Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiba di ibukota kerajaan (chapter 2)
Wakasa pun berhenti sejenak, menahan langkahnya sambil memandang ke arah ibu kota itu. Cahaya matahari memantul di menara-menara tinggi, membuat kota tersebut tampak megah dan hidup. Wajahnya dipenuhi rasa senang, dan senyuman halus terukir seakan menyimpan harapan serta kerinduan yang lama terpendam. Angin lembut menyapu rambutnya, seolah menyambut kedatangannya.
Ia kemudian melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa saat berjalan, langkahnya membawanya ke alun-alun besar—tempat keluar masuknya orang-orang dari berbagai penjuru. Suara percakapan, derap kaki, dan hiruk-pikuk pedagang bercampur menjadi satu, menandakan denyut kehidupan yang tak pernah padam. Di hadapannya berdiri ibu kota yang selama ini hanya ia dengar dalam cerita. Kota itu bernama Alcatraz, sebuah tempat di mana takdir baru seolah tengah menunggu untuk dijalani.
“Waaaah… gila, gede banget kotanya!”
Wakasa berhenti melangkah, matanya membulat penuh kekaguman. Bangunan-bangunan tinggi berdiri rapat, jalanan dipenuhi orang-orang dengan berbagai pakaian dan senjata aneh, membuat suasana terasa hidup dan ramai.
Ia berjalan menyusuri kota itu dengan senyuman bahagia yang terus menghiasi wajahnya.
“Tunggu dulu, Tama,” ucapnya sambil menghela napas kecil. “Sebelum ke mana-mana, aku harus jual monster yang tadi aku kalahkan. Soalnya ya… sejujurnya aku datang ke dunia ini tanpa uang sepeser pun.”
Ia memasang wajah sedih yang terlihat lucu, membuat siapa pun yang melihatnya pasti geli. Setelah itu, Wakasa mendekati seorang pria yang berdiri santai di pinggir jalan, seolah sedang menunggu seseorang.
Wakasa: “Permisi, paman… mau tanya, kantor untuk para petualang itu apa paman tau itu di mana ?”
Pria A: “Oh? Dari raut mukamu kelihatan banget kalau kau baru pertama kali ke sini ya,”
jawab pria itu sambil tersenyum ramah.
Wakasa: “Hehe… iya, aku baru sampai barusan.”
Pria A: “eeem, pantas saja. Kalau begitu gampang kok. Kamu tingal jalan lurus saja, nanti di depan belok kanan. Gedungnya lumayan besar, pasti kelihatan.”
Pria itu menunjuk arah dengan tangannya.
Wakasa: “Waaah, terima makasih banyak ya paman! Sampai jumpa!”
Wakasa melambaikan tangan dengan ceria lalu berjalan mengikuti petunjuk tersebut. Tak butuh waktu lama sebelum sebuah bangunan besar dengan lambang pedang dan perisai terlihat jelas di hadapannya. Banyak orang keluar masuk—beberapa terlihat berpengalaman, sementara yang lain tampak kelelahan dengan luka ringan di tubuh mereka.
“Ini pasti kantor petualang…”
Dengan wajah penuh semangat dan senyum tipis di bibirnya, Wakasa melangkah masuk ke dalam bangunan itu sambil berkata santai,
“Permisi~”
Suasana di dalam terasa ramai dan penuh energi, seakan menjadi titik awal dari petualangan panjang yang menunggunya.
Saat Wakasa melangkah masuk ke kantor guild petualang, suasana yang tadinya riuh perlahan berubah. Beberapa petualang menoleh, lalu bisik-bisik mulai terdengar di berbagai sudut ruangan.
“Siapa pria itu?”
“Sepertinya anak baru.”
“Aku belum pernah melihatnya sebelumnya…”
“Dia tampan sekali.”
“Kelihatannya keren.”
“Apa dia mau ku ajak bertualang, ya?”
Wakasa mengabaikan tatapan dan bisikan itu. Dengan langkah tenang, ia berjalan ke meja pelayanan.
Wakasa:
“Permisi… aku ingin menjual monster. Apa bisa dilakukan di sini?”
Petugas di balik meja tersenyum ramah.
Petugas 01:
“Tentu saja bisa. Namun sebelum itu, boleh aku lihat kartu anggota guild-mu?”
Senyum Wakasa perlahan memudar. Ia terdiam sesaat, lalu menggaruk pipinya dengan canggung.
Wakasa:
“Em… sebenarnya aku belum terdaftar sebagai petualang.”
Petugas itu mengangguk seolah sudah terbiasa mendengar hal seperti itu.
Petugas 01:
“Kalau begitu, kau bisa mendaftar sekarang. Untuk biayanya lima koin perak.”
Wakasa menelan ludah. Tangannya mengepal pelan. Ia sama sekali tidak memiliki uang—itulah alasan ia datang ke guild untuk menjual hasil buruannya.
Dengan nada ragu dan wajah cemas, ia memberanikan diri berbicara.
Wakasa:
“Apakah… aku bisa membayar biaya pendaftaran setelah monster yang ku kalahkan terjual?”
Petugas itu menggeleng pelan.
Petugas 01:
“Maaf, peraturannya tidak mengizinkan.”
Bahunya Wakasa merosot. Wajahnya menunjukkan kekecewaan yang tak bisa disembunyikan. Ia menunduk, merasa semua usahanya sia-sia.
Namun, tepat saat ia hendak berbalik pergi—
Cling.
Suara koin jatuh di atas meja terdengar jelas.
Semua mata tertuju ke arah sumber suara.
Seorang perempuan berdiri di samping Wakasa. Ia mengenakan seragam putih bersih dengan aksen hitam, rambut merah mudanya terikat rapi di belakang, dan matanya memancarkan ketenangan yang aneh.
Perempuan itu:
“Biaya pendaftarannya aku yang bayar.”
Wakasa terkejut dan spontan menoleh ke arahnya.
Wakasa:
“Eh?! A-anda tidak perlu—”
Perempuan itu hanya tersenyum tipis.
Perempuan:
“Tidak apa apa kau bisa menggantinya saat monster yang kau bawa terjual.”
Ruangan kembali riuh. Bisikan para petualang semakin ramai, sementara Wakasa hanya bisa berdiri terpaku, menatap perempuan misterius yang baru saja mengubah nasibnya.
Wakasa :
"E-eh… tidak perlu. Aku akan mencari uang untuk membayarnya sendiri."
Wanita berambut pink itu menggeleng pelan, senyum lembut menghiasi wajahnya.
Wanita berambut pink :
"Tidak apa-apa. Kau bisa menggantinya setelah monster yang kau bawa terjual."
(Ucapnya dengan suara tenang dan penuh pengertian)
Melihat senyum itu, Wakasa terdiam sejenak. Dadanya terasa hangat, dan tanpa sadar pipinya memerah.
Wakasa :
"Terima kasih banyak… tunggulah sebentar di sini. Aku akan segera menjual monster itu."
Wanita itu hanya tersenyum kecil dan menganggukkan kepala.
Tak lama kemudian, proses pendaftaran selesai. Wakasa kini resmi menjadi seorang petualang peringkat E.
Petugas Guild :
"Ini kartu anggota Anda."
Wakasa menerima kartu itu dengan kedua tangan.
Wakasa :
"Terima kasih. Jadi… aku sudah bisa menjual monster yang kudapatkan, kan?"
Petugas Guild :
"Tentu saja. Ngomong-ngomong, di mana monster yang Anda kalahkan?"
Wakasa menarik napas sebentar, lalu melangkah ke samping.
Wakasa :
"Tunggu sebentar… MAGIC HOLE."
Cahaya hitam keunguan muncul di udara, membentuk lubang sihir berputar di samping Wakasa.
Guild yang tadinya ramai mendadak hening.
"Dia bisa sihir Hole…?"
"Sihir penyimpanan tingkat tinggi…"
"Itu sihir kelas atas!"
Para petualang menatap Wakasa dengan mata membelalak. Bahkan beberapa petualang peringkat tinggi terlihat terkejut.
Wanita berambut pink itu pun ikut tercengang.
"Magic Hole…? Jadi dia…" gumamnya pelan.
Tak lama kemudian, dari dalam lubang sihir itu, Wakasa menarik keluar tubuh monster besar bersisik hijau gelap dengan taring panjang dan mata dingin.
SEMILSNAKE.
Sedikit ekor Monster itu jatuh ke lantai dengan suara berat, membuat lantai guild sedikit bergetar.
Petugas Guild terdiam beberapa detik sebelum akhirnya berseru,
Petugas Guild :
"S-SEMILSNAKE?! Monster berbahaya tingkat S?!"
Seluruh ruangan kembali gempar.
Sementara itu, Wakasa hanya menggaruk pipinya dengan canggung, sama sekali tidak menyadari bahwa sejak saat itu…
tak ada lagi yang memandangnya sebagai petualang biasa.
Suasana di dalam kantor petualang tiba-tiba berubah menjadi gempar.
Sontak, para petualang yang tadinya santai kini berdiri dengan wajah kaget luar biasa.
“I-Itu… itu… ITU SEMILSNAKE!!”
teriak salah satu petualang dengan suara bergetar.
Beberapa orang langsung mundur ketakutan. Bahkan petualang berpangkat S yang duduk di pojok ruangan pun tampak terperanjat, matanya melebar tak percaya.
“Dia... dia membunuh SEMILSNAKE sendirian!?”
seru salah satu dari mereka, hampir tak percaya dengan apa yang dilihat.
Wakasa yang tidak paham situasinya hanya menatap heran.
Ia menggaruk kepalanya pelan, wajahnya masih polos seperti anak kecil.
Wakasa: “Heeeh? Kenapa semua orang jadi heboh begitu?”
Wanita berambut pink yang tadi bersamanya menatap Wakasa dengan ekspresi campur aduk — kagum sekaligus kaget.
Wanita berambut pink: “Kau tidak tahu? SEMILSNAKE itu salah satu monster Ranking S! Bahkan untuk mengalahkannya biasanya diperlukan satu pasukan kesatria dan penyihir kerajaan!”
Wakasa berbisik pelan, lalu tersenyum malu.
Wakasa: “Heeeh, beneran ya?”
(ucapnya dengan wajah polos, seolah itu hal biasa saja)
Petugas di meja resepsionis menelan ludah sebelum berbicara, suaranya terdengar gugup.
Petugas 01: “A-anu... Tuan Wakasa, sepertinya monster sebesar ini tidak bisa kami taruh di sini. Izinkan saya mengantar Tuan ke ruang bawah. Saya juga akan segera memanggil Kepala Serikat untuk datang melihat.”
Wakasa: “Ooh, begitu ya? Baiklah.”
Dengan langkah tenang, Wakasa mengikuti petugas itu menuruni tangga menuju ruang bawah tanah kantor serikat.
Sebelum turun, ia menoleh pada wanita berambut pink itu.
Wakasa: “Tunggulah sebentar di sini, ya. Aku akan segera mengganti uangmu nanti.”
Wanita berambut pink: “Baik, aku tunggu.”
Wanita itu menatap punggung Wakasa yang perlahan menghilang di balik tangga.
Di matanya, ada sedikit kilau kekaguman.
Ia bergumam pelan,
“Siapa sebenarnya pria itu...?”