Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Lin Xiao terbaring telentang di tanah, menatap langit sore yang mulai berwarna jingga. Dia terengah-engah. Su Mei berbaring di sebelahnya, dadanya naik turun dengan cepat, tapi ada senyum lebar di wajahnya.
Mereka hidup. Dan mereka kaya mendadak.
"Itu... gila..." desah Su Mei. Dia mengangkat Taring Naga Es-nya, mengagumi kilauannya di bawah sinar matahari. "Ayahku pasti akan pingsan jika melihat ini."
Lin Xiao bangkit duduk, merapikan jubahnya yang kotor. Dia memeriksa tungku kecil di sakunya. Masih aman.
"Monster-monsternya sudah pergi," kata Lin Xiao, melihat sekeliling lembah.
Benar saja. Dengan runtuhnya makam dan hilangnya sumber energi (Api Ungu), daya tarik yang membuat hewan-hewan itu gila telah hilang. Beast Tide telah bubar, binatang-binatang itu kembali ke sarang masing-masing dengan bingung.
Su Mei bangkit, menatap Lin Xiao dengan pandangan rumit.
Dulu, dia hanya menganggap Lin Xiao sebagai sampah. Lalu sebagai orang gila yang beruntung. Sekarang? Dia melihat seorang pemuda yang cerdas, kuat, tegas, dan memiliki aura pemimpin yang alami. Jantungnya berdesir aneh.
"Lin Xiao," kata Su Mei pelan. "Tentang pembagian harta..."
"Tujuh-tiga, sesuai kesepakatan," potong Lin Xiao cepat. "Aku ambil Api dan Gulungan. Kau ambil Pedang. Pedang itu nilainya setara dengan 30% dari total harta di sana bagi orang awam. Impas."
Su Mei cemberut sedikit. "Kau perhitungan sekali. Padahal kita baru saja melewati hidup dan mati bersama."
"Bisnis adalah bisnis," Lin Xiao berdiri. "Tapi... karena kau tidak menjadi beban di dalam sana, aku akan memberimu bonus."
Lin Xiao melemparkan sebuah kantong kecil.
Su Mei menangkapnya. Dia membukanya dan terkejut. Isinya adalah sepuluh butir Inti Monster kualitas tinggi yang Lin Xiao ambil dari bangkai Kera Api sebelumnya.
"Ini..."
"Untuk membantu keluargamu memulihkan kerugian akibat serangan monster," kata Lin Xiao sambil berjalan menjauh. "Sekarang, kita harus kembali ke titik kumpul. Waktu turnamen tinggal dua hari lagi. Aku masih punya 'tamu' yang harus kutemui."
Su Mei tersenyum, menggenggam kantong itu erat-erat. "Tamu? Maksudmu pembunuh Keluarga Wang yang lain?"
"Mungkin," jawab Lin Xiao tanpa menoleh. "Atau mungkin Wang Lei yang sudah siuman dan ingin menangis lagi."
Mereka berjalan beriringan keluar dari lembah, kembali menuju zona aman.
Namun, di dalam pikiran Lin Xiao, dia sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar.
Dengan Api Roh Ungu, dia bisa melakukan satu hal yang selama ini tertunda: Menyempurnakan Tulang.
Tubuhnya saat ini kuat, tapi masih tubuh manusia biasa. Dengan api ini, dia bisa membakar sisa-sisa kotoran di sumsum tulangnya dan menempa Tubuh Naga Tingkat 1: Tulang Besi Otot Tembaga.
Jika dia berhasil, maka kultivator Tingkat 7 atau bahkan Tingkat 8 pun tidak akan bisa melukainya dengan senjata biasa.
"Malam ini," batin Lin Xiao. "Aku akan mencari gua tersembunyi dan melakukan terobosan. Wang Tian... kau mengirim pembunuh padaku? Tunggulah. Saat aku kembali ke kota lusa nanti, aku akan memberikan kejutan yang akan membuatmu menyesal telah dilahirkan."
Sementara itu, di kejauhan, di pos pengamatan Keluarga Wang di luar hutan.
Wang Tian sedang mondar-mandir dengan gelisah. Tiga sinyal jiwa dari "Tiga Tengkorak Gunung" telah padam. Mati.
"Bagaimana mungkin?!" Wang Tian membanting gelas anggurnya. "Tiga pembunuh veteran mati? Siapa yang membunuh mereka? Lin Hai? Tidak mungkin Lin Hai masuk ke hutan!"
Seorang bawahan berlari masuk dengan wajah pucat.
"Lapor, Patriark! Ada fenomena aneh di arah Lembah Kabut Beracun. Makam kuno runtuh! Dan... mata-mata kita melihat dua sosok keluar dari sana."
"Siapa?!" bentak Wang Tian.
"Nona Su Mei... dan... Lin Xiao."
Mata Wang Tian membelalak hingga pembuluh darahnya pecah.
"Lin Xiao lagi?! Dia tidak hanya hidup, tapi juga mendapat warisan makam kuno?!"
Dendam di hati Wang Tian meledak tak terbendung.
"Cukup. Aku tidak peduli aturan turnamen lagi. Aku tidak peduli Tuan Kota. Kerahkan 'Pasukan Bayangan Darah'. Cegat mereka di perbatasan hutan. Bunuh Lin Xiao, dan rampas apa pun yang dia bawa. Jika Su Mei menghalangi... bunuh dia juga dan buat seolah-olah monster yang melakukannya."
"Perang dimulai malam ini!"
Malam telah menyelimuti Hutan Belantara Selatan. Cahaya bulan fajar menyelinap di antara celah dedaunan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan.
Di sebuah gua kecil yang tertutup tanaman rambat di tebing batu, Lin Xiao dan Su Mei bersembunyi. Tempat itu cukup strategis, terlindung dari pandangan langsung dan memiliki satu pintu masuk yang sempit.
"Su Mei," kata Lin Xiao serius. Dia meletakkan Tungku Sembilan Awan di tanah. "Aku akan melakukan meditasi tertutup (closed-door cultivation) sekarang. Proses ini akan memakan waktu sekitar empat jam. Apa pun yang terjadi, jangan biarkan siapa pun masuk. Bahkan seekor nyamuk pun tidak."
Su Mei memeluk lututnya, pedang Taring Naga Es berada dalam jangkauan tangannya. Dia mengangguk. "Kau akan menyerap Api itu sekarang? Di sini? Itu berbahaya, Lin Xiao. Jika energimu mengamuk, kau bisa meledakkan gua ini."
"Aku tahu batasanku," jawab Lin Xiao singkat. "Kau jaga di luar. Jika ada musuh yang datang dan kau tidak bisa menanganinya... lari saja. Jangan mati konyol demi melindungiku."
Su Mei mendengus kesal. "Siapa yang mau mati demi kau? Aku hanya melindungi investasiku. Kau masih berhutang pembagian harta karun padaku."
Lin Xiao tersenyum tipis, lalu berbalik masuk ke bagian dalam gua yang lebih gelap.
Dia duduk bersila. Dengan hati-hati, dia membuka tutup tungku tembaga itu.
Wusss!
Api Roh Ungu melompat keluar, menari-nari liar di udara. Suhu di dalam gua naik drastis. Dinding batu di sekitar Lin Xiao mulai memerah karena panas.
"Waktunya evolusi," gumam Lin Xiao.
Tanpa ragu, dia membuka mulutnya dan menghisap api ungu itu masuk ke dalam tubuhnya.
Gila!
Jika Alkemis lain melihat ini, mereka akan pingsan. Api Roh biasanya disimpan di Dantian perlahan-lahan. Menelannya langsung ke perut sama saja menelan lava!
"ARGH!"
Lin Xiao mengerang tertahan. Wajahnya seketika berubah menjadi ungu kemerahan. Urat-urat di leher dan dahinya menonjol seperti cacing yang menggeliat.
Api itu tidak membakar dagingnya, melainkan langsung menuju ke tulang-tulangnya.
Ini adalah tahap pertama dari Teknik Naga Surga Purba: Tubuh Naga Tingkat 1 - Tulang Besi Otot Tembaga.
Api ungu itu membakar sumsum tulang Lin Xiao, mendidihkan darahnya untuk membuang segala kotoran manusia biasa. Rasanya seperti ribuan semut api sedang menggerogoti setiap inci tulangnya dari dalam.
"Tahan... Tahan..." batin Lin Xiao menjerit. "Sakit ini sementara. Kekuatan adalah abadi."
Kulit Lin Xiao mulai retak-retak seperti tanah kering, lalu mengelupas. Di bawah kulit lama yang mati itu, lapisan kulit baru mulai terbentuk. Kulit yang lebih padat, lebih halus, namun sekeras logam.