“Aku hanya pengganti, bukan?” Suara Yura bergetar, namun matanya tak lagi memohon.
Arga Lingga Pradipta tak menjawab. Sejak awal, pernikahan itu memang tak pernah tentang cinta. Yura hanyalah bayangan dari wanita lain, dinikahi karena wajah, dipertahankan karena kesepakatan.
Empat tahun hidup sebagai istri tanpa nama, satu malam hampir mengakhiri segalanya. Saat kontrak pernikahan tinggal menghitung bulan dan wanita yang dicintai Arga kembali, Yura memilih berhenti terluka.
“Aku tak butuh cintamu,” katanya pelan.
“Aku hanya ingin kau menyesal.”
Saat tunangan asli kembali dan kontrak tinggal hitungan bulan, Yura bukan lagi istri yang patuh. Diam-diam, ia bangkit sebagai musuh paling berbahaya bagi keluarga Pradipta.
Bagaimana kisahnya? Yuk, simak di sini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Keesokannya...
Hans berdiri di hadapan kedua orang tuanya dengan bahu tertunduk, wajahnya dipenuhi rasa bersalah yang tak lagi bisa ia sembunyikan. Ruang keluarga itu terasa pengap, bukan karena udara, melainkan oleh emosi yang menggantung tebal di antara mereka.
“Ayah … Ibu…” suara Hans terdengar berat. “Yura tidak mau kembali ke keluarga Wijaya. Dia … membenci kita. Terutama aku.”
Ucapan itu seperti percikan api di atas bensin. Larasatri bangkit dari duduknya dengan wajah memerah, matanya berkaca-kaca namun menyimpan amarah yang besar.
“Kamu tahu kenapa dia membenci kita?!” suara Larasatri meninggi, bergetar antara marah dan sakit hati.
“Karena kamu, Hans! Karena selama ini kamu menutup mata! Kamu terlalu memanjakan Putri, melindunginya membabi buta, sampai tidak sadar bahwa yang kamu sakiti adalah adik kamu sendiri!”
Hans mengepalkan tangannya. Dadanya terasa sesak.
“Aku tahu, Bu…” suaranya lirih. “Aku salah. Semua ini salahku. Aku terlalu sibuk mencintai bayangan adik yang hilang … sampai saat Tuhan benar-benar mengembalikannya padaku, aku justru berdiri di pihak orang yang menyakitinya.”
Hans mengangkat wajahnya, menatap kedua orang tuanya dengan mata yang memerah.
“Aku sangat mencintai adikku yang hilang itu. Setiap hari aku hidup dengan rasa kehilangan. Dan ketika Putri datang … aku melindunginya berlebihan, seolah-olah dengan begitu aku menebus rasa bersalahku. Tapi aku tidak sadar … aku sedang menciptakan monster kecil yang kejam. Dan saat aku sadar, Yura sudah terlanjur hancur.”
Larasatri terdiam, amarahnya perlahan luruh, berganti dengan tangis yang ia tahan sejak lama. Ia menutup mulutnya dengan tangan, bahunya bergetar.
“Anakku…” lirihnya. “Yura menderita sendirian di luar sana, sementara kita hidup nyaman tanpa tahu apa-apa.”
Tuan Wijaya yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. Suaranya berat, tegas, namun sarat penyesalan.
“Apa pun yang terjadi, Yura tetap anak kita. Darah kita. Dia tidak boleh terus hidup merasa dibuang dan tak diinginkan.”
Ia menatap Hans lurus-lurus.
“Kamu kakaknya. Dan kesalahan ini juga milikmu. Maka kamu pula yang harus memperbaikinya.”
Hans mengangguk perlahan.
“Kami ingin Yura kembali ke rumah ini,” sambung Larasatri dengan suara bergetar namun penuh tekad. “Bukan sebagai tamu. Tapi sebagai anak kami. Sebagai Putri Wijaya yang sesungguhnya.”
“Tapi … dia tidak akan mudah menerima kita,” ujar Hans pelan.
“Kalau begitu, berjuanglah,” tegas Tuan Wijaya.
“Rebut kembali kepercayaan adikmu. Tunjukkan bahwa keluarga ini benar-benar menginginkannya. Apa pun yang harus kamu hadapi, apa pun penolakan yang akan kamu terima lakukan.”
Larasatri mendekat, menggenggam tangan putranya erat.
“Kami tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan,” katanya sambil menahan air mata.
“Kami hanya ingin satu hal … anak kami pulang ke rumah.”
Hans menunduk, air matanya akhirnya jatuh tanpa bisa ia cegah.
“Aku janji,” ucapnya lirih namun penuh tekad. “Aku akan memperjuangkan Yura. Meski dia membenciku … meski dia menolakku … aku tidak akan menyerah. Karena kali ini, aku ingin menjadi kakak yang benar.”
Larasatri baru saja melangkah dua langkah ketika tiba-tiba ia teringat sesuatu. Langkahnya terhenti, wajahnya menegang.
“Putri…” gumamnya pelan. “Sejak pesta pertunangan Hans, ibu tidak melihat dia. Di mana dia?”
Tuan Wijaya menoleh pada Hans.
“Kamu tidak bersamanya?”
Hans menggeleng pelan. “Tidak, Ayah. Dia juga tidak menelponku. Biasanya … apa pun yang terjadi, dia selalu mencariku.”
Ada firasat tak enak yang menyusup perlahan. Larasatri memanggil salah satu pelayan rumah.
“Putri di mana?”
Pelayan itu menunduk sopan. “Nona Putri ada di kamarnya, Nyonya. Sejak tadi pagi, tidak mengizinkan siapa pun masuk.”
Larasatri menghela napas panjang. Ada kemarahan, tapi juga kelelahan yang tak bisa disembunyikan.
“Aku akan bicara dengannya,” katanya tegas. “Dia harus tahu kebenarannya. Bahwa selama ini orang yang dia hina, yang dia injak-injak harga dirinya … adalah putri kandungku sendiri.”
Hans menatap ibunya ragu. “Bu … Putri sedang tidak stabil.”
“Justru karena itu,” potong Larasatri. “Dia harus mendengar kebenaran sekarang. Sebelum semuanya terlambat.”
Di lantai atas, di balik pintu kamar yang tertutup rapat, Putri sedang tenggelam dalam amarah dan ketakutan.
Sebuah vas bunga melayang menghantam dinding, pecah berkeping-keping. Disusul bingkai foto yang dibanting ke lantai. Napas Putri tersengal, rambutnya berantakan, matanya merah dan bengkak.
“Pergi! Pergi dari hidupku!” teriaknya histeris pada bayangan ketakutan yang masih menempel di kepalanya.
Bekas-bekas di tubuhnya masih terasa nyata bukan karena sentuhan, tapi karena rasa takut, penghinaan, dan trauma. Jantungnya berdegup kencang setiap kali ingat suara tawa itu, suara kamera, ancaman yang membuatnya lumpuh oleh rasa panik.
“Aku … aku tidak disentuh…” bisiknya berulang kali, seperti meyakinkan diri sendiri. “Mereka tidak menyentuhku…”
Namun, rasa takut itu tetap menempel, seperti noda yang tak bisa dicuci. Putri merosot ke lantai, memeluk lututnya. Tangisnya pecah, histeris, bercampur amarah.
“Ini salah Yura…” gumamnya dengan suara bergetar. “Ini semua karena dia…”
Tepat saat itu, terdengar ketukan keras di pintu.
“Putri,” suara Larasatri terdengar dari luar. “Buka pintunya. Ibu ingin bicara.”
Putri tersentak, tangisnya tertahan, berganti dengan tatapan liar penuh kebencian.
“Aku tidak mau!” teriaknya. “Pergi! Aku tidak butuh siapa pun!”
Namun, Larasatri tidak mundur. Ia membuka pintu dengan kunci cadangan.
Pemandangan di dalam kamar membuat langkahnya terhenti. Kamar Putri hancur. Pecahan kaca, barang-barang berserakan, dan Putri yang duduk di lantai dengan tubuh gemetar.
Hati Larasatri mencelos.
“Putri…”
Namun, sebelum ia bisa melangkah lebih dekat, Putri menoleh dengan mata penuh kemarahan dan ketakutan.
“Jangan dekati aku!” bentaknya. “Kalian semua pembohong!”
Larasatri menarik napas dalam-dalam. Suaranya bergetar, namun tegas.
“Putri … ada sesuatu yang harus kamu dengar. Tentang Yura.”
Nama itu membuat Putri mendongak tajam.
“Aku tidak mau dengar apa pun tentang perempuan itu!”
“Dia bukan perempuan sembarangan,” ujar Larasatri lirih namun menusuk. “Dia … putri kandung Ibu.”
Kalimat itu menggantung di udara, berat, mematikan.
Wajah Putri membeku.
“Apa?” suaranya nyaris tak keluar.
“Yura adalah anak yang Ibu cari selama puluhan tahun. Dia adik Hans. Dia … kakakmu yang sebenarnya.”
Putri tertawa pendek, terdengar patah dan tak waras.
“Bohong … Kalian bohong lagi!”
Larasatri mendekat perlahan, air mata jatuh tanpa bisa ditahan.
“Tidak, Putri. Yang salah adalah kami. Dan kamu…” suaranya bergetar. “Selama ini, tanpa kamu sadari, kamu telah menyakiti anak ibu sendiri.”
Putri menggeleng keras, tangannya menutup telinga.
“Tidak! Kalau itu benar … kalau itu benar…” suaranya pecah. “Lalu aku ini apa?!”
Pertanyaan itu menggantung, penuh keputusasaan.
Jujur, baru kali ini, saya baca tanpa Skip ❤️😃😘
Jalan ceritanya sederhana tanpa banyak Drama yang bikin nampol😩🤣🤣🤣
Ceritanya bagus, karakter Yura bukan wanita lemah, lebay, plin plan, manja / jadi Goblok karna bucin. 👍👍
😭 kali ini bikin Arga + Putri menyesal sampai berdarah darah 😡
Harusnya kalau memang pemeran wanita nya pintar, uang 100M tidak ada artinya. Tapi ya gitu lah.. Terserah Author aja.. 😃
Palingan saya bacanya banyak di Skip aja.. 🙄🤔
apa yg di cari Yura selain donor untuk ayah nya sedangkan sebagai lartika dia org berpengaruh+ bergelimpangan
Karya Abian yng mana yak ?? 🙏
endingnya hepi semua
terima kasih