa-apa, Mbak. Cuma... perut saya mendadak melilit," Bimo berbohong sambil mati-matian mencoba membayangkan hal-hal yang paling menjijikkan di dunia ini agar gairahnya turun. Ia membayangkan bangkai tikus, ia membayangkan sampah pasar, ia membayangkan... wajah Ratih yang sedang menangis.

Begitu bayangan wajah Ratih yang menderita muncul, gairahnya seketika anjlok. Rasa panas itu pun mereda perlahan, meninggalkan rasa perih yang tersembunyi.

Ia bisa mendapatkan perhatian dari wanita secantik Diana, tapi ia tidak akan pernah bisa melanjutkannya. Ia seperti seorang haus yang berdiri di depan mata air jernih, namun setiap kali ia mencoba meminumnya, air itu berubah menjadi api.

Bimo mengantar Diana sampai depan rumahnya dengan perasaan hancur. Saat Diana melambaikan tangan dengan kerlingan mata yang menggoda, Bimo hanya bisa membalas dengan senyum getir yang menyembunyikan teriakan batinnya.

1
Bp. Juenk
Bagus kisah nya. cinta ya g tulis dari seorang gadis desa berubah menjadi pembunuh. karena dikhianati.
Halwah 4g
iya ka..ada lanjutannya kok
Rembulan menangis
gantung
Bp. Juenk
ooh masih dalam bentuk ghaib toh. belum sampe ke media
Bp. Juenk
pantesan. Ratih nya terlalu lugu
Halwah 4g: hehehehe..maklum dari kampung ka 🤭
total 1 replies
Bp. Juenk
sadis ya si ratih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!