NovelToon NovelToon
The Boy Next Door

The Boy Next Door

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Bad Boy / Saudara palsu / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Deru mesin motor Alano perlahan meredup saat memasuki pelataran kompleks yang sudah diterangi lampu-lampu jalan. Ayra, yang sepanjang jalan tadi dengan nyaman menyandarkan kepalanya di punggung Alano, tiba-tiba tersentak. Melalui pantulan cahaya dari jendela ruang tamu rumahnya, ia melihat sebuah bayangan yang sangat familiar berdiri di teras.

Papa Johan sedang menyiram tanaman hiasnya, namun matanya jelas tertuju ke arah gerbang.

Seketika, insting "Sekretaris OSIS" Ayra yang penuh tata krama dan jaga imej kembali bangkit. Dengan gerakan cepat, ia melepaskan pelukannya dari pinggang Alano. Ia bahkan sedikit mendorong punggung Alano agar ada jarak di antara mereka, membuat motor itu sedikit oleng.

"Aduh! Ay, pelan-pelan dong, hampir jatuh nih!" seru Alano kaget sambil menyeimbangkan motornya.

Begitu motor berhenti sempurna, Ayra melompat turun dengan sangat terburu-buru. Ia merapikan jas almamaternya yang sedikit kusut dan membetulkan bando birunya yang miring. Ia menoleh ke arah Alano dan memberikan pelototan paling tajam yang pernah ia miliki.

"Ada Papa! Jaga jarak!" bisik Ayra dengan penuh penekanan, matanya melotot seolah ingin keluar.

Alano hanya menaikkan alisnya, menatap Ayra dengan seringai jahil yang tak hilang. "Lho, tadi di bukit bilangnya jangan tebar pesona, sekarang malah disuruh jaga jarak. Plin-plan banget sih, Ayang."

"Diem, Lano! Jangan panggil gitu depan Papa!" desis Ayra sebelum ia berbalik dan memasang senyum paling manis—dan paling palsu—ke arah Papa Johan.

"Baru pulang, Ay? Jam berapa ini?" suara Papa Johan terdengar berat, namun ada nada penasaran di sana. Ia meletakkan selang airnya dan berjalan mendekati pagar.

"Eh, Papa. Iya, Pa. Tadi... tadi ada koordinasi tambahan di jalan, terus mampir bentar cari udara segar," jawab Ayra gugup. Ia berdiri kaku di samping motor Alano, menjaga jarak setidaknya satu meter dari cowok itu.

Alano melepas helmnya, menyapa Papa Johan dengan gaya santai namun tetap sopan. "Sore, Om Johan. Maaf ya bawa Ayra pulangnya agak telat. Tadi saya ajak keliling bentar biar otaknya nggak isinya proposal melulu."

Papa Johan menyipitkan matanya, memandang Alano dari atas sampai bawah, lalu beralih ke Ayra yang wajahnya sudah memerah seperti udang rebus. "Oh, keliling ya? Kelilingnya jauh juga ya sampe ke arah bukit? Papa liat tadi postingan di akun 'Fans Ayrania' ada foto siluet di atas bukit."

Ayra hampir tersedak ludahnya sendiri. Mampus! Lano posting foto tadi?!

Ayra menoleh ke arah Alano dengan tatapan yang seolah berkata, 'Kamu bener-bener mau mati ya?'

Alano hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil nyengir tanpa dosa. "Wah, Om Johan update banget ya soal media sosial. Itu... itu cuma buat dokumentasi pribadi kok, Om."

"Masuk dulu, No. Om mau bicara bentar," ucap Papa Johan dengan nada serius.

Ayra merasa jantungnya mau copot. Ia menarik ujung jaket Alano secara sembunyi-sembunyi, memberi isyarat agar Alano mencari alasan untuk pulang. Namun, Alano justru dengan berani turun dari motornya.

"Siap, Om," jawab Alano mantap.

Mereka bertiga duduk di teras. Ayra duduk di kursi paling ujung, sementara Alano duduk tepat di depan Papa Johan. Suasana hening sejenak, hanya terdengar suara jangkrik dari taman.

"Jadi," Papa Johan memulai pembicaraan, matanya menatap Alano dengan tajam. "Alano, Papa tau kamu anak baik. Tapi kamu tau kan, Ayra itu satu-satunya anak perempuan Papa. Papa titip dia ke kamu buat dijaga, bukan buat dibawa keluyuran sampe malem."

"Iya, Om. Saya minta maaf. Saya cuma pengen Ayra seneng," ucap Alano sungguh-sungguh. Tidak ada lagi nada bercanda.

Papa Johan mengalihkan pandangannya ke Ayra. "Ayra, kamu juga. Jangan mentang-mentang sama Alano kamu jadi lupa waktu. Belajar itu utama."

"Iya, Pa. Ayra minta maaf," bisik Ayra sambil menunduk.

Setelah memberikan "kuliah subuh" singkat di sore hari, raut wajah Papa Johan tiba-tiba melunak. Ia menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya ke kursi.

"Tapi ya sudahlah. Papa juga dulu pernah muda," ucap Papa Johan tiba-tiba, membuat Ayra dan Alano saling lirik dengan bingung. "Daripada Ayra pulang sama cowok yang Papa nggak kenal, atau sama si Ketua OSIS kacamata itu yang keliatannya kaku banget, Papa lebih tenang kalau kamu yang anter, No."

Alano langsung tersenyum lebar. "Beneran, Om?"

"Iya. Tapi inget satu hal, No. Kalau kamu sampe bikin Ayra nangis, atau nilainya turun gara-gara kamu ajak main terus, Papa sendiri yang bakal ganti gembok pagar rumah ini biar kamu nggak bisa lewat," ancam Papa Johan, namun kali ini ada sedikit senyum di bibirnya.

"Siap, Om! Saya janji bakal jaga Ayra lebih dari saya jaga bola basket di lapangan!" seru Alano penuh semangat.

Ayra merasa lega sekaligus malu yang luar biasa. Ia segera berdiri. "Udah ya interogasinya? Ayra mau masuk, mau mandi!"

Saat Papa Johan masuk ke dalam rumah untuk memanggil Mama Aura, Alano menahan tangan Ayra sebentar di dekat pintu.

"Tuh kan, apa gue bilang. Papa Johan tuh aslinya tim gue," bisik Alano jahil.

Ayra mencubit lengan Alano dengan gemas. "Udah sana pulang! Gara-gara kamu aku jadi kena omel tadi!"

Alano tertawa pelan. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Ayra. "Makasih ya buat hari ini. Dan soal bando biru lo... tetep dipake ya, soalnya itu bikin gue makin susah buat nggak suka sama lo."

"Lano! Pergi nggak!" Ayra mendorong bahu Alano, namun ia tidak bisa menyembunyikan senyum di bibirnya saat Alano melompati pagar rumahnya dengan sangat lincah.

Malam itu, di meja makan, suasana terasa jauh lebih hangat. Meskipun Papa Johan sesekali masih menyindir soal "Bukit Pelangi", Ayra tahu bahwa hubungannya dengan Alano kini bukan lagi sebuah rahasia yang harus disembunyikan rapat-rapat.

Di kamarnya, Ayra kembali membuka Instagram. Ia melihat postingan terbaru di akun @fans.ayrania_. Sebuah foto siluet dirinya di atas bukit dengan latar belakang lampu kota, dengan caption: "Senja hari ini indah, tapi yang di samping gue jauh lebih indah."

Ayra memeluk ponselnya di dada. "Dasar playboy gombal... tapi kok aku sayang ya?" bisiknya lirih, mengakui perasaannya untuk pertama kalinya, meski hanya pada dinding kamarnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!