Mitsuki mengerjapkan matanya yang berwarna kuning keemasan, menatap gumpalan awan yang bergeser lambat di atas gedung-gedung beton yang menjulang tinggi. Hal pertama yang ia sadari bukanah rasa sakit, melainkan keheningan Chakra. Di tempat ini, udara terasa kosong. Tidak ada getaran energi alam yang familiar, tidak ada jejak Chakra dari Boruto atau Sarada.
A/N : karena ini fanfic yang ku simpen sebelumnya, dan plotnya akan sama dan ada sedikit perubahaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I am Bot, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Racun Di kota Hosu
Sementara Mitsuki mulai mencium jejak Yakuza di Distrik Esu, di sudut lain Jepang tepatnya di Kota Hosu suasana terasa jauh lebih mencekam. Tenya Iida, yang biasanya dikenal sebagai sosok paling disiplin dan lurus di Kelas 1-A, kini berdiri di tengah kegelapan gang sempit dengan tatapan yang tidak lagi mencerminkan seorang pahlawan.
Iida tidak memilih agensi di Hosu karena ingin belajar penyelamatan. Ia di sana untuk satu tujuan: Balas Dendam. Kakaknya, Ingenium, pahlawan yang menjadi panutannya, kini lumpuh total setelah diserang oleh Hero Killer: Stain.
Iida terus berjalan menyusuri lorong-lorong gelap, mengabaikan instruksi Manual, pahlawan pembimbingnya. Di kepalanya, kata-kata Mitsuki di stasiun kemarin terus bergema seperti kaset rusak.
"Iida-kun sedang membawa racun di dalam hatinya. Ular yang terluka biasanya akan menggigit siapa saja, termasuk dirinya sendiri."
"Apa yang tahu kau tentang aku, Mitsuki?" desis Iida, giginya gemertak. "Kau adalah juara satu yang sempurna. Kau tidak tahu rasanya melihat kehancuran seseorang yang kau cintai."
Tiba-tiba, aroma darah yang anyir menusuk hidungnya.
Di ujung sebuah gang buntu, Iida melihat sosok pahlawan profesional terkapar bersimbah darah, tubuhnya tak bisa bergerak. Di atasnya, berdiri seorang pria dengan pakaian compang-camping, banyak pedang di punggungnya, dan wajah yang tertutup kain lusuh.
Hero Killer: Stain.
"Berhenti!" teriak Iida. Mesin di betisnya menderu, mengeluarkan uap panas. "Aku adalah adik dari pahlawan yang kau hancurkan! Aku adalah Ingenium, dan aku di sini untuk menghentikanmu!"
Stain menoleh pelan. Matanya yang tidak memiliki pupil menatap Iida dengan rasa jijik yang mendalam. "Ingenium? Pahlawan yang hanya mengejar nama dan reputasi? Kau lebih buruk lagi, Bocah. Matamu dipenuhi dendam pribadi. Kau bukan pahlawan... kau hanya penjahat yang menggunakan topeng keadilan."
"Diam!"
Iida melesat dengan Recipro Burst. Tendangannya kuat, namun Stain bergerak secepat kilat. Hanya dengan satu sayatan kecil di lengan Iida, dan satu jilatan pada darah di pedangnya, tubuh Iida seketika lumpuh.
Bruk!
Iida jatuh tersungkur di aspal dingin. Ia mencoba menggerakkan jarinya, namun sistem sarafnya seolah terkunci sepenuhnya.
"Kau akan mati di sini sebagai peringatan bagi dunia yang palsu ini," ucap Stain sambil mengangkat pedang panjangnya.
Tepat saat pedang Stain akan menghujam leher Iida, sebuah kilatan hijau muncul dari atap gedung.
"5% DETROIT SMASH!"
BOOM!
Izuku Midoriya mendarat tepat di antara Iida dan Stain, menangkis pedang itu dengan pukulan yang diperkuat oleh One For All.
"Iida-kun! Syukurlah aku tepat waktu!" seru Izuku. Nafasnya memburu. Ia bisa sampai di sana karena ia menyadari perubahan perilaku Iida dan mengirimkan sinyal lokasi ke semua orang, termasuk Mitsuki.
"Midoriya... kenapa..." Iida merintih, air mata mulai mengalir. "Pergilah! Ini urusanku!"
"Tidak, Iida-kun!" Izuku memasang kuda-kuda yang diajarkan Mitsuki—lebih rendah, lebih stabil, dan waspada. "Pahlawan tidak akan membiarkan temannya tersesat dalam kegelapan sendirian!"
Stain menyipitkan mata, merasa tertarik dengan kehadiran Izuku. "Kau... kau memiliki tatapan yang sama dengan All Might. Tatapan seorang pahlawan sejati. Aku akan membiarkanmu hidup, tapi bocah di bawahmu harus disingkirkan."
Di Distrik Esu, Mitsuki yang sedang berpatroli bersama Fat Gum tiba-tiba berhenti. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel yang bergetar hebat. Itu adalah sinyal lokasi dari Izuku.
"Fat-san," suara Mitsuki mendadak berubah dingin dan tajam. "Temanku dalam bahaya besar di Hosu. Izuku sedang berhadapan dengan seseorang yang memiliki aura kematian yang sangat pekat."
Fat Gum menatap Mitsuki dengan serius. "Hosu? Itu terlalu jauh dari sini kalau naik kereta sekarang! Apa yang akan kau lakukan?"
Mitsuki menatap ke arah langit malam. Ia melihat ular kecilnya yang tadi ia lepaskan untuk memantau radar frekuensi. "Aku akan menggunakan cara yang sedikit... tidak konvensional. Fat-san, tolong hubungi kantor polisi Hosu dan beritahu mereka untuk segera menutup radius lima blok dari titik ini."
Mitsuki melakukan serangkaian segel tangan yang sangat cepat, jauh lebih kompleks dari biasanya.
"Kuchiyose no Jutsu!"
BOOM!
Di tengah jalanan Distrik Esu, kepulan asap putih raksasa muncul. Saat asap itu menipis, terlihat seekor ular biru raksasa dengan sayap membran tipis di punggungnya salah satu eksperimen transportasi Orochimaru.
"A-apa itu Quirk-mu?!" Fat Gum melotot hingga takoyaki di tangannya jatuh.
"Bisa dibilang begitu," jawab Mitsuki sambil melompat ke atas kepala ular itu. "Aku akan sampai di sana dalam sepuluh menit. Tolong jaga wilayah ini sementara aku pergi."
Ular raksasa itu melesat ke langit, membelah awan malam menuju Kota Hosu. Mitsuki berdiri di atas kepala ular itu, matanya berkilat kuning predator.
“Jangan mati dulu, Izuku. Iida. Jika kalian mati sebelum aku sampai, aku akan sangat kecewa pada definisi 'Pahlawan' di dunia ini.”
Di atas gedung yang tidak jauh dari lokasi pertarungan, dua sosok sedang berdiri mengamati semuanya. Salah satunya adalah Tomura Shigaraki yang sedang menggaruk lehernya dengan rasa kesal yang luar biasa. Dan di sampingnya, pria berkacamata hitam pesuruh Orochimaru.
"Anak itu... Mitsuki... dia merusak segalanya lagi," desis Shigaraki. "Kenapa dia selalu ada di sana?"
"Karena dia adalah variabel yang tidak bisa kau kendalikan, Shigaraki Tomura," ucap pria berkacamata itu dengan nada mengejek. "Tuan Orochi sudah melihat cukup. Stain hanyalah alat tes yang berguna. Sekarang, saatnya kita melihat bagaimana masyarakat pahlawan ini menangani fakta bahwa pahlawan terbaik mereka malam ini adalah seorang remaja yang bahkan tidak memiliki lisensi untuk menggunakan 'Quirk'-nya."
Shigaraki menoleh, matanya yang merah berkilat penuh kebencian. "Aku akan membunuhnya. Aku akan menghancurkan ular itu sampai tidak ada sisik yang tersisa."
Di gang buntu Hosu, cahaya petir biru, api merah, dan kilatan es bergabung menjadi satu, menerangi malam yang kelam. Simbol perdamaian mungkin sedang berjuang di pusat kota, namun di gang ini, sebuah legenda baru sedang ditulis dengan tinta yang berbeda.
Udah gitu nggak ada typo yang mendistraksi. Kereen