Kehidupan yang di jalani Hana sangat bahagia, apalagi saat kekasihnya menikahinya. Namun kehidupan bahagia itu hanya sebentar saja berpihak padanya. Kehidupannya yang dulu bahagia kini perlahan hilang saat sang suami berselingkuh dengan seorang wanita yang sangat dia percaya. Bahkan mereka pun mencoba untuk membunuhnya. Lalu apa yang akan di lakukan oleh Hana setelah menyadari semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliyah Ramahdani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadir kembali
Enam bulan pun berlalu. hari itu cuaca sangat indah, kedua ayah dan anak itu dengan menikmati waktu liburan di rumah mewah mereka. tiba-tiba asisten rumah tangga mereka pun datang menghampiri
" Maaf tuan dan Nona, di depan ada tamu yang ingin bertemu" ucap Mbok Dijah
" Siapa mbok?" Tanya Hana
" Maaf Nona, saya kurang tahu. dia seorang wanita" jawabnya lagi
" Vira?" tanya Hana
" Maaf Nona, tapi bukan nona Vira" jawab mbok dijah
" Ya udah, aku akan melihatnya sendiri. makasih ya, Mbok" ucap Hana tersenyum
Hana keluar dengan rasa penasaran, disusul ayahnya dari belakang yang sama penasarannya dengan Hana
" Maaf, anda Siapa?" tanya hana pada wanita yang sedang membelakanginya
Saat wanita itu berbalik, seketika membuat hana beserta ayahnya sangat terkejut
" Kamu?" ucap Rinto
" Iya, ini aku. gimana kabar kalian? tanpa kalian jawab pun aku sudah tahu?" Ucap wanita itu
" Untuk apa kau kemari?" Tanya rinto
" Aku hanya ingin melihat keadaan kalian" jawab wanita itu yang tak lain adalah Rina, ibu tiri Hana
" Anda sudah melihat keadaan kami, jadi sebaiknya anda pergi dari sini" pinta hana masih dengan nada lembut
" Jangan sombong kau Hana. aku ini ibumu, meskipun ibu tiri tapi aku pernah merawatmu" jawabnya
" Merawatnya? kau hanya menyiksa putriku. apalagi setelah kau pergi dan memilih pria itu, kau makin menyakitinya" ucap Rinto
" Itu karena aku tak ada pilihan. Aku juga tak ingin hidup susah, jadi aku memilih pria itu" jawabnya tak ingin disalahkan
" Lalu, di mana Mayang?" tanya Hana
" Kebetulan aku juga datang bersamanya. Mayang, ayo ke sini" panggil Bu Rina
Beberapa saat kemudian, seorang gadis cantik muncul dari balik tembok
" Kak Hana, ini aku Mayang. aku sangat merindukanmu" ucapnya menghampiri hana
" Ayah, maafkan aku" ucap Mayang menatap wajah Rinto
" Apa maksud kedatanganmu kali ini, Rina?" Tanya Rinto tak suka
" Aku hanya ingin menitipkan Mayang. dia sekarang sebatang kara, pria itu sudah tiada. dan aku tak bisa menghidupi Mayang" jawabnya
" Apa maksud kamu?"
" Dia itu anak kamu juga, meskipun anak tiri tapi dia tetap adik Hana. kamu jangan lupa diri Rinto" ucap Rina
" Kamu yang harusnya jangan lupa diri, jangan lupakan perlakuan mu pada kami" ucap rinto
" Sudahlah Ayah. Ibu, aku mohon izinkan aku ikut bersama ibu. mereka tidak mungkin menerimaku, aku malu bu. mau ditaruh di mana wajahku" ucap Mayang
" Mayang, kamu adalah adikku. tinggallah di sini dan biarkan wanita itu pergi" ucap Hana
" Hana, apa maksud kamu?" tanya Rinto tak mengerti
" Ayah, Mayang tetap adikku, biarkan aku membantunya. saat itu, aku dan Mayang masih kecil dan tidak mengerti masalah kalian" ujar Hana
" Baiklah, aku akan membiarkan mayang di sini. tapi jangan sekali-kali kau datang lagi ke rumah ini" ucap mayang pada rina
" Iya aku mengerti" ucapnya kemudian pergi
Setelah Rina pergi dari sana, Hana mengajak Mayang untuk masuk. awalnya Mayang sedikit malu dan tak enak hati, tapi karena Hana menarik tangannya dia pun ikut masuk. Hana membawanya masuk ke dalam kamarnya
" Di mana saja kau selama ini? aku sangat merindukanmu" ucap Hana memeluk Mayang
" Maafkan aku kak" jawab Mayang
" Kamu baik-baik saja, kan?"
" Iya kak"
" Syukurlah, aku pikir aku tidak akan bertemu denganmu lagi" ucap Hana
" Aku sebenarnya sudah lama mencari keberadaan kak hana dan ayah. tapi aku tak pernah tahu, karena rumah kita yang dulu sudah tak ada lagi" ujar Mayang
Tok..tok...tok...
" Hana..." Panggil Rinto dari balik pintu
" Iya Ayah" jawabnya
" Kamu tunggu aku di sini, ya" pintanya pada Mayang, kemudian dia pun segera melangkah menemui sang ayah
" Ada apa ayah?" Tanya Hana begitu keluar dari kamar
" Kenapa kau menerima Mayang kembali? Ayah tidak setuju" ucap Rinto
" Tapi ayah-"
" Kak maaf, Ayah tolong izinkan aku tinggal di sini, sebagai pembantu pun tak apa. aku hanya ingin bersama Kak Hana" ucap Mayang yang tiba-tiba ikut dalam percakapan itu
" Mayang, kamu tenang saja. Ayah pasti setuju kamu tinggal di sini, bukan sebagai pembantu tapi sebagai adikku. Iya kan, ayah?" Ucap Hana menatap ayahnya dengan sedikit memohon
" Baiklah jika itu maumu, nak" jawab Rinto akhirnya menyerah
" Terima kasih Ayah" ucap hana memeluk ayahnya
" Te- te- terima kasih Ayah" ucap Mayang gugup
Seminggu kedatangan Mayang, Hana terlihat semakin ceria. apalagi mayang selalu memberinya perhatian dan selalu menemaninya. bahkan dia pun terlihat sangat perhatian pada ayahnya meskipun rinto sedikit tak suka
" Oh iya mayang kamu mau bekerja di tempatku?" Tanya Hana saat makan siang hari itu
" Tidak Kak, makasih. Aku hanya ingin bekerja dengan usahaku sendiri. tapi untuk saat ini aku hanya ingin membantu di rumah saja" jawabnya
" Baiklah, tapi jika kamu butuh kerjaan katakan saja padaku" ucap hana
" Iya Kak, terima kasih"
Rinto hanya terdiam melihat sikap putrinya yang menurutnya sangat baik, padahal dia dan Mayang tidak ada hubungan darah sedikitpun
" Apa Ayah ingin menambah nasi?" tanya Mayang menawarkan
" Tidak, silakan lanjutkan makan kalian" ucap Rinto segera beranjak dari sana
"Gak usah di pikirin. Ayah memang kayak gitu, tapi dia baik" ucap Hana setelah melihat sikap ayahnya pada Mayang
" Iya kak aku tahu kok" Ucapnya kembali melanjutkan makan
Setelah menyelesaikan makan malam, Hana kembali ke kamarnya. begitu juga dengan Mayang. kamar Mayang berada di lantai dua, sementara hana memang sengaja memilih lantai dasar
Kring...
Baru saja Hana masuk ke kamar, ponselnya pun berdering. Hana meraih ponselnya dan tersenyum begitu melihat nama yang muncul di layar ponselnya
" Halo sayang, aku sedang berada di depan rumahmu" ucap rangga
" Benarkah?" ucapnya segera berlari keluar
Hana membuka pintu besar itu, senyuman tak lepas dari bibirnya
" Rangga" ucapnya berlari menghampiri kekasihnya
" Kenapa tak katakan jika kau ingin kemari" ucap Hana
" Aku ingin memberimu kejutan" jawabnya memberi satu buket bunga mawar merah
" Terima kasih. Ayo masuk" ajak Hana menarik tangan Rangga
" Ayahmu di mana?" tanyanya begitu masuk
" Ada, tunggu sebentar aku akan memanggilnya" ucap Hana masuk. namun sebelumnya, dia meminta pada Mbok Dijah untuk membawakan minum dan cemilan untuk Rangga
Hana menemui ayahnya di dalam kamar. sementara di luar, Mayang menawarkan diri untuk membawakan minum dan cemilan itu untuk sang tamu. dia tak tahu jika yang ada di sana sekarang adalah seorang pria. Dia sedikit gugup saat membawa nampan itu
" Silakan tuan" ucapnya
" Kamu siapa?" Tanya Rangga
" Saya asisten bar-"
" Dia adikku, Rangga" ucap Hana memotong ucapan Mayang dari belakang
" Adikmu?" Ucap Rangga heran
" Iya, dia memang adikku yang baru saja kembali, selama ini dia tinggal bersama ibu kami" jawab Hana tersenyum
" Oh, pantas saja aku tak pernah melihatnya" ucap rangga
" Hhhkkkmmm..."
Suara pak Rinto menyadarkan mereka
" Maafkan aku, Ayah" ucap Hana membawa ayahnya untuk duduk di sofa
" Gimana kabar Om? maaf aku datang tanpa memberitahu?" Ucap rangga
" Kabar Om baik-baik saja, Jadi gimana? apa sudah ada kemajuan?" Tanya nya
" Iya Om, tapi aku ingin membicarakan sesuatu hal pada om. Apa mungkin om ada waktu?" Tanya Rangga
" Soal apa? katakan saja di sini" ujar rinto
Nampak raut cemas dan gugup di wajah Rangga. berkali-kali dia membuang nafas, dia terlihat ragu untuk mulai berbicara
" Katakan saja" pinta Rinto sekali lagi
" Begini Om, aku ingin menanam saham di perusahaan om. Apakah om tidak keberatan?"
Rinto menyeimbangkan posisi duduknya, dia mengetuk-ngetuk jari telunjuknya pada tangan kursi seperti sedang berpikir setelah mendengar permintaan rangga