NovelToon NovelToon
Trapped In My Lover’S Embrace

Trapped In My Lover’S Embrace

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / Kekasih misterius
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Achromicsea

Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"

Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Perjalanan

Dua hari kemudian, pagi masih belum terlalu ramai saat aku dan Arven sudah berdiri di parkiran apartemen. Udara masih dingin dan jalanan terlihat lengang. Mobil Arven sudah menyala, mesin berdengung pelan. Ia memasukkan tasku ke bagasi sendiri, memastikan semuanya aman, lalu membuka pintu penumpang untukku.

"Ayo masuk," katanya singkat.

Aku duduk, menarik sabuk pengaman, sementara ia menutup pintu dan berjalan memutar ke sisi pengemudi. Begitu ia duduk dan pintu tertutup, suasana di dalam mobil terasa lebih sempit dari biasanya. Ia melirikku sebentar sebelum mulai melajukan mobil keluar dari parkiran.

"Kita ke Bandung itu lumayan jauh," katanya setelah beberapa menit menyusuri jalan utama. "Perjalanannya bisa lama, apalagi kalau macet."

Aku mengangguk kecil. "Iya."

"Kamu jangan maksain diri," lanjutnya. "Kalau capek, pusing, atau nggak enak badan, langsung bilang. Kita bisa berhenti kapan aja."

"Aku nggak selemah itu ven," jawabku pelan, setengah bercanda.

Ia tidak tertawa. "Aku tahu. Tapi tetap aja bilang ya."

Nada suaranya bukan sekadar perhatian. Ada sesuatu yang lebih dari itu, seperti ia ingin memastikan aku tidak melakukan apa pun di luar pengawasannya. Tangannya mantap di setir, tapi rahangnya terlihat tegang.

Kami masuk tol saat matahari mulai naik. Pemandangan berubah jadi deretan kendaraan panjang dan papan petunjuk arah. Aku menyandarkan kepala ke kursi, melihat garis-garis jalan yang bergerak cepat di bawah kami. Ada rasa aneh di dadaku. Antara gugup dan penasaran.

Bandung.

Kota itu terasa jauh, bukan cuma secara jarak. Seolah ada bagian hidupku yang tertinggal di sana dan belum sempat kuambil kembali.

Arven menyalakan musik pelan, lagu yang biasa ia putar di rumah. Ia melirikku lagi. "Kamu masih oke?"

"Iya."

"Jangan terlalu dipikirin," katanya. "Sekolah cuma tempat. Kalau kamu nggak inget apa-apa, itu bukan salah kamu."

Aku menoleh ke arahnya. "Kamu pernah ke sana?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Tangannya sedikit mengencang di setir sebelum ia menjawab. "Nggak. Aku cuma tahu dari cerita kamu dulu."

"Cerita apa?"

"Kamu bilang sekolahnya biasa aja. Nggak spesial." Ia tersenyum tipis. "Kamu malah lebih sering cerita soal temen-temen kamu."

Teman-teman.

Nama Maya sempat terlintas di kepalaku, tapi aku tidak menyebutnya. Aku kembali melihat ke depan. Jalan tol membentang panjang, seperti tidak ada ujungnya.

Beberapa jam berlalu. Kami sempat berhenti di rest area. Arven membelikan aku minum dan memaksaku makan sedikit walau aku bilang tidak lapar. Ia terus memperhatikanku, menanyakan kondisiku berulang kali. Setiap kali aku bilang aku baik-baik saja, ia terlihat sedikit lega.

Saat kembali ke mobil, langit mulai sedikit mendung. Aku memperhatikan tangannya saat ia menyalakan mesin lagi. Tapi bayangan Bima muncul lagi tanpa diminta. Tubuhnya terbaring di aspal, wajahnya pucat ia tidak bergerak.

"Ren."

Aku tersentak kecil.

"Kamu bengong," kata Arven. "Pusing?"

Aku menggeleng. "Cuma mikir."

"Mikir apa?"

Aku hampir menjawab jujur. Hampir saja. Tapi aku menelan kata-kata itu kembali.

"Penasaran aja," kataku akhirnya. "Kira-kira sekolahnya masih sama nggak, ya."

Arven diam beberapa detik sebelum menjawab, "Nanti juga kamu lihat sendiri."

Mobil kembali melaju. Papan penunjuk arah ke Bandung mulai terlihat semakin sering. Dadaku berdebar lebih cepat sekarang. Ini benar-benar terjadi. Aku benar-benar menuju tempat yang mungkin menyimpan potongan hidupku yang hilang.

Di sampingku, Arven tetap fokus mengemudi. Terlihat tenang seperti biasa. Tapi setiap kali ponselnya bergetar karena notifikasi, ia langsung meliriknya sekilas lalu mematikan layar tanpa membiarkanku melihat.

Mobil terus melaju, membelah jalan tol yang mulai dipenuhi kendaraan dari arah berlawanan. Hujan tipis akhirnya turun, menyisakan titik-titik kecil di kaca depan yang segera disapu wiper secara teratur. Suasana di dalam mobil hangat dan tenang, hanya ada suara mesin dan musik pelan yang mengisi ruang.

Beberapa menit berlalu tanpa percakapan. Aku kembali menyandarkan kepala ke kursi, menatap ke luar jendela. Tiba-tiba tangannya terlepas dari setir sebentar dan mendarat di atas kepalaku. Ia mengelus rambutku pelan, seperti sudah menjadi kebiasaan.

Aku menoleh cepat. "Ngelus-ngelus mulu, ih," ucapku bercanda, sedikit menggeser kepalaku menjauh.

Ia hanya tersenyum kecil tanpa melihatku. Tangannya turun lagi ke setir, tapi tidak lama kemudian kembali menyentuh kepalaku, kali ini lebih pelan, ujung jarinya menyusuri rambut di dekat pelipisku.

"Apaan sih," gumamku, menahan senyum.

Ia akhirnya menoleh, sudut bibirnya terangkat. "Emang nggak boleh aku ngelus kepala pacar sendiri, hm?"

Aku langsung terdiam.

Pacar.

Kata itu keluar begitu saja dari mulutnya, santai, seolah memang sudah seharusnya begitu. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Aku tahu kami memang bersama. Aku tahu secara logika dia orang yang paling ada untukku sekarang.

"Aku cuma bilang ngelusnya kebanyakan," jawabku akhirnya, berusaha terdengar biasa.

"Yaudah, aku nggak ngelus lagi deh," ucap Arven bercanda. Tangannya langsung terangkat dari kepalaku, pura-pura ditarik menjauh dengan ekspresi sok tersinggung.

Aku refleks menoleh. "Eh-"

Sebelum ia benar-benar menarik tangannya kembali ke setir, aku menahannya. Jari-jariku menangkap pergelangan tangannya, lalu dengan gerakan pelan aku mengarahkan lagi telapak tangannya ke atas kepalaku.

"Aku kan nggak bilang jangan," kataku, berusaha tetap santai walau wajahku terasa panas.

Arven terdiam sebentar. Tangannya kini diam di rambutku, tidak bergerak. Ia menoleh pelan ke arahku, alisnya sedikit terangkat, jelas tidak menyangka aku akan melakukan itu.

"Oh," gumamnya pelan.

Aku pura-pura menatap lurus ke depan, padahal aku bisa merasakan tatapannya. Beberapa detik kemudian, ia kembali mengelus rambutku dengan lebih lembut dari sebelumnya, kali ini tanpa jahil.

"Berarti aku boleh?" tanyanya pelan.

"Kalau kamu tanya terus malah nggak boleh," jawabku cepat.

Ia tertawa kecil. Tangannya turun sebentar untuk memegang setir lebih kuat saat mobil sedikit berganti jalur, lalu kembali lagi menyentuh kepalaku, seperti tidak ingin benar-benar berhenti.

"Aneh," katanya pelan.

"Apanya?"

"Kamu," jawabnya santai. "Tadi protes. Sekarang malah nahan aku."

Aku mendengus pelan. "Kamu yang mulai duluan."

"Dan kamu yang nggak mau berhenti."

Aku memutar mata. "Arven."

Ia tertawa kecil, lalu tiba-tiba tangannya turun dari kepalaku ke pipiku. Ia mencubit pelan, membuatku refleks hampir menepis tangannya.

"Kenapa sih kamu suka banget ganggu?" tanyaku, pura-pura kesal.

"Karena kamu lucu kalau bingung," jawabnya jujur. "Mukanya berubah. Kayak lagi mikir keras padahal cuma digodain."

Aku bisa merasakan wajahku menghangat. "Nggak lucu."

"Lucu," katanya cepat.

Aku memilih menatap ke depan lagi, mencoba mengalihkan perhatian. Tapi beberapa detik kemudian, tangannya kembali naik, mengacak rambutku sekali lagi. Kali ini aku tidak protes, hanya menghela napas panjang.

"Aku jadi berantakan tau," gumamku.

"Nggak," jawabnya pelan. "Kamu tetap cantik."

Nada suaranya lebih lembut sekarang, tidak sejahil tadi. Ada keseriusan tipis di sana. Aku meliriknya. Ia kembali fokus ke jalan, tapi senyumnya masih ada.

Hujan mulai sedikit lebih deras. Ia otomatis menyalakan lampu mobil, lalu tanpa sadar lagi-lagi mengelus kepalaku, lebih singkat kali ini, seperti memastikan aku benar-benar ada di sampingnya.

Aku tidak menepisnya lagi.

Entah kenapa, di antara rasa penasaran dan kecemasan tentang Bandung, ada bagian kecil dalam diriku yang merasa nyaman dengan sentuhan itu. Hangat dan akrab.

Tapi bersamaan dengan itu, ada juga pertanyaan kecil yang muncul pelan di kepalaku.

Kenapa setiap kali ia menyentuhku, rasanya seperti ia sedang memastikan sesuatu tidak lepas dari genggamannya?

1
j_ryuka
ajak main kek dia ven, pasti ada apa-apanya ini si arven
j_ryuka
segala cara arven melindungi seren, aku curiga sama authornya 🙏
SarSari_
Gas aja, May. Culik Seren gapapa.... Seren juga butuh refreshing, bukan dikurung terus.😂
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷🥀
hahaha.. diperhatikan sampai nafasnya
Ria Irawati
karena kondisi seperti itu membutuhkan perhatian lebih. orang di sekitar juga harus lebih peka
pojok_kulon
Kayak pembunuhan berencanaa
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷🥀
pasti enak puter musik, aku suka setel musik🤭
Panda%Sya🐼
Kok Arven tegang gitu ya
pojok_kulon
Arven kyak punya dua kepribadian
Ria Irawati
apa kini kau mulai menyadari sesuatu tentang arven?? penisirin banget
Panda%Sya🐼
Idihh jadi ngapain suruh nyanyi kalau suaranya gak bagus
j_ryuka
aku curiga sama author nya
Suo: kok sama aku kak😭
total 1 replies
j_ryuka
kasik tau aja
Ria Irawati
mau apa nih?? cek kesehatan kah??
pojok_kulon
Ya kyaknya yg mungkin kebetulan hape Seren hilang tiba² tapi ditemukan lagi di cas dan kebetulan juga maya bunuh diri
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷🥀
emangnya bisa nyanyi?, nanti dinyanyiin nina bobo🤭kayak anak bayi
Panda%Sya🐼
Aku juga dong, lagi capek ni. Baru habis kerja, butuhnya asupan lagu tidur. Biar besok sahur matanya langsung terbuka dengan lebar 🤭
j_ryuka
mau ngapain nih ke rumah sakit
Ria Irawati
kaya lagi Nina boboin anak kecil🤣
pojok_kulon
Duh kasian maya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!