Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.
"Gus Hilman!"
Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.
Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1
Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.
"Gus Hilman!"
Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.
Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.
"Duh, baru pulang dari Jakarta ya? Kok penampilannya masih kayak mau tahlilan sih, Gus?" Keyla melangkah mendekat, sengaja masuk ke dalam ruang pribadi Hilman.
Hilman segera menundukkan pandangan. Ia menatap aspal jalanan dengan sangat intens, seolah ada jawaban ujian di sana. "Mbak Keyla, tolong. Ini tempat umum."
"Tempat umum kan berarti bebas, Gus," bisik Keyla. Ia berani melangkah satu senti lebih dekat hingga aroma parfum stroberinya yang manis menyengat indra penciuman Hilman. "Gus Hilman kalau nunduk terus, nggak capek apa lehernya? Coba lihat sini... aku lebih cantik dari aspal, lho."
Keyla sengaja sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Hilman, membuat sang Gus refleks mundur dua langkah sampai punggungnya menabrak pagar kayu.
"Mbak, saya ke sini bukan untuk main-main," suara Hilman terdengar berat, mencoba menjaga kewibawaannya meski jantungnya berdegup tidak keruan. "Pak Lurah pasti tidak suka melihat anaknya bersikap seperti ini pada tamu."
Keyla tertawa renyah, tawa yang terdengar sangat nakal. Ia menyandarkan satu tangannya di pagar, tepat di samping bahu Hilman, seolah sedang "mengurung" pria itu.
"Ayah lagi rapat di kecamatan, Gus. Aman," Keyla mengerlingkan mata. Ia meraih ujung kemeja Hilman dengan dua jarinya, memainkannya pelan. "Aku denger Gus-Gus dari Jakarta itu pinter-pinter. Bisa nggak, ajarin aku sesuatu yang lebih... seru daripada ngaji?"
Hilman memejamkan mata rapat-rapat. Mulutnya komat-kamit merapalkan istighfar di dalam hati.
"Astagfirullah, Mbak. Tolong pakai bajunya yang benar. Dingin... nanti masuk angin."
"Dingin?" Keyla tertawa lagi, kali ini lebih dekat ke telinga Hilman. "Kalau dingin, ya dipeluk dong, Gus. Bukannya dikasih ceramah."
Hilman akhirnya membuka mata, namun tetap tidak berani menatap langsung ke dada atau bahu Keyla. Ia menatap lurus ke mata gadis itu dengan tatapan tajam namun teduh yang membuat jantung Keyla justru berdesir aneh.
"Pakaian Mbak adalah harga diri Mbak. Jangan dijajakan hanya untuk mencari perhatian saya," ucap Hilman tenang namun menusuk. "Sekarang, permisi. Saya ada jadwal mengajar."
Hilman melipir pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Keyla yang terpaku di pinggir jalan. Keyla bukannya marah, ia malah tersenyum lebar sambil menggigit bibir bawahnya.
"Gila... makin galak, makin bikin penasaran," gumam Keyla sambil memperhatikan punggung kokoh Hilman yang menjauh. "Kita lihat ya, seberapa kuat iman Jakarta kamu itu, Pak Gus."