NovelToon NovelToon
Maximilien

Maximilien

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dikelilingi wanita cantik / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Kisah Pencinta Yang Asing

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penolakan

Kata-kata Chelsea Van Der Wood bagaikan racun yang merayap perlahan namun pasti, melumpuhkan syaraf-syaraf kepercayaan yang baru saja Guzzel bangun kembali. "Terapi seksual."

​Guzzel duduk terdiam di balkon kamar tidurnya, menatap lampu-lampu New York yang biasanya terlihat indah, namun malam ini tampak seperti mata-mata yang mengintai kegagalannya.

Ia mengusap perutnya yang kian menonjol. Di sana ada kehidupan, namun kehidupan itu kini terasa seperti sebuah monumen atas ketidaksengajaan yang memilukan.

​"Apakah aku hanya obat baginya?" bisiknya pada kegelapan.

​Ia teringat betapa Max dulu sangat jijik pada sentuhan wanita.

Lalu, entah bagaimana, Max bisa menyentuhnya, menciumnya, dan melakukan hal-hal paling intim bersamanya di Paris dan di apartemen New York. Apakah itu karena cinta, ataukah karena Max secara tidak sadar hanya menggunakan Guzzel sebagai "kelinci percobaan" untuk mematahkan traumanya sendiri?

Jika Max sudah sembuh, apakah ia akan tetap menginginkan Guzzel? Ataukah ia akan pergi mencari wanita sempurna seperti Chelsea?

​Keraguan itu tumbuh menjadi benteng yang kokoh. Guzzel mulai menarik diri. Ia berhenti membalas pesan-pesan manis Max.

Ia menolak ketika Max ingin menemaninya ke dokter kandungan. Ia bahkan mengganti kunci apartemennya dan memerintahkan pengawal pribadinya untuk tidak membiarkan Maximilien Vance menginjakkan kaki di properti keluarga Dante.

​Max merasa dunianya kembali runtuh. Ia tahu Chelsea telah menemui Guzzel, dan ia bisa menebak racun apa yang disebarkan wanita itu. Max berdiri di depan halaman apartemen Guzzel selama berjam-jam di bawah guyuran hujan, namun pintu apartemen itu tetap tertutup rapat.

​"Guzzel! Buka pintunya!" teriak Max, suaranya parau. "Jangan dengarkan dia! Chelsea tidak tahu apa-apa tentang kita!"

​Tidak ada jawaban. Keheningan dari balik pintu itu lebih menyakitkan daripada tamparan atau makian. Max merasa seolah-olah ia kembali menjadi pria kesepian di aplikasi Veloce, yang hanya bisa memuja bayangan wanita yang tidak bisa ia sentuh.

​Putus asa, Max mulai mengirimkan rangkaian pesan panjang. Ia tidak lagi menggunakan bahasa bisnis yang kaku. Ia kembali menjadi 'V', pria yang dulu memenangkan hati 'Lia'.

​V: Guzzel, ingatkah kau malam ketiga kita di Paris? Saat hujan turun sama seperti malam ini, dan kita hanya duduk di lantai sambil berbagi sepotong cokelat? Kau bilang padaku bahwa detak jantungku adalah melodi favoritmu. Kau bilang kau merasa aman di pelukanku.

​V: Apakah kau benar-benar percaya bahwa penyatuan kita hanya sebuah terapi? Bagaimana mungkin sebuah terapi bisa membuatku menangis saat aku memilikimu? Bagaimana mungkin sebuah terapi bisa membuatku berani menantang ayahku sendiri dan menghancurkan reputasiku demi namamu?

​V: Aku merindukan cara kau mendesah saat aku mengecup tengkukmu. Aku merindukan cara jemarimu mencengkeram bahuku saat kita mencapai puncak bersama. Itu bukan sekadar gairah fisik, Guzzel. Itu adalah dua jiwa yang akhirnya menemukan rumah setelah sekian lama terlantar.

​Guzzel membaca pesan-pesan itu di dalam kamarnya, air matanya jatuh membasahi layar ponsel. Setiap kata yang dikirim Max terasa seperti jarum yang menarik kembali hatinya yang ingin lari. Namun, bayangan Chelsea yang angkuh dan kata-kata "murah" terus menghantuinya.

​Tiga hari kemudian, Max berhasil mencegat Guzzel di taman pribadi universitas yang sepi. Guzzel baru saja selesai bimbingan skripsi, dan Max sudah menunggunya di balik deretan pohon mapel.

​"Jangan lari lagi," ucap Max tegas saat Guzzel mencoba berbalik. Max melangkah maju, menghalangi jalan Guzzel. Wajahnya tampak kuyu, matanya merah karena kurang tidur.

"Lihat aku, Guzzel. Katakan langsung di depanku bahwa kau tidak mencintaiku lagi, maka aku akan pergi."

​Guzzel mendongak, matanya yang sembab menatap Max dengan dingin. "Aku tidak butuh tanggung jawabmu, Max. Pergi saja pada Chelsea. Pergi pada wanita yang setara dengan bisnismu. Aku bisa membesarkan anak ini sendiri. Keluarga Dante tidak butuh belas kasihan dari seorang Vance."

​"Belas kasihan?" Max tertawa pahit, suaranya pecah. "Kau pikir ini tentang belas kasihan? Aku mencintaimu sampai aku merasa gila! Aku tidak bisa tidur tanpa membayangkan aroma parfummu. Aku tidak bisa bernapas tanpa tahu kau baik-baik saja!"

​Max mencoba meraih tangan Guzzel, namun Guzzel menyembunyikan tangannya di balik mantel. "Jangan menyentuhku. Aku tidak ingin menjadi terapimu lagi. Aku tidak ingin kau menyentuhku hanya untuk memastikan bahwa traumamu sudah sembuh."

​"Guzzel, dengarkan aku..." Max mencoba merayu, suaranya melembut, ia melangkah semakin dekat hingga Guzzel terpojok di batang pohon. Max merendahkan suaranya, menggunakan nada yang sama yang dulu membuat Guzzel gemetar di Paris. "Ingat malam itu? Saat aku menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memuaskanmu dengan mulut dan jariku? Ingat saat aku bilang bahwa aku ingin menjadi satu-satunya pria yang kau ingat saat kau merasakan kenikmatan? Apakah kau pikir aku bisa melakukan itu pada wanita lain? Tidak, Guzzel. Hanya kau. Tubuhku, jiwaku, hanya bereaksi padamu."

​Max membungkuk, mencoba mengecup leher Guzzel, mencoba membangkitkan kembali gairah yang ia tahu masih ada di sana. "Biarkan aku membuktikannya lagi malam ini. Biarkan aku mencintaimu sampai kau tidak punya ruang lagi untuk ragu."

​Untuk sesaat, Guzzel merasa lemah. Kehangatan napas Max di kulitnya, aroma maskulin yang begitu ia kenal, hampir membuatnya menyerah. Tubuhnya merindukan Max, setiap sel dalam dirinya berteriak untuk ditarik ke dalam pelukan pria itu. Namun, harga dirinya jauh lebih kuat.

​Guzzel mendorong dada Max dengan seluruh tenaganya.

​"Hentikan, Max! Cukup!" teriak Guzzel. "Kau pikir kau bisa menyelesaikan segalanya dengan seks? Kau pikir dengan membawaku ke tempat tidur, semua keraguanku akan hilang? Itu justru membuktikan bahwa Chelsea benar! Kau hanya menginginkan tubuhku untuk memvalidasi kesembuhanmu!"

​Max tertegun, tangannya menggantung di udara.

​"Aku menolak sentuhanmu ini," ujar Guzzel tegas, suaranya kini tenang namun tajam. "Aku menolak menjadi pelampiasan gairahmu yang dibungkus dengan kata-kata romantis. Mulai detik ini, jangan pernah bicara tentang malam-malam kita di Paris atau di apartemenmu. Itu adalah masa lalu yang aku sesali."

​"Kau menyesalinya?" tanya Max, suaranya hampir tidak terdengar. Rasa sakit di matanya begitu nyata.

​"Ya. Aku menyesal telah membiarkanmu masuk sejauh itu ke dalam hidupku hanya untuk dijadikan alat eksperimen," bohong Guzzel, meski hatinya terasa seperti disobek-sobek.

"Jika kau benar-benar mencintaiku, pergilah. Selesaikan urusanmu dengan ayahmu dan Chelsea tanpa melibatkanku. Aku tidak ingin anak ini lahir dalam lingkungan penuh intrik dan wanita-wanita seperti Chelsea yang merendahkan ibunya."

​Guzzel berjalan pergi, meninggalkan Max yang berdiri mematung di tengah taman yang mulai gelap. Max merasa seolah-olah ia baru saja kehilangan napasnya. Guzzel benar-benar membentengi diri. Cinta yang dulu begitu membara kini terhalang oleh tembok es yang lebih tebal dari yang pernah dimiliki Max dulu.

​Malam itu, Guzzel kembali menangis di kamarnya. Ia memegang perutnya, meratapi kenyataan bahwa ia baru saja mengusir ayah dari bayinya. Ia tahu Max terluka, namun ia lebih takut jika ia memaafkan Max sekarang, ia hanya akan berakhir sebagai bayang-bayang di hidup Max yang penuh dengan tuntutan keluarga Vance.

​Di sisi lain kota, Max duduk di bar rumahnya, menatap botol wiski yang belum dibuka. Ia teringat kembali semua percakapan mereka di Veloce.

​Lia: V, apa yang akan kau lakukan jika suatu hari aku berhenti mempercayaimu?

V: Aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia, Lia. Aku akan membangun kembali kepercayaan itu, meski aku harus menghabiskan sisa hidupku untuk meletakkan satu batu bata setiap harinya.

​Max menegakkan punggungnya. Matanya yang tadi redup kini kembali menyala dengan tekad yang dingin. "Kau ingin aku menyelesaikan urusanku, Guzzel? Baik. Aku akan menghancurkan Chelsea, aku akan menghancurkan ayahku, dan aku akan meruntuhkan tembok yang kau bangun itu, meskipun aku harus berdarah-darah."

​Max mengambil ponselnya dan menghubungi Danesh. "Danesh, jalankan rencana B. Aku ingin semua aset Van Der Wood di Amerika diblokir besok pagi. Dan cari tahu rahasia terdalam Chelsea. Jika dia ingin bermain kotor dengan menghina Guzzel, aku akan memastikan dia tidak punya tempat lagi untuk berpijak di industri ini."

​Perang sesungguhnya baru saja dimulai. Bukan hanya perang memperebutkan kekuasaan, tapi perang untuk memenangkan kembali hati seorang wanita yang telah kehilangan kepercayaannya.

Max tidak akan menyerah, karena baginya, Guzzel bukan sekadar terapi, Guzzel adalah satu-satunya alasan mengapa jantungnya masih berdetak di dunia yang penuh dengan kepalsuan ini.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

happy reading 🥰

1
ren_iren
pliss jangan rusak aurelia dgn dendam ke saudaranya kak....
iluh asrini
cerita yang sangat menarik terimakasih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!