NovelToon NovelToon
Sentuhan Panas Sang Dokter

Sentuhan Panas Sang Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Dokter / Dark Romance
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: dhya_cha7

"Jangan menghindar, Alana..."

dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.

Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.

"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Peluru untuk Sang Mantan

Dorrrr!!

Suara tembakan yang begitu keras itu memecah keheningan malam.

Menghantam tepat kaca spion mobil Raden hingga hancur berkeping-keping, seperti orang yang lagi patah hati.

"Tundukkan kepala kalian sekarang! Jangan ada yang menoleh!" teriak Raden menggelegar.

Raden langsung membanting setir ke kanan secara ekstrem. Mobilnya itu meliuk tajam, mencoba menghindari berondongan peluru.

Pengendara motor sport hitam itu terus menempel bagai lintah di samping mereka. Raden tidak tinggal diam.

Ia langsung membalas tembakan itu dengan akurasi mematikan, tepat mengenai ban motor orang misterius tersebut.

Motor itu langsung terguling di aspal hingga menimbulkan percikan api.

Raden segera menginjak rem dalam-dalam hingga ban mobilnya berdencit keras.

Ia kemudian turun dengan aura membunuh yang kental. Menodongkan pistol tepat di dahi pengendara motor itu yang sedang berusaha bangkit.

"Siapa kau?" desis Raden dingin.

Pengendara motor itu mengerang kesakitan. Tangannya perlahan melepaskan pengait helm dan membukanya.

Begitu helm itu terlepas dan wajah si pengendara yang ternyata wanita terpapar sinar lampu terang mobil, Ayah Alana mendadak mematung.

Matanya melotot lebar hampir keluar dari tempatnya. Seluruh tubuhnya kaku seperti orang mati saat mengenali garis wajah itu.

Dengan tangan gemetar, Ayah Alana nekat membuka pintu mobil. Ia keluar dengan langkah goyah mengabaikan teriakan peringatan dari Raden.

Ia terus berjalan mendekat ke arah wanita itu. "Nggak... enggak mungkin... ini beneran kamu?" gumam Ayah Alana parau.

Ia menahan tangis saat jarak mereka tinggal beberapa langkah. Ia menelan ludahnya susah payah.

"Lama tidak bertemu. Penampilanmu banyak berubah, hmm... makin mengerikan."

Ayah Alana menarik napas panjang. "Huhhhhh.... Nadia, kamu beneran masih hidup!?"

Alana yang sejak tadi memperhatikan dari dalam mobil merasa ada yang tidak beres. Ia melihat bahwa ayahnya bergetar hebat.

Dengan rasa penasaran bercampur takut, Alana akhirnya memutuskan membuka pintu dan melangkah keluar.

Ia berdiri tepat di samping ayahnya yang masih terlihat syok. Lalu bergantian menatap antara ayahnya dan wanita asing itu.

"Yah, di-dia... siapa?" tanya Alana dengan suara bergetar.

"Dia itu mantan istri Ayah, Lan. Orang yang hampir menghancurkan hidup kita dulu," jawab ayahnya dengan napas naik turun.

Nadia meludah ke arah kaki Ayah Alana. "Cuih, apa kamu bilang? Hampir menghancurkan hidupmu?"

"Bahkan aku bisa menghancurkan hidup kalian saat ini juga! Lihat anakmu ini, dia sama menjijikkannya dengan ibunya yang miskin itu."

"Tutup mulutmu, jalang!" bentak Raden keras sambil menodongkan pistolnya lebih keras ke dahi Nadia.

"Apa kau juga yang menabrak pamanku? Jawab, sialan!"

"Hahaha... iya, benar! Aku yang menabrak pamanmu sampai sekarat! Dan itu masih permulaan!" Nadia tertawa persis orang gila.

"Dan untuk ibumu, gadis sialan... dia sedang menikmati 'keramahtamahan' suamiku di gudang bawah tanah."

"Bersama mama dokter ini yang ternyata sangat berisik saat disiksa oleh orang terdekatnya sendiri."

Plakkk!

Alana mendaratkan satu tamparan keras di pipi Nadia hingga wajah wanita itu tertoleh kesamping.

"Jangan pernah menyebut nama ibuku dengan mulut kotormu itu, sialan!" teriak Alana dengan napas memburu.

Nadia hendak membalas, namun Raden langsung melepaskan satu tembakan tepat di samping Nadia hingga wanita itu menjerit ketakutan.

"Sekali lagi kau bergerak apalagi berbicara omong kosong tentang ibu Alana, peluru ini akan langsung menembus otakmu!"

"Masuk ke dalam mobil sekarang!" teriak Raden menggelegar saat ia mendengar raungan mesin motor anak buah Nadia mulai mendekat.

Raden langsung menarik Alana dan ayahnya masuk, lalu membanting pintu mobil dengan keras.

Suara kunci otomatis terdengar mengunci seluruh akses, menciptakan keheningan yang mencekam di dalam kabin mewah itu.

Suara napas Alana masih memburu. Tangannya masih terasa panas dan gemetar setelah menampar Nadia.

Di sampingnya, Ayah Alana hanya terduduk lemas dengan tatapan kosong seolah masih sangat syok.

"Pegang pada pegangan pintu, jangan sampai kalian terpental," instruksi Raden singkat tanpa menoleh.

Ia lalu menginjak pedal gas sedalam mungkin, seperti rasa cintanya kepada Alana.

Ban mobil berdencit hebat meninggalkan jejak hitam sebelum mobil itu melesat kesetanan meninggalkan Nadia.

Sepanjang perjalanan menuju mansion pribadi Raden, suasana di mobil terasa begitu berat seperti memikul ratusan batu.

Raden menyetir dengan kecepatan tinggi, meliuk-liuk di jalanan hutan pinus yang gelap hanya mengandalkan lampu infrared.

Alana bisa melihat dengan jelas melalui spion tengah kalau rahang Raden mengeras.

"Raden... pelan-pelan... aku takut..." bisik Alana sambil mencengkeram sabuk pengaman.

Raden melirik sekilas lalu meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya erat untuk menyalurkan ketenangan.

"Tetaplah bernapas tenang Sayang, selama kamu bersamaku takkan pernah ada satu peluru pun yang bisa menyentuhmu."

Ayah Alana akhirnya membuka suara pelan. "Maafkan Ayah, Lan... Nak Raden, Ayah nggak tahu kalau Nadia bakal senekat ini."

Raden hanya menoleh sekilas. Ia tidak menjawab, hanya fokus menembus kegelapan.

Setelah sepuluh menit yang terasa seperti neraka, mereka sampai di sebuah gerbang besi raksasa yang muncul dari balik rimbunnya pohon.

Bip!

Gerbang terbuka otomatis menyambut mereka di kawasan mansion pribadi Raden.

"Turun sekarang! Ikut aku ke ruang bawah tanah!" ucap Raden tak mau dibantah.

Raden langsung menyeret mereka melewati lorong-lorong modern yang dingin hingga sampai di pintu baja berat, seberat kalau menahan rindu.

Inilah pusat kendali miliknya. Sebuah ruangan kedap suara yang dipenuhi puluhan monitor canggih yang menyala terang.

Raden mempersilakan Alana dan ayahnya untuk duduk di sofa panjang yang berada di sudut ruangan.

"Duduk diam di sana. Atur napas kalian. Jangan sentuh apa pun kalau tidak mau sistem keamanan mengunci kalian otomatis."

Ayah Alana langsung ambruk di sofa, sementara Alana duduk dengan tubuh yang masih bergetar.

Raden menarik kursi putarnya, mengembuskan napas panjang sejenak untuk menenangkan emosi yang hampir pecah.

Setelah cukup tenang, barulah jemarinya bergerak lincah di atas keyboard mekanis yang mengeluarkan suara klik tajam.

Bip!

Layar utama menyala, menampilkan visual dari sebuah gedung tua yang terisolasi.

Di sana terlihat Ibu Alana lemas bertubuh kurus dan memiliki luka lebam di wajah. Di sampingnya, mama Raden tampak tak berdaya dengan tubuh penuh luka.

Fokus Raden tertuju pada sosok wanita yang berdiri di bayang-bayang kegelapan, memegang cambuk sambil mengintimidasi mama Raden.

Wanita itu memiliki wajah yang sangat identik dengan mama Raden. Raden mematung dengan mata berkilat tajam penuh amarah.

"Jadi di sana kau menyembunyikan mamaku yang asli..." desis Raden dengan suara rendah tapi mematikan.

Raden teringat kembali pada rahasia yang sempat ia bongkar sebelumnya.

Ternyata wanita yang tinggal di rumahnya selama ini adalah kembaran mamanya yang licik.

Dan sekarang, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana iblis wanita itu menyiksa mama kandungnya.

"Malam ini juga, aku akan mengambil kembali milikku dan mengirimmu ke neraka!" janji Raden dengan mata memerah.

Alana yang sedang menangis tiba-tiba merasakan getaran halus di lantai ruangan itu.

Di saat yang sama mata Ayah Alana tidak sengaja melihat ke salah satu layar monitor CCTV area parkir di sudut ruangan.

Ia mendadak berteriak histeris seperti orang kesetanan.

"Nak Raden! Lihat layar yang itu cepat lihat!" teriak Ayah Alana sambil menunjuk layar monitor keamanan parkiran bawah.

Raden dan Alana spontan menoleh ke layar itu.

Kamera menyorot sudut bawah mobil mewah yang baru saja mereka parkirkan.

Sebuah benda hitam kecil dengan lampu merah yang berkedip cepat tertempel di sana.

"Sialan! Bom waktu!" umpat Raden kesal.

Mata Raden lalu beralih ke layar monitor yang menampilkan angka digital menghitung mundur.

Sisa waktu yang tersedia sangat sedikit, hanya sepuluh detik.

"Lari menuju bungker sekarang!" teriak Raden sambil menyambar pinggang Alana dan menarik Ayah Alana dengan kasar.

BOOOOOMMMMM!!!

*****

Catatan Penulis:

PLOT TWIST! Nadia kembali dan rahasia besar kembaran Mama Raden akhirnya terbongkar! 😱💔

Tapi... apakah Raden, Alana, dan Ayahnya selamat dari ledakan bom waktu itu? Ataukah ini akhir dari segalanya?

LIKE kalau kalian kaget sama kemunculan mantan istri Ayah Alana! 😡

KOMEN dong, apa yang harus Raden lakukan pada iblis yang menyamar jadi Mamanya?

VOTE & FAVORITKAN cerita ini supaya kita makin semangat gas pol ke Bab 25! 🚀🔥

1
Rikawaii San
ceritanya bagusss
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
lawan mereka Alana jangan takit💪🤗
julid banget jadi perawat
bagus Alana 😍lawan suster julid itu
mangkanya jangan mabuk alana😍🤣
😄🤭
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya yaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya nyaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat plot twist ygu
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
plisss uppp lagiii
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat sangat plot twist sekali yaa😍
muna aprilia
lanjut
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
suster Mia gak ada kapok kapok nya yaa😤😤😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ku pikir ibu nya benaran meninggal ternyata oh ternyata 😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
hahahaahhahah😄😄😄😄
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
suster Mia benar benar menyebalkan😤😏
dhya_cha7: "Hahhaha.. iya bener banget nih, Suster Mia emang hobinya jadi obat nyamuk ya! 😂 Eh iya, aku juga mau ngucapin terima kasih banyak buat gift kopinya, hehehe lumayan banget buat asupan tenaga buat ngadepin dr. Raden yang makin nakal di bab depan. Stay tune terus ya, Kak!! ❤️🔥"
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ceritanya bagus seru lagi
dhya_cha7: "Makasih ya sudah baca! Itu baru pemanasan loh, bab ke depannya bakal makin seru dan panas. Jadi, stay tune terus ya bareng dr. Raden! 🔥❤️"
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!