Mentari sore di Pantai Santa Monica, California, mulai turun ke peraduan. Langit yang semula biru cerah kini berubah menjadi gradasi oranye dan ungu yang cantik. Di antara kerumunan turis dan peselancar, dua pria muda berjalan beriringan dengan langkah tenang. Salah satunya adalah Muhammad Hannan, atau yang akrab disapa Hannan, seorang ustadz muda yang sedang menempuh studi lanjut di Amerika.
"Hannan, lihatlah. Kadang aku berpikir, bumi Allah itu begitu luas. Di sini senjanya sama indahnya dengan di pesantren dulu, ya?" celetuk Gus Malik sambil membetulkan letak kacamata hitamnya.
Hannan tersenyum tipis. "Benar, Gus. Keindahan ini pengingat bahwa di mana pun kita berpijak, kita tetap berada di bawah langit yang sama."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Ayah Baru di Ndalem
Malam pertama di pesantren terasa sangat tenang. Suara jangkrik bersahutan dengan lantunan tadarus dari asrama santri yang terdengar lamat-lamat. Di dalam kamar, cahaya lampu disetel temaram.
Hannan baru saja selesai melaksanakan salat malam saat ia melihat Amara sedang berusaha menggendong Zahra sambil meringis kecil. Luka bekas operasi sesarnya terkadang masih terasa berdenyut jika ia banyak bergerak.
"Sini, biar Mas saja," ucap Hannan sigap. Ia mengambil alih bayi kecil itu dari dekapan Amara.
"Mas... Mas kan baru selesai salat, pasti capek. Biar aku saja," protes Amara lembut.
"Capek apa? Menggendong putriku sendiri itu justru obat lelah, Amara," jawab Hannan sambil mengayun-ayun Zahra dengan kikuk.
Melihat cara Hannan menggendong bayi yang sangat kaku, Amara tidak tahan untuk tidak tertawa kecil. "Mas, tangannya jangan terlalu tegang begitu. Zahra jadi merasa seperti digendong robot."
Hannan meringis malu. "Mas masih takut dia pecah, Amara. Dia sangat kecil dan lembut sekali."
Amara kemudian membimbing tangan Hannan, membetulkan posisi kepala Zahra agar nyaman di lipatan siku ayahnya. Saat kulit bayi itu bersentuhan dengan dada Hannan, Zahra menggeliat kecil dan mengeluarkan suara "nguuh" yang sangat lucu.
"Lihat... dia suka dipeluk Abinya," bisik Amara.
Hannan menatap wajah putrinya dengan penuh kekaguman. "Dia benar-benar mirip denganku ya? Tapi hidung dan bibirnya... itu mutlak milikmu, Amara."
Hannan kemudian menatap Amara dengan dalam. Di bawah lampu temaram, wajah Amara terlihat sangat tenang tanpa cadar. Hannan mendekat, lalu mencium kening istrinya dengan sangat lama.
"Terima kasih sudah memberiku hadiah seindah ini. Aku berjanji akan menjadi tameng untuk kalian berdua. Tidak akan ada lagi ketakutan, tidak akan ada lagi persembunyian."
Amara menyandarkan kepalanya di bahu Hannan, menonton suaminya yang kini mulai mahir menenangkan bayi mereka. Rasa bahagia ini begitu penuh, sampai-sampai Amara merasa takut jika ini hanya mimpi.
Keesokan paginya, kejutan terjadi di teras ndalem. Hannan, sang Gus yang biasanya disegani karena kecerdasannya, terlihat sedang menjemur popok bayi di halaman samping.
Aisyah yang melihat kakaknya sedang sibuk dengan jemuran berwarna merah muda langsung tertawa terpingkal-pingkal.
"Mas Hannan! Ya Allah, mana karisma Ustadz-mu? Masa Gus besar jemur popok?" goda Aisyah sambil memotret kakaknya diam-diam.
Hannan hanya menoleh sambil tersenyum lebar, sama sekali tidak merasa malu. "Aisyah, Rasulullah saja menjahit bajunya sendiri dan membantu istrinya. Apalah artinya jemur popok kalau ini bisa membuat Mbak Amara-mu bisa istirahat lebih lama?"
Amara yang melihat kejadian itu dari balik jendela hanya bisa tersenyum haru. Ia melihat Hannan yang begitu tulus mencintainya, tidak peduli dengan martabat atau gengsi di depan santri.
Namun, di tengah kemesraan itu, Hannan teringat amplop misterius tadi malam. Ia sudah menyimpan amplop itu di laci terkunci. Dalam hatinya, ia sudah bertekad: siapapun yang mencoba mengusik kedamaian ini, ia akan menghadapinya dengan cara yang tidak pernah dibayangkan orang itu sebelumnya.
"Aisyah!" panggil Hannan tiba-tiba.
"Ya, Mas?"
"Tolong jaga Mbak-mu dan Zahra sebentar di dalam. Mas ada urusan dengan Kang Santri senior di kantor keamanan pesantren."
Hannan harus mulai menyelidiki. Ia tidak ingin Amara tahu bahwa ada bayang-bayang masa lalu yang sedang mencoba mendekat.
Amara sedang berdiri di ambang pintu belakang ndalem, menatap ke arah rimbunnya pohon-pohon sawo yang membatasi area keluarga dengan asrama santriwati.
Di tangannya, ia meremas selembar kertas kecil yang ia temukan terselip di bawah pot bunga saat ia sedang menjemur pakaian Zahra tadi.
“Temui aku di belakang gudang asrama timur setelah ashar. Jika tidak, foto-foto ini akan tersebar di mading pesantren.”