NovelToon NovelToon
DIINJAK UNTUK BERSINAR

DIINJAK UNTUK BERSINAR

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
​Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
​Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: GALANG DANA UNTUK AYAH SATRIA

#

Malam itu kami berlima berkumpul di warung Pak Hadi.

Di meja ada laptop pinjeman dari Bu Ratna. Di depannya ada lima anak yang capek banget tapi tetep semangat.

"Oke. Kita bikin kampanye galang dana online. Sekarang," kata Vanya sambil buka laptop.

Adrian ambil hapenya. "Gue udah riset. Ada beberapa platform galang dana. Kitabisa. Benihbaik. Kita pakai semuanya. Biar lebih banyak orang yang liat."

Nareswari, meskipun tangannya masih digips, dia tetep bantuin ngetik pake tangan kiri. "Kita harus bikin cerita yang menyentuh. Cerita yang bikin orang mau bantuin."

Arjuna ngangguk. "Tapi jangan bohong. Cerita harus jujur. Cerita nyata Satria."

Aku duduk di pojok. Diem. Liat mereka semua yang sibuk bantuin aku.

"Kalian... kalian serius mau lakuin ini buat ayah aku?"

Mereka semua berhenti. Liat aku.

Vanya senyum. "Sat, udah berapa kali lu nanya? Iya. Kita serius. Ayahmu ayah kita juga sekarang. Keluarga kita."

Adrian tepuk pundak aku. "Bener. Jadi lu diem aja. Biar kita yang urus."

Aku nangis. Lagi. Entah udah keberapa kali aku nangis hari ini.

"Terima kasih..."

***

Dua jam kemudian, kampanye galang dana online kami selesai.

Judul: BANTU AYAH SATRIA LAWAN PENYAKIT JANTUNG.

Di dalamnya ada cerita lengkap. Cerita tentang ayah yang lumpuh lima tahun. Tentang aku yang berjuang sekolah sambil kerja. Tentang korupsi beasiswa yang kami bongkar. Tentang ayah yang sekarang sekarat butuh operasi.

Ada foto ayah yang terbaring di kasur rumah sakit. Foto aku sama ibu yang nangis di samping ayah. Foto kami berlima yang lagi peluk-pelukan.

Semua foto nyata. Semua cerita jujur.

Target: dua ratus lima puluh juta rupiah.

"Oke. Sekarang kita share ke semua platform media sosial. Semua akun kita. Semua grup. Semua temen. Semua keluarga. Semua orang yang kita kenal."

Vanya mulai share. Arjuna juga. Adrian juga. Nareswari juga.

Aku juga share di akun media sosialku yang followers-nya cuma puluhan orang.

Tapi kami share. Berharap ada yang peduli.

***

Hari pertama.

Donasi masuk: lima belas juta rupiah.

Dari ratusan orang. Ada yang nyumbang seratus ribu. Ada yang lima puluh ribu. Ada yang sepuluh ribu. Ada yang bahkan cuma lima ribu.

Tapi semua berarti. Semua berharga.

Aku baca komentar-komentar mereka.

"Semangat, Satria! Kamu anak yang hebat. Semoga ayahmu sembuh."

"Ini sedikit tapi semoga membantu. Kami doakan ayahmu."

"Terima kasih sudah berani membongkar korupsi. Ini balasan kebaikanmu dari kami."

Aku nangis baca komentar-komentar itu. Orang-orang yang gak kenal aku. Tapi mereka mau bantuin.

"Terima kasih... terima kasih kalian semua..."

Bisikku sambil lap air mata.

***

Hari kedua.

Donasi masuk: tiga puluh lima juta rupiah.

Cerita kami mulai viral. Di-share ribuan orang. Masuk berita online. Masuk TV lokal.

Donasi makin banyak. Ada yang nyumbang satu juta. Ada yang lima ratus ribu.

Tapi masih jauh dari dua ratus lima puluh juta.

Aku gak bisa diem. Aku harus kerja. Aku harus bantuin kumpulin uang.

Aku kerja di warung Pak Hadi dari jam dua siang sampe jam dua pagi. Dua belas jam nonstop. Cuci piring. Bersihkan meja. Antar pesanan.

Pak Hadi berkali-kali nyuruh aku istirahat. Tapi aku tolak.

"Pak, aku harus kerja. Aku harus dapet uang. Ayah aku gak punya banyak waktu."

Pak Hadi cuma bisa geleng-geleng sedih.

***

Hari ketiga.

Donasi masuk: delapan puluh juta rupiah.

Aku hampir gak percaya. Delapan puluh juta. Dari ribuan orang yang gak kenal aku.

Tapi masih kurang seratus tujuh puluh juta.

Aku makin gila kerja. Aku kerja di tiga warung sekaligus. Warung Pak Hadi dari jam dua siang sampe jam delapan malam. Warung sebelah dari jam delapan malam sampe jam dua belas malam. Warung satunya lagi dari jam dua belas malam sampe jam lima pagi.

Aku gak tidur. Cuma tidur dua jam sehari. Di bangku warung. Di lantai. Di mana aja.

Tubuhku kurus. Pipi cekung. Mata merah. Tangan penuh luka karena kena air panas terus-terusan.

Tapi aku gak peduli.

Ayah lebih penting.

***

Vanya juga kerja keras.

Dia jadi SPG di mall. Berdiri dari pagi sampe malam. Promosiin produk. Senyum ke orang-orang meskipun kakinya pegel banget.

"Sat, aku dapet tiga juta seminggu dari jadi SPG. Aku kasih semua buat ayahmu."

Adrian jualan online. Dia jualan apa aja. Baju. Sepatu. Aksesoris. Dia iklan di media sosial. Packing barang. Kirim ke pembeli.

"Sat, aku dapet dua juta seminggu. Aku kasih semua buat ayahmu."

Arjuna les privat matematika sama fisika. Dia ngajar anak-anak SMP sama SMA. Dari sore sampe malam.

"Sat, aku dapet empat juta seminggu. Aku kasih semua buat ayahmu."

Nareswari nulis artikel lepas buat website-website berita. Dia nulis sepuluh artikel sehari. Meskipun tangannya masih sakit karena patah.

"Sat, aku dapet satu juta seminggu. Aku kasih semua buat ayahmu."

Mereka semua kasih uang hasil kerja keras mereka ke aku. Buat ayah aku.

Aku nangis tiap kali terima uang dari mereka. "Kalian... kalian gak usah begini... kalian juga butuh uang..."

Tapi mereka geleng. "Ayahmu lebih butuh, Sat. Kita ikhlas."

***

Seminggu berlalu.

Total donasi online: seratus tiga puluh juta rupiah.

Ditambah uang dari kami berlima: sepuluh juta rupiah.

Total: seratus empat puluh juta rupiah.

Masih kurang seratus sepuluh juta.

Waktu terus berjalan. Kondisi ayah makin buruk.

Aku jenguk ayah tiap pagi sebelum kerja. Kondisinya makin lemah. Napasnya makin sesak. Kulitnya makin pucat.

"Sat... jangan... jangan terlalu capek... ayah... ayah gak papa..."

Suara ayah lemah banget. Nyaris gak kedengeran.

Aku pegang tangannya yang dingin. "Ayah harus sembuh, Yah. Satria udah kumpulin seratus empat puluh juta. Tinggal sedikit lagi. Ayah harus bertahan."

Ayah senyum tipis. "Kamu... kamu anak yang hebat, Sat..."

Aku nangis. "Satria gak hebat, Yah. Satria cuma... cuma gak mau kehilangan ayah..."

***

Hari kesepuluh.

Aku duduk terkulai di bangku warung Pak Hadi. Jam lima pagi. Baru selesai kerja shift ketiga.

Tubuhku gak kuat lagi. Mata berat banget. Kepala pusing. Tangan gemetar.

Aku liat saldo galang dana online di hape.

Seratus empat puluh lima juta rupiah.

Masih kurang seratus lima juta.

"Dari mana... dari mana lagi..."

Bisikku putus asa.

Tiba-tiba pintu warung terbuka.

Pak Joko masuk. Wartawan senior yang kasih kami bukti korupsi H. Bambang dulu.

Mukanya serius. Tapi ada harapan di matanya.

"Satria."

Aku angkat kepala. "Pak Joko...?"

Pak Joko duduk di depan aku. Dia taruh tas di meja.

"Aku dengar tentang ayahmu. Aku... aku mau bantuin."

Jantungku berdetak cepat.

"Pak... gimana caranya?"

Pak Joko senyum. "Media tempat aku bekerja mau bantuin. Kami akan buat liputan khusus tentang kamu. Tentang perjuangan kamu. Tentang ayahmu. Kami akan tayang di TV nasional. Prime time. Dan kami akan galang dana lewat program tanggung jawab sosial perusahaan kami."

Aku gak percaya. "Serius, Pak?"

Pak Joko ngangguk. "Serius. Direktur media kami tersentuh sama cerita kamu. Dia mau bantuin. Tapi ada syarat."

Aku tegang. "Syarat apa, Pak?"

"Kamu harus mau diwawancara. Di TV. Live. Ceritakan semua. Tentang perjuangan kamu. Tentang ayahmu. Tentang korupsi yang kamu bongkar. Semua. Apa kamu berani?"

Aku gak mikir lama.

"Aku berani, Pak. Apapun. Asal ayah aku bisa sembuh."

Pak Joko senyum lebar. "Bagus. Besok sore. Jam tujuh malam. Kamu datang ke studio. Kami akan siaran langsung. Dan kami yakin... donasi akan berdatangan."

Aku berdiri. Aku jabat tangan Pak Joko. Erat.

"Terima kasih, Pak Joko. Terima kasih..."

Pak Joko tepuk pundak aku. "Sama-sama, Satria. Kamu anak yang hebat. Kamu layak dapat bantuan."

***

*Andri: "Saat kau merasa sendirian menghadapi gunung masalah, ingatlah: Allah tidak pernah meninggalkan hambaNya yang berjuang dengan tulus. Bantuan datang dari arah yang tak pernah kau duga, di waktu yang tak pernah kau sangka."*

1
Was pray
satria terlalu ambisius
✮⃝🍌 ᷢ ͩ 𝐁𝐋𝐔𝐄¹²²💙nury
memang kadang harapan gak sesuai dengan kenyataan
aa ge _ Andri Author Geje: good💪 benar ituh
total 1 replies
✮⃝🍌 ᷢ ͩ 𝐁𝐋𝐔𝐄¹²²💙nury
keren untuk Bagas ,tetap semangat dengan segala keterbatasannya
yuningsih titin: lanjut kak👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!