Humairah Liandra, mahasiswi 20 tahun yang terkenal nakal, keras kepala, ceplas-ceplos, dan anti diatur, tiba-tiba dijodohkan oleh bundanya sendiri dengan seorang tentara dingin dan disiplin—Haikal Fero, anak dari sahabat lama sang bunda.
Perjodohan yang awalnya ditentang mati-matian justru perlahan mengubah hidup Humairah… dan Haikal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Nung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Destan Geondra.
Nama di kartu mahasiswa itu Raka.
Nama yang rapi. Bersih. Tidak meninggalkan jejak.
Namun dunia gelap mengenalnya dengan nama lain—
Destan Geondra.
Bos mafia yang namanya cukup disebut untuk membuat orang dewasa menelan ludah. Pengusaha sukses di siang hari, pemilik jaringan ilegal lintas kota di malam hari. Usianya seumuran Haikal Fero dan keduanya berdiri di sisi berlawanan dari hukum.
Destan tidak pernah jatuh cinta.
Bukan karena tidak mampu, tapi karena tidak mengizinkan.
Baginya, pasangan adalah kelemahan. Titik lunak. Celah.
Dan celah selalu berakhir dengan kematian.
Itulah sebabnya ia menyamar sebagai mahasiswa baru di kampus Lian bukan untuk main-main.
Targetnya jelas: Humairah Liandra.
Raka terbiasa menghitung segalanya.
Risiko.
Kerugian.
Jumlah korban.
Hidup baginya adalah angka dan kemungkinan. Tidak ada ruang untuk emosi—apalagi empati.
Itulah sebabnya, ketika ia duduk di bangku kelas dengan identitas palsu sebagai mahasiswa baru, semuanya seharusnya berjalan sempurna.
Perempuan yang menggagalkan operasinya di desa terpencil itu.
Perempuan yang menembak mati anak buahnya tanpa ragu.
Istri seorang tentara elit.
Ia menyamar bukan untuk balas dendam sembrono—tidak.
Ia ingin mempelajari.
Siapa perempuan yang berani merusak rantai bisnis senyapnya.
Siapa yang cukup berbahaya hingga harus diawasinya sendiri.
Namun pagi itu, ada satu variabel yang tidak masuk dalam perhitungan.
Kursi di sampingnya kosong.
Raka menatapnya terlalu lama.
Biasanya, ia akan mencatat setiap perubahan sekecil apa pun dengan dingin. Tapi kali ini, ada sesuatu yang terasa… salah.
Bukan curiga.
Sepi.
“Dia izin?” tanyanya datar pada mahasiswa di depan, seolah ini pertanyaan biasa.
“Enggak. Tadi siang pingsan di lorong. Katanya dibawa ke rumah sakit.”
Pingsan.
Kata itu memicu sesuatu di dalam dadanya—bukan alarm bahaya, bukan naluri taktis.
Tapi tekanan.
Raka berdiri begitu kelas berakhir. Langkahnya cepat, terlalu cepat, menuju klinik kampus. Setiap langkah diiringi logika yang ia paksa bekerja.
Ini demi misi.
Ini demi memastikan target masih hidup.
Ini demi kontrol.
Di depan klinik, ia mendengar percakapan perawat.
“Mahasiswi yang pingsan tadi sudah dibawa ke rumah sakit.”
“Suaminya yang jemput.”
Suaminya.
Raka memejamkan mata sejenak.
Nama Haikal Fero muncul di kepalanya—profil lengkap seorang tentara khusus, pria yang seharusnya menjadi musuh alami dunia yang ia pimpin.
Ia tahu siapa Haikal.
Ia tahu apa yang pria itu lakukan.
Ia tahu betul: perempuan itu bukan wilayahnya.
Namun tubuhnya tetap menegang.
Di dalam mobilnya, mesin sudah menyala, tapi ia tidak langsung pergi. Tangannya mencengkeram setir—terlalu kuat.
Ini aneh.
Ia pernah memerintahkan pembunuhan tanpa berkedip.
Ia pernah melihat darah menggenang tanpa rasa bersalah.
Ia pernah kehilangan orang-orangnya tanpa duka.
Lalu kenapa…
kenapa kabar perempuan itu pingsan membuat dadanya terasa sesak?
Ponselnya bergetar.
Pesan terenkripsi—jalur khusus.
> “Bos. Identitas Haikal Fero dikonfirmasi. Istrinya sedang kritis.”
Raka menutup layar itu perlahan.
Kritis.
Kata itu menekan lebih dalam dari yang ia akui.
Ini salah, pikirnya.
Sangat salah.
Perasaan ini bukan bagian dari rencana.
Bukan bagian dari strategi.
Bukan bagian dari dirinya.
Ia bos mafia.
Ia pemburu.
Ia pria yang tidak boleh memiliki titik lemah.
Namun bayangan Lian muncul tanpa izin wajah pucat tapi keras kepala, refleks cepat, keberanian yang tidak sesuai dengan tubuhnya yang ringkih.
Perempuan itu seharusnya hanya target.
Tapi sekarang…
Raka menyandarkan kepala ke sandaran kursi, menghembuskan napas panjang—napas pertama yang terasa berat sejak bertahun-tahun lalu.
“Sejak kapan aku peduli?” gumamnya pelan, marah pada dirinya sendiri.
Ia membuka pesan grup kelas—informasi bodoh, remeh, dangkal.
> “Humairah dirawat. Doain ya.”
Tangannya bergerak refleks…
lalu berhenti.
Ia mengunci ponselnya.
Tidak.
Ia tidak boleh mendekat.
Tidak boleh ikut campur.
Tidak boleh membiarkan perasaan ini tumbuh.
Karena jika ia melakukannya—
Misi akan gagal.
Prinsip akan runtuh.
Dan seorang bos mafia yang kejam…
tidak boleh jatuh karena satu perempuan.
Namun di balik wajah dinginnya, satu kebenaran mulai menggerogoti pikirannya:
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
Raka membuat kesalahan fatal—
bukan dalam strategi,
melainkan dalam perasaan.
Dan kesalahan itu bernama Humairah Liandra.
Destan Geondra tidak datang ke rumah sakit.
Ia juga tidak mengirim bunga.
Tidak menghubungi dokter.
Tidak meninggalkan jejak apa pun yang bisa ditarik kembali kepadanya.
Ia duduk tenang di ruang kerjanya lantai atas gedung kaca yang menghadap kota, lampu-lampu malam berkilau seperti papan catur raksasa. Di hadapannya, beberapa layar menyala, menampilkan data bergerak pelan.
Ia tidak menyentuh Humairah Liandra.
Ia mengelilinginya.
“Status?” tanyanya singkat.
Suara di seberang sambungan terenkripsi terdengar patuh.
“Dirawat intensif. Suaminya, Haikal Fero, standby penuh. Keamanan ketat.”
“Dokter?”
“Dokter utama sudah kami identifikasi. Riwayat medis pasien… sensitif.”
Destan menyandarkan punggung, jemarinya saling bertaut.
“Pastikan tidak ada perubahan mendadak yang tidak terlapor.”
“Siap, Bos.”
Ia menutup sambungan, lalu membuka layar lain—data kampus. Jadwal dosen. Rekaman CCTV lorong. Nama-nama mahasiswa yang sering berada di sekitar Lian.
Semua bergerak perlahan. Tidak agresif. Tidak mencolok.
Destan tidak menyerang.
Ia menunggu.
Di rumah sakit, Lian terbaring lemah. Monitor jantung berdetak pelan, ritmenya dijaga ketat oleh alat dan obat. Haikal duduk di sisi ranjang, matanya tidak lepas, tubuhnya tegang seperti masih berada di medan operasi.
Yang Haikal tidak tahu—
ada seseorang yang memastikan:
Perawat yang masuk selalu yang sama.
Obat yang diberikan tepat waktu, tanpa kesalahan.
Tidak ada mahasiswa, tidak ada media, tidak ada orang asing yang terlalu dekat.
Semua tampak normal.
Terlalu normal.
Destan berdiri di depan jendela besar. Di belakangnya, seorang pria menunggu dengan kepala tertunduk.
“Bos,” ucap pria itu hati-hati, “kenapa kita menjaga target?”
Destan tidak menoleh.
“Karena target itu berada di zona konflik,” jawabnya tenang.
“Dan zona konflik adalah tempat kekacauan muncul.”
“Apakah kita akan—”
“Tidak.”
Suara Destan memotong, dingin.
“Tidak menyentuhnya.”
Ia berbalik sedikit, sorot matanya tajam.
“Siapa pun yang bergerak tanpa perintah, aku yang akan menghabisi.”
Pria itu menelan ludah.
“Dipahami, Bos.”
Destan kembali menghadap jendela.
Ia sadar betul apa yang sedang ia lakukan mengamankan perimeter seorang perempuan yang seharusnya hanya ia awasi. Bukan karena misi semata.
Karena ia tidak ingin kehilangan variabel itu.
Dan itu membuatnya muak pada dirinya sendiri.
Di sisi lain kota, Haikal berdiri di koridor rumah sakit, menerima laporan dari atasannya.
“Keamanan tidak boleh longgar,” perintah suara di telepon.
“Ada indikasi pihak ketiga mengawasi.”
Haikal mengepalkan tangan.
“Siap.”
Ia menutup panggilan, menoleh ke arah kamar Lian.
Insting prajuritnya berteriak
ada sesuatu yang bergerak di luar jangkauan penglihatannya.
Destan membuka satu layar terakhir.
Di sana tertulis satu kalimat yang ia ketik sendiri, lalu ia hapus kembali:
“Jangan mati.”
Ia menutup semua sistem, mematikan layar, dan berdiri dalam gelap.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
Destan Geondra menarik jaringan bayangan
bukan untuk membunuh,
bukan untuk menguasai,
melainkan untuk menjaga.
Dan itu adalah kesalahan paling berbahaya yang pernah ia buat.