NovelToon NovelToon
NEGRI TANPA HARAPAN

NEGRI TANPA HARAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Sistem / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:194
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Arjuna kembali ke kampung halamannya hanya untuk menemukan reruntuhan dan abu. Desa Harapan Baru telah dibakar habis, ratusan nyawa melayang, termasuk ayahnya. Yang tersisa hanya sebuah surat dengan nama: Kaisar Kelam.
Dengan hati penuh dendam, Arjuna melangkah ke Kota Kelam untuk mencari kebenaran. Di sana ia bertemu Sari, guru sukarelawan dengan luka yang sama. Bersama hacker jenius Pixel, mereka mengungkap konspirasi mengerikan: Kaisar Kelam adalah Adrian Mahendra, CEO Axion Corporation yang mengendalikan perdagangan manusia, korupsi sistemik, dan pembunuhan massal.
Tapi kebenaran paling menyakitkan: Adrian adalah ayah kandung Sari yang menjualnya saat bayi. Kini mereka diburu untuk dibunuh, kehilangan segalanya, namun menemukan satu hal: keluarga dari orang-orang yang sama-sama hancur.
Ini kisah tentang dendam yang membakar jiwa, cinta yang tumbuh di reruntuhan, dan perjuangan melawan sistem busuk yang menguasai negeri. Perjuangan yang mungkin menghancurkan mereka, atau mengubah se

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: PESAN DARI HANTU

#

Klinik gelap di pinggiran kota itu bukan tempat yang layak disebut rumah sakit. Lebih mirip gudang yang diubah jadi tempat praktek ilegal. Tidak ada plang. Tidak ada lampu terang. Cuma pintu besi berkarat dengan ketukan kode tertentu.

Pixel mengetuk. Tiga kali cepat, dua kali lambat. Pintu terbuka, muncul wajah pria tua dengan jenggot panjang dan mata yang letih.

"Dokter Arman," kata Pixel. "Aku butuh bantuan. Temanku terluka parah."

Dokter itu melirik Arjuna yang hampir tidak sadar di gendongan Pixel. Darah masih menetes dari luka di kepalanya.

"Masuk. Cepat. Sebelum ada yang lihat."

Mereka masuk ke ruangan yang bau antiseptik bercampur sesuatu yang lebih busuk. Ada kasur bekas dengan sprei bernoda, meja operasi yang sudah berkarat, alat-alat medis yang terlihat sudah tua sekali.

"Taruh dia di sana," Dokter Arman tunjuk kasur. Pixel membaringkan Arjuna dengan hati-hati. Arjuna merintih, matanya setengah terbuka.

"Sari..." bisiknya. "Aku harus... selamatkan Sari..."

"Diam dulu," kata Pixel, tangannya menyentuh dahi Arjuna yang panas. "Kau harus sembuh dulu. Baru kita selamatkan dia."

Dokter Arman mulai memeriksa. Membuka baju Arjuna yang sobek dan penuh darah. Wajahnya makin serius melihat lebam besar di dada dan perut.

"Tulang rusuknya patah. Pendarahan internal kemungkinan ada. Gegar otak ringan." Ia menatap Pixel. "Dia butuh rumah sakit beneran. Aku cuma bisa jahit luka luar dan kasih obat pereda sakit. Kalau pendarahan internalnya parah, dia bisa mati."

"Dia tidak bisa ke rumah sakit," kata Pixel cepat. "Kami dicari. Kalau kami masuk rumah sakit, kami ditangkap atau lebih buruk."

"Lalu kalian mau aku gimana? Aku bukan dewa yang bisa mukjizat!"

"Lakukan yang kau bisa. Apapun. Kumohon." Pixel mengeluarkan uang dari sakunya. Semua uang yang ia punya. Mungkin cuma dua ratus ribu. "Ini semua yang aku punya. Aku tahu ini tidak cukup tapi..."

Dokter Arman menatap uang itu. Lalu menatap Arjuna. Lalu menghela napas panjang.

"Simpan uangmu," katanya lelah. "Aku akan bantu. Bukan karena uang. Tapi karena aku pernah muda dan bodoh seperti kalian. Pernah berjuang untuk sesuatu yang terasa mustahil."

Ia mulai bekerja. Membersihkan luka. Menjahit yang perlu dijahit. Memberikan suntikan antibiotik dan pereda sakit. Pixel duduk di sudut, memeluk laptopnya, menatap Arjuna yang merintih kesakitan setiap kali jarum menyentuh kulitnya.

Dua jam berlalu. Dokter Arman akhirnya selesai, tangannya penuh darah, wajahnya lebih lelah lagi.

"Aku sudah lakukan yang aku bisa," katanya sambil cuci tangan. "Sekarang tinggal tunggu. Kalau dia bertahan sampai besok, kemungkinan dia selamat. Kalau tidak..."

"Dia akan selamat," potong Pixel. "Dia harus."

"Semoga." Dokter Arman ambil jaketnya. "Kalian bisa tinggal di sini malam ini. Tapi besok pagi kalian harus pergi. Aku tidak mau dikaitkan dengan masalah kalian."

"Terima kasih, Dok. Terima kasih banyak."

Dokter itu pergi. Meninggalkan Pixel sendirian dengan Arjuna yang terlelap karena obat pereda sakit.

Pixel duduk di kursi samping kasur, menatap wajah Arjuna yang pucat. Lebam di mana-mana. Perban di kepala. Napas yang tidak teratur.

"Kau bodoh sekali," bisiknya. "Bodoh sekali mencoba lawan Adrian sendirian. Tapi aku... aku juga bodoh karena pergi meninggalkan kalian."

Ia buka laptopnya. Harus ada sesuatu yang bisa ia lakukan. Harus ada cara untuk lacak kemana Adrian membawa Sari. Harus ada...

Laptopnya berbunyi. Notifikasi email masuk.

Pixel menatap layar. Email dari alamat yang tidak dikenal. Subjectnya: "UNTUK ARJUNA WIBOWO".

Ia ragu sebentar. Ini bisa jebakan. Bisa virus. Tapi...

Ia klik.

Email terbuka. Cuma satu baris:

"Aku masih hidup. Kita harus bertemu. Ayahmu, H.S."

Pixel membeku. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin.

Hendrawan Surya. Ayah Arjuna. Yang mestinya sudah mati.

Tangannya gemetar saat ia scroll ke bawah. Ada attachment. File terenkripsi. Ia coba buka, tapi butuh password.

Ia coba beberapa kombinasi. Semua salah. Lalu ia ingat. Ingat password yang Arjuna pakai untuk flashdisk ayahnya dulu.

Anoman.

Ia ketik. File terbuka.

Di dalam ada pesan panjang:

"Arjuna, anakku.

Kalau kau membaca ini, berarti kau masih hidup. Syukurlah. Aku khawatir sekali setelah mendengar apa yang terjadi di pelabuhan tadi. Maafkan ayah yang tidak bisa datang lebih cepat untuk menyelamatkanmu.

Ya, aku masih hidup. Aku yang menembak anak buah Naga Hitam saat kalian kabur dari markas The Black Serpent. Aku yang mengawasi kalian dari jauh selama ini. Maafkan ayah yang tidak bisa muncul lebih awal. Terlalu berbahaya. Adrian punya mata dimana-mana.

Tapi sekarang situasi sudah berubah. Adrian mengambil Sari. Itu garis merah yang tidak bisa ayah biarkan. Sari seperti anakku sendiri. Aku tidak akan biarkan dia menderita di tangan monster itu.

Kita harus bertemu. Kita harus rencanakan serangan balik. Tapi tidak di kota. Terlalu berbahaya. Datang ke Desa Lembah Kabut. Desa yang tidak ada di peta resmi. Tempat persembunyianku selama ini.

Koordinat: -6.8274, 107.1389

Datang sendirian. Atau dengan Pixel kalau dia masih bersamamu. Jangan bawa orang lain. Percaya pada ayah.

Aku tahu kau marah. Aku tahu kau merasa aku mengkhianatimu dengan membiarkanmu pikir aku mati. Tapi semua ini kulakukan untuk melindungimu. Dan sekarang... sekarang waktunya untuk kita berjuang bersama.

Datang dalam tiga hari. Jam 10 malam. Ada rumah kayu di ujung desa. Ketuk pintu lima kali. Ayah akan tunggu.

Maafkan ayah untuk segalanya.

Hendrawan Surya"

Pixel membaca pesan itu berkali-kali. Tangannya gemetar begitu kuat sampai laptopnya hampir jatuh.

Hendrawan masih hidup.

Masih hidup dan mengawasi mereka selama ini.

Masih hidup tapi membiarkan Arjuna menderita, membiarkan Arjuna pikir ia yatim, membiarkan Arjuna hampir mati berkali-kali.

"Sialan..." bisik Pixel. "Sialan... ini..."

Ia tidak tahu harus senang atau marah. Senang karena ayah Arjuna tidak mati. Marah karena pria itu membiarkan anaknya sendiri berjuang sendirian.

Ia menatap Arjuna yang masih tertidur. Haruskah ia kasih tahu sekarang? Atau tunggu sampai Arjuna bangun?

Keputusan diambil untuk dia saat Arjuna tiba-tiba membuka matanya. Perlahan, susah payah, tapi mata itu terbuka.

"Pixel..." suaranya serak. "Sari... dimana Sari..."

"Dia diambil Adrian," jawab Pixel pelan. "Tapi kita akan selamatkan dia. Aku janji."

Arjuna mencoba duduk tapi meringis kesakitan. "Aku harus... harus pergi sekarang... tidak bisa buang waktu..."

"Kau tidak kemana-mana dengan kondisi seperti ini," Pixel menahannya. "Kau bahkan tidak bisa berdiri. Mau gimana selamatkan Sari?"

"Aku tidak peduli! Aku harus..." Arjuna batuk, batuk keras sampai darah keluar sedikit dari sudut bibirnya. Ia jatuh lagi ke kasur, napasnya tersengal. "Sial... sial..."

"Dengar," Pixel menarik napas dalam. "Ada sesuatu yang harus kau tahu. Sesuatu yang... yang akan bikin kau marah. Atau senang. Atau keduanya. Aku tidak tahu."

"Apa?"

Pixel putar laptopnya, tunjukkan email itu.

Arjuna menatap layar. Membaca. Matanya melebar. Napasnya berhenti.

"Ini... ini lelucon kan?" bisiknya. "Ini jebakan Adrian. Pasti jebakan."

"Aku pikir begitu juga. Tapi aku cek alamat pengirim. Aku trace servernya. Ini dikirim dari lokasi terpencil di pegunungan. Bukan dari jaringan Adrian. Dan passwordnya... passwordnya yang cuma kau dan ayahmu tahu."

Arjuna menatap email itu lebih lama. Tangannya gemetar menyentuh layar, menyentuh tulisan "Ayahmu".

"Dia... dia hidup," bibirnya bergetar. "Ayah masih hidup."

"Ya."

Hening. Hening yang panjang. Lalu...

Lalu Arjuna menangis.

Menangis begitu keras sampai tubuhnya bergetar, sampai luka di dadanya terasa seperti terbuka lagi, sampai ia tidak bisa napas dengan benar.

"KENAPA?!" ia raung. "KENAPA DIA BIARKAN AKU PIKIR DIA MATI?! KENAPA DIA TIDAK BILANG DARI AWAL?! AKU... AKU MENANGIS UNTUKNYA! AKU BERSUMPAH BALAS DENDAM UNTUKNYA! AKU HAMPIR MATI BERKALI-KALI DAN DIA... DIA CUMA NONTON DARI JAUH?!"

"Arjuna..."

"JANGAN SENTUH AKU!" Arjuna menepis tangan Pixel. "Jangan... jangan bilang dia melakukan itu untuk melindungiku. Jangan bilang dia punya alasan bagus. Karena tidak ada alasan yang cukup bagus untuk bikin anakmu sendiri menderita seperti ini!"

Ia memukul kasur, memukul berkali-kali sampai tangannya sakit, sampai perban di kepalanya basah oleh keringat dan air mata.

"Aku benci dia," bisiknya. "Aku benci dia karena membohongiku. Tapi aku... aku juga rindu dia. Aku rindu ayahku. Dan aku benci diriku sendiri karena merasa begitu."

Pixel tidak tahu harus bilang apa. Tidak ada kata-kata yang tepat untuk situasi seperti ini. Jadi ia cuma duduk di sana, biarkan Arjuna mengeluarkan semua rasa sakitnya.

Lama. Sangat lama. Sampai tangisan Arjuna berubah jadi isakannya yang pelan, sampai ia tidak punya air mata lagi untuk dikeluarkan.

"Aku harus ketemu dia," kata Arjuna akhirnya, suaranya serak. "Aku harus ketemu dia dan tanya langsung kenapa. Kenapa dia lakukan ini semua."

"Kau yakin? Ini bisa jebakan."

"Aku tidak peduli." Arjuna menatap Pixel dengan mata yang merah tapi penuh tekad. "Bahkan kalau ini jebakan. Bahkan kalau aku mati di sana. Aku harus tahu kebenaran. Aku harus dengar langsung dari mulutnya."

Pixel menatap mata itu. Mata yang sudah terlalu banyak lihat penderitaan. Mata yang sudah terlalu lelah tapi tetap belum menyerah.

"Oke," katanya akhirnya. "Kita pergi ke Desa Lembah Kabut. Tapi sebelum itu, kau harus sembuh dulu. Setidaknya cukup untuk bisa jalan tanpa jatuh setiap lima langkah."

"Berapa lama?"

"Dokter bilang kalau kau bertahan sampai besok, kau selamat. Jadi kita tunggu besok. Kalau kau sudah lebih baik, kita berangkat besok malam."

"Besok malam terlalu lama. Sari..."

"Sari di tangan Adrian sekarang," potong Pixel, suaranya keras. "Dan Adrian tidak akan bunuh dia. Dia terlalu berharga. Dia anak Adrian sendiri. Jadi kita punya waktu. Tidak banyak, tapi ada. Gunakan waktu itu untuk sembuh. Untuk bersiap. Karena setelah kita bertemu ayahmu, setelah kita dengar rencananya, kita akan serang Adrian dengan semua yang kita punya."

Arjuna menatap langit-langit yang retak. Di pikirannya ada gambaran Sari. Sari yang menangis saat diseret keluar. Sari yang menatapnya dengan mata penuh ketakutan.

"Tahan, Sari," bisiknya. "Tahan sedikit lagi. Aku akan datang. Aku janji aku akan datang."

Tapi di hatinya, ada ketakutan yang tidak bisa ia hilangkan.

Ketakutan kalau ia sudah terlambat.

Ketakutan kalau saat ia datang, Sari sudah berubah jadi orang lain.

Atau lebih buruk.

Ketakutan kalau Sari sudah tidak ada lagi.

***

Di mansion mewah di kawasan elite Kota Kelam, Sari duduk di kamar besar dengan tempat tidur empuk, tirai sutra, dan pemandangan kota yang berkilauan.

Tapi semua kemewahan itu terasa seperti penjara.

Pintu dikunci dari luar. Jendela tidak bisa dibuka. Kamera di sudut ruangan mengawasi setiap gerakannya.

Ia duduk di tepi tempat tidur, memeluk lututnya, menatap kosong ke lantai marmer yang mengkilap.

Di pikirannya, ia terus ulang momen terakhir melihat Arjuna. Arjuna yang terbaring berdarah. Arjuna yang mencoba meraih tangannya tapi tidak kuat.

"Kumohon jangan mati," bisiknya. "Kumohon, Arjuna. Bertahan. Bertahan untuk aku."

Pintu terbuka. Adrian masuk dengan nampan berisi makanan mewah. Steak, sayuran panggang, wine merah.

"Kau belum makan sejak tadi pagi," katanya lembut. Terlalu lembut untuk monster. "Kau harus makan, sayang. Tidak baik untuk kesehatanmu."

"Aku tidak lapar," jawab Sari datar.

"Kau harus tetap makan meski tidak lapar." Adrian taruh nampan di meja samping tempat tidur. "Ini bukan hukuman, Sari. Ini rumahmu. Rumah yang seharusnya kau tinggali sejak lahir."

"Ini bukan rumahku," Sari menatapnya dengan mata penuh kebencian. "Rumahku adalah gubuk kumuh dengan Bu Lastri. Rumahku adalah sekolah kecil tempat aku mengajar anak-anak. Rumahku adalah dimanapun Arjuna berada. Bukan di sini. Tidak pernah di sini."

Adrian tersenyum sedih. "Suatu hari kau akan mengerti. Suatu hari kau akan sadar kalau aku melakukan ini untuk kebaikanmu."

"Untuk kebaikanku?" Sari tertawa, tawa yang terdengar seperti orang yang sudah gila. "Kau jual ibuku. Kau coba jual aku. Kau bunuh ratusan orang. Dan kau bilang ini untuk kebaikanku?"

"Aku memberikan kau kehidupan yang layak. Kehidupan yang tidak akan pernah kau dapat dengan tinggal di gubuk kumuh itu."

"Aku lebih suka mati di gubuk kumuh itu daripada hidup di istana yang dibangun dari darah orang tidak bersalah."

Adrian menatapnya lama. Lalu ia mengangguk pelan. "Oke. Aku paham. Kau butuh waktu. Aku akan beri kau waktu. Tapi ingat, Sari. Kau anak darahku. Mau tidak mau, kau bagian dariku. Dan suatu hari, kau akan sadar kalau kita sama."

"Aku tidak akan pernah sepertimu."

"Kita lihat saja," Adrian berjalan ke pintu. Berhenti sebentar. "Oh, dan Arjuna? Temanmu itu? Dia masih hidup. Untuk sekarang. Tapi kalau dia coba cari kau, kalau dia coba selamatkan kau, aku akan bunuh dia. Perlahan. Menyakitkan. Di depan matamu. Jadi kalau kau sayang dia, berdoa saja supaya dia cukup pintar untuk tidak datang."

Ia keluar. Pintu dikunci lagi.

Sari jatuh ke tempat tidur, menangis ke bantal yang lembut dan mahal dan terasa begitu asing.

"Jangan datang, Arjuna," bisiknya. "Kumohon jangan datang. Aku tidak sanggup lihat kau mati. Aku tidak sanggup..."

Tapi di dalam hatinya yang paling dalam, ada bagian kecil yang berharap.

Berharap Arjuna akan datang.

Berharap ia akan diselamatkan.

Meski ia tahu harapan itu mungkin akan membunuh mereka berdua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!