"Jangan menghindar, Alana..."
dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.
Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.
"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Amarah Sang Penguasa Adicandra
Raden melangkah keluar dari reruntuhan gerbang mansion dengan napas memburu.
Hujan badai yang turun seolah ingin membasuh jelaga hitam di wajahnya.
Namun, setetes air pun tak mampu memadamkan api amarah yang menguasai jiwanya.
Ia masuk dengan membanting pintu mobil sport hitam cadangannya yang terparkir di garasi luar.
Menginjak pedal gas hingga ban mobil itu berdecit, berputar di atas aspal yang basah.
Mobil itu melesat seperti anak panah yang dilepas dari busurnya, menembus kegelapan malam.
Satu tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat kuat hingga buku jarinya memutih.
Sementara tangan lainnya meraih handsfree dan memasangnya di telinga.
Ia ingat satu hal yang harus dilakukan sebelum sampai ke neraka yang sengaja dibuat oleh Aldo dan Nadia.
Ia harus segera menghubungi pria yang paling bertanggung jawab atas harga diri keluarga ini.
Tangannya lalu menekan satu nomor di kontak darurat. Nomor pribadi Papanya, Arsenio Adicandra.
Raden sempat sedikit frustrasi karena sang Papa tak kunjung mengangkat panggilannya.
Nada sambung terdengar beberapa kali, setiap detiknya terasa seperti bertahun-tahun bagi Raden.
"Raden? Ada apa kamu menelepon malam-malam begini, Nak?" suara di seberang terdengar.
"Papa sekarang sedang di ruang baca. Mamamu baru saja mengantarkan teh hangat untuk Papa," tanya Arsenio dengan nada santai.
Arsenio sama sekali tidak tahu akan ada badai menuju ke arahnya.
Jantung Raden serasa berhenti berdetak mendengar kata 'Mama' disebut oleh Papanya.
Ia menelan ludahnya kasar. Suaranya bergetar menahan ledakan emosi yang menyesakkan dada.
Sabar Raden, belum saatnya, ucapnya dalam hati.
"Papa... tolong dengarkan aku baik-baik," ucap Raden dengan nada rendah yang sangat serius.
"Jangan memotong perkataanku dan jangan menunjukkan reaksi apa pun jika wanita itu ada di dekat Papa sekarang."
Di seberang sana terdengar jeda sejenak. Arsenio Adicandra adalah pria yang cerdas.
Ia langsung bisa menangkap ada bahaya dari suara putranya. "Katakan Raden, ada apa?"
"Mansionku baru saja dibom, Pa. Alana dan ayahnya hampir mati."
Sebelum melanjutkan, Raden menjeda kalimatnya sejenak.
"Dan alasan kenapa mansionku di bom adalah rahasia yang sangat menjijikkan."
"Papa... wanita yang saat ini bersamamu di rumah... wanita yang selama ini tidur di sampingmu... dia bukan Mama."
Hening. Sunyi senyap seolah tanpa penghuni menyelimuti telepon itu.
Raden bisa mendengar suara napas Papanya yang mendadak berat di seberang sana.
"Apa maksudmu Raden? Ini tidak lucu! Jangan bercanda soal nyawa ibumu!"
Suara Arsenio naik satu oktaf penuh penekanan yang menyeramkan.
"Pa, aku serius. Aku tidak bercanda. Bahkan aku melihatnya sendiri melalui kamera tersembunyi."
"Mama kandungku yang asli disekap di sebuah gedung tua!"
"Sementara wanita itu adalah kembaran Mama yang selama ini kita anggap sudah mati," teriak Raden penuh emosi.
Di seberang sana terdengar suara gelas pecah yang baru saja menghantam lantai.
Arsenio Adicandra, pria yang paling ditakuti di dunia bisnis itu, kini terlihat seperti singa yang baru saja terluka.
"Bajingan..." desis Arsenio. Suaranya langsung berubah menjadi sangat dingin melebihi Kutub Utara.
"Jadi selama ini aku memelihara iblis di rumahku sendiri? Dia bahkan membohongiku selama belasan tahun."
"Pa... Papa harus segera bertindak. Amankan dia hidup-hidup jangan sampai kabur."
"Saat ini aku sedang menuju tempat Mama disekap. Aku akan membawa Mama kembali atau tidak akan kembali sama sekali."
"Raden! Jangan bicara sembarangan!" teriak Arsenio menggelegar.
"Habisi Aldo... habisi pengkhianat itu! Jangan sisakan satu pun bagian tubuhnya."
"Papa akan segera menyusul dan mengirimkan tim taktis untuk menutup seluruh perbatasan kota."
"Selamatkan Mamamu, Nak. Bawa dia kembali ke tempat yang seharusnya."
Klik.
Sambungan terputus dari seberang. Namun Raden belum selesai.
Ia segera menghubungkan saluran komunikasi khusus kepada anak buahnya, pasukan elit keluarga Adicandra.
"Unit satu, unit dua... aktifkan protokol kode merah. Kepung gedung tua di sektor selatan."
"Jangan biarkan satu lalat pun keluar tanpa izin!" perintah Raden penuh otoritas.
Sementara itu, di kediaman utama Adicandra, Arsenio yang dipenuhi emosi menatap tajam wanita mirip istrinya itu.
Wanita itu baru saja masuk ruangannya dengan wajah pura-pura polos.
Dia tampak tersenyum manis tanpa tahu ajalnya sudah berada di ujung tanduk.
"Papa, kenapa diam saja? Tehnya sudah dingin nggak enaklah kalau tidak segera diminum," ucap wanita itu lembut.
Arsenio menatapnya dengan tatapan mematikan. Tanpa membuang waktu lagi, ia melangkah pergi.
Ia menuju atap mansion di mana helikopter pribadinya sudah menderu siap membelah badai.
Ia harus menyusul putranya.
Di atas langit yang gelap, helikopter berlogo Adicandra membelah hujan badai.
Mesinnya meraung melawan angin. Di dalam kabin yang bising itu, Arsenio duduk dengan tatapan kosong.
Hatinya hancur berkeping-keping setelah menerima kenyataan ini.
Pikirannya melayang pada ribuan malam yang ia lewatkan bersama wanita di rumahnya.
Ia merasa mual saat mengingat hal itu.
Betapa hinanya dia, seorang penguasa yang tertipu dengan sandiwara murahan kembaran istrinya.
"Maafkan aku, Istriku..." batin Arsenio perih.
Ia mencengkeram senjata di tangannya hingga buku jarinya memutih.
Selama ini ia ternyata salah mengenali istrinya sendiri.
Rasa bersalah itu kini berubah haus darah layaknya vampir yang tak terbendung.
Arsenio bersumpah, malam ini ia akan meratakan siapa pun yang telah menyentuh wanita kesayangannya.
Sementara itu, di dalam bunker yang remang-remang, Alana berdiri di balik lemari besi.
Napasnya tersengal mencoba mengontrol detak jantungnya yang berdegup kencang.
Di tangannya, ia menggenggam tiga jarum suntik berisi cairan lumpuh saraf.
Logam jarum itu terasa dingin mengenai kulitnya seolah menuntut untuk segera digunakan.
Aku adalah seorang perawat. Tugasku menyembuhkan, batin Alana gemetar.
Namun di satu sisi ia melihat bayangan musuh mulai menembus pintu baja yang membara.
Ketakutannya ikut menguap, berganti dengan insting bertahan hidup yang kuat.
Ia harus bisa demi ayahnya yang terbaring lemah di belakangnya.
"Tapi untuk malam ini aku adalah benteng terakhir Ayah."
"Jika aku harus mengotori tanganku untuk melindunginya, maka akan aku lakukan."
Alana berucap sambil mempererat cengkeramannya pada suntikan itu.
Matanya menatap tajam ke arah pintu. Ia tahu persis di mana letak pembuluh vena leher berada.
Dengan satu tusukan dan semuanya selesai.
Alana kini bukan lagi gadis lemah; ia telah berubah menjadi pemburu di tengah kegelapan bunkernya.
Kembali ke gedung tua, mobil Raden sampai dengan posisi mengerem secara ekstrem.
Tak lama kemudian cahaya lampu sorot dari langit muncul bagai kilat.
Helikopter keluarga Adicandra mendarat dengan gagah di tengah hujan deras.
Arsenio Adicandra turun dari helikopter, diikuti ratusan anak buah bersenjata lengkap.
Ayah dan anak itu berdiri bersisihan di depan gedung tua tempat penyekapan Mamanya.
Tubuh mereka basah kuyup oleh hujan.
"ALDOOOO, BANGSAT! KELUAR KAU PECUNDANG!" teriak Raden.
Suaranya bergema bersamaan dengan suara petir yang menyambar.
Pertempuran besar keluarga Adicandra akan dimulai malam ini.
Dan dunia akan tahu apa akibatnya jika berani membangunkan seekor singa yang sedang tidur...
*****
Catatan Penulis:
Gimana Bab 26 ini, Guys? Arsenio Adicandra akhirnya turun tangan! Siap-siap buat aksi pembalasan yang lebih epic di bab depan. Jangan lupa Like, Komen, dan Vote ya supaya author makin semangat!