Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.
Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.
Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.
Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....
Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....
"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2 : Kecemasan Alena
Sementara itu Arinta ternyata baru saja terlihat keluar dari sebuah mall bersama seorang prempuan lain yang tak lain adalah Melinda. Keduanya keluar sambil saling merangkul pinggang dengan mesra menuruni tangga mall dan berjalan dari area parkir tanpa menyadari kalau saat ini keduanya sedang diikuti oleh seseorang dari jauh.
Click...!
Click...!
Click...!
Beberapa momen kemesraan itu diabadikan lewat kamera ponsel. Arinta dan Melinda masih tak menyadari itu. Hingga ketika mereka sampai di lahan parkir, keduanya direkam dalam satu video singkat.
"Makasih banget ya, sayang, hari ini aku seneng banget," ujar Melinda yang masih sempat-sempatnya memeluk tubuh Arinta di dalam mobil.
"Setelah ini gimana kita langsung makan malam?" Tanyanya dengan sedikit wajah menunduk, menatap ke arah Melinda yang masih lekat menempel pada tubuhnya seperti permen karet yang baru saja dikunyah.
"Di bakso langganan aku aja ya, gimana?" Usulnya tanpa malu-malu meskipun dia sudah belanja tadi mall. Keperluan skin care yang hampir menelan biaya 10 juta juga cincin emas bermerk dengan nilai 20 juta menjadi bukti Arinta sangat memanjakan Melinda.
"Aduh, kok makan bakso sih Mel? Dandanan rapi begini makan bakso pinggir jalan?" Arinta sedikit protes karena ajakan Melinda tersebut.
"Kita makan di mobil saja, gak usah duduk di luarnya. Aku lagi pengen, bakso di situ enak banget kuah kaldunya, kamu pasti bakalan suka juga," balas Melinda dengan yakin ingin makan di sana.
"Oke deh, yang penting kamu senang. Sekarang kita meluncur." Arinta pun tentu tak bisa menolak permintaan kekasih gelapnya itu.
Mobil bermerk Brio dengan warna hijau mentereng itu pun melesat cepat keluar dari area parkiran mall.
"Kena kamu, Ta! Liatin aja, aku bakal laporin ini ke Alena, Istri kamu!" Ujar seorang wanita yang sedang memarkirkan mobilnya tepat di seberang mall tadi.
Sorot matanya tajam, tangannya mencengkram kemudi mobil dengan gemas. Lalu, ia mengambil ponsel dan menelepon seseorang. Sudah dapat ditebak dia berniat untuk menelepon Alena, namun sayang teleponnya seperti tidak terhubung.
Ternyata Alena saat itu sedang menelepon, menghubungi suaminya karena sudah hampir pukul 06:00 sore tak juga memberinya kabar. Ia khawatir terjadi sesuatu pada Arinta di luar sana.
Kenapa gak diangkat sih...? Pikir Alena cemas sambil memperhatikan jarum jam yang terus bergerak menambahkan waktu dari detik ke detik, menit ke menit, yang menambahkan kecemasan di hati Alena.
"Kamu di mana sih..., kenapa gak angkat teleponku...?" Alena menggigit bibirnya dan mencoba sekali lagi menghubungi sang suami.
Jauh dari pengamatan Alena, suaminya sedang berduaan dengan wanita lain. Ia sedang menyetir dan sesekali bercanda dengan Melinda, hingga suara tawa itu berubah hening ketika ponsel Arinta berdering. Cukup lama, sampai membuat Melinda merasa terganggu, tapi Arinta seperti tak berniat untuk mengangkatnya.
Tak lama, ponsel itu kembali berbunyi. Arinta hanya melirik, sementara Melinda sudah terlihat kesal sampai akhirnya ia pun berkomentar sinis.
"Istri kamu berisik juga ya," ucapnya setengah mendengus. Rasanya dia ingin mengambil ponsel itu dari dashboard mobil lalu melemparnya ke jalan. Pengganggu saja.
"Nanti juga mati sendiri, kenapa sih...? Kamu cemburu ya?" Arinta menoleh sesaat lalu tersenyum saat melihat ekspresi Melinda tampak cemberut masam.
"Tuh, bunyi lagi! Hampir 10 menit telepon itu bunyi gak berhenti! Kamu gak niat angkat?" Berbeda dari Arinta yang santai, Melinda justru gusar merasa ketenangannya terganggu.
"Malas...," jawab Arinta dengan cepat dan kembali fokus menatap jalan.
"Kalau begitu biar aku saja yang balas!"
Melinda dengan cepat menyambar ponsel milik Arinta yang masih berbunyi itu.
"Eh, kamu mau apa?" Seketika lelaki itu panik tapi tak bisa berbuat apa-apa karena dia sedang menyetir.
"Tenang aja, aku gak bakal ngapa-ngapain kok!" Sesaat senyuman nakal mengembang di wajah Melinda yang manis.
"Jangan aneh-aneh ya, Mel...." Pria itu langsung antipati dan sedikit memberi nada ancaman.
"Alena, Istri tersayang, hahaha...." Melinda tertawa setelah membaca nama kontak dari istrinya Arinta. Dia merasa geli sendiri.
"Gak lucu, Mel...." Kali ini gantian Arinta yang memasang kesal. Tak terima ditertawakan.
"Ya, ya..., biar aku kirim pesan untuk Alena, istri kesayangan kamu yang bawel itu...." Melinda mengulum senyum lalu membuka pesan di salah satu aplikasi dan menulis sesuatu.
"Aku itu lagi di jalan, kejebak macet, mungkin bakal telat pulang. Udah ya, jangan telepon lagi, nanti aku ga fokus."
Melinda mengetikkan kalimat itu dan dikirimkan kepada Alena.
"Nah, sudah..., dia ga bakal telepon lagi!" Melinda terlihat puas dan meletakkan kembali ponsel tersebut ke tempatnya.
"Kamu barusan tulisan apa?" Arinta memandang curiga.
"Kamu liat aja sendiri! Ehh, itu tempat baksonya!" Fokus Melinda teralih sepenuhnya pada bakso langganan pinggir jalan yang sering ia beli setiap pulang dari kantor.
Mobil itu pun berhenti lebih ke pinggir agar tidak menghalangi mobil lain. Ia terparkir di bawah sebuah pohon yang cukup tinggi dan rindang, memberikan sensasi sejuk saat berdiri di bawahnya.
"Kamu tunggu sini, biar aku aja yang pesan!" Melinda dengan semangat turun dari mobil untuk memesan bakso yang sedang ramai itu.
Arinta hanya melirik keluar sesaat lalu mengambil ponsel miliknya untuk mengecek.
Setelah dibuka isi pesannya ya ternyata Melinda memang tidak mengatakan hal-hal yang aneh. Ia pun menghela napas lega.
Arinta kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi mobil sejenak sambil menunggu pesanan.
Tapi baru saja punggung itu berciuman dengan bantalan kursi yang empuk, Melinda tiba-tiba datang.
"Kamu mau minum apa? Es kelapa mau?" Tanya wanita itu dengan gayanya yang enerjik.
"Terserah kamu aja deh," balas Arinta dengan sedikit malas. Dia bukan pria pemilih dalam soal makanan atau minuman.
"Ih, kamu suka gak? Kalau gak, aku beli yang lain!" Desak Melinda meminta Arinta harus memilih minumannya sendiri.
"Es teh manis saja kalau ada," jawab Arinta pada akhirnya.
"Oke, kamu es teh manis satu, aku es kelapa ya?" Ujar Melinda mengecek sekali lagi dan Arinta hanya mengangguk.
Melinda pun kembali pergi lalu ia berjalan ke depan mobil untuk menyebrang jalan. Di sana berjajar tukang minuman dan makanan yang lain. Arinta dapat melihat wanita muda itu langsung pergi ke counter es teh.
Di sisi lain, Alena tampak merenung setelah mendapat pesan dari Arinta. Hatinya tak tenang tapi dia pun merasa tak enak kalau harus kembali menelepon Arinta lagi.
Akhirnya ia malah menelepon seorang temannya yang kebetulan juga bekerja di area yang sama dengan suaminya.
"Halo, Bagus? Kamu sudah pulang?" Tanya Alena begitu telepon diangkat.
"Iya udah, ini lagi dekat perumahan. Kenapa Mbak Ale?" jawab Bagus yang sebenarnya dulu dia adalah adik kelas Alena dan Arinta pas masih sama-sama di sekolah.
"Oh, udah mau sampai rumah? Emangnya gak macet?" Tanya Alena agak kaget dan langsung memancing pertanyaan biar dia tidak terlalu terlihat seperti sedang curiga akan sesuatu.
"Enggak kok, jalanan lancar banget malah!" Jawaban Bagus langsung mematahkan alasan Arinta sebelumnya.
Arinta berbohong..., ujar Alena dalam hati dan tanpa ia sadari, tangan kirinya meremas pakaiannya sendiri.
"Jam pulang kantor paling macet gak seberapa Mbak, memangnya ada apa Mbak?" Tanya Bagus bingung sebenarnya Alena menelepon dia untuk apa?
"Enggak jadi deh, Gua..., Mbak lupa tadi mau nanya apa...," balas Alena mencari alasan. "Nanti Mbak telepon lagi kalau sudah ingat, makasih ya...." Telepon itu pun langsung ditutup.
Alena kembali membuka pesan dari Arinta tersebut dan membacanya sekali lagi. Kata hatinya langsung berkata ada sesuatu yang ditutupi oleh sang suami entah apa.
Kebohongan kecil Arinta justru membuat kecemasan hati di dalam diri Alena menjadi sangat besar. Kenapa dia harus berbohong soal kemacetan? Apa dia pulang terlambat karena hal lain? Entah kenapa ucapan Andini terngiang dalam ingatannya.
Sebenarnya kamu kemana? Apa kamu sedang bersama perempuan lain...?
.
.
Bersambung....
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang