NovelToon NovelToon
Ditempat Dimana Salju Berhenti

Ditempat Dimana Salju Berhenti

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Yuh! No!

Sinopsis


Norden adalah kota mati bagi Noah, sampai Alice datang. Gadis misterius dari ibu kota itu menyewa jasa Noah untuk memperbaiki villa tua yang terasingkan di atas bukit.


Pada awalnya hanya hubungan kerja biasa, namun kesepian menyatukan mereka. Di tengah dinginnya angin utara, kedekatan itu terasa begitu nyata bagi Noah.


Namun, tepat ketika Noah merasa hidupnya mulai berubah, Alice menghilang dalam semalam.


Tanpa jejak, tanpa pesan. Hanya ada sebuah amplop tebal berisi uang yang tertinggal di meja bengkel Noah. Apakah kedekatan mereka selama ini nyata? Atau bagi Alice, Noah hanyalah sekadar "hiburan" yang kini sudah dibayar lunas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuh! No!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Jarak yang Dipilih

(POV: Alice)

Kereta bergerak perlahan meninggalkan Norden, seperti enggan memutuskan hubungan dengan kota kecil itu. Aku duduk di dekat jendela, mantelku terlipat rapi di pangkuan, tas kecil di kakiku. Tidak banyak barang yang kubawa. Aku tidak ingin terlihat seperti seseorang yang pindah—aku hanya ingin terlihat seperti seseorang yang pergi sebentar.

Salju di luar mulai menipis saat kereta menuruni jalur bukit. Pohon-pohon pinus berganti dengan ladang kosong dan bangunan industri yang berkarat. Pemandangan yang asing, tapi tidak mengancam.

Aku menarik napas panjang.

Aku tidak memberitahu Noah jam keberangkatanku secara detail. Bukan karena aku ingin menghindar, tapi karena aku tahu—jika aku melihatnya berdiri di peron, aku mungkin akan menunda keberangkatan ini lagi. Dan kali ini, aku harus benar-benar pergi.

Bukan untuk mereka.

Untuk diriku sendiri.

Ponselku bergetar.

Noah:

Sudah berangkat?

Aku menatap pesan itu lama sebelum membalas.

Alice:

Ya. Baru saja meninggalkan kota.

Titik-titik muncul. Menghilang. Muncul lagi.

Noah:

Hati-hati di jalan.

Kalimat sederhana. Tidak menahan. Tidak

mendesak. Justru karena itu, dadaku terasa sesak.

Aku menyandarkan kepala ke kaca jendela yang dingin. Pantulan wajahku terlihat lebih dewasa daripada saat aku tiba di Norden beberapa bulan lalu. Mata yang sama, tapi tatapannya tidak lagi kosong.

Aku tidak tahu apa yang akan kutemui di kota itu.

Yang aku tahu hanyalah: aku tidak bisa kembali menjadi Alice yang lama.

(POV: Noah)

Bengkel terasa lebih besar dari biasanya.

Atau mungkin lebih kosong.

Aku berdiri di tengah ruangan, memandangi meja kerja yang penuh bekas goresan. Alice biasa duduk di bangku kecil dekat jendela saat menungguku menyelesaikan pekerjaan. Dia tidak banyak bicara. Kadang hanya membaca, kadang menatap keluar seperti sedang menghitung sesuatu di kepalanya.

Bangku itu kosong sekarang.

Aku memaksakan diri bekerja seperti biasa.

Membongkar mesin. Mengganti baut.

Membersihkan oli.

Tapi ada bagian dari pikiranku yang terus bergerak—mengikuti jalur rel kereta yang membawanya pergi.

Aku tidak marah.

Aku juga tidak sedih dengan cara yang dramatis.

Yang kurasakan lebih seperti… waspada.

Seolah aku berdiri di persimpangan jalan yang selama ini selalu kuhindari dengan berpura-pura tidak melihat rambu.

Ponselku bergetar lagi. Bukan dari Alice.

Email.

Perusahaan perkapalan itu mengirimkan detail tambahan: kontrak, tanggal mulai kerja, dan satu kalimat penutup yang membuatku diam lama.

“Kami membutuhkan konfirmasi dalam dua minggu.”

Dua minggu.

Waktu yang cukup lama untuk berpikir. Dan cukup singkat untuk menghindar.

Aku menutup ponsel, menghela napas, lalu melanjutkan pekerjaanku. Mesin tua di depanku tidak peduli pada pilihan hidup. Ia hanya butuh diperbaiki.

Kadang aku berharap hidup sesederhana itu.

(POV: Alice)

Kota itu menyambutku dengan cara yang sama seperti dulu.

Lampu-lampu terang. Bangunan tinggi.

Mobil-mobil mahal. Udara yang bersih tapi terasa sesak.

Aku berdiri di depan apartemen keluargaku, koper kecil di samping kakiku. Penjaga pintu mengenaliku. Tersenyum sopan, seolah aku tidak pernah menghilang tanpa kabar.

“Selamat datang kembali, Nona Alice.”

Kata kembali terdengar seperti tuduhan.

Di dalam, semuanya terlihat persis seperti yang kuingat. Terlalu rapi. Terlalu terkontrol. Aroma bunga segar yang tidak pernah benar-benar berbau tanah.

Ibuku menyambutku dengan pelukan yang hangat tapi singkat. Ayahku hanya mengangguk, matanya penuh perhitungan yang tidak pernah ia sembunyikan.

“Kau terlihat lebih kurus,” kata ibuku.

“Aku baik-baik saja,” jawabku.

Kami duduk di ruang makan besar malam itu.

Makan malam disajikan seperti acara resmi, bukan pertemuan keluarga. Percakapan mengalir kaku—tentang bisnis, tentang acara sosial, tentang rencana yang melibatkanku seolah aku tidak duduk di sana.

Akhirnya, ayah meletakkan sendoknya.

“Kita perlu membicarakan masa depanmu,” katanya.

Aku mengangkat kepala. “Aku tahu.”

“Kau tidak bisa terus menghilang,” lanjutnya. “Ada tanggung jawab.”

“Aku tidak menghilang,” kataku pelan. “Aku pergi.”

Keheningan menyebar di meja.

Ibuku menatapku dengan cemas. Ayahku menatapku dengan dingin.

“Dan apa yang kau temukan di sana?” tanyanya.

Aku teringat Norden. Bau laut. Bengkel Noah. Keheningan yang jujur.

“Diriku sendiri,” jawabku.

Ayahku tersenyum tipis. “Itu bukan jawaban yang praktis.”

Aku tersenyum balik. “Untuk pertama kalinya, aku tidak sedang mencoba menjadi praktis.”

(POV: Noah)

Malam turun cepat di Norden.

Aku menutup bengkel lebih awal dan berjalan ke tepi pelabuhan. Angin laut menusuk, membawa suara ombak yang memecah kesunyian. Aku duduk di bangku kayu yang sudah lapuk, menyalakan rokok, lalu mematikannya lagi sebelum sempat dihisap.

Aku tidak benar-benar ingin merokok.

Aku hanya ingin sesuatu di tanganku.

Pikiranku kembali pada Alice—caranya memegang cangkir kopi dengan dua tangan, caranya diam terlalu lama sebelum menjawab pertanyaan sederhana, caranya tidak pernah meminta untuk ditahan.

Aku menghargai itu.

Tapi penghargaan tidak selalu membuat jarak terasa ringan.

Aku mengeluarkan ponsel dan membuka pesan kami. Tidak banyak. Tidak berlebihan. Tapi cukup untuk mengingatkanku bahwa apa yang kami bangun nyata—meski belum diberi nama.

Aku mengetik pesan, menghapusnya, lalu mengetik ulang.

Noah:

Kau sampai dengan selamat?

Butuh beberapa menit sebelum balasan datang.

Alice:

Sudah. Semuanya… sama seperti dulu.

Aku bisa membaca jeda di antara kata-katanya.

Noah:

Sama tidak selalu berarti aman.

Balasan itu datang lebih cepat.

Alice:

Aku tahu. Tapi aku ingin memastikan sesuatu sebelum kembali.

Aku tersenyum kecil.

Noah:

Aku juga.

Kami berhenti di situ.

Tidak perlu kata tambahan.

(POV: Alice)

Malam itu, aku tidak bisa tidur.

Aku berdiri di balkon apartemen, memandangi kota yang tidak pernah benar-benar gelap. Di kejauhan, suara sirene samar terdengar—sebuah pengingat bahwa kehidupan di sini selalu bergerak, selalu menuntut.

Aku memikirkan Noah.

Tentang tawaran kerjanya. Tentang kemungkinan bahwa kami berdua mungkin akan bergerak menjauh—ke arah yang berbeda—tanpa ada yang salah.

Itu yang paling menakutkan.

Jika salah satu dari kami berkhianat, marah akan mudah. Jika ada kebohongan, keputusan akan jelas.

Tapi ini?

Ini adalah dua orang yang mencoba jujur pada diri sendiri di waktu yang sama.

Aku merogoh saku mantel dan menemukan tiket kereta pulang yang sudah kubeli. Tanggalnya seminggu lagi.

Aku belum tahu apakah aku akan benar-benar menggunakannya.

Tapi fakta bahwa aku membelinya—itu penting.

(POV: Noah)

Hari-hari berikutnya berlalu dengan ritme aneh.

Alice mengirim pesan singkat setiap malam.

Tentang makan malam keluarga. Tentang percakapan yang melelahkan. Tentang kamar lamanya yang terasa seperti museum.

Aku membalas seperlunya. Tentang pekerjaan.

Tentang cuaca. Tentang kapal yang datang dan pergi.

Kami tidak membicarakan perasaan secara langsung.

Dan anehnya, justru itu yang membuat semuanya terasa jujur.

Suatu sore, aku menerima telepon dari perusahaan perkapalan itu.

“Kami perlu kepastian,” kata suara di seberang.

Aku meminta waktu dua hari lagi.

Setelah menutup telepon, aku menatap laut lama sekali.

Aku menyadari sesuatu yang tidak pernah benar-benar kuucapkan: jika aku menerima tawaran itu, aku tidak hanya meninggalkan Norden.

Aku juga meninggalkan kemungkinan.

Dan untuk pertama kalinya, aku tidak yakin ingin melakukannya tanpa melihat bagaimana Alice kembali—bukan sebagai pelarian, tapi sebagai pilihan.

(POV: Alice)

Hari ketujuh, aku berdiri di kamar lamaku dengan koper terbuka.

Ibuku masuk tanpa mengetuk.

“Kau akan pergi lagi?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Kau yakin?” Ada nada lembut di suaranya kali ini.

“Tidak,” jawabku jujur. “Tapi aku tahu aku harus mencoba.”

Ibuku menatapku lama, lalu menghela napas. “Kau mirip ibumu sendiri,” katanya pelan. “Pergi sebelum dunia memutuskan untukmu.”

Aku tersenyum kecil.

Saat kereta bergerak kembali menuju Norden, aku merasa berbeda dari keberangkatan sebelumnya.

Aku tidak lagi melarikan diri.

Aku sedang kembali—dengan pertanyaan yang belum terjawab, tapi dengan keberanian untuk menanyakannya.

Dan entah bagaimana, itu terasa cukup untuk saat ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!