Buku ini gua tulis sebagai perwujudan eksistensional gua di dunia ini. Karena gua pikir, sebelum gua mati, gua harus ninggalin sesuatu. Untuk bilang ke orang² yang baca buku gua ini: "Ini gua pernah hidup di dunia, dan gua juga punya cerita." Pada dasarnya, buku ini berisi rangkuman hal² penting yang terjadi dalam hidup gua, yang coba gua ingat² kembali, gua gali kembali, di tengah kondisi gua yang sulit mengingat segala hal yang rumit. Juga, kalau² kelak nanti gua lupa dengan semua hal yang tertulis di buku ini, dan gua baca ulang, terus gua bisa bilang: "Oh... ternyata gua pernah begini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilbonpcs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelampiasan
Sebenarnya waktu itu, gua udah cukup lama enggak lagi berhubungan dengan Veny. But ini anak tiba² muncul gitu aja. Mulai ngobrolin hal² yang menurut gua absurd. Mulai dari dia yang mulai ngoceh soal belajar bahasa Jepang, dan dia yang mulai rajin dandan. Tapi, sisi dia yang seperti itu, malah makin menarik di mata gua. Dia bener² menunjukan sisi manjanya sebagai seorang cewek ke gua.
Semakin lama gua ngobrol sama dia, semakin gua merasa aneh, tentang kenapa, dan alasan yang sebenarnya, tapi gua mulai perlahan enggak peduli. Mungkin karena waktu itu, gua cuman merasa kesepian, dan butuh seseorang.
Yup... gua berhubungan dengan Veny, sampai gua lulus SMK. Tapi, sebelum gua lanjut cerita tentang si Veny ini, gua mau cerita dulu tentang ending total hubungan gua sama si Vita.
Tiba² aja Vita SMS gua, waktu itu jam pulang sekolah. Gua agak heran karena, kita masih sama² di sekolah. Cukup mudah buat dia nyamperin gua ke kelas, tapi dia enggak ngelakuin itu.
Satu pesan cukup singkat: "Trick, gua mau ngomong serius."
Ah... tumben sekali. Gua pikir, dia mau mempertegas hubungan gua sama dia, misalkan berubah jadi yang sebelumnya "Patrick dan Sponsbob" menjadi "Sayang" mungkin aja, itu yang dulu gua pikirin.
But, apa yang gua pikirin tadi salah total. Sebuah ketikan sederhana: "Gua mau menikah, gua mau lu dateng ke pernikahan gua."
Dunia seakan berhenti di sekitar gua. Semua hal yang gua pikirin, runtuh gitu aja, semua perasaan yang masih gua simpen dengan harapan akan tumbuh lagi, hilang gitu aja. Gua balas dengan nada cukup dingin: "Selamat ya."
Dan yang terjadi selanjutnya, gua berhenti menghubunginya, gua hapus nomer handphonenya. Bahkan ketika berpapasan di sekolah, gua memalingkan muka, bersikap seolah enggak pernah kenal.
Sejak itu, semua hal soal cinta, gua rasa... enggak ada lagi rasanya, semuanya abu², sekedar pemuasan hasrat dan pelampiasan nafsu aja. Gua bahkan enggak lagi merasakan perasaan yang sama pada cewek lain, bahkan pada Veny.
Disisi lain, Veny mulai bersikap agak berlebihan. Hubungan kami, entahlah... Veny menganggap hubungan kami seperti "kakak-adek" tapi, gua pikir itu enggak sejalan dengan apa yang terjadi diantara kami.
Gua enggak memulainya, gua masih menjaga batasan, karena gua tahu ada yang salah dengan Veny. Dia mulai ngajakin gua melakukan "SMS esek²" sesuatu yang sama, yang pernah gua lakuin dengan Vati. Dan gua menanggapinya.
Sampai satu hal memukul perasaan gua...
Suatu sore yang kelabu, Veny ngehubungin gua, dia mengucapkan kata² yang membuat gua cukup terpukil. Dia terang²an bilang: "Mas, gua hamil."
Fuck...
Perasaan ini bukan patah hati, tapi rasa kecewa yang amat dalam. Kekecewaan seorang kakak pada adek perempuannya. Gua marah, yup... itu kesalahan pertama gua, bukannya memberi dukungan padanya, gua malah terang²an marah padanya.
Lalu... gua malah berhenti menghubunginya. Meninggalkan gadis itu dalam kegelapan yang dia ciptakan sendiri, sendirian. Seharusnya gua menemaninya, bukan malah lari pergi. But, gua pikir respon gua alami, seorang pria yang pernah terlibat perasaan pada wanita, masih berhubungan dekat layaknya saudara, marah melihat wanitanya dihamili pria yang entah siapa. Ini sudut pandang gua waktu itu, sudut pandang yang selalu gua sesali.
Selang beberapa waktu, segala hal tentang Veny mulai sirna. Gua disibukin oleh urusan sekolah. Tentang ujian, tentang kelulusan, tentang masa depan.
Gua pengen banget kuliah, mengambil jurusan yang benar² gua minati. Gua ngomong ke orangtua, gua pengan kuliah di ISI, jurusan Musik atau Seni Lukis apapun itu... yang jelas kecintaan gua pada dunia seni, dari dulu memang cukup tinggi. But.... orangtua gua ngonong: "Kalau gua kuliah, kedua adek gua enggak bisa sekolah." Titik ini, harapan gua patah. Masa depan gua, yang gua yakini akan baik² saja, gua mulai mengkuatirkannya.
Dari sebelum lulus, karena gua bersekolah di SMK, banyak perusahaan besar yang udah mulai memberi info lowongan pekerjaan. Gua adalah salah satu dari ribuan siswa yang ikut mendaftar mencari peruntungan. Sayangnya... satupun enggak ada yang berhasil. Gua ditolak mutlak.
Hari² kesialan gua benar² dimulai dari titik ini. Kedepan pasti bakal lebih berat, itu yang gua pikirin waktu itu.
Gua lulus, dengan nilai yang bener² buruk...
Bahkan mata pelajaran yang harusnya gua kuasai, gua cuman dapet nilai 5. Tapi, gua lulus, waktu itu gua cuman pikir yang penting lulus, segera cari kerja.
Gua melamar pekerjaan diberbagai tempat, ada lebih dari 10 lamaran pekerjaan yang gua lamar dalam waktu satu minggu, semuanya zonk, ada yang sama sekali enggak dipanggil, ada yang cuman sampai test tahap pertama. Gua sadari sesuatu, manusia tanpa skill sama sekali itu gua. Fakta bahwa gua benar² enggak punya skill. Seperti 3 tahun gua di SMK gua habisin dengan sia².
Saat gua mulai benar² putus asa, gua mohon ke Tuhan, gua bilang: "Tuhan Yesus, apa aja deh, gua cuman pengen kerja, pekerjaan apa aja bakal gua lakuin."
Lalu, pada akhirnya dari sekian banyak pekerjaan, gua akhirnya diterima bekerja di salah satu minimarket skala nasional, sebagai pramuniaga. Gaji pertama gua, cuman Rp 700.000 IDR waktu itu gua seneng banget, bahkan gua sempet traktir bokap gua makan "sengsu" dengan gaji pertama gua itu. Padahal faktanya, gaji segitu benar² sangat kecil.
Lalu... ditengah kesibukan gua bekerja, satu cewek dateng dalam hidup gua. Sebutlah namanya Ani. Gua lupa kenal dia dari mana, but gua sempet lupa satu cewek ini pernah hadir dalam hidup gua. Sekalipun, hubungan kami sama rumitnya dengan cewek² lain yang pernah hadir dalam hidup gua. Hubungan gua dan Ani, lebih seperti hubungan saling memuaskan dari pada soal cinta.
Begini, gua bakal ceritain detailnya...
Ah... sebelum itu, soal Veny, dia mulai sering ngehubungin gua lagi, bukan soal cinta² lagi, tapi sekedar berkabar, dia mulai masuk kuliah di UGM, dan dia sudah memiliki pacar. Lagi pula, gua deket dengan Ani waktu itu. Dan sebuah fakta bahwa dia enggak pernah benar² hamil, itu semua semacam seleksi yang ia lakukan, tentang seberapa kuat gua menyelesaikan masalah, dan seberapa besar cinta gua ke dia, but gua gagal dalam semua aspek di matanya.
Nah, Ani... cewek ini usianya jauh lebih tua dari gua. Sekitar 7 tahun lebih tua dari gua. Pertemuan pertama gua, dilakukan di sebuah warung makan, deket dengan minimarket tempat gua kerja.
Jadi gini...
Minimarket tempat gua kerja dulu, mengharuskan karyawan prianya untuk tidur di toko. Ada semacam mess kecil di belakang toko, untuk tidur karyawan. Nah, dulu gua belum punya kendaraan. Tapi, salah satu teman kerja gua, ada yang emang sengaja ngizinin sepeda motornya dipinjem anak² toko. Berbekal sepeda motor hasil minjem, gua ketemuan sama si Ani. Gadis, yang ngebuat gua ngelangkah ke sisi dewasa seorang pria.
Tidak ada tujuan akhir disana. Tidak ada hadiah menanti. Tapi justru saat dia menyadari absurditas itu dan tetap memilih untuk mendorong batu, di situlah kebebasannya muncul.
Bahkan dalam penderitaan, Sisyphus bahagia
bukan karena penderitaannya menyenangkan,
melainkan karena penderitaan itu tidak lagi menguasainya🔥