NovelToon NovelToon
Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Balas Dendam / Dendam Kesumat / Ahli Bela Diri Kuno / Dark Romance
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Ini Novel Wuxia!

Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.

Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!

Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.

Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.

Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Kabut tipis masih menutupi puncak bukit, seperti selendang putih yang enggan tersingkap. Dari kejauhan, matahari pagi mulai menanjak, cahayanya menembus sela awan, menorehkan garis emas di batu-batu karang.

Liang Shan berdiri tegak di halaman kecil di depan pondok kayu, napasnya teratur, wajahnya pucat tapi matanya jernih, seolah menyimpan semangat yang tidak mudah padam.

Sudah lima belas tahun berlalu sejak malam berdarah yang merenggut keluarganya. Dari bocah kurus yang hanya bisa merintih menahan racun, kini ia menjelma menjadi sosok muda berusia dua puluh lima tahun, berbahu tegap, meski tubuhnya masih menyimpan jejak sakit yang tidak bisa dihapus.

Tuan Agung Jin duduk di atas batu dengan sebatang pipa tua di tangan, asapnya mengepul perlahan. Matanya yang sayu menatap muridnya yang sedang mengulang gerakan jurus ketujuh.

Setiap ayunan golok kayu Liang Shan begitu tenang, tapi menyimpan tenaga yang seolah bisa membelah angin.

"Berhenti," kata Tuan Agung Jin dengan suara dalam, tenang, tapi penuh wibawa.

Liang Shan menghentikan gerakannya , lalu menunduk hormat.

"Guru ..."

Orang tua itu menarik napas panjang, lalu berkata pelan, "Kau telah menguasai tujuh jurus dari Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit. Itu bukan perkara kecil. Setiap jurus adalah bayangan jiwa, setiap tebasan adalah darah yang menetes. Tapi ingat, ada dua jurus yang tidak boleh kau sentuh."

Liang Shan mengangkat kepala, keningnya berkerut.

"Mengapa, guru?"

Tuan Agung Jin menatap muridnya lama sekali, seolah ingin mengukir kalimat berikut ke dalam tulang belulangnya.

"Karena dua jurus terakhir bukan hanya golok yang menebas musuh. Mereka adalah jurang yang bisa menelan jiwa pemiliknya. Jurus Tangisan Terakhir Seorang Pendekar dan Kesunyian yang Membunuh Segalanya—jurus-jurus itu menuntut seluruh hidupmu. Sekali kau gunakan, maka tidak ada jalan kembali."

Liang Shan terdiam. Angin berembus, membuat rambut hitamnya yang panjang berayun.

Tuan Agung Jin kembali berkata, "Kau punya kelebihan, Liang Shan. Kau menguasai jurus-jurus ini bukan hanya dengan tenaga, tapi dengan penderitaan. Racun di tubuhmu membuat setiap latihan menjadi siksaan. Karena itu, setiap gerakanmu lebih dalam dan lebih jujur. Banyak pendekar dunia persilatan hanya tahu menghimpun tenaga, tapi tidak tahu rasa sakit. Sedangkan kau tahu keduanya."

Liang Shan mengepalkan tangan, matanya sedikit berkilat.

"Lalu, apa kelemahanku, guru?"

Suara Tuan Agung Jin berubah datar. "Kelemahanmu juga datang dari racun itu. Kau tidak bisa mengalirkan tenaga terlalu lama. Dalam pertempuran panjang, nadimu akan pecah, tubuhmu bisa lumpuh,"

"Dan jurus-jurus dari nomor lima ke atas akan menggerakkan racun itu semakin liar. Sekali kau memaksa, mungkin hidupmu hanya tinggal satu tarikan napas. Maka dari itu, kau hanya boleh bertarung sebanyak lima puluh jurus saja,"

Liang Shan menunduk. Hatinya terasa berat.

"Selain itu," lanjut Tuan Agung Jin, "hatimu masih diselimuti dendam. Itu membuat gerakanmu kadang goyah. Bila kau ingin hidup panjang, maka kau harus belajar menahan amarah, meski darahmu mendidih."

Suasana berubah hening sejenak. Hanya suara desir angin menyapu dedaunan.

Akhirnya, Tuan Agung Jin berdiri. "Liang Shan, waktumu di puncak ini sudah cukup. Semua jurus dari Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit telah kau kuasai. Kau hanya perlu menyempurnakan jurus-jurus itu sendiri,"

Liang Shan tertegun. "Guru, apa maksudmu?"

"Hari ini kau turun gunung. Pergilah ke desa di lembah untuk membeli arak. Perjalanan hanya setengah hari, tapi ini perintahku. Kau harus belajar menapaki dunia luar," kata orang tua itu sambil tersenyum samar.

Liang Shan menunduk hormat. "Baik, Guru."

Ia berbalik, lalu melangkah menuju jalan setapak menurun yang dipenuhi kabut. Di bahunya tergantung golok sederhana, sarungnya sudah usang tapi bilahnya memancarkan aura dingin.

Saat tubuh murid itu mulai hilang ditelan kabut, Tuan Agung Jin menatap langit. Matanya yang tua memancarkan sinar muram. Ia berbisik lirih, seolah berbicara kepada bayangan masa lalu.

"Liang Qi, aku sudah menjaga anakmu sejauh ini. Tapi nasib di dunia persilatan bukan di tanganku. Bila takdir berkata darah harus kembali ditumpahkan, maka darah itu akan mengalir."

Jalan setapak menurun dari puncak ke lembah berliku-liku, kadang terjal, kadang tertutup semak. Liang Shan menuruni dengan langkah mantap. Ia tidak membawa bekal banyak, hanya sekantong perak kecil dan golok di punggungnya.

Sesekali tubuhnya bergetar, racun di nadinya berulah. Tapi ia sudah terbiasa. Racun itu ibarat sahabat buruk yang selalu mendampingi, tidak bisa dilepaskan, juga tidak bisa dilupakan.

Di desa lembah, Liang Shan membeli kendi arak dari kedai tua. Si pemilik kedai, seorang lelaki botak berusia lima puluhan, sempat menatapnya lama.

Tatapannya seperti orang yang pernah hidup di dunia persilatan, seolah dia mengenali aura setiap pendekar. Namun ia tidak berkata apa-apa, hanya tersenyum kaku sambil menyerahkan arak.

Matahari mulai condong ke barat ketika Liang Shan kembali menapaki jalan menuju bukit. Kabut sore mulai turun, lebih pekat dari biasanya. Suasana mendadak terasa ganjil, seakan udara mengandung bau besi bercampur darah.

Langkah Liang Shan terhenti. Ia merasakan sesuatu.

Ia mempercepat langkah dan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya untuk menaiki jalan setapak, napasnya memburu. Semakin dekat ke puncak, semakin jelas aura bekas pertempuran yang ia rasakan.

Ketika tiba di halaman pondok kayu, napasnya tercekat.

Pondok itu hancur berantakan, dindingnya berlubang, tanah di sekitarnya berlumur darah. Belasan mayat berserakan—orang-orang dari perguruan besar, wajah mereka masih menunjukkan ekspresi terkejut dan ngeri.

Di tengah halaman, Tuan Agung Jin terkapar bersimbah darah. Tubuhnya penuh luka tebas, napasnya tinggal sehelai benang.

"Guru!" Liang Shan berlari dan langsung berlutut di tanah, tangannya menahan tubuh tua itu. Darah segar segera membasahi bajunya.

Mata Tuan Agung Jin terbuka sedikit dan menatap muridnya. Bibirnya bergerak, suara serak keluar perlahan.

"Liang Shan, akhirnya kau kembali."

"Guru, siapa yang melakukan ini?" Liang Shan memekik, matanya merah karena amarah yang membuncah.

Tuan Agung Jin menggeleng pelan. "Mereka ..., tokoh-tokoh kelas atas. Ingatlah tiga nama ini ia menyebut perlahan, terputus-putus, nama-nama yang pernah dilihatnya lima belas tahun lalu dalam tragedi keluarga Liang.

Liang Shan mendengarkan, dadanya bergetar, tangannya menggenggam tanah sampai berdarah.

"Guru, bertahanlah. Aku akan menyalurkan tenaga dalamku,"

Ia segera menempelkan telapak tangan ke punggung gurunya.

Namun Tuan Agung Jin menahan. "Tidak usah. Tenagamu akan sia-sia. Tubuhku sudah hancur. Dengarkan aku baik-baik, Liang Shan,"

Air mata jatuh dari sudut mata murid itu.

Tuan Agung Jin melanjutkan, suaranya makin lirih. "Golok Sunyi adalah pedang nasibmu. Racun di tubuhmu adalah pengingat jalanmu. Jangan benci racun itu. Ia yang membuatmu berbeda. Dan dendammu, jangan biarkan ia membutakanmu. Dunia persilatan bukan hitam dan putih. Ingat itu ..."

Tubuhnya tersentak, darah kembali keluar dari mulutnya. Liang Shan menahan dengan tangisan tertahan.

"Guru—!"

Tuan Agung Jin tersenyum samar, lalu napasnya berhenti.

Keheningan turun. Angin sore bertiup, membuat dedaunan gemerisik seperti ratapan.

Liang Shan memeluk jasad gurunya lama sekali, hingga kabut semakin tebal dan matahari tenggelam di balik gunung.

Malam itu, untuk kedua kalinya dalam hidupnya, Liang Shan kehilangan segalanya.

Dan malam itu juga, untuk pertama kali, dendamnya benar-benar membara, bukan hanya untuk keluarganya, tapi juga untuk gurunya.

1
Nanik S
Bagus Lian Shang
Nanik S
Kecapi Sakti
Nanik S
Apakah Kakek itu orang yang dicari
Nanik S
Mereka bertiga benar2 tangguh
Nanik S
Liang Shan... punya berapa Nyawa
Nanik S
God Joon
Nanik S
Liang Shan.... berat amat jalanmu
Nanik S
mereka sepasang Anak sahabat yang mati karena dikhianati
Nanik S
Jendral Zhao ternyata bukan hanya penghianat tapi Inlis yang sesungguhnya
Nanik S
teruskan... menarik sekali Tor
Junn Badranaya: Siap kak ...
total 1 replies
Nanik S
Liang Shan harusnya tinggal dengan Damai
Nanik S
Liang Shan.... apakah akan hancur bersama Goloknya
Nanik S
Ternyata Jendral besar juga terlibat
Nanik S
Mantap.... kenapa Lian Shen tidak mencari penawar racunya
Nanik S
Kecantikan sebagai Alat untuk meruntuhkan Lelaki
Nanik S
Kurangi musuh satu satu
Nanik S
Pesan pertama Golok Sunyi
Nanik S
Mantap Tor
Nanik S
Ling Shang... kehilangan kedua kali amat menyakitkan
Nanik S
Hidup dengan tubuh beracun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!