NovelToon NovelToon
Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melawan Waktu

Hari itu, daftar keinginan Ria membawa mereka ke sebuah kedai es krim legendaris di sudut kota. Tempat itu beraroma vanila dan gula panggang, aroma yang bagi kebanyakan orang berarti kebahagiaan, namun bagi Ria, itu adalah aroma dari salah satu memori paling kelam dalam hidupnya.

Arya memesan sebuah porsi besar es krim dengan berbagai rasa dan taburan yang cantik. Saat pelayan meletakkannya di depan Ria, wanita itu terdiam. Matanya berkaca-kaca menatap gumpalan es dingin yang perlahan meleleh itu.

"Kenapa, Ria? Apa kau tidak suka rasanya? Mau pesan yang lain?" tanya Arya lembut, tangannya sigap mengusap jemari Ria yang dingin.

Ria menggeleng pelan, senyum getir tersungging di bibirnya. "Aku hanya teringat saat usiaku tujuh tahun, Mas," bisiknya. "Adik tiriku menjatuhkan es krimnya ke lantai. Es krim cokelat yang sangat mahal saat itu. Aku melihat lelehan itu di lantai, dan karena rasa ingin tahu yang begitu besar—karena aku belum pernah mencicipinya—aku berlutut untuk memungut sisa yang belum kotor."

Suara Ria bergetar, menceritakan kepingan masa lalu yang membuat jantung Arya terasa diremas.

"Tapi sebelum es krim itu sampai di kerongkonganku, Ayah datang. Dia tidak hanya memarahiku karena aku dianggap menjijikkan, tapi dia memukul kepalaku dengan tongkatnya sampai aku tersungkur. Dia bilang, bahkan sampah di lantai pun terlalu berharga untuk anak pembawa sial sepertiku."

Arya memejamkan mata, rahangnya mengeras. Amarahnya memuncak membayangkan pria yang ia sebut rekan bisnis itu telah menghancurkan masa kecil seorang gadis kecil yang tak berdosa. Ia merasa sangat hina karena pernah bekerja sama dengan manusia seperti itu.

Ria menatap Arya seolah memohon, "apa aku boleh memakannya, Mas?"

"Makanlah, Ria," ucap Arya dengan suara serak, ia menyuapkan sesendok es krim ke bibir istrinya. "Makanlah sebanyak yang kau mau. Lantai rumah ini, kedai ini, bahkan seluruh toko ini bisa kubeli hanya untuk memastikan tidak ada lagi yang berani menyakitimu."

Ria menerima suapan itu. Dingin dan manis. Rasa yang dulu terasa seperti darah di mulutnya, kini terasa begitu murni. Untuk pertama kalinya, rasa lapar di jiwanya mulai terobati. Ia menatap Arya—pria yang dulu ia takuti, pria yang dulu ia anggap sebagai penjara barunya—kini justru menjadi satu-satunya orang yang memegang tangannya di ambang maut.

Dalam sebuah keberanian yang mendadak, Ria memajukan tubuhnya. Dengan sangat lembut, ia mendaratkan sebuah kecupan di pipi Arya. Singkat, namun hangat.

"Terima kasih, Mas," bisik Ria di dekat telinga Arya. "Terima kasih karena telah membiarkanku menjadi Ria hari ini. Aku tidak akan pernah melupakannya."

Arya terpaku. Kecupan itu terasa lebih bermakna daripada semua transaksi miliaran rupiah yang pernah ia tangani. Ada getaran hebat di dadanya—sebuah kombinasi antara cinta yang baru mekar dan ketakutan yang mendalam akan kehilangan.

Arya menggenggam tangan Ria lebih erat. Ia menatap istrinya dengan penuh tekad. Di dalam kepalanya, ia berjanji: Setelah semua daftar ini selesai, kau harus tetap hidup, Ria. Aku akan membayar mu dengan seluruh serpihan kebahagiaan yang hilang, meskipun aku harus melawan maut sendirian.

Namun, saat Ria kembali tertawa kecil sambil menikmati es krimnya, Arya menyadari sesuatu yang mengerikan. Tangan Ria yang memegang sendok mulai gemetar lebih hebat dari sebelumnya, dan ada warna kebiruan yang mulai muncul di kuku-kukunya. Waktunya benar-benar tidak banyak lagi.

Gumpalan es krim yang manis itu mendadak terasa hambar bagi Arya. Matanya terkunci pada jemari Ria yang memegang sendok. Memar kebiruan itu tampak kontras dengan kulit tangannya yang pucat transparan, seperti tinta yang tumpah di atas kertas perkamen tipis. Arya tahu itu bukan sekadar lebam biasa; itu adalah tanda bahwa keping darah Ria sedang berada di titik terendah.

"Ria, tanganmu..." suara Arya tercekat. Ia meraih tangan itu, menyentuhnya seolah sentuhan kasar sedikit saja bisa menghancurkan kulit istrinya. "Kita ke rumah sakit sekarang. Hanya untuk transfusi, aku janji tidak akan memaksa operasi dulu. Tapi ini berbahaya, Ria."

Ria menarik tangannya perlahan. Ia memberikan senyum yang paling tenang, senyum yang bagi Arya justru terasa seperti sembilu yang menyayat dada.

"Mas, ini bukan pertanda buruk," bohong Ria dengan suara lembut yang menghanyutkan. "Ini hanya sisa rasa sakit yang sedang keluar. Aku merasa jauh lebih baik sekarang setelah makan es krim bersamamu."

Ria menatap mata Arya yang berkaca-kaca, matanya yang tajam kini tampak begitu rapuh. "Tunggulah waktunya, Mas. Jika saat itu tiba, jika nafasku memang harus berhenti di sini... jangan pernah menangisi ku. Jangan biarkan air matamu jatuh untuk orang yang sudah menemukan kedamaiannya."

"Diam, Ria! Berhenti bicara seolah kau akan pergi!" bentak Arya, namun kali ini suaranya tidak penuh amarah, melainkan penuh keputusasaan. "Aku tidak ingin mendengar tentang kematian. Aku tidak ingin mendengar tentang kedamaian jika itu artinya kau tidak ada di sampingku! Aku ingin kau tetap bersamaku, kita memulai segalanya dari awal."

Arya memalingkan wajah, menyembunyikan tetesan air mata yang akhirnya jatuh juga. Ia membenci dirinya sendiri karena tidak bisa melakukan apa-apa. Ia, yang biasanya bisa mengatur nasib ribuan karyawan dan memenangkan negosiasi tersulit, kini berlutut di hadapan takdir tanpa senjata.

Malamnya, saat Ria tertidur karena pengaruh obat pereda nyeri yang semakin tinggi dosisnya, Arya tidak bisa memejamkan mata. Ia duduk di ruang kerja, dikelilingi oleh tumpukan jurnal medis dan riwayat kesehatan Ria yang ia dapatkan secara diam-diam dari dr. Heru.

Pikirannya bergulat hebat. Bagaimana caranya? Ia tidak mungkin menyeret Ria ke meja operasi dalam kondisi batin yang menolak, karena dokter mengatakan keinginan hidup pasien adalah kunci utama keberhasilan operasi. Namun, jika ia menunggu lebih lama lagi, jantung Ria mungkin tidak akan kuat menahan beban anestesi.

Arya mengambil ponselnya, menghubungi dr. Gunawan sekaligus sahabatnya.

"Gun, siapkan semuanya. Tim bedah, ruang isolasi, dan stok darah golongan yang sama dengan Ria," bisik Arya ke telepon. "Aku akan membawanya ke sana. Aku akan mencari cara agar dia setuju, atau setidaknya... agar dia tidak merasa sedang dipaksa."

Arya menatap foto pernikahan mereka yang dipajang di atas meja—foto di mana mereka berdua tampak seperti orang asing. Ia mengusap wajah Ria di foto itu.

"Kau ingin dihargai, Ria? Aku akan menghargaimu dengan memberimu hidup yang lebih panjang. Meskipun kau harus membenciku selamanya karena melanggar janji ini, aku lebih suka dibenci olehmu yang bernapas, daripada dicintai oleh bayanganmu yang telah hilang."

Siasat mulai disusun. Arya berencana membawa Ria ke satu tempat terakhir di daftar keinginannya—sebuah tempat yang dekat dengan fasilitas medis rahasia yang sudah ia siapkan. Ia akan menjebak maut dengan cinta yang licik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!