NovelToon NovelToon
Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Langit Yang Retak, Golok Yang Sunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Fantasi Timur / Balas Dendam / Dendam Kesumat / Ahli Bela Diri Kuno / Dark Romance
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Nnot Senssei

Ini Novel Wuxia!

Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.

Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!

Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.

Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.

Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Suara gemericik air sungai dan kicauan burung mengiringi pagi yang tenang di sebuah lembah tersembunyi.

Aliran sungai itu jernih seperti kaca, berkelok di antara bebatuan putih yang halus, memantulkan cahaya matahari pagi hingga tampak seperti pita perak yang bergerak perlahan.

Setiap tetes air yang menghantam batu mengeluarkan nada lembut, seakan alam sendiri sedang berbisik menjaga ketenangan tempat ini.

Lembah ini dikelilingi oleh tebing-tebing tinggi yang tertutup kabut abadi. Kabut itu tidak tebal, namun tak pernah benar-benar sirna, melayang seperti tirai tipis yang menutup dunia luar.

Dari kejauhan, tebing-tebing itu tampak samar, kadang seolah mendekat, kadang menghilang, membuat siapa pun yang mencoba masuk tanpa petunjuk akan tersesat berputar-putar hingga kelelahan.

Penduduk setempat menyebutnya Lembah Kedamaian, bukan karena tempat ini tanpa konflik, melainkan karena segala kebisingan dunia persilatan tidak pernah mampu menembusnya, setidaknya sampai sejauh ini.

Di sini, angin berhembus lebih pelan, dedaunan jatuh tanpa tergesa, dan bayangan awan bergerak seolah enggan meninggalkan tanah.

Waktu terasa melambat, seakan setiap detik diberi kesempatan untuk bernapas lebih panjang.

Seorang gadis cantik dengan pakaian sederhana berwarna hijau lumut tengah memetik bunga-bunga liar di pinggir sungai. Rambutnya yang hitam legam diikat dengan pita sutra, wajahnya memancarkan ketenangan yang murni, jauh dari debu dunia persilatan.

Ia adalah Han Xiang, putri tunggal dari Tabib Han, seorang lelaki tua misterius yang dikenal sebagai musuh bebuyutan dari segala bentuk kekerasan.

Han Xiang berhenti melangkah saat matanya menangkap sesuatu yang asing di antara bebatuan sungai. Sebuah sosok manusia tergeletak tak berdaya, separuh tubuhnya masih terendam air.

"Astaga!" seru Han Xiang sambil berlari mendekat.

Ia menemukan seorang pemuda yang wajahnya begitu pucat hingga tampak transparan. Pakaian hitamnya sudah compang-camping, dan luka-luka di tubuhnya tampak mengerikan, beberapa luka terlihat menghitam, sementara yang lain masih mengeluarkan darah segar.

Di tangan kanannya, ia masih mencengkeram erat sebuah golok hitam yang memancarkan hawa dingin yang membuat Han Xiang menggigil hanya dengan mendekatinya.

"Ayah! Ayah, kemarilah!" teriak Han Xiang panik.

Seorang pria tua berjanggut putih dengan wajah ketus muncul dari balik rimbun pepohonan.

"Xiang-er, sudah aku katakan jangan berteriak di ..., hnm?" kalimatnya terputus saat melihat Liang Shan.

Tabib Han mendekat dan memeriksa denyut nadi Liang Shan, lalu wajahnya berubah menjadi sangat gelap.

"Orang ini adalah magnet bencana, Xiang-er. Nadinya hancur karena tenaga dalam yang dipaksakan, dan dia membawa racun aneh dalam tubuhnya. Dia adalah pendekar dari golongan paling berbahaya."

"Tapi Ayah, kita tidak bisa membiarkannya mati di sini. Sungai ini akan menyeretnya jika kita tidak menolongnya," protes Han Xiang dengan mata berkaca-kaca.

Tabib Han menghela napas panjang. "Membawanya ke dalam gubuk kita berarti mengundang badai ke lembah ini. Tapi, aku belum pernah melihat orang dengan keinginan hidup sekuat ini. Bahkan dalam pingsan, dia masih melindungi senjatanya."

Dengan enggan, Tabib Han membantu putrinya membopong Liang Shan menuju sebuah gubuk kayu yang harum oleh aroma tanaman obat.

Selama tujuh hari tujuh malam, Liang Shan berada dalam koma yang dalam. Selama itu pula, Han Xiang tidak pernah meninggalkan sisinya.

Ia dengan telaten membersihkan luka-luka Liang Shan, mengganti perban, dan menyuapkan sari pati ginseng untuk menjaga nyawa pemuda itu tetap bergantung pada tubuhnya yang hancur.

Pada malam kedelapan, saat cahaya bulan masuk melalui jendela kecil gubuk, Liang Shan perlahan membuka matanya.

Hal pertama yang ia rasakan adalah kedamaian yang asing. Tidak ada bau darah, tidak ada teriakan, hanya aroma melati dan suara kecapi yang dimainkan dengan lembut di kejauhan.

Dia mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa sakit yang luar biasa membuatnya mendesis.

"Jangan bergerak dulu," sebuah suara lembut menenangkannya.

Liang Shan menoleh dan melihat seorang gadis sedang duduk di samping tempat tidurnya sambil memegang semangkuk obat yang masih hangat. Untuk sesaat, Liang Shan terpana.

Gadis di depannya ini tampak seperti embun pagi yang tidak pernah tersentuh debu.

"Siapa ..., kau?" tanya Liang Shan parau.

"Namaku Han Xiang. Kau berada di rumahku. Ayahku adalah seorang tabib," jawabnya sambil tersenyum tipis. Senyum itu sejenak membuat Liang Shan melupakan dendamnya.

"Golokku ..., di mana golokku?" Liang Shan mencoba bangun dengan panik.

"Tenanglah, pendekar. Golokmu ada di bawah tempat tidurmu. Ayahku melarangku menyentuhnya karena katanya benda itu membawa sial," Han Xiang sedikit tertawa, sebuah tawa yang terdengar seperti denting lonceng perak di telinga Liang Shan.

Liang Shan kembali berbaring, napasnya memburu. Ia menatap langit-langit gubuk.

"Kau seharusnya membiarkanku mati di sungai itu. Aku adalah pembawa bencana."

Han Xiang menatapnya dengan lembut, tangannya tanpa sadar menyentuh dahi Liang Shan untuk memeriksa panas tubuhnya.

"Bencana atau bukan, itu urusan nanti. Saat ini, kau hanyalah seorang pasien yang membutuhkan perawatan. Tidurlah kembali, Liang Shan."

Liang Shan terkejut. "Bagaimana kau tahu namaku?"

"Kau terus-menerus memanggil nama itu dalam igauanmu, bersama dengan kata 'Ayah' dan 'maaf'."

Liang Shan memalingkan wajahnya ke arah dinding, matanya panas. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada seseorang yang menyebut namanya dengan nada lembut, bukan dengan nada kebencian atau ketakutan.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan lambat namun bermakna. Liang Shan mulai bisa duduk dan berjalan sedikit di sekitar gubuk dengan bantuan Han Xiang. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di teras seraya memandang kabut lembah.

Han Xiang menceritakan tentang bunga-bunga yang hanya tumbuh di lembah itu, sementara Liang Shan, meski jarang bicara, mulai membuka diri.

Ia menceritakan tentang langit yang retak, namun tidak menceritakan tentang pembantaian itu. Ia menceritakan tentang gurunya, namun tidak menceritakan tentang goloknya yang berdarah.

"Jika suatu saat kau harus memilih antara hidup damai di sini atau pergi untuk membalas dendam, apa yang akan kau pilih?" tanya Han Xiang suatu sore, matanya menatap dalam ke mata Liang Shan.

Liang Shan terdiam lama. Ia bisa merasakan kehangatan dari tangan Han Xiang yang sesekali menyentuh lengannya saat membantunya berjalan.

Ada keinginan besar di hatinya untuk tetap di sini, melupakan segalanya, dan hidup bersama gadis ini. Namun, bayangan wajah ayahnya dan rintihan anggota keluarga yang tertindas oleh para pendekar dunia persilatan kembali menghantuinya.

"Seseorang yang sudah berjalan terlalu jauh ke dalam kegelapan, tidak akan pernah bisa kembali ke cahaya tanpa membawa kegelapan itu bersamanya," jawab Liang Shan pahit.

Han Xiang menunduk, air mata menggenang di sudut matanya. Ia tahu, pemuda di depannya ini adalah seekor elang yang sayapnya sedang patah, namun saat sayap itu sembuh, ia akan kembali terbang menuju badai.

Sementara itu, jauh di luar lembah, badai yang sebenarnya sedang berkumpul. Jenderal Long Zhanyuan, yang kini memiliki luka permanen di dadanya, telah memerintahkan aliansi tiga klan besar—Klan Xu, Klan Murong, dan Klan Zhao—untuk menyisir seluruh wilayah Utara.

Mereka tidak hanya mencari Liang Shan, tapi mereka ingin memusnahkan siapa pun yang pernah membantunya.

Berita tentang seorang pemuda yang membawa golok hitam dan diselamatkan oleh seorang tabib mulai menyebar di kalangan pedagang obat di pasar-pasar gelap.

1
Nanik S
Bagus Lian Shang
Nanik S
Kecapi Sakti
Nanik S
Apakah Kakek itu orang yang dicari
Nanik S
Mereka bertiga benar2 tangguh
Nanik S
Liang Shan... punya berapa Nyawa
Nanik S
God Joon
Nanik S
Liang Shan.... berat amat jalanmu
Nanik S
mereka sepasang Anak sahabat yang mati karena dikhianati
Nanik S
Jendral Zhao ternyata bukan hanya penghianat tapi Inlis yang sesungguhnya
Nanik S
teruskan... menarik sekali Tor
Junn Badranaya: Siap kak ...
total 1 replies
Nanik S
Liang Shan harusnya tinggal dengan Damai
Nanik S
Liang Shan.... apakah akan hancur bersama Goloknya
Nanik S
Ternyata Jendral besar juga terlibat
Nanik S
Mantap.... kenapa Lian Shen tidak mencari penawar racunya
Nanik S
Kecantikan sebagai Alat untuk meruntuhkan Lelaki
Nanik S
Kurangi musuh satu satu
Nanik S
Pesan pertama Golok Sunyi
Nanik S
Mantap Tor
Nanik S
Ling Shang... kehilangan kedua kali amat menyakitkan
Nanik S
Hidup dengan tubuh beracun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!