NovelToon NovelToon
Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Ayahku Ada Main Dengan Temanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Poligami / Selingkuh / Cinta Terlarang / PSK
Popularitas:775
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Alana, pewaris tunggal imperium properti, menemukan fakta bahwa sahabat yang ia biayai kuliahnya, Siska, adalah wanita simpanan ayahnya sendiri. Apa yang dimulai sebagai drama perselingkuhan berkembang menjadi perang dingin perebutan warisan, rahasia korporasi, dan manipulasi psikologis di mana Alana harus menghancurkan dua orang yang paling ia cintai untuk bertahan hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Kecelakaan yang Disengaja

Debu semen dan suara bor listrik memenuhi udara di lokasi proyek pembangunan unit contoh *Blue Coral Resort* di kawasan Jakarta Selatan. Matahari siang itu terasa menyengat, menembus lapisan helm proyek berwarna putih yang dikenakan Alana. Ia menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, matanya menyipit meneliti rangka baja yang baru saja terpasang di area lobi.

"Jarak antar kolom ini tidak sesuai gambar kerja, Pak Dodi," ujar Alana tegas, menunjuk ke arah struktur besi di depannya. Suaranya harus bersaing dengan kebisingan mesin potong keramik di kejauhan.

Pak Dodi, mandor yang dulu meremehkannya, kini mengangguk cepat sambil membolak-balik kertas denah. "Siap, Bu Alana. Saya cek lagi. Anak-anak mungkin salah baca ukuran tadi pagi."

Alana tidak marah, tapi ia tidak memberi toleransi. "Bongkar dan geser sepuluh sentimeter ke kiri. Kita tidak bisa main-main dengan spesifikasi, apalagi ini akan dilihat langsung oleh investor lusa nanti."

Dari sudut matanya, Alana melihat Elang berdiri di dekat tumpukan material kayu, mengamatinya. Pria itu mengenakan kemeja biru muda yang lengan bajunya digulung hingga siku, lengkap dengan rompi keselamatan oranye. Tidak ada senyum di wajahnya, hanya tatapan penuh perhitungan yang sudah biasa Alana terima. Namun, hari ini ada sedikit rasa hormat di sana.

Sejak Alana memberikan bukti pemerasan Siska kemarin, dinamika di antara mereka sedikit berubah. Elang tidak lagi memandangnya sekadar sebagai anak manja yang ingin balas dendam, melainkan sekutu yang berani mengambil risiko gila.

"Kamu terlalu keras pada mereka," komentar Elang saat Alana menghampirinya untuk mengambil botol air mineral.

"Saya hanya memastikan uang investasi Anda tidak terbuang untuk bangunan yang miring," jawab Alana datar, meneguk air dengan rakus. "Lagi pula, ayah saya akan mencari kesalahan sekecil apa pun saat inspeksi nanti. Saya tidak akan memberinya celah."

Elang mengangguk pelan. "Siska bagaimana? Sejak kamu melabraknya di toilet mal kemarin, dia diam. Terlalu diam."

Alana merasakan dingin merambat di punggungnya meski udara sedang panas. "Dia panik. Orang yang panik biasanya ceroboh. Saya yakin dia sedang sibuk menenangkan Rico atau mencari cara menutupi jejak penjualan aset Ayah."

"Atau dia sedang merencanakan sesuatu yang lebih buruk," sahut Elang tajam. "Jangan remehkan orang yang terdesak, Alana. Apalagi wanita yang posisinya terancam hancur total."

Alana hendak menjawab ketika matanya menangkap gerakan mencurigakan di lantai dua—tepat di atas tempat mereka berdiri. Scaffolding atau perancah besi yang menopang tumpukan batako terlihat bergoyang tidak wajar. Tidak ada pekerja di sana. Area itu seharusnya kosong karena sedang menunggu keringnya cor beton.

Suara berderit nyaring terdengar. Bukan suara mesin, tapi suara logam yang bergesekan paksa melawan beban berat.

Insting Alana terlambat satu detik untuk memproses apa yang terjadi, tapi Elang lebih cepat.

"Alana, awas!"

Tubuh Alana disentak kasar ke samping. Keras sekali hingga ia terhuyung dan jatuh tersungkur ke atas tumpukan pasir. Detik berikutnya, suara dentuman keras mengguncang tanah di tempat ia berdiri tadi.

*BRAKK!!*

Debu tebal seketika membumbung tinggi, menghalangi pandangan. Batako seberat ratusan kilogram dan rangka besi scaffolding jatuh menghantam lantai beton, tepat di titik di mana kepala Alana berada dua detik yang lalu. Pecahan batako terlempar ke segala arah seperti proyektil peluru.

Alana terbatuk-batuk, paru-parunya sesak oleh debu kapur. Telinganya berdengung. Ia merasakan berat tubuh seseorang menindihnya, melindunginya dari puing-puing yang masih berjatuhan.

Perlahan, debu mulai menipis. Alana membuka mata, mendapati wajah Elang hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya. Pria itu menumpu berat badannya dengan siku agar tidak menindih Alana sepenuhnya, napasnya memburu, matanya memancarkan kepanikan yang belum pernah Alana lihat sebelumnya.

"Kamu... kamu tidak apa-apa?" tanya Elang, suaranya serak.

Alana mencoba duduk, tapi seluruh tubuhnya gemetar hebat. Ia menoleh ke samping. Tumpukan batako itu hancur berantakan, menyisakan lubang retakan pada lantai kerja. Jika Elang tidak menariknya, Alana sudah mati. Bukan sekadar patah tulang, tapi mati.

"Saya... saya oke," jawab Alana, suaranya nyaris tak terdengar. Ia melihat lengan kemeja Elang robek, ada darah merembes dari goresan panjang di sana.

"Lengan kamu," tunjuk Alana.

Elang tidak mempedulikan lukanya. Ia segera bangkit, menarik Alana berdiri, lalu berteriak dengan nada yang membuat seluruh pekerja di lokasi itu membeku ketakutan. "Kunci semua gerbang! Jangan ada yang keluar!"

Pak Dodi berlari menghampiri dengan wajah pucat pasi. "Pak Elang, Bu Alana! Ya Tuhan, bagaimana bisa perancah itu rubuh?"

Elang tidak menjawab. Ia berjalan cepat menuju reruntuhan scaffolding, mengabaikan bahaya sisa material yang mungkin masih labil. Alana mengikutinya dengan kaki yang masih terasa seperti jeli. Elang berjongkok, memeriksa sambungan pipa besi yang tergeletak di tanah.

Rahang Elang mengeras. Ia mengambil sebuah *clamp* atau klem pengunci pipa yang terlepas.

"Ini bukan kecelakaan," desis Elang dingin. Ia mengangkat klem itu. "Drat penguncinya tidak patah karena beban. Ini dilepas. Seseorang melonggarkannya dengan sengaja."

Alana mematung. Ucapan Elang mengonfirmasi ketakutan terbesarnya. Ancaman Siska bukan sekadar gertakan emosional. Wanita itu benar-benar ingin menyingkirkannya secara fisik.

"Siska..." bisik Alana. "Dia menyuruh Rico."

Elang melempar klem besi itu ke tanah dengan kasar. Ia mencengkeram bahu Alana, matanya menatap tajam, penuh amarah yang tertahan. "Kamu sadar apa yang baru saja terjadi? Ini percobaan pembunuhan, Alana! Main-main kamu dengan Siska hampir membuat kepalamu pecah hari ini!"

"Saya tidak menyangka dia senekat in—"

"Karena kamu naif!" bentak Elang, memotong ucapan Alana. Para pekerja di sekitar mereka pura-pura sibuk, tidak berani melihat ke arah bos besar yang sedang murka. "Kamu pikir ini permainan catur di ruang rapat? Siska itu tikus yang terpojok. Dia akan menggigit, dan gigitannya beracun."

Alana menepis tangan Elang dari bahunya. Rasa takutnya berubah menjadi adrenalin defensif. "Lalu saya harus apa? Mundur? Membiarkan dia menang dan menikmati harta ibu saya?"

"Bukan mundur, tapi pakai otak!" Elang menurunkan suaranya, tapi intensitasnya tidak berkurang. Ia menarik napas panjang, berusaha mengendalikan diri. "Mulai hari ini, kamu tidak pergi ke mana-mana sendirian. Tidak ke lokasi proyek, tidak ke apartemen, tidak ke mana pun tanpa sopir saya."

"Saya tidak butuh pengasuh, Elang."

"Kamu butuh penjaga, karena jelas kamu tidak becus menjaga nyawamu sendiri," balas Elang tajam. Ia menoleh ke arah Pak Dodi yang masih gemetar. "Dodi! Cek CCTV di pos satpam. Cari siapa pun yang naik ke lantai dua dalam satu jam terakhir. Kalau ada orang asing yang masuk tanpa rompi identitas, saya mau fotonya sekarang juga."

"Si-siap, Pak!" Dodi berlari terbirit-birit.

Elang kembali menatap Alana. Kemarahannya perlahan surut, digantikan oleh sorot mata yang lebih lembut namun tetap tegas. Ia melihat lutut celana jins Alana yang sobek dan berdarah karena jatuh tadi.

"Kita ke rumah sakit. Luka kamu perlu dibersihkan."

"Cuma lecet," tolak Alana keras kepala, meski perih di lututnya mulai terasa menyengat.

"Jangan membantah," perintah Elang. Kali ini ia tidak memberi ruang diskusi. Ia menggenggam pergelangan tangan Alana, tidak terlalu kencang, tapi cukup untuk memberi sinyal bahwa ia tidak akan melepaskannya. "Ikut saya. Mobil sudah siap."

Saat mereka berjalan menuju mobil SUV hitam milik Elang, Alana merasakan getaran aneh di dadanya. Bukan hanya sisa ketakutan dari insiden tadi, tapi sesuatu yang lain. Untuk pertama kalinya sejak ia diusir dari rumah ayahnya, Alana merasa ada seseorang yang benar-benar peduli apakah ia hidup atau mati. Bukan karena uang, bukan karena aset, tapi karena nyawanya.

Di dalam mobil, suasana hening dan mencekam. AC mobil menderu pelan, kontras dengan panasnya lokasi proyek tadi. Elang mengeluarkan kotak P3K dari laci dashboard.

"Biar saya saja," kata Alana, mencoba mengambil kapas dan antiseptik.

Elang menepis pelan tangan Alana. "Diam."

Dengan gerakan yang mengejutkan terampil dan hati-hati, Elang membersihkan luka di lengan Alana yang tergores kerikil. Alana meringis pelan saat antiseptik menyentuh kulitnya.

"Maaf," gumam Elang pelan, fokus pada luka itu. "Sakit?"

"Sedikit," jawab Alana. Ia menatap sisi wajah Elang yang keras. "Terima kasih. Kalau kamu tidak menarik saya tadi..."

"Simpan terima kasihmu," potong Elang tanpa menoleh. "Bayar saya dengan tetap hidup sampai kita menghancurkan mereka."

Alana terdiam sejenak. "Kita lapor polisi?"

Elang selesai menempelkan plester. Ia bersandar pada jok kemudi, menatap lurus ke depan. "Lapor apa? Bahwa ada baut longgar? Tidak ada bukti yang mengarah langsung ke Siska. Kalau kita lapor sekarang, Siska akan tahu rencananya gagal dan dia akan tiarap, menjadi lebih sulit dilacak. Rico pasti sudah kabur."

"Jadi kita biarkan saja?" protes Alana.

"Tidak," Elang menoleh, tatapannya dingin dan mematikan. "Dia sudah melempar batu. Kita akan balas melempar bom. Kamu bilang dia takut pada masalah paternitas anaknya?"

Alana mengangguk. "Dia sangat takut Ayah tahu."

"Bagus," kata Elang. Ia menyalakan mesin mobil. "Kita tidak akan hanya mengancam lagi. Kita akan pastikan ketakutan itu menjadi kenyataan di waktu yang paling menyakitkan buat dia. Tapi sampai saat itu tiba, kamu ikuti aturan main saya."

Alana melihat tangannya yang masih sedikit gemetar di pangkuan. Rasa takut itu masih ada, bayangan batako yang jatuh masih menghantuinya. Tapi di samping rasa takut itu, tumbuh kebencian yang baru. Siska baru saja melewati batas yang tidak bisa dimaafkan. Ini bukan lagi soal harta atau harga diri. Ini adalah perang.

"Satu hal lagi," kata Alana saat mobil mulai melaju meninggalkan area proyek. "Jangan beritahu Ayah soal ini. Dia akan berpikir saya ceroboh dan menghentikan proyek ini."

Elang melirik sekilas. "Saya tidak peduli dengan Hendra. Saya peduli investasi saya tidak mati tertimpa bangunan. Tapi... baiklah. Ini rahasia kita. Tapi sebagai gantinya, kamu pindah ke unit apartemen di lantai saya. Unit kamu yang sekarang keamanannya terlalu rendah."

"Itu berlebihan, Elang."

"Itu syarat mutlak," tegas Elang, nada suaranya tidak bisa dibantah. "Ambil atau kontrak kerja sama kita batal detik ini juga."

Alana menatap Elang, mencari celah keraguan, tapi tidak menemukannya. Pria itu serius. Dan jauh di lubuk hatinya, Alana tahu ia membutuhkan perlindungan itu. Siska menginginkannya mati, dan Alana belum siap untuk mati.

"Baik," jawab Alana akhirnya. "Saya pindah malam ini."

Elang mengangguk, fokus kembali ke jalan raya. Di balik kemudi, tangannya mencengkeram setir begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Alana menyadari, Elang mungkin lebih terguncang daripada yang ia perlihatkan. Dan untuk alasan yang belum sepenuhnya Alana pahami, fakta itu membuatnya merasa sedikit lebih aman di tengah badai yang sedang mengamuk.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!