Lydia tidak pernah menyangka, setelah dipecat dan membatalkan petunangan, ia dicintai ugal-ugalan oleh keponakan mantan bosnya.
Rico Arion Wijaya, keturunan dari dua keluarga kaya, yang mencintainya dengan cara istimewa.
Apakah mereka akan bersama, atau berpisah karena status di antara mereka? ikuti terus kisahnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noorinor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Marvin melempar barang-barang yang bisa dijangkau oleh tangannya. Ia marah sekaligus kecewa mengetahui Lydia menolak menjenguknya ke rumah sakit. Padahal, ia sudah berusaha tampil meyakinkan agar Lydia percaya bahwa dirinya sakit.
Wulan hanya menunduk menyaksikan semua itu. Ia takut melihat bosnya marah, tapi tidak mampu melakukan apa pun. Lydia menolak datang, dan bahkan rambut Wulan sempat menjadi korban perempuan itu.
Posisinya sekarang serba salah, ia dianggap tidak berempati dan tidak becus di waktu yang bersamaan. Jika boleh memilih, ia pasti akan memilih berhenti dari pekerjaannya daripada berada di posisi itu.
Namun, keadaan memaksanya bertahan. Ia tidak bisa berhenti bekerja sementara keluarganya menggantungkan hidup padanya. Ia anak pertama dan menjadi pulang punggung keluarga.
"Kamu terlihat sangat menyedihkan sekarang," ujar seseorang diambang pintu.
Wulan menoleh sejenak ke arah pintu. Seorang perempuan cantik berdiri di sana, mengenakan gaun merah yang memperlihatkan belahan dadanya.
“Apa dia tidak sadar bahwa dirinya sendiri jauh lebih menyedihkan?” batinnya, masih menatap perempuan itu.
Wulan tahu betul siapa perempuan itu—Aurora, salah satu perempuan yang kerap diajak tidur oleh bosnya.
"Daripada kamu mengamuk tidak jelas di sini, lebih baik kita memesan kamar," ucap Aurora tanpa memfilter mulutnya.
Marvin berhenti melempar barang saat melihat Aurora disana. Diam-diam ia membenarkan perkataan perempuan itu. Ia sudah mencapai kesuksesan dan bisa bersenang-senang dengan perempuan manapun, tidak sepantasnya ia merendahkan diri dan melakukan semua ini.
"Tidak ada waktu untuk memesan kamar sekarang," kata laki-laki itu dengan senyuman yang mengisyaratkan sesuatu.
Wulan memutar mata jengah, lalu pergi dari sana. Ia tahu betul apa yang akan terjadi setelahnya di ruangan itu.
***
"Brengsek si Marvin," umpat Haikal setelah Calvin menceritakan tentang mantan pacar Airin.
Ia pikir Marvin hanya berselingkuh dengan banyak perempuan. Tidak disangka, ternyata laki-laki itu juga suka meniduri para selingkuhannya.
“Terus lo mau apa sekarang, Vier?” tanya Nathan pada Xavier.
Dibandingkan hal lain, ia lebih penasaran dengan langkah yang akan Xavier ambil setelah mengetahui putrinya kemungkinan sudah tidur dengan Marvin.
"Jangan lupa libatkan gue kalau lo mau ngasih Marvin pelajaran," seru Haikal, sebelum Xavier sempat menjawab pertanyaan Nathan.
"Masih belum pasti, tapi gue sudah nyuruh orang untuk memastikan ini," ujar Calvin agar Xavier tidak terlalu memikirkannya.
Xavier menghela napas pelan. Ia tidak menyalahkan siapa pun sekarang. Justru sebaliknya, ia merasa bersalah karena kasih sayang yang ia berikan pada Airin sepertinya masih belum cukup, hingga putrinya itu mencari kasih sayang dari laki-laki lain.
"Gue duluan," ucap Xavier, tanpa merespons perkataan para sahabatnya.
Ia terlihat sangat terpukul setelah mendengar cerita Calvin. Memang belum pasti, tapi kemungkinan itu ada dan itulah yang menghancurkan perasaannya sebagai seorang ayah.
***
Arion sudah mulai terbiasa dengan rasa lelah di tempat kerja. Namun, pikirannya tentang Airin membuat segalanya terasa jauh lebih berat. Ia hanya tenang sesaat ketika berbicara dengan Calvin.
Perasaannya sebagai kakak hancur, terlebih pamannya masih belum mengabari apa pun sekarang.
“Baru pulang?” tanya Lydia saat Arion melewati unit apartemennya.
Arion tersenyum begitu melihat Lydia. Setidaknya, kini ada perempuan itu yang sedikit mengobati lelahnya setelah hari panjang yang ia jalani.
“Iya, aku baru pulang. Mau ke mana, Kak?” ujar Arion sambil tersenyum.
“Kakak mau buang ini,” kata Lydia sambil menunjukkan kantong sampah di tangannya.
Arion melirik kantong sampah itu, lalu mengambilnya dari tangan Lydia.
“Biar aku saja yang buang,” ucapnya sebelum berjalan ke arah pembuangan.
“Eh?” Lydia menyusul di belakang Arion. Ia merasa tidak enak membiarkan laki-laki yang sudah lelah bekerja membuang sampah.
Arion melangkah ke arah ruang pembuangan sampah di ujung koridor lantai itu, sementara Lydia masih, mengekori di belakangnya.
"Kenapa Kakak ikut ke sini?” tanya Arion begitu sadar Lydia menyusulnya. Pikirannya yang sejak tadi kacau membuatnya tidak menyadari kehadiran Lydia.
Lydia mengangkat sedikit bahunya.
“Kamu sudah makan?” tanyanya. Ia sadar Arion masih memikirkan tentang Airin, sehingga sengaja mengalihkan dengan hal lain.
"Belum," jawab Arion seadanya. Terakhir ia makan saat makan siang bersama, itupun makanannya tidak sempat ia habiskan.
"Kebetulan Kakak baru selesai masak, kita bisa makan malam bersama kalau kamu mau," tawarnya.
"Kakak makan duluan saja, aku mau mandi dulu," ujar Arion, menolak secara halus.
Ia ingin mencoba masakan Lydia, namun sekarang bukan waktu yang tepat untuk itu. Nafsu makannya hilang karena terus memikirkan Airin.
"Baiklah," Lydia tidak memaksa Arion. Ia hanya mengangguk, lalu berbalik untuk pergi.
Sebelum Lydia sempat melangkah, Arion lebih dulu menahan pergelangan tangannya. Dengan satu tarikan, ia membalik tubuh Lydia, hingga perempuan itu jatuh ke pelukannya.
"Aku akan mencoba masakan Kakak lain kali," bisiknya di telinga Lydia sambil mengeratkan pelukannya.
Arion benar-benar tidak nafsu makan sekarang, tapi ia juga tidak ingin membuat Lydia sedih karena masakannya ditolak. Ia mengatakan itu agar Lydia tahu bahwa ia juga ingin mencoba masakannya.
"Jadi mau mandi itu cuma alasan, dan sekarang kamu terang-terangan mengakui kalau kamu menolak Kakak?" tanya Lydia sambil mendecih pelan diakhir kalimatnya.
Ia tidak sedang menyalahkan Arion. Ia mengerti jika laki-laki itu masih memikirkan tentang Airin.
"Aku tidak menolak Kakak," jawab Arion cepat, lalu melepaskan pelukannya dan menatap wajah Lydia.
"Besok aku akan mencoba masakan Kakak, aku janji," Arion mengangkat jari kelingkingnya sebagai bukti bahwa dia berjanji pada Lydia.
Lydia hanya melirik jari kelingking Arion dan kembali menatap wajah laki-laki itu, yang masih berusaha meyakinkannya.
"Memang kamu bisa pastikan nafsu makan kamu sudah kembali besok? Kakak juga belum tentu masak, kan?" ujarnya.
Arion terdiam sesaat. Perkataan Lydia benar, Arion sendiri tidak yakin apakah nafsu makannya bisa kembali besok dan Lydia juga belum tentu masak.
"Tidak apa-apa kalau kamu tidak mau makan masakan Kakak, yang penting kamu jaga kesehatan. Jangan sampai sakit," ucap Lydia sambil tersenyum hangat.
***
Pandangan Arion tidak lepas dari Lydia yang sedang sibuk menyiapkan makan malam mereka. Ia memutuskan makan bersama Lydia, bahkan tanpa mandi ataupun mengganti pakaian.
Ini pertama kalinya Arion melihat sisi berbeda dari Lydia. Siapa sangka perempuan yang dulu sibuk dengan berbagai jadwal bosnya ternyata cukup mahir di dapur.
Lydia tidak berbohong saat mengatakan dirinya baru selesai masak. Alasan ia sibuk sekali sekarang karena memang masakannya belum dihidangkan diatas meja makan.
"Tidak usah buru-buru, Kak. Aku akan menunggu Kakak kok," ujar Arion pada Lydia yang masih sibuk menghidangkan makanan.
Hanya ada mereka berdua di sana. Rina masih menginap di apartemen Lydia, tapi perempuan itu sedang berada di luar.
"Kakak takut nafsu makan kamu keburu hilang kalau tidak buru-buru," sahut Lydia di sela kesibukannya.
Arion terkekeh pelan, merasa gemas dan terhibur saat Lydia mengatakan itu. Ia tidak pernah merasa tidak bahagia berada di sisi Lydia, bahkan meskipun pikirannya sedang kacau seperti sekarang.
"Asal bukan Kakak yang hilang, aku rasa semuanya akan baik-baik saja," ucap Arion. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya jika Lydia tidak lagi ada di sisinya.
Senyuman terlukis di bibir Lydia tanpa sadar setelah Arion mengatakan itu.