Undian liburan impiannya berubah menjadi awal petaka bagi Rinjani, kesalahan satu malam yang dibuat bukan untuknya menjerat Rinjani masuk ke kehidupan seorang tuan mafia.
"Aku tidak akan menikahimu, namun lahirkan janin itu dan tinggalkan dia untuk jadi penerusku," ucapnya tajam penuh intimidasi seraya melemparkan surat perjanjian dan pulpen.
Namun bukannya takut, Rinjani malah melepaskan flatshoes kotornya, "talk to my flatshoes, sir!" ia melemparnya pada Loui, meski lemparannya seburuk lemparan balita.
Mohon dibaca dari awal sampai akhir ya guys 😉 salah satu cara untuk mendukung author dalam berkarya 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26~ Menjawab rasa penasaran
Loui tidak menyuruh anak buahnya, ia justru angkut-angkut sendiri. Mulai dari meja kecil dan kursi kayu, meski dalam jarak dekat. Ia ingin menciptakan kesan sarapan pagi di kebun belakang bersama Jani, biar vibesnya tuh dapet buat bumil, alasannya.
"Eh, mau dibawa kemana?!" seru Jani melihat mangkuk-mangkuk berisi tumisan dan masakan lainnya dibawa Loui keluar dari pintu belakang.
"Di luar, kita sarapan di kebun. Agar banyak oksigen yang kau hirup, jadi kau tak akan marah-marah terus..." jawab Loui memancing helaan nafas panjang dengan netra yang membeliak, "apa kau bilang?!"
"Jangan marah. Marah-marah sungguh tak baik untuk kesehatan...." rayunya pada Jani.
Cih, gimana ngga emosian makhluk nyebelinnya aja masih disini. Jani berdecih, namun tak ayal ikut mengekor ke arah kebun belakang.
"Bagaimana aku tidak kekurangan oksigen, sumber karbondioksidanya saja ada padamu!" balas Jani pada Loui, "maka dari itu, kau tak usah dekat-dekat denganku!"
Loui tertawa renyah mendengar balasan Jani, wanitanya sudah kembali...wanitanya? Yeah, wanitanya!
"Tadaaa!" tunjuknya ke arah dua kursi dan meja yang kini berisikan menu sarapan serta dua kuntum bunga yang masih segar dan baru saja Loui petik dari halaman depan, ngga modal!
"Kenapa kursinya hanya ada dua?" tanya Jani menarik kepala kursi yang refleks dibantu Loui untuk duduk, manis syekaliii! Namun Jani justru menepis tangan pria ini, "simpan saja sikap manismu itu, Lou. Aku bukan nenek-nenek yang harus kau bantu duduk....apa kau juga akan mengganti popokku setelah ini?" tanya Jani cemberut tak suka, Loui semakin tergelak dibuatnya.
"Kau panggil yang lain, untuk sarapan bersama..." lirih Jani, tapi Loui tak setuju, terbukti ia yang menggelengkan kepalanya.
"No--no--no--no. Just you and me..." jawabnya menyendok nasi.
"Karena yang lain tak suka nasi," lanjut Loui memutuskan, wajah Jani masih sengit dan keruh persis air lim bah rumah tangga.
"Oscar!" teriak Loui melihat sekilas bayangan Oscar yang melintas di dalam sana, "apa kau suka nasi?!" tanya Loui, namun sedetik kemudian belum pun Oscar menjawab Loui sudah mengangguk, "oke. Kau tak suka."
"Lihat...dia tak suka." Angguk Loui kemudian menyendok tumisan, masakan Jani sekarang adalah candunya.
"Dasar borokokok..." gumam Jani menyunggingkan senyuman geli melihat tingkah absurd Loui. Loui melihat itu, hatinya menghangat bukan karena mereka yang kini sedang berada di bawah payung hangatnya mentari pagi, melainkan karena senyuman Jani.
Apakah kali ini, hatinya benar-benar runtuh oleh seorang gadis? Jika benar, Loui harus siap dengan segala resikonya.
Jani merasa bosan di kamar, ia memilih turun dan bergabung dengan tukang kebun dan Marriot, sepertinya mereka sedang sibuk mengatur tata letak rumpun mawar yang sedang subur-suburnya.
"Ibu Marrie," sapanya bergabung, sontak Marriot dan mister Eustace menoleh padanya.
"Nona,"
"Wahhh, mawarnya banyak...mau ditaruh dimana?" Jani duduk di kursi taman sambil memperhatikan rumpun mawar yang telah tercabut bersama akarnya dan hendak dipindahkan.
"Dibawah pohon ek itu nona," ujar mister Eustace, namun Marriot melarangnya, "disitu tidak bagus Eus, disana...masih ada lahan kosong dan sepertinya cocok." tunjuk Marriot.
"Bagaimana menurut nona?" tanya Eustace.
"Ya. Pak, disana...biarkan ia bersama bunga yang lain, jika di bawah pohon ek ia akan sendirian. Matahari yang seharusnya menyiangi akan terhalang pohon. Pohon Ek itu cocoknya dibuatkan buaian, sangat teduh dan menenangkan, " Ujar Jani.
Marriot tersenyum mendapatkan pembelaan, dan Eustace ikut manggut-manggut, "apa nona mau dibuatkan buaian?" tanya nya yang sontak diangguki Jani cepat, "mau. Kalau bapak tidak keberatan..."
"Tentu saja tidak, nona. Baiklah kalau begitu, setelah ini selesai akan aku buat..."
"Terimakasih, pak Eustace..." Jani tersenyum lebar.
"Ibu Marrie..." lirih Jani memanggil, saat melihat mawar dan meributkannya bersama kedua orangtua ini, ia jadi mengingat Loui, sepertinya ia sama seperti mawar yang akan ditaruh di bawah pohon Ek oleh Eustace.
"Ya, nona?" Marriot mengusap dress bagian bawahnya agar lurus ketika ia mendudukan pan tat di kursi bagian samping Jani.
"Sejak pertama aku datang kesini, sampai hari ini aku belum pernah sekalipun melihat atau berjumpa dengan keluarga Loui, apa mereka tidak tinggal disini?" tanya Jani, wajah Marriot berubah kaku, "itu...karena tuan Loui sudah tak memiliki keluarga biologis, nona."
Alis Jani naik meski tak terlalu tinggi. Apakah kini Loui akan membunuhnya karena sudah penasaran dengan sesuatu yang ada disini? Tapi satu fakta itu justru semakin memancing rasa penasaran lain dari Jani.
"Apa kau ingin bertemu dengan keluargaku, Rinjani?" suara seseorang mengejutkan Jani dan Marriot, kedua wanita itu menoleh ke arah belakang kursi, dimana seorang pria telah segar dengan stelan kemeja hawai bercorak ramai, persis anak sma mau tawuran, tabrak-tabrak warna, mejikuhibiniu namun didominasi oleh merah kuning dan jingga.
"Tapi tadi---" Jani melirik Marriot yang sudah menunduk takut.
"Maafkan aku Lou, tapi jangan salahkan ibu Marrie, karena aku yang sudah lancang bertanya...." jawab Jani segera meminta maaf untuk Marriot, ia khawatir jika Loui akan murka pada ibu satu itu.
Loui mendengus sumbang dan menyunggingkan senyuman miringnya lalu menatap Jani yang nampak cantik di matanya sekarang, dulu-dulu sih liat Jani itu persis si valak kayanya, jadi matanya sama sekali tak tertarik.
"Aku bertanya apa kau ingin bertemu dengan keluargaku, tapi jawabanmu tidak koheren."
Jani mengatupkan bibirnya seketika. Netranya mengikuti gerak-gerik Loui yang mengambil duduk di sampingnya, "kebetulan hari ini, aku memiliki jadwal ke distrik 9. Apa kau mau ikut?"
"Boleh?" tanya Jani diangguki Loui, ia menatap Loui mencari pembenaran dalam mata pria itu, pria berbahaya yang menurut Jani masih misterius. Bukankah bagus, dengan begini, Jani bisa tau siapa Loui sebenarnya?
"Stain! Siapkan mobil sekarang, Rinjani akan ikut bersamaku..." teriaknya namun matanya tak lepas memandang Jani yang juga membalas pandangannya. Loui tersenyum, inikah cinta?
Mathew melihat itu semua, ia menghela nafasnya tau resikonya menyukai Rinjani, pernyataannya waktu lalu salah. Kini perasaan yang sama itu telah tumbuh di hati tuannya, Loui. Bahkan mungkin sebelum dirinya jatuh cinta pada Jani.
"Kau tau resikonya, *amigo*." ujar Oscar menepuk pundak Mathew yang tersentak dan menyudahi pandangannya ketika menyadari ada manusia lain memergokinya tengah melihat Rinjani dan Loui disana.
Mathew mengangguk dan tersenyum kecut. "Kalau begitu carilah penghiburan," Oscar menyerahkan voucher luxury bar pada Mathew, "jika tuan Loui mencarimu, aku yang akan bertanggung jawab."
Jani turun dengan surai yang tergerai rapi, menutupi mantel bulu dan dress selutut diteruskan boot bulu coklat. Ia benar-benar seperti biri-biri cantik, depan belakang melendung.
Ia masuk ke dalam mobil mewah berlogo kuda gagah, saat rodanya melaju keluar dari gerbang besar, mobil-mobil lainnya mengekor di belakang bersama sebuah mobil van hitam entah apa yang dibawa Loui.
Hutan Ek, sudah Jani hafal ketika keluar dari kawasan kediaman Loui menuju distrik.
Ditatapnya Jani di samping, Loui mengambil keputusan besar hari ini dengan melibatkan Rinjani ke dalam kehidupan pribadinya, padahal selama ini belum ada seorang wanita pun yang terlibat cukup jauh dengannya. Namun setelah mendengarkan obrolan Rinjani dan ibunya kemarin, entah kenapa Loui merasa jika Rinjani bernasib sama sepertinya, Rinjani akan dapat memahami dan mengerti dirinya.
.
.
Mobil memasuki distrik 9, awalnya mereka disambut Marco dan kelompok.
Jani cukup dibuat syok serta menahan nafasnya ketika mobil yang dikemudikan Stainley memasuki kawasan yang menurut Jani distrik preman ini. Lihatlah bangunan-bangunan kumuh nan rusak itu, jangankan manusia, kucing yang mau honeymoon aja pasti angkat koper dan ngibrit liatnya. Ia tak menyangka saja kalau distrik 9 bagian depanlah tempat yang akan didatangi Loui.
"Lou," Jani menggigit bibirnya dengan tangan yang memegang lengan Loui, ia juga merapatkan badannya pada Loui ketika melihat kelompok Marco mendekat dengan menenteng senjata ke arah mobil Loui.
"Apa yang akan kau lakukan disini?! Pulang saja, aku mau pulang!" Jani bahkan sudah menarik-narik kemeja Loui yang justru tertawa, "bukankah kau ingin tau tentang diriku, Rinjani? Siapa keluargaku," senyum Loui smirk.
"Ngga usah ngaco," telunjuk Jani menunjuk wajah Loui sambil membulatkan matanya. Tanpa mereka sadar interaksi yang begitu innn tim ini sudah tak malu lagi mereka lakukan di depan umum.
.
.
.
.
etdah teh sih itu hadiah ga slah ampe 10 pintu tuh kulkas😂😂