NovelToon NovelToon
A Little Bit Of LaNi

A Little Bit Of LaNi

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16

Suasana di jalanan yang sepi itu mendadak mendingin. Angin sore berhembus kencang, menerbangkan helai-helai rambut Amara yang berantakan karena pelariannya tadi. Untuk pertama kalinya, Amara tidak lagi menatap Nicholas dengan rasa takut atau bingung. Matanya menatap pria itu dengan keberanian yang tajam, seolah seluruh rasa sesak yang ia pendam selama beberapa hari ini meledak di satu titik.

Amara meraih tangan Nicholas yang masih mencengkeram bahunya, lalu melepaskannya dengan sentakan kasar. Nicholas tertegun. Ia melihat tangan Amara gemetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang sudah mencapai puncaknya.

"Dengerin aku baik-baik, Kak," suara Amara terdengar tenang namun menusuk.

Nicholas terpaku. Ia melihat ada jarak yang sangat lebar tiba-tiba tercipta di antara mereka.

"Pertama," Amara mengangkat satu jarinya, "jangan panggil aku Ifa. Panggil aku Amara. Karena Kakak bukan keluarga aku, dan Kakak belum punya hak buat memanggil aku sesuka hati Kakak."

Rahang Nicholas mengeras. Nama itu adalah satu-satunya jembatan yang ia rasa bisa mendekatkannya pada dunia pribadi Amara. Mendengar larangan itu rasanya seperti aksesnya diputus paksa.

"Kedua," lanjut Amara, suaranya makin meninggi, "nggak usah bahas tentang dua tahun lalu. Kakak pikir aku bakal baper? Kakak pikir aku bakal langsung luluh? Buat aku, kejadian di halte itu cuma kenangan sekilas. Aku nolongin Kakak karena rasa kemanusiaan, bukan karena aku mau Kakak jadi bayang-bayang di hidup aku dua tahun kemudian!"

Nicholas ingin menyela, ingin mengatakan bahwa bagi dia, kejadian itu adalah segalanya. Tapi Amara tidak memberinya celah.

"Ketiga, berhenti ngatur-ngatur hidup aku! Siapa aku mau pulang sama siapa, itu urusan aku. Kakak bukan pemilik aku, Kak Nick. Aku bukan barang yang bisa Kakak klaim cuma karena Kakak ngerasa udah 'menjaga' aku!"

Amara menarik napas panjang, matanya mulai memanas, tapi ia menahan air matanya agar tidak jatuh. Ia ingin terlihat kuat di depan pria ini.

"Keempat," Amara menatap tepat di manik mata Nicholas yang kini terlihat hancur, "kalo Kakak emang suka sama aku... nggak gini caranya. Cara Kakak itu egois. Kakak cuma mikirin ketakutan Kakak tanpa mikirin perasaan aku. Kakak nggak dewasa, tahu nggak?! Kakak cuma pengecut yang bersembunyi di balik sikap dominan Kakak!"

Nicholas membeku. Kata "pengecut" dan "nggak dewasa" menghantam egonya lebih keras daripada pukulan apa pun yang pernah ia terima dalam tawuran mahasiswa. Ia berdiri mematung, tangannya terkulai lemas di samping tubuh. Semua rencana perlindungan yang ia susun, semua rasa posesif yang ia banggakan, mendadak terlihat seperti sampah di depan kata-kata jujur Amara.

"Amara... gue cuma mau lo aman," bisik Nicholas, suaranya parau.

"Aman dari siapa, Kak? Dari orang jahat di luar sana, atau dari Kakak yang perlahan-lahan bikin aku sesak napas?" balas Amara telak.

Amara tidak menunggu jawaban lagi. Ia mengeluarkan ponselnya, mengabaikan Nicholas yang masih menatapnya dengan pandangan kosong. Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, ia memesan taksi online. Kali ini, ia tidak akan membiarkan Nicholas membatalkannya. Ia berdiri beberapa meter menjauh dari motor besar itu, menunjukkan batas yang jelas.

Sekitar lima menit berlalu dalam keheningan yang menyakitkan. Nicholas masih berdiri di posisi yang sama, menatap aspal. Ia ingin mendekat, ingin minta maaf, tapi ia sadar kehadirannya saat ini adalah racun bagi Amara.

Sebuah mobil putih berhenti di depan mereka. Amara mengecek plat nomornya, lalu tanpa melirik Nicholas sedikit pun, ia membuka pintu mobil.

"Amara!" panggil Nicholas, langkahnya maju satu langkah.

Amara berhenti sejenak sebelum masuk ke mobil. Ia menoleh sedikit, memberikan tatapan paling dingin yang pernah Nicholas lihat seumur hidupnya. "Jangan ikuti taksi ini, Kak. Kalau Kakak masih punya sedikit rasa hormat sama aku, jangan pernah muncul di depan aku buat beberapa hari ini."

Brak!

Pintu mobil tertutup. Taksi itu melesat pergi, meninggalkan Nicholas sendirian di jalanan sepi dengan motor besarnya yang tiba-tiba terasa tidak ada gunanya.

Nicholas meninju tangki motornya dengan keras. "Brengsek!" umpatnya pada diri sendiri.

Ia baru sadar, selama dua tahun ini ia belajar cara menjaga Amara dari dunia luar, tapi ia lupa belajar cara menjaga hati Amara agar tidak membencinya. Ia telah menjadi pahlawan yang salah kostum di mata gadis itu.

Sesampainya di rumah, Amara langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu. Ia menjatuhkan diri di atas tempat tidur, membenamkan wajahnya di bantal, dan akhirnya membiarkan tangisnya pecah. Ia marah pada Nicholas, tapi sebagian kecil dari hatinya merasa sakit melihat ekspresi Nicholas yang hancur tadi.

Tok tok tok.

"Ifa? Lo udah balik? Kok naik taksi? Nick mana?" suara Ryan terdengar dari balik pintu.

"Jangan tanya soal dia dulu, Bang! Aku mau sendiri!" teriak Amara dari dalam.

Ryan terdiam di depan pintu. Ia bisa mendengar isakan adiknya. Ia segera mengambil ponselnya dan mendapati belasan panggilan tak terjawab dari Nicholas. Ryan menarik napas panjang. Ia tahu, sesuatu yang besar baru saja meledak di antara dua orang itu.

Sementara itu, di sebuah jembatan layang di sudut kota, Nicholas duduk di atas motornya sambil menatap lampu-lampu jalanan yang mulai menyala. Ia mengeluarkan peluit kecil cadangan dari sakunya, lalu melemparnya ke arah kegelapan di bawah jembatan.

Ia pikir ia bisa memiliki Amara dengan menjadi kuat. Ternyata, kekuatan yang ia miliki justru menjadi senjata yang mematahkan hati gadis yang ia cintai sejak dua tahun lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!