NovelToon NovelToon
Sistem Harapan

Sistem Harapan

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjadi Pengusaha / Anak Genius / Bepergian untuk menjadi kaya / Bullying di Tempat Kerja / Sistem
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Arlan meletakkan flashdisk hitam itu ke dalam saku celananya dengan gerakan yang sangat hati-hati. Keheningan di dalam kantor Mitra Desa yang berdebu terasa sangat menekan setelah kepergian Wirawan yang penuh amarah. Maya masih berdiri mematung di dekat jendela kaca yang sudah retak akibat guncangan pintu tadi.

"Bagaimana mungkin kamu bisa mendirikan perusahaan secepat itu, Arlan?" tanya Maya dengan nada yang sangat terkejut.

"Nama Arlan Corp sudah saya daftarkan secara daring sejak bonus lima puluh juta itu masuk ke rekening saya, Mbak," jawab Arlan dengan suara yang terdengar sangat tenang.

"Tapi kamu masih berstatus karyawan aktif di Megantara Group, Arlan," ucap Maya sambil melangkah mendekati meja kerja Arlan.

"Di dalam kontrak kerja kita tidak ada larangan untuk memiliki entitas bisnis pribadi selama tidak bergerak di bidang yang sama, Mbak," sahut Arlan sambil mematikan layar monitor komputer utama.

Pak Haris yang sejak tadi hanya diam kini mulai angkat bicara dengan wajah yang penuh keraguan.

"Apa rencana Anda selanjutnya untuk Mitra Desa, Mas Arlan?" tanya Pak Haris dengan tatapan mata yang penuh harap.

"Kita akan menggabungkan paten teknologi jalur darat ini ke dalam sistem distribusi mandiri yang tidak bisa diintervensi oleh Megantara maupun Logistik Nusantara, Pak," jawab Arlan sambil menatap Pak Haris dengan tegas.

"Tapi kita butuh modal yang sangat besar untuk mengaktifkan kembali armada gudang kita," ucap Pak Haris sambil menunjukkan tumpukan tagihan di atas mejanya.

"Saya akan menggunakan aset pribadi saya sebagai jaminan awal untuk putaran modal pertama kita, Pak," kata Arlan tanpa keraguan sedikit pun di wajahnya.

[Sistem: Perhitungan Kelayakan Bisnis Selesai] [Status: Modal Awal Arlan Corp Terkunci pada Angka 150 Juta Rupiah] [Peringatan: Risiko Likuiditas Tinggi jika Operasional tidak dimulai dalam 14 Hari]

Maya menghela napas panjang sambil membenarkan letak kacamata bulatnya yang sedikit melorot.

"Kamu tahu bahwa Pak Yudha akan sangat marah jika tahu kamu melakukan manuver ini secara diam-diam, Arlan," ucap Maya dengan nada yang memperingatkan.

"Pak Yudha adalah mentor saya, tapi beliau juga seorang korporat yang harus tunduk pada dewan komisaris, Mbak," jawab Arlan sambil merapikan tas punggungnya.

"Lalu apa posisi saya di dalam skenario barumu ini?" tanya Maya dengan rasa penasaran yang mulai muncul.

"Saya butuh Mbak Maya untuk menjadi kepala analis data di Arlan Corp dengan gaji dua kali lipat dari Megantara," ucap Arlan sambil menyodorkan sebuah dokumen digital di layar ponselnya.

Maya terdiam sejenak dan menatap Arlan dengan tatapan yang sangat dalam.

"Kamu benar-benar sudah merencanakan ini sejak kita masih di dalam pesawat tadi, ya?" tanya Maya dengan senyum tipis yang mulai muncul di bibirnya.

"Dunia bisnis tidak memberikan tempat bagi mereka yang hanya menunggu instruksi, Mbak," sahut Arlan sambil berjalan menuju pintu keluar kantor.

Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah kembali terdengar dari arah halaman kantor Mitra Desa yang gersang. Arlan menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu yang sudah hancur berantakan itu. Sebuah mobil sedan berwarna putih berhenti tepat di depan mobil jemputan mereka tadi.

"Siapa lagi yang datang sekarang?" tanya Pak Haris dengan suara yang mulai gemetar lagi.

Seorang wanita cantik dengan setelan blazer biru dongker keluar dari mobil tersebut dengan gaya yang sangat anggun.

"Siska?" tanya Arlan dengan nada yang sangat tidak percaya melihat kehadiran rekan kerjanya itu di desa.

"Aku datang untuk membawakan dokumen yang tertinggal di lobi Megantara, Arlan," ucap Siska sambil menunjukkan sebuah map plastik berwarna merah.

"Bagaimana kamu bisa sampai ke sini secepat itu, Siska?" tanya Maya yang ikut keluar dari dalam kantor.

"Pak Pratama yang mengirimku langsung menggunakan helikopter perusahaan ke bandara terdekat," jawab Siska sambil memberikan map itu kepada Arlan.

"Pak Pratama tahu soal keberadaan Arlan Corp?" tanya Arlan sambil menerima map tersebut dengan tangan yang sedikit kaku.

"Beliau bukan cuma tahu, Lan, beliau yang memberikan izin akses cepat untuk pendaftaran badan hukummu di sistem pusat," bisik Siska tepat di telinga Arlan.

Arlan merasakan jantungnya berdegup kencang karena menyadari bahwa permainannya selama ini ternyata diawasi oleh petinggi perusahaan.

"Jadi Pak Pratama mendukung langkahku ini?" tanya Arlan dengan nada suara yang rendah.

"Beliau ingin melihat sejauh mana kamu bisa menghancurkan jaringan Wirawan tanpa mengotori tangan Megantara secara langsung, Lan," jawab Siska dengan ekspresi wajah yang sangat serius.

"Ini berarti aku sedang dijadikan pion dalam perang para petinggi, kan?" tanya Arlan sambil membuka isi map merah tersebut.

"Kita semua adalah pion, Arlan, bedanya sekarang kamu adalah pion yang punya papan catur sendiri," sahut Siska sambil menatap ke arah jalan raya.

Di dalam map merah tersebut, terdapat sebuah surat kontrak kerja sama eksklusif antara Megantara Group dan Arlan Corp untuk pengiriman wilayah selatan.

"Ini adalah kontrak senilai satu miliar rupiah sebagai langkah awal kerja sama kita," ucap Siska sambil menunjuk ke arah baris nilai kontrak tersebut.

Pak Haris hampir saja terjatuh jika tidak segera memegang tiang penyangga kantornya yang sudah tua.

"Satu miliar rupiah? Ini bisa menyelamatkan seluruh keluarga karyawan saya, Mas Arlan!" teriak Pak Haris dengan penuh kegembiraan.

"Jangan senang dulu, Pak, kontrak ini memiliki syarat efisiensi waktu yang sangat ketat," ucap Arlan sambil membaca detail teknisnya dengan saksama.

[Sistem: Misi Baru Diaktifkan] [Tujuan: Selesaikan Pengiriman Pertama dalam Waktu 72 Jam] [Hadiah: Peningkatan Reputasi Bisnis +50, Membuka Fitur 'Gudang Otomatis']

"Kita harus mulai bergerak malam ini juga, Pak Haris," perintah Arlan dengan nada yang sangat berwibawa.

"Tapi armada kita belum siap, Mas Arlan, bannya banyak yang sudah gundul dan mesinnya mati," jawab Pak Haris dengan wajah yang kembali cemas.

"Mbak Maya, tolong hubungi vendor ban langganan Megantara dan gunakan nama Pak Pratama untuk pemesanan darurat," perintah Arlan kepada Maya.

"Siap, Bos Arlan, saya laksanakan sekarang juga," jawab Maya sambil segera membuka ponselnya dengan semangat baru.

"Dan Siska, apa ada pesan lain dari Pak Pratama?" tanya Arlan sambil menatap mata Siska dengan penuh selidik.

"Beliau bilang, hati-hati dengan apa yang ada di bawah jok mobil sedan putih ini," jawab Siska dengan nada yang sangat misterius.

Arlan segera berjalan menuju mobil sedan putih milik Siska dan memeriksa bagian bawah jok penumpang depan. Dia menemukan sebuah kotak logam kecil yang terkunci dengan sistem pemindai sidik jari.

"Apa isi kotak ini, Siska?" tanya Arlan sambil mencoba menyentuh sensor pemindainya.

"Hanya Pak Pratama yang tahu isinya, Arlan, beliau bilang kotak ini adalah kunci cadangan jika Wirawan mulai bermain di luar aturan hukum," jawab Siska sambil menutup pintu mobilnya kembali.

Saat Arlan berhasil membuka kotak tersebut menggunakan sidik jarinya, matanya terbelalak melihat sebuah benda yang berkilau di dalamnya.

"Ini tidak mungkin..." bisik Arlan dengan suara yang sangat lemah.

Di dalam kotak tersebut terdapat sebuah sertifikat kepemilikan lahan atas nama ibunya, lahan yang selama ini menjadi sengketa dengan keluarga Wirawan di desa.

"Kenapa Pak Pratama memiliki ini?" tanya Arlan dengan tangan yang mulai bergetar hebat.

Tiba-tiba, ponsel Arlan berbunyi nyaring menunjukkan sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal. Arlan menekan tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinga dengan perasaan yang sangat tidak tenang.

"Halo, Arlan? Apa kamu sudah melihat hadiah kecil dari saya?" suara Pak Pratama terdengar sangat tenang namun penuh dengan kekuatan yang menekan.

"Terima kasih, Pak, tapi apa imbalan yang Bapak inginkan dari saya?" tanya Arlan dengan nada yang sangat waspada.

"Saya hanya ingin kamu memastikan bahwa Wirawan tidak akan pernah bisa kembali ke gedung Megantara lagi, selamanya," jawab Pak Pratama sebelum akhirnya memutus sambungan telepon secara sepihak.

Arlan menatap sertifikat itu dan kemudian menatap gedung kantor Mitra Desa yang kusam di hadapannya. Dia menyadari bahwa dia baru saja menandatangani perjanjian dengan "setan" yang jauh lebih besar dan lebih kuat daripada Wirawan.

"Mas Arlan, ada telepon lagi untuk Anda!" teriak Pak Haris dari dalam kantor dengan wajah yang sangat pucat pasi.

"Dari siapa lagi, Pak?" tanya Arlan sambil melangkah kembali ke dalam kantor dengan perasaan yang campur aduk.

"Ini dari Ibu Anda di rumah, katanya ada banyak orang asing yang mengepung rumah kalian sekarang juga!" teriak Pak Haris dengan suara yang penuh dengan ketakutan.

Arlan merasakan seluruh darah di tubuhnya mendadak membeku mendengar kabar buruk itu. Wirawan ternyata tidak menunggu hari esok untuk memulai balas dendamnya yang paling keji.

1
boy
sistem gk guna,udh di tampar,kluar darah,tpi bacot doang,goblok
boy
Arlan pengecut,udh bner tpi masih pengecut,goblok lu Arlan,
Was pray
langkahmu terlalu cepat pingin sukses Arlan, pingin kaya secara instan , sukses instan, ntar kamu jadi mie instan lama lama Arlan, lalui proses dengan sabar, pertajam kemampuan bisnismu , perkuat koneksi bisnismu, baru punya ilmu analisis data secuil udah mendirikan perusahaan ... 🤣🤣🤣
Was pray
terlalu awal Arlan terjun ke dunia bisnis, kerja di megantara grup baru nenapak, asah dulu otak bisnismu dengan menimba ilmu di megantara, setelah kakimu kokoh berdiri baru terjun ke dunia korporat
Pakde
up thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor 🙏🙏🙏
Pakde
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!