“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”
“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.
“Sebagai manusia.”
“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”
“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”
999 tahun pencarian....
“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”
PLAK!
“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.
Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Merasa Tertipu
Di dalam mobil yang tengah melaju menuju Mansion milik Ragnar. Tiba-tiba saja Ivory mendekat, ragu-ragu tapi tetap mantap. Tangannya menempel di bahu Ragnar yang pakaiannya terdapat darah, seakan ia ikut merasakan panas yang masih tersisa dari lukanya.
“Seharusnya… sudah mulai sembuh sekarang. Apakah dia berniat ingin mengobatinya dengan cara manusia,” batin Ragnar, menatap Ivory yang tampak ragu untuk membuka luka yang tertutup kain pakaiannya yang terkoyak. “Sepertinya dia tidak percaya bahwa aku memang Raja Vampir.”
Ivory ikut menatap mata Ragnar yang masih menatapnya dalam diam. Matanya merah tapi lembut, campuran antara ketakutan dan kepercayaan yang baru lahir. “Aku tidak akan pergi,” katanya pelan. “Jika kau terluka demi melindungiku… aku akan tetap di sini. Aku akan membantu mengobatimu.”
Dorian menunduk menahan senyumnya, menyadari bahwa meski skenarionya gagal, tujuan akhirnya untuk mendekatkan Rajanya dan reinkarnasi sang ratu tampaknya berhasil. Kepercayaan dan ikatan baru telah terbentuk, bahkan melalui kekacauan dan darah.
Sampai tiba-tiba Dorian menyadari sesuatu.“Eeeh, tunggu? Apa yang baru dia katakan? Membantu mengobati lukanya? Bukankah kemampuan penyembuhan diri Yang Mulia lebih tinggi dari vampire manapun? Bahkan mungkin saat ini lukanya sudah sembuh tak berbekas lagi.”
Ragnar sepertinya sudah mulai gila dengan perhatian kecil yang Ivory berikan padanya. Padahal jelas lukanya sudah hampir sepenuhnya sembuh, tapi ia malah sedikit tersenyum lalu meringis seolah kesakitan. “Ughh… rasanya sakit sekali, Ratuku!”
Ivory hanya mengangguk, menekan tangan di sisi tubuh Ragnar yang terluka, bertekad ia akan menemani dan membantu mengobatinya. Bukan karena rencana atau skenario, tapi karena hutang nyawa dan kepercayaan yang baru terjalin. “Tahan sebentar ‘yah!”
“Gawat, sepertinya Yang Mulia sedang membuat lubang untuk mengubur dirinya sendiri. Seharusnya dia jujur dengan kemampuan penyembuhannya, bukannya malah membohonginya seperti ini.” ujar Dorian yang hanya bisa mengatakannya di dalam hati.
...****************...
Hujan turun deras saat Ivory mulai memasuki Mansion mewah kediaman Ragnar. Ia menatap kagum semua interior Mansion itu yang seperti berlapis emas murni. Namun rasa kagumnya berubah menjadi perasaan bingung melihat Ragnar yang tengah berjalan di depannya dengan langkah tenang.
Terlalu tenang untuk orang yang sedang terluka parah, pikir Ivory. “Bukankah orang yang sedang terluka parah seharusnya pincang, atau setidaknya meringis kesakitan setiap kali bergerak? Tapi kenapa dia malah terlihat seperti orang yang tidak terluka sama sekali?”
Begitu sampai di aula utama, Ivory tak menunggu lama untuk memastikan kecurigaannya. “Duduk,” perintahnya tegas.
Ragnar langsung merasakan aura kemarahan yang dipancarkan Ivory, ia lantas menoleh mencoba menjelaskan. “Ratu, aku sebenarnya—”
“DUDUK,” ulangnya lebih keras.
Dengan ekspresi antara patuh dan takut, Ragnar duduk di sofa beludru hitam. Ivory maju, bersiap menghadapi pemandangan luka mengerikan yang membuatnya makin merasa bersalah… itu yang ia pikirkan selama perjalanan tadi.
Sampai dugaannya beberapa saat lalu terbukti. Ia melihatnya dengan jelas. Tak ada darah segar. Tak ada luka robek. Tak ada tusukan. Bahkan bekas luka pun nyaris tidak ada ditubuh Ragnar.
Ivory berkedip.
Sekali.
Dua kali, bahkan sampai mengucek kedua tangannya cukup keras untuk memastikan penglihatannya tidak bermasalah. Ia lantas mendekat. Menatap lebih dekat. Bahkan mencolek lengan Ragnar… tetap saja tak ada luka sedikitpun di sana. Ivory lantas mendengus kesal, tatapannya berubah tajam ketika pandangan mereka bertemu.
Ragnar menatapnya balik. “A-apa ada masalah?”
Detik itu juga, kesunyian aula pecah.
“DASAR BOS GILA, SIALAN?! Beraninya kau menipuku, Hah?” teriak Ivory.
Ragnar refleks menegakkan badan. “A-aku tidak bermaksud….”
Ivory spontan berdiri, berkacak pinggang. “KAU BILANG KAU TERLUKA PARAH! KAU BILANG HAMPIR MATI! KAU BILANG KALAU KAU KESAKITAN. KAU—”
Ia menunjuk dadanya sendiri dengan dramatis. “AKU SUDAH MERASA BERSALAH SEUMUR HIDUPKU! TAPI KAU….”
Ivory bahkan sampai tak sanggup menyelesaikan ucapannya, karena kemarahannya yang sudah memuncak. Rasanya sudah di ubun-ubun dan harus diluapkan saat itu juga. Namun, Ia masih berusaha menahan diri agar tidak menjadi pembunuh menggantikan kaum werewolf dan penyihir yang gagal melakukannya saat di restaurant.
Di pojok ruangan, terlihat Dorian yang memilih diam tanpa berniat membantu Rajanya. Sebab dia merasa, jika ikut campur maka dirinya yang akan menjadi sasaran empuk kemarahan dari reinkarnasi ratunya. Biar saja Rajanya menuai sendiri apa yang dia tanam sebelumnya.
“Maaf, Yang Mulia! Lebih baik saya cari aman dulu,” gumamnya.
Ragnar menghela napas pelan. “Aku memang terluka. Tapi kami, bangsa vampir—”
“JANGAN JELASKAN!” potong Ivory bertambah kesal. “AKU TIDAK MAU MENDENGARKAN PENJELASAN APAPUN DARIMU!”
Dalam luapan emosi, tanpa berpikir panjang…
SPLASH!
Seluruh isi air yang terdapat di vas bunga yang tergelatak di atas meja, kini sudah membasahi seluruh wajah Ragnar. Air itu menetes perlahan dari bahunya, membasahi pakaian hitam elegannya. Ruangan hening. Sangat hening.
Ragnar menunduk menatap dadanya sendiri. Lalu menatap Ivory tak percaya. “…Kau baru saja menyiramku?”
Ivory terdiam menahan kemarahan… lalu wajahnya memerah hebat. “MENURUTMU?” bentaknya. “Anggap saja itu hukuman karena menipuku secara emosional!”
Ia mundur selangkah, lalu dua. “Aku mengira harus tetap tinggal untuk mengobati lukamu! Aku mengira telah berhutang nyawa kepadamu! Karena luka ini—” ia menunjuk dada pria itu yang bahkan terlihat makin sehat, “—aku mulai menerimamu!”
Ragnar mengamati dirinya sendiri sebentar. “Benarkah?” katanya senang. “Aku merasa… sangat senang karena kau sudah mulai menerimaku.”
Ivory menjerit frustrasi. “APAKAH KAU SANGAT SENANG TELAH MENIPUKU SEPERTI INI, HAH?”
Tanpa menunggu balasan atau alasan yang ingin Ragnar katakan. Ivory langsung berbalik dan berjalan cepat ke pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak, menoleh tajam. “Lain kali kalau kau mau jadi pahlawan yang terluka, PASTIKAN lukamu bertahan lebih lama!”
BRAK!
Pintu Mansion tertutup keras.
Di aula yang kembali sunyi, Ragnar berdiri perlahan, air itu masih menetes dari pakaiannya. Ia menghela napas… lalu untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun….
Ragnar kembali tersenyum lebar.
“…bukankah dia sangat menggemaskan?” gumamnya.
“Anda baru saja membuatnya marah dan merusak kesan baik yang di dapat dengan susah payah. Dan anda malah berpikir itu menggemaskan?” celetuk Dorian yang seketika mendapatkan tatapan tajam dari Rajanya.
“Benarkah aku telah merusak skenarionya?” Ragnar bertanya memastikan.
“Benar, Yang mulia! Mungkin setelah ini, reinkarnasi ratu akan semakin menjaga jarak dengan anda,” ujarnya membenarkan.
“Astaga, sial sekali! Seharusnya aku lebih menahan diri tadi.” Ragnar hanya bisa merutuki kebodohannya sendiri. “Dorian, bagaimana kalau kita mengulang scenario ini lagi?”
“Tidak bisa, Yang mulia! Skenario ini tidak bisa kita gunakan lagi. Namun kita masih memiliki banyak scenario lain yang bisa digunakan ke depannya.”
Bersambung ….
Tapi, apakah Ragnar akan nyerah gitu aja? Pasti Ragnar akan semakin gencar mendekati Ivory dan terus mencari tanda itu..
Iya ngga sih... 😩
Terus kapan nih, Ragnar lihat tanda dibelakang telinganya Ivory... Ngga sabar pengen lihat reaksinya... 😋
Meskipun Ragnar udah yakin kalo Ivory reinkarnasi Ratu nya, tapi Ragnar belum lihat tanda itu kan? 😌😌😌
Penyihir hitam dan Ratu Vampir emang kakak beradik, tapi mereka terpisah. Gitu yah?
Ivory mau bilang apa yah ke Elena? Apa Ivory udah tahu, kalau dirinya adalah reinkarnasi dari Ratu Vampir? 🤔