NovelToon NovelToon
DEWA PETIR EMAS

DEWA PETIR EMAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Slice of Life / Misteri / Cinta setelah menikah / Pusaka Ajaib / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:176
Nilai: 5
Nama Author: risn_16

kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

VION INKARNASI

"Uuugghhh ...."

​Suara rintihan pendek itu memecah keheningan yang mencekam. Detik berikutnya, tubuh Pangeran Alaric tersentak hebat dan ia memuntahkan darah kental berwarna kehitaman yang menebarkan aroma logam yang tajam.

Setelah mengeluarkan cairan beracun itu, seluruh tubuhnya lunglai dan ia ambruk ke belakang.

​Dengan sisa tenaganya, Shen dengan sigap menangkap tubuh sang pangeran sebelum menghantam ranjang.

Wajah Shen sendiri kini tampak sangat pucat dan keringat dingin bercucuran di pelipisnya; ia terlihat sangat lemas, seolah seluruh energi hidupnya baru saja terkuras habis demi menarik paksa racun dari tubuh Alaric.

​"Alaric!" seru Raja Valerius dengan suara bergetar.

​Sang Raja segera beranjak dari kursinya, langkahnya tergesa mendekati sisi ranjang. Matanya dipenuhi kekhawatiran yang luar biasa saat melihat darah hitam yang mengotori seprai sutra tersebut.

Ia hanya bisa berdiri terpaku sembari membiarkan Shen membantu membaringkan kembali tubuh sang pangeran ke posisi semula dengan sangat perlahan.

​"Apa yang terjadi? Mengapa dia memuntahkan darah seperti itu?!" tanya Sang Raja dengan nada mendesak, menatap bergantian antara putranya yang masih memejamkan mata dan Shen yang nampak kepayahan.

"Hamba telah berhasil menarik keluar inti racun dari tubuh Pangeran, Your Majesty," bisik Shen dengan suara yang masih gemetar karena kelelahan.

​Ia mengatur napasnya yang tersengal, lalu melanjutkan dengan nada serius. "Racun ini sungguh licik dan unik. Racun ini diracik dari sari tanaman Aconite yang mematikan, dipadukan dengan ekstrak Lopseed dan beberapa ramuan terlarang lainnya. Seharusnya, saat mata pisau beracun itu menggores kulitnya, Pangeran langsung tewas seketika. Namun, campuran ramuan lainnya justru sengaja dibuat untuk menjerat jiwanya di antara dua alam; sebuah dimensi abu-abu di mana ia tidak hidup, namun tidak juga mati. Itulah yang menyebabkan pembuluh darahnya tersumbat dan denyut nadinya terus melemah tanpa benar-benar berhenti."

​Mendengar penjelasan yang di luar nalar, Raja Valerius terpaku. Ia menatap bercak darah hitam di atas seprai dengan ngeri.

Shen kemudian kembali meraih pergelangan tangan Pangeran Alaric. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menekan ujung jarinya pada nadi pangeran, mencoba merasakan perubahan setelah pembersihan paksa tadi.

​"Hah?!"

​Shen tiba-tiba tersentak. Matanya membelalak lebar dengan raut wajah yang menunjukkan keterkejutan luar biasa.

Reaksi mendadak sang tabib membuat Raja Valerius menarik bahunya dengan cepat, jantungnya seakan mencelat dari dadanya.

​"Apa?! Ada apa lagi?!" seru Sang Raja dengan suara parau, ketakutan kembali mencengkeram hatinya. "Apa yang terjadi dengan nadinya?!"

Shen menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering seiring dengan tatapannya yang tak beralih dari wajah Alaric yang kini semakin memucat, lebih putih dari salju di luar kastel.

​"De-denyut nadinya... hilang, Your Majesty," bisik Shen dengan suara gemetar.

​PLAAK!

​Tangan besar Raja Valerius mendarat dengan telak dan kejam ke wajah Shen hingga pria tua itu tersungkur ke lantai marmer.

​"KAU PEMBUNUH!" teriak Raja dengan suara lantang yang dipenuhi murka dan keputusasaan. "PENGAWAL! Seret orang tua gila ini ke penjara bawah tanah yang paling dalam! Biarkan dia membusuk di sana sebelum aku memenggal kepalanya!"

​BRAAK!

​Pintu kayu ek kamar pangeran terbuka lebar setelah ditendang dari luar. Para ksatria berbaju zirah segera merangsek masuk, mencengkeram lengan Shen dengan kasar dan menyeretnya keluar melewati lorong dingin. Shen tidak melawan, ia hanya menatap kosong ke arah ranjang pangeran dengan raut wajah yang sulit diartikan.

​Kini, keheningan yang menyakitkan kembali menyelimuti kamar itu. Sang Raja terduduk lemas di tepi ranjang yang berantakan. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia meraih jemari putranya yang kini terasa sedingin es. Matanya yang merah mulai berkaca-kaca, menatap wajah Alaric dengan tatapan yang begitu menyedihkan.

​"Alaric, putraku..." Ia mengembuskan napas panjang yang sarat akan duka.

"Apakah kau begitu merindukan ibumu hingga kau memutuskan untuk menyusulnya ke alam sana? Jangan tinggalkan ayahmu sendirian di takhta yang dingin ini, Nak..."

​Di luar, lonceng katedral mulai berdentang satu kali, menandakan waktu telah melewati tengah malam, sementara di dalam kamar, sang penguasa yang perkasa itu tampak hancur di samping tubuh pewarisnya yang tak lagi bernapas.

Kenangan akan mendiang Lady Elara, selir tercinta yang memiliki paras cantik jelita dengan tubuh mungil yang anggun, tiba-tiba melintas begitu jelas di benak Raja Valerius.

Cintanya yang begitu besar pada Elara dahulu telah memicu api cemburu yang membara di hati Ratu Isabelle dan selir lainnya. Sang Raja selalu memperlakukan Elara dengan begitu istimewa, sebuah cinta yang tulus namun justru menjadi kutukan bagi wanita malang itu.

​Mungkin rasa iri yang beracun dari wanita-wanita istana itulah yang membuat kesehatan Elara terus merosot. Tertekan oleh intrik dan kebencian, Elara tak mampu bertahan melawan rasa sakit yang menyerangnya sesaat setelah melahirkan Alaric.

​"Jika memang ini yang terbaik bagimu, pergilah dengan tenang, Nak. Ayah akan melepaskanmu dengan ikhlas," bisik Raja Valerius dengan suara parau.

​Ia menggenggam erat tangan Alaric untuk terakhir kalinya, merasakan dingin yang mulai menjalar, lalu meletakkan tangan itu dengan rapi di atas perut sang pangeran.

Karena tak lagi sanggup melihat wajah putranya yang kaku dalam maut, ia segera berbalik dengan langkah gontai. Ia melangkah keluar dari kamar pangeran dengan jubah yang terasa begitu berat.

​"Bawa aku ke Katedral," perintahnya pada Lord Chamberlain yang selalu setia mengekor di belakangnya.

​"Baik, Your Majesty," jawab sang Chamberlain dengan nada prihatin.

Sang Raja sempat menoleh sejenak di ambang pintu, menatap tubuh Alaric yang tetap diam mematung tanpa pergerakan sedikit pun.

"Jaga putraku baik-baik," pesannya dengan nada berat kepada para pelayan dan dua ksatria berbaju zirah yang berdiri tegak di depan pintu kamar.

​"Kami laksanakan perintah Anda, Your Majesty," jawab mereka serempak sembari membungkuk hormat.

​Setelah sosok Sang Raja menghilang di balik tikungan lorong, para pelayan mulai bergerak dengan langkah sunyi. Seorang pelayan wanita senior mendekati ranjang, membawa baskom perak berisi air mawar dan kain linen bersih.

Dengan hati-hati, ia mulai mengelap sisa darah hitam di sudut bibir dan tangan Pangeran Alaric yang tadinya ia kira sudah tak bernyawa.

​"Eeggh ...."

​Pelayan itu terlonjak hingga kain di tangannya jatuh ke lantai. Napasnya tertahan di kerongkongan. Matanya membulat sempurna saat melihat ada sedikit pergerakan pada bibir sang pangeran, diikuti oleh embusan napas kasar yang keluar dari mulutnya yang pucat.

​"Eeggh ...."

​Sekali lagi, Pangeran Alaric melenguh pelan, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan antara kehidupan dan kematian. Perlahan, bulu matanya yang tebal bergetar, dan kelopak matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit, menampakkan kilatan mata yang selama sebulan ini tertutup rapat.

"Pangeran Alaric bangun!" gumam pelayan itu dengan suara lirih yang bergetar karena tak percaya. Detik berikutnya, ia segera menoleh ke arah pintu besar yang masih sedikit terbuka.

"Pangeran Alaric bangun! Beritahu Baginda Raja, Pangeran Alaric telah kembali!"

​Vion mengerjapkan matanya beberapa kali. Pandangannya masih sangat samar, seolah ada kabut tebal yang menghalangi penglihatannya.

Salah satu tangannya yang lemas bergerak perlahan, meraba bagian perut dan dadanya yang terasa nyeri luar biasa, seakan baru saja dihujam oleh ribuan jarum panas.

​"Yang Mulia, bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa yang Anda butuhkan? Apakah Anda ingin minum?" tanya pelayan senior itu, Meiden, dengan suara terputus-putus karena haru.

​Vion tetap diam. Suara-suara di sekitarnya terdengar sangat asing, seperti gema dari kejauhan. Ia menyipitkan mata, mencoba memfokuskan pandangan pada langit-langit kamar berukir dan tirai beludru yang menjuntai.

Wajahnya jelas menyiratkan kebingungan yang mendalam, terutama saat menatap wanita yang kini berlutut dengan cemas di samping tempat tidurnya.

​"Aaggh!" serunya tertahan.

​Ia mencoba mengangkat punggungnya untuk duduk, namun rasa sakit yang menusuk di ulu hatinya memaksa ia kembali terhempas ke bantal. Tubuhnya masih terlalu lemah, seolah-olah jiwanya baru saja dipaksa masuk kembali ke dalam raga yang hampir rusak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!