Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Kisah dibalik nama Humairah.
Malam turun perlahan di desa itu.
Lampu-lampu tenda menyala redup, angin hutan berembus pelan membawa bau tanah basah. Lian duduk bersandar di ranjang tenda medis, bahunya masih dibebat, tubuhnya lelah tapi pikirannya terjaga.
Haikal duduk di lantai, bersandar pada ranjang, senjatanya disandarkan di sisi—jarang ia lepaskan sejauh itu.
Untuk pertama kalinya sejak interogasi, suasana di antara mereka tidak tegang.
Hanya sunyi.
Sunyi yang memberi ruang.
“Mas,” suara Lian pelan,
“boleh aku cerita… tentang namaku?”
Haikal menoleh.
Tatapannya lembut.
“Kalau kamu siap.”
Lian menarik napas panjang.
“Aku dulu… suka sekali dipanggil Humairah.”
Haikal tidak menyela.
“Waktu kecil,” lanjut Lian,
“nama itu rasanya hangat. Rasanya… seperti dipeluk.”
Ia tersenyum kecil—senyum yang cepat memudar.
“Bunda memberiku nama itu karena berharap aku jadi anak baik. Anak yang dekat sama Tuhan. Anak yang membanggakan.”
Haikal mengangguk pelan.
“Tapi… Mas,” suara Lian merendah,
“aku baru sadar belakangan ini.”
Ia menatap jari-jarinya sendiri.
“Bunda… juga korban.”
Haikal menegang sedikit.
Namun tetap diam.
“Bunda tumbuh di rumah yang sangat keras,” lanjut Lian.
“Kakek dan nenekku… orang-orang yang tegas. Kolot. Sangat disiplin soal agama.”
Ia menelan ludah.
“Bunda pintar,” katanya jujur,
“tapi lambat.”
Haikal mengerutkan kening.
“Lambat membaca. Lambat menghafal. Lambat mengingat,” Lian menjelaskan pelan.
“Dan di rumah itu… lambat sama dengan gagal.”
Sunyi.
“Bunda sering diasingkan,” lanjutnya.
“Dibandingkan. Dimarahi. Disuruh lebih cepat. Lebih patuh. Lebih bisa.”
Haikal merasakan dadanya menghangat—bukan marah, tapi sedih.
“Bunda tidak mau aku seperti dia,” kata Lian lirih.
“Dia ingin aku kuat. Cepat. Pintar. Tidak diremehkan.”
Lian tersenyum pahit.
“Tapi tanpa sadar… Bunda mengulang.”
Haikal menutup mata sesaat.
“Setiap kali namaku dipanggil—Humairah,” lanjut Lian,
“itu bukan lagi panggilan sayang.”
Tangannya mengepal pelan.
“Itu perintah.”
Hening.
“Humairah harus bisa.”
“Humairah jangan lambat.”
“Humairah itu anak baik.”
“Humairah jangan membantah.”
Suara Lian bergetar.
“Humairah harus patuh.”
Ia mengangkat wajahnya menatap Haikal.
“Mas… aku merasa seperti hidup dalam kotak.”
Haikal berdiri perlahan, duduk di sisi ranjang.
“Nama itu,” Lian berbisik,
“pelan-pelan berubah jadi penjara.”
Air mata jatuh tanpa suara.
“Aku bukan benci Bunda,” katanya cepat, seolah takut disalahpahami.
“Aku cuma… lelah.”
Haikal mengangkat tangannya, mengusap rambut Lian pelan—gerakan yang hati-hati, penuh izin.
“Makanya aku memilih jadi Lian,” lanjutnya.
“Lian bisa berantakan. Bisa salah. Bisa tertawa keras. Bisa berkelahi. Bisa lambat.”
Ia tertawa kecil, getir.
“Lian bisa bernapas.”
Haikal menelan napas berat.
“Dan sekarang?” tanyanya lembut.
Lian menghela napas.
“Sekarang…”
“Aku sedang belajar berdamai.”
Ia menatap Haikal—mata lelah, tapi jujur.
“Bukan dengan nama itu dulu,” katanya pelan.
“Tapi dengan diriku yang dulu terkurung.”
Haikal menggenggam tangan Lian.
“Kamu tidak rusak,” katanya tegas.
“Kamu hanya tumbuh di tempat yang tidak tahu cara mencintai dengan lembut.”
Lian menangis.
Bukan tersedu.
Bukan meraung.
Tangis pelan—tangis orang yang akhirnya dipahami.
“Mas,” katanya di sela napas,
“terima kasih… tidak memaksaku membenci masa laluku.”
Haikal menunduk, mencium keningnya lama.
“Kita hentikan rantainya di sini,” bisiknya.
“Tidak ada lagi luka yang diwariskan.”
Lian memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya—
Nama Humairah tidak terasa seperti jeruji.
Dan nama Lian tidak lagi sendirian.
Di tenda kecil di tengah desa yang dijaga rahasia negara itu—
Seorang perempuan akhirnya menemukan ruang untuk bernapas,
dan seorang pria bersumpah dalam diam
untuk menjaga ruang itu seumur hidupnya.
Lian terdiam cukup lama.
Tangannya—tanpa sadar—berpindah ke perutnya. Telapak itu menempel di sana, pelan tapi protektif, seolah tubuhnya bergerak lebih dulu daripada pikirannya.
Haikal memperhatikan.
Tidak bertanya.
Tidak menyinggung.
Hanya menggeser duduknya lebih dekat.
“Mas…” suara Lian lebih lirih dari sebelumnya,
“ada satu hal lagi.”
Haikal mengangguk kecil.
“Aku dengar.”
Lian menelan napas.
“Aku besar… tanpa ayah.”
Kalimat itu jatuh ringan, tapi bobotnya berat.
“Bunda hamil waktu ayah pergi,” lanjut Lian.
“Bukan karena meninggal. Bukan karena perang. Tapi karena berselingkuh.”
Haikal mengepalkan tangan pelan.
“Dia memilih perempuan lain,” suara Lian datar, seolah sudah terlalu sering mengulang cerita itu dalam kepalanya.
“Dan meninggalkan bunda dalam keadaan hamil.”
Sunyi.
“Mas tahu apa yang paling menyakitkan?” Lian tersenyum pahit.
“Bukan ditinggal.”
Ia mengusap perutnya pelan.
“Tapi ditinggal saat belum sempat memilih.”
Haikal menarik napas berat.
“Bunda sendirian,” lanjut Lian.
“Tidak ada suami. Tidak ada orang tua yang lembut. Hanya tuntutan.”
Ia memejamkan mata.
“Dan rasa malu.”
Kalimat itu membuat dada Haikal sesak.
“Bunda memeluk agama sekuat-kuatnya,” kata Lian.
“Bukan karena damai… tapi karena takut.”
Takut gagal lagi.
Takut salah lagi.
Takut ditinggalkan lagi.
“Bunda ingin segalanya benar,” lanjut Lian.
“Karena satu kesalahan dulu… membuat hidupnya runtuh.”
Lian tertawa kecil—getir.
“Makanya Humairah harus sempurna.”
Tangannya di perut mengencang sedikit.
“Humairah tidak boleh lambat.”
“Humairah tidak boleh salah.”
“Humairah tidak boleh mengecewakan.”
Suara Lian bergetar.
“Karena kalau aku gagal… itu seperti mengulang kegagalan bunda.”
Haikal menunduk.
Ia akhirnya mengerti.
Kenapa Maya keras.
Kenapa Maya menutup telinga.
Kenapa Maya lebih percaya omongan orang daripada suara anaknya sendiri.
“Bunda takut aku akan bernasib sama,” kata Lian pelan.
“Takut aku ditinggalkan.”
Ia membuka mata, menatap Haikal.
“Dan lucunya…”
“yang paling takut kehilangan aku… justru orang yang paling sering membuatku merasa sendirian.”
Air mata jatuh.
Bukan deras.
Tapi dalam.
Haikal mengangkat tangan Lian yang di perutnya, menggenggamnya perlahan.
“Kenapa kamu pegang perutmu seperti itu?” tanyanya sangat pelan.
Lian terdiam.
Lama.
Lalu menjawab jujur—
“Karena setiap kali aku takut…”
“tubuhku bereaksi duluan.”
Ia tersenyum kecil, nyaris malu.
“Entah kenapa… aku merasa harus melindungi sesuatu.”
Haikal tidak bertanya lebih jauh.
Ia hanya menutup tangan Lian dengan tangannya sendiri.
“Kamu tidak sendirian,” katanya rendah.
“Tidak dulu. Tidak sekarang. Tidak nanti.”
Lian mengangguk pelan.
“Mas…”
“kalau suatu hari aku jadi ibu—”
Haikal langsung menatapnya.
Lian menghela napas.
“—aku tidak mau mewariskan luka ini.”
Haikal menggenggam tangannya lebih erat.
“Kita tidak akan,” katanya tanpa ragu.
“Cerita ini berhenti di kamu.”
Lian memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya—
Bayangan ayah yang pergi
tidak lagi terasa seperti lubang hitam.
Dan bayangan bunda yang keras
akhirnya terlihat sebagai manusia yang juga terluka.
Di tengah desa rahasia, di bawah penjagaan senjata dan negara—
Lian akhirnya memahami satu hal:
Ia tidak rusak.
Ia hanya lahir dari perempuan yang terlalu takut kehilangan,
dan laki-laki yang memilih pergi.
Dan kini—
Ia memilih tinggal.
Tenda medis itu hening.
Aroma antiseptik bercampur tanah basah masih menggantung di udara. Lian terbaring dengan infus terpasang di punggung tangannya, wajahnya pucat tapi tenang. Napasnya teratur—lelah yang panjang, bukan sekadar tidur.
Kain tenda tersibak.
Vano masuk.
Langkahnya tertahan sesaat, seolah ragu apakah ia pantas berada di sana. Matanya langsung menemukan Lian. Tatapan itu lama… terlalu lama untuk sekadar “teman lama”. Ada sesuatu yang belum selesai, belum sepenuhnya terkubur.
Lalu pandangannya bergeser ke Haikal.
Dua pria itu saling menatap.
Tidak ada kata.
Tidak ada salam.
Hanya dua jenis cinta yang berdiri berhadap-hadapan—
yang satu pernah memiliki,
yang satu kini menjaga dengan nyawa.
Vano menarik napas dalam, lalu melangkah mendekat ke ranjang.
Tangannya bergerak pelan saat ia meletakkan benda kecil di sisi tempat tidur. Sebuah kotak tipis, sederhana, berwarna putih—terlalu dikenal untuk disalahartikan.
Haikal langsung tahu.
Rahangnya mengeras.
“Lian,” suara Vano rendah, tidak dramatis, tapi sarat emosi yang ditahan mati-matian.
“Aku sarankan kau melakukan tesnya.”
Ia berhenti sebentar.
“Sepertinya… kamu berisi.”
Kata itu jatuh seperti peluru senyap.
Tidak meledak,
tapi menghantam tepat di dada.
Haikal menoleh ke Lian seketika.
Lian yang setengah sadar mengerjap pelan. Matanya bergerak ke benda di sampingnya, lalu naik perlahan—menemukan wajah Haikal.
Ekspresinya tidak terkejut.
Hanya… sunyi.
Seolah tubuhnya sudah lebih dulu tahu sebelum pikirannya berani mengakui.
Haikal membuka mulut, menutupnya lagi. Napasnya tertahan di tenggorokan.
“Sejak kapan kamu berpikir begitu?” akhirnya ia bertanya, suaranya rendah tapi terkendali—nada tentara yang sedang berusaha tidak kehilangan kendali.
Vano menatap Lian, bukan Haikal, saat menjawab.
“Sejak kamu memegang perutmu seperti itu,” katanya jujur.
“Sejak tubuhmu melindungi sebelum kamu sadar.”
Ia menelan ludah.
“Dan sejak aku melihat tanda-tanda yang dulu… aku pelajari di bangku kedokteran.”
Sunyi kembali turun.
Lian memejamkan mata sebentar.
Tangannya—pelan—kembali ke perutnya.
Gerakan refleks.
Gerakan naluriah.
Haikal menangkap tangan itu. Menggenggamnya erat, seolah takut dunia akan runtuh jika ia melepasnya.
“Kalau itu benar…” suara Haikal parau,
“maka kamu tidak boleh kenapa-kenapa lagi.”
Lian tersenyum lemah.
“Mas,” bisiknya,
“aku juga ingin melindunginya.”
Vano mengalihkan pandangan. Ada sesuatu yang retak di matanya—cepat, tapi nyata.
“Aku hanya menyampaikan,” katanya pelan.
“Keputusan ada di kalian.”
Ia menatap Haikal untuk pertama kalinya sejak masuk, tatapan yang akhirnya mengakui kenyataan.
“Jaga dia,” ucapnya singkat.
“Seperti yang tidak bisa kulakukan.”
Haikal mengangguk satu kali. Tegas. Final.
Vano berbalik pergi.
Sebelum keluar, ia berhenti sejenak—tanpa menoleh.
“Lian…”
“Semoga kali ini… hidupmu benar-benar memilihmu.”
Kain tenda menutup kembali.
Haikal menunduk, dahi menyentuh tangan Lian.
“Dua tahun aku pergi,” katanya lirih, penuh rasa bersalah dan syukur bersamaan.
“Dan kamu menungguku dengan hidup baru.”
Air mata jatuh—diam, tertahan.
Lian mengusap pipinya pelan.
“Mas pulang,” katanya lembut.
“Itu saja sudah cukup.”
Di luar, senja mulai turun.
Dan di dalam tenda medis yang sunyi—
Sebuah kehidupan kecil mungkin baru saja
memilih tinggal.
Lian menatap stik kecil itu lama sekali.
Tangannya sedikit gemetar, bukan karena demam yang belum sepenuhnya turun, tapi karena takut berharap.
Dua menit terasa seperti dua jam.
Suara di luar tenda meredam—langkah tentara, percakapan singkat, dedaunan yang bergesek tertiup angin senja. Dunia berjalan seperti biasa, sementara di dalam bilik sempit ini… hidup Lian berhenti sejenak.
Perlahan, garis itu muncul.
Bukan samar.
Bukan ragu.
Dua garis. Tegas. Terang.
Lian terdiam.
Dadanya naik turun, napasnya tercekat di tengah jalan. Matanya berkaca-kaca, tapi tidak langsung menangis. Ia hanya menatap, seolah takut hasil itu menghilang jika ia berkedip terlalu lama.
Tangannya refleks kembali ke perutnya.
“Jadi…” bisiknya nyaris tak terdengar,
“kamu benar-benar ada…”
Air mata jatuh satu per satu, membasahi punggung tangannya.
Bukan tangis sedih.
Ini tangis yang terlalu penuh—
campuran takut, bahagia, syukur, dan trauma yang belum sepenuhnya sembuh.
Kain tenda bergerak pelan.
Haikal masuk.
Ia langsung tahu ada yang berubah.
Lian berdiri di dekat ranjang, stik itu masih di tangannya. Wajahnya pucat, mata merah, tapi ada cahaya aneh di sana—cahaya yang tak pernah Haikal lihat sebelumnya.
“Mas…” suara Lian bergetar.
Haikal melangkah mendekat, langkahnya melambat tanpa sadar. Jantungnya berdentum keras, seperti saat ia masuk medan tempur.
Lian mengangkat tangannya.
Menunjukkan hasil itu.
Haikal berhenti.
Dua garis.
Tegas. Terang.
Seolah dunia menghantamnya sekaligus memeluknya di waktu yang sama.
“Lian…” suaranya pecah.
“Ini…”
“Iya,” potong Lian pelan, air matanya jatuh lagi.
“Aku hamil.”
Haikal menutup mulutnya dengan tangan. Napasnya tercekat, matanya memerah dalam hitungan detik. Seorang tentara yang tak gentar peluru—kini gemetar menghadapi garis kecil di stik plastik.
Ia berlutut di depan Lian.
Kedua tangannya gemetar saat memegang perut istrinya—hati-hati, seolah takut menyentuh terlalu keras.
“Maaf…” bisiknya serak.
“Aku pergi terlalu lama.”
Lian menggeleng cepat.
“Aku tidak menunggumu sendirian lagi,” katanya sambil tersenyum di balik air mata.
“Sekarang… aku ditemani.”
Haikal menunduk, dahinya menempel di perut Lian.
Tangisnya pecah tanpa suara.
“Terima kasih sudah bertahan,” katanya lirih.
“Terima kasih sudah hidup.”
Lian mengusap rambutnya pelan.
Di luar tenda, matahari benar-benar tenggelam.
Dan di desa yang dijaga ketat, penuh rahasia dan luka—
sebuah kehidupan baru telah diumumkan,
dengan dua garis kecil yang tak bisa dibantah.
Vano berdiri di ambang tenda medis dengan satu tangan di saku jaketnya, wajahnya tenang—terlalu tenang untuk situasi yang baru saja terjadi.
Matanya pertama kali jatuh pada stik test di tangan Lian.
Lalu ke wajah Lian.
Lalu… perlahan beralih ke Haikal yang masih duduk setengah berlutut di samping ranjang, satu tangannya belum lepas dari perut istrinya.
Vano menghela napas pendek.
“Oh,” katanya santai.
“Pantesan.”
Haikal menoleh pelan. Terlalu pelan.
Tatapan itu tatapan prajurit yang baru saja keluar dari baku tembak.
“Pantesan apa?” tanya Haikal datar.
Vano melangkah masuk satu langkah, lalu—tanpa dosa, tanpa takut mati—mengeluarkan kalimat paling absurd yang pernah keluar dari mulut manusia waras.
“Lian,” katanya sambil menunjuk stik test itu dengan dagu,
“kalau nanti kamu udah jadi janda… datang ke aku ya.”
Hening.
Angin berhenti bertiup.
Daun-daun di luar tenda seolah ikut menahan napas.
Lian berkedip.
Sekali.
Dua kali.
“…Hah?”
Vano melanjutkan dengan nada super santai, seolah sedang menawarkan kopi sore.
“Aku siap jadi suami baru,” katanya, lalu menambahkan cepat,
“dan ayah baru juga. Aku fleksibel.”
KLIK.
Suara itu pelan, tapi cukup membuat Vano refleks menelan ludah.
Haikal berdiri.
Perlahan.
Terlalu tenang.
Terlalu terkendali.
Tangan Haikal sudah di balik rompinya—bukan menarik senjata, tapi refleks militer yang sudah mendarah daging.
“Ulangi,” kata Haikal dingin.
“Saya pengen yakin saya tidak salah dengar.”
Lian langsung panik.
“Mas—itu bercanda!” serunya cepat sambil menarik lengan Haikal.
“Dia memang mulutnya suka ngawur!”
Vano malah mengangguk setuju.
“Iya, ngawur,” katanya.
“Tapi niatku tulus.”
SALAH BESAR.
Tatapan Haikal kini berubah.
Bukan tatapan tentara.
Ini tatapan suami posesif level akhir.
“Kamu,” ujar Haikal sambil menunjuk Vano,
“baru saja melamar istriku di depan mataku sendiri.”
Vano mengangkat bahu.
“Efisiensi waktu,” jawabnya.
“Lagipula aku udah kenal Lian lebih lama dari kamu.”
Haikal tersenyum.
Bukan senyum ramah.
Bukan senyum manusia normal.
“Oh ya?” katanya pelan.
“Berarti kamu juga tahu Lian itu—”
Ia meraih tangan Lian, menariknya ke samping tubuhnya, satu tangan lain refleks melindungi perut Lian.
“—istriku yang sedang hamil anakku.”
Vano menatap tangan itu.
Lalu perut Lian.
Lalu wajah Haikal.
“…Ya, detail kecil itu agak menyulitkan sih,” gumamnya.
Lian menepuk dada Vano dengan kesal.
“Kamu tuh gak berubah, Van! Mulutmu itu loh!”
Vano tersenyum tipis menatap Lian.
“Aku serius,” katanya lebih pelan, kali ini tanpa bercanda.
“Aku cuma mau kamu tahu… kamu gak pernah sendirian.”
Haikal langsung menyela.
“Dia tidak sendirian,” tegasnya.
“Dan tidak akan pernah jadi janda selama aku masih bernapas.”
Keheningan jatuh lagi.
Vano mengangkat kedua tangan.
“Oke, oke,” katanya menyerah.
“Pesan diterima. Suami sah masih hidup, sehat, dan sangat teritorial.”
Ia melangkah mundur menuju pintu tenda, lalu berhenti.
Menoleh sekali lagi.
“Tapi ingat ya, Haikal,” katanya ringan,
“kalau kamu bikin Lian nangis lagi—”
Tatapan Haikal langsung menajam.
“—aku gak akan nunggu kamu mati.”
Vano tersenyum, lalu keluar begitu saja.
Lian menghela napas panjang dan menjatuhkan diri ke ranjang.
“Mas,” katanya lelah,
“aku minta maaf atas mantan aku yang satu itu.”
Haikal menoleh ke Lian.
Lalu berkata sangat serius:
“Mulai sekarang,” katanya,
“saya tidak suka dokter, tentara, pemuda desa, maupun mantan yang bisa bicara dengan mu.”
Lian tertawa kecil, mengusap perutnya.
“Tenang,” katanya lembut.
“Yang ini cuma punya satu ayah.”
Haikal menunduk, mengecup kening Lian lama.
Dan untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun bertugas—
ia merasa cemburu, kesal, lega, dan bahagia… dalam waktu yang sama.