mengisahkan perjalanan Liu Wei, seorang pemuda yang kehilangan desa dan keluarga karena serangan kelompok jahat Pasukan Bayangan Hitam. Setelah bertemu Chen Mei dari Sekte Bintang Penyusun, ia mengetahui bahwa dirinya adalah salah satu dari enam Pendekar Bintang terpilih yang bertugas menjaga keseimbangan alam semesta.
Dengan membawa Pedang Angin Biru pusaka keluarga dan Kalung Panduan Bintang, Liu Wei harus mencari Pendekar lainnya sebelum Pasukan Bayangan Hitam yang dipimpin oleh Zhang Feng menangkap mereka semua dan mendapatkan Lima Batu Kekuatan yang bisa menghancurkan dunia. Perjalanan penuh bahaya menantinya, di mana ia harus menguasai kekuatan batinnya dan menyatukan kekuatan rekan-rekannya untuk menghadapi ancaman kegelapan yang semakin besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya Diatas Bukit Belerang
Udara malam di atas Bukit Belerang terasa sangat dingin, menusuk hingga ke tulang belulang. Daun-daun pohon cemara bergoyang diterpa angin kencang, membuat suara seperti bisikan ribuan makhluk tak kasat mata. Liu Wei berdiri tegak di puncak bukit, matanya terpaku pada langit yang penuh dengan bintang-bintang bersinar terang. Tubuhnya hanya dibaluti baju dalam dan rok kain tebal yang sudah lusuh, namun dia tidak merasa sedikit pun kedinginan. Pikirannya terfokus pada satu hal saja: pesan yang diberikan ayahnya sebelum meninggal.
“Waktu akan tiba, Wei. Saatnya kamu menemukan jalurmu sebagai bagian dari Bintang Penyusun,” ucap ayahnya dalam ingatan yang masih sangat jelas di benaknya.
Sejak tiga tahun yang lalu, setelah desa kelahirannya di lereng Gunung Tian Shan hancur terbakar oleh kelompok pembunuh misterius yang menyebut diri mereka “Pasukan Bayangan Hitam”, Liu Wei telah hidup sebagai pengembara. Dia menyimpan rahasia besar yang hanya diketahui oleh dia dan beberapa orang tua desa yang sudah tiada: darah pendekar bintang mengalir di dalam dirinya.
Tiba-tiba, seberkas cahaya putih menyilaukan menerobos awan, jatuh tepat di tengah padang rumput kering di bawah bukit. Cahaya itu membentuk pola seperti enam bintang yang saling terhubung—pola yang sama dengan tato yang muncul di bagian belakang tangan kirinya setiap kali malam penuh tiba.
“Akankah ini saatnya?” bisik Liu Wei sambil menekan telapak tangannya ke tanah, merasakan getaran lembut yang menyebar dari tempat cahaya jatuh.
Dia melangkah turun dengan langkah ringan, tubuhnya bergerak seperti air yang mengalir—keahlian yang dia pelajari dari ayahnya sejak masih kecil. Saat sampai di tengah padang, dia melihat sosok seorang wanita yang terlentang di atas permukaan tanah yang sedikit mengkilap seperti kristal. Wanita itu mengenakan baju hitam dengan aksen emas, rambut hitamnya menyebar seperti sungai gelap di sekitar wajahnya yang pucat. Di lehernya, sebuah kalung berbentuk bintang enam sisi terpancar cahaya lunak.
Liu Wei mendekat dengan hati-hati, tangannya sudah siap untuk menarik pedang yang selalu dia bawa di sabuk pinggangnya—Pedang Angin Biru yang merupakan pusaka keluarga. Namun sebelum dia bisa melakukan apa-apa, wanita itu mengerutkan dahinya dan membuka mata. Matanya berwarna keunguan tua, seperti laut dalam yang menyimpan banyak rahasia.
“Siapa kamu?” tanya wanita itu dengan suara lemah namun tegas, sambil mencoba untuk duduk.
“Liu Wei. Saya melihat cahaya jatuh ke sini dan datang untuk memeriksa,” jawab Liu Wei sambil tetap menjaga jarak aman. “Siapa kamu? Kenapa kamu ada di sini?”
Wanita itu menghela napas dalam, kemudian melihat ke arah langit sebelum kembali menatap Liu Wei. “Nama saya Chen Mei. Saya datang dari Sekte Bintang Penyusun di Pegunungan Kunlun. Kita sedang dalam bahaya besar.”
“Sekte Bintang Penyusun?” tanya Liu Wei dengan mata membesar. “Ayah saya pernah berbicara tentang mereka. Katanya, mereka adalah kelompok pendekar yang menjaga keseimbangan alam semesta.”
Chen Mei mengangguk perlahan. “Betul sekali. Namun sekarang, Pasukan Bayangan Hitam telah menyerang markas kita. Mereka mencari Lima Batu Kekuatan yang jika disatukan, bisa menghancurkan seluruh dunia dan membuka pintu bagi kekuatan kegelapan yang jauh lebih besar.”
Liu Wei merasa detak jantungnya berpacu kencang. Pasukan Bayangan Hitam—kelompok yang sama yang menghancurkan desanya dan membunuh orang tuanya. “Mereka juga yang menghancurkan desa saya,” ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar. “Ayah saya adalah salah satu pendekar dari Sekte itu juga, bukan?”
Chen Mei melihatnya dengan ekspresi penuh pengertian. “Saya kira begitu. Tanda di tanganmu sudah menjawabnya. Kamu adalah salah satu dari enam Pendekar Bintang Penyusun yang terpilih untuk melindungi dunia ini.”
“Enam?” tanya Liu Wei bingung.
“Ya. Setiap Pendekar Bintang memiliki kekuatan yang berasal dari salah satu bintang dalam pola Bintang Penyusun. Kamu adalah Pendekar Bintang Utama, yang memiliki kemampuan untuk menyatukan kekuatan semua pendekar lainnya,” jelas Chen Mei sambil perlahan berdiri. Tubuhnya masih goyah, jadi Liu Wei cepat melangkah untuk menolongnya.
“Terima kasih,” ucap Chen Mei dengan senyum tipis. “Saya harus segera pergi mencari Pendekar lainnya sebelum Pasukan Bayangan Hitam menemukan mereka terlebih dahulu. Mereka sudah menangkap dua di antara kita. Jika mereka menangkap semua, maka semuanya akan berakhir.”
“Maka saya akan ikut denganmu,” kata Liu Wei dengan tegas. “Saya sudah kehilangan keluarga dan desa saya karena mereka. Sekarang saya punya kesempatan untuk membalas dan melindungi orang lain agar tidak mengalami hal yang sama.”
Chen Mei melihatnya dengan mata penuh penghargaan. “Itu adalah keputusan yang penuh keberanian, Liu Wei. Namun perjalanan ini tidak akan mudah. Pasukan Bayangan Hitam dipimpin oleh Zhang Feng, pendekar kegelapan yang dulunya adalah salah satu anggota Sekte kita sebelum dia menyimpang dan memilih jalan kegelapan.”
“Zhang Feng…” bisik Liu Wei sambil menggenggam gagang Pedang Angin Birunya. “Saya akan mengingat nama itu.”
Sebelum mereka bisa berbicara lebih jauh, suara deru kuda yang semakin dekat terdengar dari arah jalan bawah bukit. Cahaya unggun dari banyak obor menyala terang, menerangi jalan yang menuju ke puncak Bukit Belerang.
“Mereka sudah menemukan kita,” kata Chen Mei dengan wajah serius. “Pasukan Bayangan Hitam. Kita harus pergi sekarang juga.”
Liu Wei mengangguk, kemudian melihat ke arah hutan yang berada di sisi lain padang. “Ada jalan kecil melalui hutan yang bisa kita gunakan untuk melarikan diri. Saya tahu daerah ini cukup baik karena sering berkemah di sini.”
Tanpa berlama-lama lagi, keduanya berlari ke arah hutan dengan kecepatan tinggi. Liu Wei memimpin jalan, menggunakan pengetahuannya tentang medan untuk memilih jalan yang paling sulit dilacak. Di belakang mereka, suara jeritan dan teriakan semakin dekat—Pasukan Bayangan Hitam sudah tiba di padang dan menyadari bahwa mangsanya sudah tidak ada di sana.
Setelah berlari selama beberapa menit, mereka sampai di sebuah gua tersembunyi di bawah akar pohon besar. Liu Wei mendorong semak-semak yang menutupi pintu gua, kemudian mengajak Chen Mei masuk. Dalam gua itu cukup luas dan kering, dengan beberapa celah kecil di atas yang membiarkan sinar bulan masuk.
“Kita bisa bersembunyi di sini untuk sementara waktu,” kata Liu Wei sambil menurunkannya di atas batu yang rata. “Kamu perlu istirahat. Tubuhmu masih lemah.”
Chen Mei mengangguk, kemudian menarik kalung di lehernya. Cahaya dari kalung itu semakin terang, menerangi seluruh ruangan gua dengan cahaya keemasan hangat. “Kamu benar. Saya terluka saat melarikan diri dari markas kita. Tapi sebelum saya istirahat, ada sesuatu yang perlu saya berikan padamu.”
Dia melepaskan kalung dari lehernya dan membawanya ke arah Liu Wei. “Ini adalah Kalung Panduan Bintang. Ia akan membantu kamu menemukan Pendekar lainnya dan menunjukkan lokasi Batu Kekuatan yang tersisa. Kamu harus menjaganya dengan nyawa kamu.”
Liu Wei menerima kalung dengan hati-hati. Saat jarinya menyentuh permukaan logamnya yang dingin, dia merasakan getaran hangat mengalir ke seluruh tubuhnya. Tato di tangannya mulai bersinar dengan cahaya yang sama dengan kalung itu.
“Bagaimana cara menggunakannya?” tanya Liu Wei.
“Kamu hanya perlu memikirkannya dengan tulus, dan ia akan menunjukkan jalan yang harus kamu tempuh,” jelas Chen Mei sambil mulai merasa mengantuk. “Sekarang saya perlu istirahat sebentar. Jaga dirimu baik-baik, Liu Wei. Masa depan dunia ada di tanganmu dan Pendekar lainnya.”
Sebelum Liu Wei bisa menjawab, Chen Mei sudah menutup mata dan terlelap dalam tidur yang dalam. Liu Wei menaruh kalung di lehernya, kemudian berdiri di depan pintu gua dengan memegang Pedang Angin Birunya erat-erat. Dia melihat ke luar melalui celah semak-semak, melihat cahaya obor Pasukan Bayangan Hitam yang semakin dekat dengan arah hutan.
Waktu telah tiba untuk dia bangkit sebagai Pendekar Bintang Penyusun. Perjalanan panjang dan penuh bahaya menantinya, tetapi dia sudah siap. Dia akan menemukan Pendekar lainnya, menyelamatkan dunia dari kehancuran, dan membalaskan dendam bagi keluarga serta desa yang hilang.
Di langit luar sana, pola enam bintang bersinar lebih terang dari biasanya—seolah-olah memberikan dukungan dan harapan bagi anak muda yang akan menjadi harapan dunia.