NovelToon NovelToon
Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Dinikahi Tuan Muda Lumpuh: Istriku Ternyata Dokter Bedah Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kriminal dan Bidadari / Slice of Life / Pernikahan Kilat / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​"Kau pikir aku akan menyentuhmu? Aku lumpuh."

​Ucapan dingin Elzian Drystan di malam pertama mereka langsung dibalas senyum miring oleh istrinya.

​"Otot betis kencang, tidak ada atrofi, dan pupilmu melebar saat melihatku. Kau tidak lumpuh, Tuan. Kau hanya pembohong payah."

​Dalam detik itu, kedok Ziva Magdonia sebagai istri 'tumbal' runtuh. Dia adalah ahli bedah syaraf jenius yang mematikan. Rahasia Elzian terbongkar, dan kesepakatan pun dibuat: Elzian menghancurkan musuh yang mencoba membunuhnya, dan Ziva memastikan tidak ada racun medis yang bisa menyentuh suaminya.

​Namun, saat mantan kekasih Elzian datang menghina, Ziva tidak butuh bantuan.

​"Hidungmu miring dua mili, silikon dagumu kadaluarsa... mau kuperbaiki sekalian?"

​Bagi Ziva, membedah mental musuh jauh lebih mudah daripada membedah otak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Pagi yang Canggung

​"Leherku rasanya mau patah. Kau benar-benar tega membiarkan istrimu tidur menekuk seperti udang kering di sofa itu."

​Ziva meregangkan tubuhnya yang kaku. Bunyi krek pelan terdengar dari tulang punggungnya. Dia melirik sinis ke arah pria yang duduk diam di kursi roda dekat jendela. Elzian sudah rapi dengan kemeja putih yang digulung hingga siku, terlihat segar dan dominan, seolah tidak terjadi apa-apa semalam.

​Elzian tidak menoleh. Dia tetap fokus pada tablet di pangkuannya. "Kau masih hidup. Itu artinya sofanya cukup nyaman."

​"Nyaman matamu," gumam Ziva pelan, menyambar handuk dan berjalan menuju kamar mandi.

​Setengah jam kemudian, Ziva turun ke ruang makan. Aroma kopi segar dan roti panggang memenuhi udara, membuat perutnya berbunyi. Dia duduk di seberang Elzian yang sedang menikmati kopi hitamnya dengan tenang.

​Seorang wanita paruh baya dengan seragam kepala pelayan mendekat. Namanya Bu Marta. Ziva tahu dari tatapan merendahkan wanita itu bahwa dia adalah 'orang lama' yang setia pada ibu tiri Elzian.

​"Silakan, Nona," ucap Bu Marta sambil meletakkan piring di depan Ziva dengan sedikit dihentakkan. Bunyi denting piring beradu dengan meja marmer terdengar nyaring.

​Ziva menatap isi piringnya. Dua lembar roti tawar yang pinggirannya agak keras dan selai kacang yang terlihat berminyak. Sementara di piring Elzian, terhidang croissant hangat, telur benedict, dan buah-buahan segar.

​"Hanya ini?" tanya Ziva, mengangkat alis.

​Bu Marta tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai mata. "Maaf, Nona. Koki kami belum sempat belanja bahan premium. Lagipula, saya pikir Nona Ziva sudah terbiasa makan seadanya di rumah paman Nona yang sempit itu. Jadi saya tidak menyiapkan menu khusus. Lidah orang biasa mungkin kaget kalau langsung diberi makanan mahal."

​Suasana hening seketika. Para pelayan lain menunduk, takut melihat reaksi istri baru bos mereka yang dihina terang-terangan.

​Elzian tidak berkomentar. Dia menyesap kopinya, matanya melirik dari balik cangkir, menunggu reaksi Ziva. Apakah wanita ini akan menangis? Atau mengadu padanya?

​Ziva justru terkekeh pelan. "Perhatian sekali kau, Bu Marta."

​Ziva mengambil pisau perak di samping piringnya. Bukan untuk memotong roti, tapi dia mengangkat roti itu, lalu mengikis permukaan piringnya dengan ujung pisau. Dia mengambil serbet putih bersih, lalu mengusap bekas kikisan itu.

​Serbet putih itu kini bernoda kekuningan. Minyak dan debu halus.

​"Panggil Koki ke sini. Sekarang," perintah Ziva. Suaranya datar, tapi auranya membuat bulu kuduk berdiri.

​Bu Marta mendengus, tapi tetap memanggil koki. Seorang pria gemuk dengan topi putih tergopoh-gopoh datang. "Y-ya, Nyonya?"

​"Lihat ini," Ziva melempar serbet kotor itu ke hadapan si Koki. "Piring ini lembap. Ada lapisan minyak yang tidak tuntas dicuci. Kau tahu apa yang terjadi kalau sisa lemak hewan bertemu dengan kelembapan suhu ruangan selama lebih dari enam jam?"

​Koki itu gagap. "I-itu..."

​"Bakteri Salmonella dan E. coli sedang berpesta pora di piring ini," potong Ziva dingin. Dia menatap roti di piringnya dengan tatapan jijik seolah melihat bangkai tikus. "Kau tahu gejalanya kalau bakteri ini masuk ke usus? Awalnya perutmu akan melilit hebat. Lalu kau akan muntah cairan hijau pahit."

​Ziva berdiri, berjalan perlahan mengelilingi Bu Marta yang mulai gelisah.

​"Setelah itu, diare berdarah akan mulai keluar. Bukan cuma sekali, tapi terus-menerus sampai cairan tubuhmu habis. Matamu akan cekung, ginjalmu gagal berfungsi karena dehidrasi akut, dan kau akan mati perlahan sambil memohon air," bisik Ziva tepat di telinga Bu Marta. Deskripsinya begitu hidup dan mengerikan.

​Wajah Koki pucat pasi. Bu Marta menutup mulutnya, terlihat mual membayangkan penjelasan grafis Ziva.

​Di ujung meja, sudut bibir Elzian terangkat membentuk seringai tipis. Dia menikmati pertunjukan ini. Istrinya bukan kelinci percobaan, tapi ular berbisa.

​Ziva kembali duduk, lalu mendorong piring kotor berisi roti itu ke hadapan Bu Marta.

​"Makan," perintah Ziva singkat.

​Mata Bu Marta membelalak. "A-apa? Nona gila? Ini sisa—maksud saya, ini..."

​"Kau bilang ini makanan yang layak untuk lidah orang biasa sepertiku, kan?" sela Ziva tajam. Tatapannya menusuk, tidak ada ampun. "Kalau piring ini bersih dan makanannya layak, kau tidak akan ragu memakannya. Makan sekarang. Kalau dalam dua jam kau tidak muntah atau diare, baru aku akui rumah ini bersih dan kau boleh tetap bekerja di sini."

​Tangan Bu Marta gemetar hebat saat menyentuh piring itu. Keringat dingin mengucur di dahinya. Dia tahu betul piring itu bekas pakai kemarin yang hanya dibilas air, dan rotinya memang sisa.

​"S-saya tidak bisa..." cicit Bu Marta.

​"Makan atau keluar dari rumah ini!" bentak Ziva, menggebrak meja.

​Bu Marta tersentak kaget. Tanpa pamit, wanita itu langsung berbalik dan lari menuju dapur sambil terisak, diikuti tatapan ngeri para pelayan lain. Si Koki buru-buru mengambil piring kotor itu dan kabur, takut dia yang disuruh memakannya.

​Ruang makan kembali sunyi. Ziva menghela napas panjang, mengambil apel dari keranjang buah di tengah meja—satu-satunya makanan yang belum disentuh tangan kotor pelayan—dan menggigitnya dengan bunyi krak yang renyah.

​Elzian meletakkan cangkirnya perlahan. Tepuk tangan pelan terdengar dari arahnya.

​"Mengesankan," kata Elzian, nada suaranya terdengar geli bercampur sarkasme. "Kau baru saja memecat pelayan senior yang sudah bekerja sepuluh tahun di keluarga Drystan. Dia orang kepercayaan ibu tiriku. Siapa yang akan mengurus rumah sebesar ini sekarang?"

​Ziva mengunyah apelnya dengan santai, lalu menatap Elzian tanpa rasa bersalah.

​"Aku tidak butuh pelayan yang setia pada musuhmu," jawab Ziva enteng sambil menyeka sudut bibirnya. "Dan yang paling penting, aku butuh lingkungan steril, bukan sarang kuman."

1
Warni
🥰🤭🤭🤭🤭😂
Warni
Lebih galak Ziva.
Warni
😫
Warni
😂
Warni
🤭
Warni
Ngambek nanti si Suami klu tulisannya di ejek jelek.
Savana Liora: hahaha
total 1 replies
Aidil Kenzie Zie
kalau orang mengira Elzian lumpuh maka kakinya adalah istrinya sendiri. good job Ziva
Ma Em
Akhirnya Ziva bisa mengalahkan Elzian akibat egonya yg terlalu tinggi dan keras kepala orang lain tdk ada yg berani melawan Elzian tapi Ziva bisa mengalahkan nya hebat kamu Ziva .
Savana Liora: iya. mantap
total 1 replies
Warni
🥰
Warni
Mengamuk.🤣
Warni
😂
Warni
😁
Warni
😂
Warni
Jangan bilang Dokter Rayn di pindah tugaskan.🤭
Warni
😂🥰🥰🥰
Warni
🥰
Warni
🤣
Warni
Oh mampus.
Savana Liora: tau rasa dia
total 1 replies
Aanisa aliya
lanjutkan
Savana Liora: besok ya
total 1 replies
Warni
Ohhh,mantap pak.Suami siaga.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!