Berdasarkan kisah nyata.
Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.
Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?
SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!
Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"AGAK BEDA AURA RUMAHNYA"
Ibunya Risa tampak tersenyum sedikit saat mendengar jawaban sahabatku itu. Dan tak lama, beliau akhirnya mempersilahkan kami untuk masuk.
"Oh iya, ayok, masuk dulu... Risa ada di kamar. Lagi istirahat juga."
"Iya Bu, terima kasih..." sahutku.
"Kamu tuh kalo ngomong jangan sembarangan, gak enak rasanya tau." kataku berbisik ke Dinda saat kami bertiga mulai melepas sandal dan naik ke teras rumah.
"Ya kamu aja yang terlalu banyak diem di rumah toh Nis, semua orang juga udah tau kemampuanmu itu!" jawab Dinda.
"Ayok, langsung duduk aja. Ibu mau ambil minum dulu buat kalian. Anggap rumah sendiri ya..." kata si ibu sambil mempersilahkan kami untuk duduk di sofa ruang tamunya, kemudian beranjak ke belakang.
Aku, Dinda, dan Ningrum pun duduk. Memposisikan diri kami agar nyaman di rumah Risa ini. Karena cukup terasa agak canggung, sebab ini pertama kali kami bertiga datang ke rumah Risa.
Beberapa saat Dinda dan Ningrum memperhatikan seisi ruang tamu. Ada beberapa buah bingkai foto di dinding. Ada juga beberapa buah lukisan dengan gambar khas pedesaan. Dan disudutnya terdapat dua buah guci.
Tampak sederhana, namun terasa elegan dan nyaman rumah ini.
"Nis, kamu kenal sama Risa udah lama?" tanya Ningrum.
"Belom terlalu lama sih, cuma ya gak sebentar juga." jawabku.
"Emang kamu kenal di mana?" tanya Dinda.
"Aku kenal pertama kali pas belanja di pasar. Dia gantiin jaga lapak sayur langganan aku. Nah dari situ ya setiap ke pasar, aku jadi lumayan sering ketemu sama Risa." jelasku.
"Oooh..." respon Dinda dan Ningrum sambil mengangguk pelan.
"Kayaknya dia anak orang cukup berada deh..." kata Dinda kemudian.
"Tau dari mana kamu?" tanya Ningrum.
"Ya keliatan aja, dari ruang tamunya ini Rum. Ada lukisan, guci, terus tata letaknya juga gak sembarangan menurutku. Auranya beda aja, itu kalo kata aku sih..." jawab Dinda.
"Aura beda gimana maksudnya?" tanya Ningrum lagi.
"Gak tau... Cuma terasa agak beda aja..." jawab Dinda.
Tak lama, si ibu pun kembali ke ruang tamu sambil membawa nampan berisi minuman, dan dia juga ditemani oleh seorang wanita. Lebih tua usianya dari si ibu jika dilihat dari wajah dan tubuhnya.
"Ini, diminum dulu. Maaf ya, cuma kasih teh manis dingin aja." kata si ibu sambil menaruh gelas di atas meja.
"Eh, gak apa-apa kok Bu, justru kami terima kasih udah disambut baik." jawabku.
"Iya, sama-sama. Justru saya juga seneng kalo ada temen Risa yang dateng jengukin. Soalnya belom ada satu pun yang dateng buat jenguk." kata si ibu.
Aku, Dinda, dan Ningrum hanya tersenyum sambil bertukar pandang sesaat.
"Oh iya, ini namanya Mbok Yayuk, dia yang bantu pijit Risa selama tiga hari ini."
Si ibu memperkenalkan, dan Mbok Yayuk itu tampak tersenyum sambil menunduk sedikit.
"Maaf, Mbok Yayuk ini gak bisa ngomong. Tapi dia masih bisa mendengar kok kalo diajak ngobrol." jelas si ibu.
"Oh... Iya Bu..." jawabku.
Ternyata Mbok Yayuk ini adalah seorang tukang pijat tradisional. Dan dia bisu. Tapi tampak sekali bahwa dirinya bersahaja. Dari cara berpakaian, berdiri, dan juga menatap kami bertiga yang datang bertamu.
Si ibu pun duduk. Namun Mbok Yayuk langsung menuju ke luar rumah. Sepertinya dia tampak akan pulang. Dan si ibu memperkenalkan dirinya.
"Nama Ibu, Rahayu. Kalo nama kalian?"
"Saya Nisa Bu, dan ini sahabat saya, tadi juga sudah saya kenalkan ke Ibu. Ini Dinda, dan ini Ningrum." jawabku dengan sopan.
"Oh iya, aduh, maaf ya, Ibu kadang suka kelupaan nama orang Nak... Maaf ya... Maklum, udah tambah tua. Ditambah lagi juga mikirin kerjaan. Hehehe..." jelas Bu Rahayu.
"Hehehe... Gak apa-apa kok Bu." jawabku.
"Kalo Bapaknya Risa, namanya Sumarji. Tapi dia lagi lagi kerja sekarang. Masih ada proyek di luar kota. Belum pulang." tambahnya.
"Oh, gitu ya Bu..." responku singkat.
"Eh iya Bu Rahayu, itu Mbok Yayuk langsung pulang? Kok gak ngobrol dulu sama kita?" tanya Ningrum sambil melihat ke arah luar. Melihat Mbok Yayuk berjalan meninggalkan rumah.
"Iya... Soalnya udah dari tadi Mbok Yayuk di sini. Dia Ibu panggil buat minta bantuan. Soalnya Risa badannya terasa kayak capek banget gitu. Terus pundaknya terasa berat banget." jelas si ibu.
"Emangnya Risa sakit apa Bu?" tanyaku yang merasa Bu Rahayu juga sudah membuka obrolan ke arah sakit anaknya itu.
"Ibu juga kurang paham, karena apa, atau sebabnya apa... Kurang tau Ibu juga."
"Tapi, Ibu gak tanya ke Risa?"
"Ya Ibu tanya sih, pas mulai dia kelihatan sakit."
"Risa jawab apa Bu?" tanyaku semakin penasaran.
"Risa malah cuma bilang kalo dia kecapean aja dagang di pasar. Padahal sebelumnya kalo dia kecapean, ya gak sampe berhari-hari gini. Terus juga dia cuma bilang badannya kayak lemes, pundaknya berat. Gitu aja..." jelas Bu Rahayu.
Aku hanya mengangguk mendengar penjelasan si ibu. Dinda dan Ningrum tampak saling bertukar pandangan saja.
"Ya saya juga mau tanya ke Mbok Yayuk, gak bisa banyak ngobrol. Kan dia juga gak bisa ngomong." tambahnya.
"Iya ya Bu..." jawabku.
"Eh iya, ayok, diminum dulu tehnya... Keburu mencair esnya juga."
"Hehe... Iya Bu, diminum ya..."
"Iya, silahkan-silahkan..."
Kami bertiga pun meminum es teh itu. Terasa lumayan segar tenggorokan kami. Melepas dahaga yang dirasakan setelah diperjalanan yang cukup terik tadi.
"Oh ya, kalian mau liat Risa? Ada di kamarnya kok..." tanya si ibu.
"Em, boleh Bu. Tapi dia lagi tidur gak?" tanyaku.
"Gak kok, barusan juga Ibu udah liat. Baru aja dipijitin lagi sama si Mbok Yayuk itu. Ayok, kalo mau liat Risa di kamar."
"Baik Bu, boleh..."
Aku berdiri saat Bu Rahayu pun berdiri. Hendak mengajak kami ke kamar Risa. Namun Dinda dan Ningrum tampak duduk saja di sofa ruang tamu.
"Loh, kalian gak ikut?" tanya si ibu.
"Eh, gak Bu. Biar Nisa aja. Kami berdua di sini aja..." jawab Dinda.
"Kenapa?" tanya si ibu lagi.
"Gak apa-apa kok Bu, takutnya nanti malah terlalu rame juga dalem kamar. Masih butuh istirahat juga pasti Risanya." jawab Ningrum.
"Oh gitu... Ya sudah, Ibu sama Nisa ke kamar Risa dulu ya. Kalian berdua sambil dinikmati es teh nya."
"Iya Bu..." jawab dua sahabatku itu bersamaan.
Lantas aku mengikuti Bu Rahayu menuju kamar Risa. Ternyata, rumahnya Risa ini tak sesederhana yang terlihat dari luar.
Bentuk rumahnya ternyata memanjang ke belakang. Bukan dibangun bertingkat. Aku melihat banyak ruangan di dalamnya. Dan juga beberapa ornamen serta hiasan dinding yang tampak tidak murah.
"Bener berarti kata Dinda. Anak orang berada juga si Risa ini." gumamku dalam hati sambil terus mengikuti Bu Rahayu di belakangnya.
Setelah melewati beberapa ruangan lain, dapur, ruang TV, ruang keluarga, bahkan kamar tidur orang tua Risa, aku sampai di depan sebuah lorong.
Memang tak panjang lorong itu. Namun sebelum aku bertanya, Bu Rahayu menjelaskan terlebih dahulu.
"Maaf ya Nis, malau desain rumah ini agak berbeda dari rumah lainnya. Agak unik. Terus juga itu di depan sana kamar Risa. Dia sendiri yang minta kamarnya dipindah, paling belakang posisinya dari ruangan lain."
"Oh... Iya Bu..." jawabku.
"Ayok Nis, silahkan langsung masuk aja."
"Em, Ibu gak temani saya masuk?"
"Gak. Ibu juga mau ke dapur sebentar. Mau cuci piring sama cuci baju, sedikit lagi kok."
"Em, gak apa-apa Bu kalo saya masuk sendirian? Saya gak enak Bu..." jawabku sambil berdiri dan mulai menggenggam kedua tanganku sendiri.
"Ah, gak apa-apa kok, lagian juga kan kamu udah kenal sama anak saya. Sudah, sana masuk. Gak apa-apa..."
"Baik Bu... Saya izin masuk ya..."
Aku melangkahkan kaki melewati lorong pendek depan pintu kamar Risa itu...