NovelToon NovelToon
Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Algoritma Jodoh Di Ruang Sidang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:20
Nilai: 5
Nama Author: Fatin fatin

"Mencintai Pak Alkan itu ibarat looping tanpa break condition. Melelahkan, tapi nggak bisa berhenti"
Sasya tahu, secara statistik, peluang mahasiswi "random" sepertinya untuk bersanding dengan Alkan Malik Al-Azhar—dosen jenius dengan standar moral setinggi menara BTS—adalah mendekati nol. Aris adalah definisi green flag berjalan yang terbungkus kemeja rapi dan bahasa yang sangat formal. Bagi Aris, cinta itu harus logis; dan jatuh cinta pada mahasiswa sendiri sama sekali tidak logis.
Tapi, bagaimana jika "jalur langit" mulai mengintervensi logika?
Akankah hubungan ini berakhir di pelaminan, atau justru terhenti di meja sidang sebagai skandal kampus paling memilukan? Saat doa dua pertiga malam beradu dengan aturan dunia nyata, siapa yang akan menang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatin fatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 26

Musim semi di London membawa udara yang lebih bersahabat. Bunga-bunga daffodil mulai bermekaran di taman-taman kota, seolah merayakan kemenangan Alkan setelah badai spionase itu berhasil ditumpas total. Kandungan sasya sudah mencapai 9 bulan ,Namun bagi Sasya, trimester ketiga ini adalah fase yang paling berat. Perutnya sudah sangat besar, dan setiap pergerakan janin di dalamnya terasa seperti tekanan pada sistem yang sudah mencapai kapasitas maksimal.

Satu minggu sebelum jadwal kuliah umum Alkan di Imperial College, Sasya mulai merasakan gelombang nyeri yang datang dan pergi.

"Mas... perutku kencang sekali," rintih Sasya sambil memegang pinggangnya.

Alkan yang sedang menyiapkan materi presentasi langsung siaga. Ia mengambil stopwatch digital di ponselnya. "Intervalnya berapa menit sekali, Sya?"

"Tadi sepuluh menit, sekarang hilang lagi."

Setelah berkonsultasi dengan bidan melalui panggilan video, ternyata itu hanya kontraksi Braxton Hicks. Alkan menarik napas lega, namun ia tetap tidak beranjak dari sisi Sasya, mengelus perut istrinya dengan lembut sembari membisikkan doa-doa penguat.

Pukul 02.00 dini hari, tepat pada hari Alkan dijadwalkan naik ke podium, sistem pertahanan Sasya benar-benar "pecah". Cairan hangat merembes membasahi tempat tidur. Sasya terbangun dengan rasa nyeri yang jauh lebih tajam, seperti gelombang listrik yang merambat dari punggung ke perut bawahnya.

"Mas... air ketubanku pecah," suara Sasya bergetar menahan sakit.

Alkan tidak lagi menggunakan logika dinginnya. Ia bergerak cepat, membawa Sasya ke St. Mary’s Hospital yang kini sudah dijaga ketat. Di ruang bersalin, pemeriksaan menunjukkan Pembukaan 3.

"Masih panjang, Sayang. Tarik napas lewat hidung, buang lewat mulut," bisik Alkan sembari membiarkan tangannya diremas kuat oleh Sasya setiap kali kontraksi datang.

Memasuki Pembukaan 5, Sasya mulai mengerang. Rasa sakitnya kini tidak lagi memberi jeda yang lama. Alkan membantu Sasya duduk di atas gym ball, menopang tubuh istrinya dari belakang. Keringat mulai membanjiri wajah Sasya.

Pukul 08.00 pagi. Suasana semakin dramatis. Sasya sudah mulai kehilangan kontrol atas pernapasannya. Setiap gelombang kontraksi terasa seperti "serangan DDoS" yang membombardir seluruh sarafnya.

"Aku nggak kuat, Mas... sakit banget," tangis Sasya pecah saat bidan mengumumkan Pembukaan 8.

Alkan mengecup dahi Sasya yang basah oleh keringat. "Kamu kuat, Sasya. Ingat saat kamu berjuang di sidang skripsi? Ini jauh lebih mulia. Mas ada di sini, Mas nggak akan lepas tangan kamu."

Saat masuk ke Pembukaan 9, Sasya mulai merasakan dorongan hebat dari bawah. Wajahnya memerah, otot-otot lehernya menegang. Ia ingin mengejan, namun bidan melarangnya karena pembukaan belum lengkap. Sasya menggigit bibirnya, menahan sakit yang luar biasa dramatis hingga kuku-kukunya memutih karena mencengkeram lengan Alkan.

"Pembukaan lengkap! Ayo Sasya, saat kontraksi datang, tarik napas dalam, dagu tempel ke dada, dan mengejan seperti yang sudah dilatih!" seru bidan dalam bahasa Inggris yang tegas.

Sasya menarik napas dalam-dalam, paru-parunya terisi oksigen maksimal. "Nggghhhhhh!!!" ia mengejan dengan seluruh sisa tenaganya. Matanya terpejam rapat, urat-urat di keningnya menonjol.

"Pintar, Sasya! Kepalanya sudah terlihat! Sekali lagi, lebih panjang!" Alkan ikut berteriak, memberikan semangat di telinga Sasya sembari menyeka keringat di wajah istrinya.

Sasya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Ia merasa tenaganya hampir habis, namun saat ia menatap mata Alkan yang penuh keyakinan, ia menemukan cadangan energi terakhir.

"Haaaaah... NGGGHHHHHHHH!!!!"

Sasya mengejan sekuat tenaga, tubuhnya gemetar hebat. Ia merasakan sensasi terbakar yang luar biasa saat kepala bayi mulai keluar. Ia menarik napas pendek-pendek, lalu dengan satu dorongan panjang terakhir yang sangat dramatis dan penuh perjuangan...

"OEKKKK! OEKKKKKK!"

Suara tangisan melengking itu memecah ketegangan di ruangan. Seluruh tim medis yang tadinya tegang mendadak luruh. Sasya terkulai lemas di tempat tidur, napasnya memburu, matanya sayu namun penuh dengan binar kemenangan.

Bidan meletakkan bayi laki-laki yang masih merah dan berlumuran cairan itu di atas dada Sasya. Tangisan bayi itu mereda begitu merasakan detak jantung ibunya.

Alkan terisak. Profesor yang dikenal kaku dan tanpa emosi itu kini menangis tersedu-sedu sambil menciumi tangan Sasya. "Terima kasih, Sasya... Terima kasih. Dia sempurna. Kamu hebat sekali."

Sasya tersenyum lemah, menyentuh jemari mungil anaknya. "Dia... Anugerah paling indah dalam hidup kita, Mas."

Malam itu, di bawah langit London yang mulai cerah, sebuah algoritma baru telah lahir. Bukan berupa kode di layar komputer, melainkan sebuah nyawa yang akan menjadi penerus logika dan cinta mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!