NovelToon NovelToon
Pangeran Tidur

Pangeran Tidur

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Mengubah Takdir / Romansa / Penyeberangan Dunia Lain
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Elora tak pernah percaya dongeng. Hingga suatu malam, ia membacakan kisah Pangeran Tidur dan terbangun di dunia lain.
Sebuah taman cahaya tanpa matahari,tempat seorang laki-laki bernama Arelion.
Arelion bukan sekadar penghuni mimpi. Di dunia nyata, ia adalah pewaris keluarga besar yang terbaring koma, terjebak di antara hidup dan mati. Setiap pertemuan mereka membuat sunyi berubah menjadi harapan, namun juga menghadirkan dilema yang menyakitkan.
Jika Arelion terbangun,ia akan kehilangan semua ingatannya bersama Elora ,
Jika Arelion tetap tertidur, dunia nyata perlahan kehilangannya.

" Bangunlah Arelion..meski dalam ingatanmu, aku tak akan ada.." ~ Elora ~


"Aku terjebak dalam tidur panjang
sampai dia datang
dan membuat sunyiku bernama" ~Arelion~

Ini bukan kisah putri tidur.
Ini adalah kisah tentang dua hati
yang dipertemukan dalam mimpi.
Tentang cinta yang tumbuh diantara dua dunia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerbang dua dunia

Elora begitu takjub dengan dunia Arelion. Hamparan taman indah itu seolah tak berujung, dipenuhi bunga-bunga bercahaya yang bergerak lembut mengikuti angin. Setiap langkah menghadirkan keajaiban baru, namun entah kenapa, di balik keindahannya Elora merasakan sesuatu yang lain—sebuah rahasia besar yang bersembunyi di balik cahaya.

“Aku merasa tempat ini… hidup,” ucap Elora pelan.

Arelion menatapnya sekilas, lalu mengalihkan pandangan ke langit terang tanpa matahari. “Ia memang hidup. Dan seperti semua yang hidup… ia juga bisa terluka.”

Langkah mereka akhirnya membawa kembali ke pohon besar itu. Pohon yang sama, dengan batang kokoh dan akar menjalar seperti penjaga waktu. Nama Elora masih terukir jelas di sana, berkilau samar seolah bernapas.

Mereka duduk berdampingan di bawahnya.

Untuk sesaat, tak ada kata-kata. Hanya suara dedaunan berdesir dan aliran sungai kecil di kejauhan. Elora menengadah, memandangi cahaya yang menembus sela-sela ranting.

"Arelion… aku tahu tempat ini sangat indah,” ucap Elora lembut, menatap wajahnya yang diterangi cahaya taman. “Tapi aku sangat berharap kau bisa kembali. Terbangun di duniamu.”

Arelion terdiam lama.

Angin menggerakkan dedaunan di atas mereka, membuat cahaya jatuh dan pecah di antara sela-sela ranting. Jemarinya mengerat pelan di atas akar pohon, seolah menahan sesuatu yang ingin runtuh.

“Duniaku…” ulangnya lirih. Ada senyum tipis di sudut bibirnya, namun tak sampai ke mata.

“Di sana ada orang-orang yang menunggumu. Keluargamu. Mereka berharap setiap hari."

Iya sangat tau rasanya kehilangan .Bahkan ia merasa sangat rindu jika teringat orang tuanya yang entah masih ada atau sudah meninggal .

Di sana ada orang-orang yang menunggumu. Keluargamu. Mereka berharap setiap hari.”

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Elora, namun justru menikam dirinya sendiri.

Ia sangat tahu rasanya kehilangan.

Dada Elora terasa menghangat sekaligus perih ketika ingatannya melayang pada orang tuanya. Wajah mereka mulai samar dalam ingatan, seperti foto lama yang warnanya memudar. Ia tak pernah benar-benar tahu apakah mereka masih hidup di suatu tempat, atau sudah lebih dulu berpulang dan hanya menyisakan doa-doa yang tak pernah terjawab.

Rindu itu datang diam-diam.

Rindu yang tak punya alamat tujuan.

Maka saat ia berkata tentang keluarga yang menunggu, suaranya sempat bergetar. Bukan hanya untuk Arelion, tapi juga untuk dirinya sendiri. Untuk harapan yang selama ini ia simpan diam-diam, bahwa suatu hari nanti akan ada seseorang yang menunggunya pulang.

Arelion menatap Elora lebih lama kali ini. Seolah baru menyadari bahwa di balik kelembutan gadis di hadapannya, ada luka yang tak kalah sunyi.

“Kau juga menunggu,” katanya pelan, bukan bertanya, melainkan memahami.

Elora tersenyum kecil, senyum yang rapuh.

“Mungkin,” jawabnya jujur. “Atau mungkin aku cuma ingin percaya… kalau penantian itu selalu punya arti.”

Di taman cahaya itu, dua kesepian akhirnya saling mengenali...

bukan untuk saling menyembuhkan sepenuhnya,

namun cukup untuk tidak merasa sendirian.

Arelion tersenyum tipis. Senyum seseorang yang terlalu lama terjaga dalam sepi. “Aku ingin percaya, pertemuan kita bukan kebetulan."

Tiba-tiba suasana disekitar mereka berubah. Arelion semakin mengencangkan genggaman tangannya .

Kemudian angin berputar mengelilingi mereka. Bunga-bunga berkilau lebih terang, lalu perlahan meredup. Cahaya di langit menyusut, seperti kelopak bunga yang hendak terpejam.

“Elora—”

Suara Arelion tertelan angin.

Tiba-tiba cahaya itu menariknya dengan paksa.

Tubuh Elora terasa ringan sekaligus sakit, seperti ditarik dari dua arah. Tangannya refleks meraih, mencari sesuatu yang familiar.

“Arelion!” serunya panik.

Namun jarak di antara mereka mengikis dalam sekejap. Sosok Arelion semakin menjauh, berdiri di tengah taman cahaya yang kini memudar. Di wajahnya tak ada kepanikan,hanya senyum tipis yang sarat perasaan tak terucap.

Air mata Elora luruh. “Aku akan kembali! Aku janji!”

Cahaya menelan segalanya.

Elora tersentak saat membuka mata.

Ia terengah, napasnya terputus-putus. Langit-langit kamar kembali menyapa, dingin dan nyata. Jantungnya berdentum keras, seolah ingin melompat keluar.

“Arelion…” gumamnya lirih.

Tak ada jawaban.

Namun di dadanya, tepat di tempat rasa hangat itu biasa tinggal, masih ada denyut kecil..seperti sisa cahaya yang menolak padam.

Pandangan Elora kabur saat ia menoleh ke meja kecil di samping ranjang.

Buku dongeng itu terbuka.Ia meraih buku itu dengan tangan bergetar. Saat jemarinya menyentuh kertasnya, dadanya kembali terasa hangat..sekejap saja, namun cukup untuk membuat matanya berkaca-kaca.

Halaman terakhirnya berubah.

Dengan tinta keemasan yang lebih tegas dari sebelumnya, tertulis satu kalimat baru:

Ketika cahaya memisahkan mereka, janji menjadi satu-satunya jembatan.

Elora menggenggam buku itu erat ke dadanya.

Air matanya jatuh, tapi bibirnya bergetar membentuk senyum kecil.

“Baik,” bisiknya penuh tekad. “Kali ini… aku yang akan mencari jalan kembali.”

Langit-langit kamar panti kembali menyambutnya, lampu redup menggantung setia di tempatnya. Tak ada taman cahaya. Tak ada sungai berkilau. Tak ada tangan hangat yang tadi menggenggamnya.

Hanya sunyi.

Ia duduk perlahan. Jantungnya masih berdetak terlalu cepat, seolah sebagian dirinya tertinggal di tempat lain. Tangannya reflek menggenggam dada, tepat di tempat rasa hangat itu seharusnya masih ada.

Tiba-tiba kepalanya dipenuhi bayangan singkat: Arelion berdiri di tepi sungai, menatap cahaya dengan senyum yang terlalu tenang untuk seseorang yang takut menghilang.

" Apa aku bisa menolongmu?"ucapnya lirih dan bergetar .

Dari kejauhan, suara langkah kecil terdengar di lorong.

“Kak Elora?” suara Romi memanggil pelan.

Elora cepat mengusap matanya, menutup buku itu perlahan, lalu menarik napas dalam-dalam. Saat Romi mengintip dari balik pintu, Elora tersenyum..senyum yang rapuh, namun penuh tekad.

“Kakak nggak apa-apa,” katanya lembut. “Nggak papa..kak El hanya bermimpi ."

" Apakah mimpi yang sama?" tanya Romi .

" Lain kali ajak aku ikut ke mimpimu ,Kak." Ujar Romi dengan polos.

Elora hanya tersenyum singkat .

Kakak nggak apa-apa,” katanya lembut. “Nggak papa… Kak El cuma bermimpi.”

“Apakah mimpi yang sama?” tanya Romi, menatapnya polos, seolah benar-benar ingin tahu.

Elora terdiam sesaat.

“Lain kali ajak aku ikut ke mimpimu, Kak,” ujar Romi sambil tersenyum kecil. “Biar Kakak nggak sendirian.”

Elora tersenyum singkat. Tangannya terangkat, mengusap rambut Romi pelan.

“Iya,” jawabnya akhirnya, suaranya nyaris berbisik. “Kalau mimpi itu datang lagi… Kakak ajak kamu.”

Romi mengangguk puas, lalu naik ke ranjang dan memeluk pinggang Elora .

“Aku mau tidur lagi di kamar Kakak..apakah boleh ?..Aku tak bisa tidur disana karena Gio dan Ronald selalu berisik." ujar Romi .

“Tentu saja..ayo kita tidur ,"sahut Elora.

Namun setelah Romi terlelap ,pandangannya kembali ke buku dongeng yang masih tergelatak di meja kecil. Sampulnya terlihat biasa saja, seolah tak pernah menjadi gerbang dua dunia.

Namun Elora tahu.

Ia meraihnya, membuka halaman terakhir sekali lagi. Tinta keemasan itu masih ada. Hangat di ujung jarinya.

“Bukan cuma mimpi,” bisiknya pelan. “Aku tahu itu.”

Di luar jendela, angin malam berembus lembut. Dan entah mengapa, di sela sunyi yang tenang itu, Elora merasa jauh di suatu tempat yang tak tersentuh waktu,seseorang sedang menunggu, menatap cahaya yang perlahan meredup, sambil menyebut namanya tanpa suara.

1
Azumi Senja
Ashiapppp
Ziya Bandung
Lanjuuuut
Sybilla Naura
lanjuuuuttt 😍😍
Sybilla Naura
Semoga Arelion tak amnesia
Azumi Senja: Semoga 🤭🤭
total 1 replies
Sybilla Naura
lanjuuuuuttttt
Sybilla Naura
Tiap bab nya bikin pinisirin 👍
Azumi Senja
Kereenn
Ziya Bandung
Seruuuuu👍
Ziya Bandung
Suka bangett cerita fantasi kaya gini..🫰🏻🫰🏻
Ziya Bandung
seruuuu😍😍
Sybilla Naura
Sukaa banget cerita dua dunia kaya gini..😍😍
Sybilla Naura
Wahhh..karya baru nih Thor..lanjuuuuuuuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!