NovelToon NovelToon
Heart'S

Heart'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Cintamanis / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Cintapertama
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: Reyna Octavia

Dino pamungkas, pemilik tubuh tinggi dan wajah tegas itu merupakan ketua geng Ultimate Phoenix. Mendadak dijodohkan, Dino sempat menolak. Namun, setelah tahu siapa calon istrinya, dia menerima dengan senang hati.

Dara Farastasya, yang kini dijodohkan dengan Dino. Dara bekerja menjadi kasir di supermarket. Gadis cantik yang ternyata sudah mengambil hati Dino semenjak satu tahun lalu.

Dara tidak tahu, Dino menyukainya. Pun Dino yang gengsi mengatakannya. Lantas, bagaimana rumah tangga dua orang pekerja keras itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyna Octavia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Takut seperti kala itu

...SELAMAT MEMBACA!...

..."Tuhan yang selalu ada. Bisakah aku meminta agar gadis itu mencintaiku, selalu?" ...

...-Dino Pamungkas...

Mentari pagi telah terbit. Cahayanya masuk ke rumah melalui celah-celah membuat ruangan gelap dan sempit menjadi terang. Para pribumi bangun dari tidur nyenyaknya untuk melaksanakan aktivitas.

Dilahirkan sebagai manusia adalah karunia Tuhan yang terindah. Manusia adalah makhluk sempurna, tetapi diantaranya selalu saja mengeluhkan kesempurnaan dari Tuhan. Sebab, sifat manusia sesungguhnya itu kurang bersyukur.

Di sebuah rumah, seorang wanita sedang menyiapkan beberapa makanan untuk sarapan keluarganya. Dia telah selesai dan memutuskan untuk duduk sejenak di kursi. Bila, ia menuangkan air ke dalam gelas dan meminumnya habis. Tenggorokan itu terasa kering sejak semalam karena perasaan gelisah terus ada.

Bila menghembuskan napas panjang. Wanita itu terus teringat sang putri, yang saat ini berada jauh darinya. Perasaan gelisah sejak pulang dari rumah Dara, ia sangat tidak tenang. "Bun," panggil seorang pria. Pria tersebut berdiri di belakang Bila sambil menyentuh kedua pundaknya. Norman berbisik lembut, "Jangan dipikirkan! Dara pasti aman sama Dino."

Norman kemudian duduk di kursi samping sang istri, menggenggam kedua tangan wanita tersebut sambil mengusapnya halus. "Jangan khawatir, ya? Kalau Dara tahu, dia pasti marahin Bunda," ucap Norman.

Tuturan lembut itu berhasil membuat Bila sedikit lebih tenang. Dia mengulas senyum tipis dan mengangguk pelan. Lalu, Norman membelai pipi Bila dan mengecup kening wanita itu. "Ayo, Ayah mau sarapan," ujar Norman, kemudian membenarkan posisi duduknya.

Bila menganggukkan kepala. Lalu, dia segera menyiapkan sarapan untuk suami tercinta dengan perasaan bahagia.

"Bunda." Panggilan dengan suara berat itu sontak membuat Bila menoleh. Sang putra berjalan ke arahnya, masih dengan baju tidur dan penampilan berantakan. Hal tersebut langsung mengundang amarah Bila. "Aku ngantuk banget. Hari ini gak sekolah, ya?" celetuk Tino.

Kedua manik Bila langsung melebar. Dia tersenyum miring dan berjalan mendekati Tino. "Gak sekolah, ya?" Tino mengangguk, masih dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka. "Mau Bunda jual motor kamu?" seloroh Bila.

Sepasang mata Tino langsung terbuka lebar. "Jangan!" teriak Tino. Cowok itu segera pergi dan bergegas bersiap-siap.

Sungguh, kesabaran Bila semakin diuji oleh anak laki-lakinya itu. Berbeda ketika ada putrinya di sini, Dara pasti akan memarahi Tino terlebih dahulu.

.....

Minggu yang membosankan. Cuaca di luar itu sangat panas, membuat diri malas untuk melakukan kegiatan di luar. Gadis itu telah menyelesaikan pekerjaan rumah, kemudian bersantai sejenak di ruang tengah dan menonton televisi.

Suara dari film aksi yang ditonton menggelegar seisi rumah. Dara menonton sambil menikmati roti goreng sisa kemarin malam. Lalu, gadis itu celingukan karena suaminya belum muncul.

Entah apa yang sedang Dino lakukan. Lelaki itu belum keluar kamar lagi setelah mandi tadi. Bahkan, Dara sudah selesai dengan pekerjaannya. Namun, Dara tidak peduli, biarkan manusia aneh tersebut berbuat sesuka hati.

Saat menikmati film yang saling menembakkan peluru, Dino mendadak muncul dan duduk di samping Dara. Istrinya sontak terkejut, seperti hantu saja. "Gue mau ke luar," ujar Dino.

Dara membulatkan mata. "Terus, aku ditinggal di rumah?" selorohnya. Selama seminggu ini, Dara memerintah Dino agar tidak meninggalkannya sendiri di rumah, semenjak kejadian itu. "Sendirian?"

"Ya udah, ayo ikut!" ajak Dino. Dia beranjak dari sana, memasang sepatu di kakinya. "Siap-siap! Gue tunggu di luar." Lalu, lelaki itu melenggang dari sana, sedangkan Dara segera menyiapkan dirinya.

Dara salah, ia tidak bertanya terlebih dahulu kepada Dino tentang tempat tujuan. Lelaki itu membawanya ke basecamp, yang jelas saat ini sedang dipenuhi banyak laki-laki. Dara gadis seorang diri.

"Kenapa nggak ngomong kalau mau ke sini!" tegur Dara, ketika sampai di halaman.

"Lo gak tanya." Dino kemudian melenggang mendahului gadis itu.

Ini adalah hari libur, tentu saja basecamp Ultimate Phoenix penuh. Mereka selalu menghabiskan waktu luang di tempat yang telah menjadi rumah kedua.

Rupanya, Dino telah ditunggu oleh anggota inti lainnya. Mereka menyambut sang ketua dengan senyuman lebar. "Loh, Bu Bos ikutan?" ujar Mahen, melihat Dara berjalan di samping Dino.

Dara tersenyum tipis. Lalu, pergelangan tangannya ditarik oleh Dino. Lelaki itu membawanya untuk duduk di sudut ruangan.

Tidak melakukan hal yang penting. Dino pergi ke sini hanya untuk bermain-main dengan para anggota. Seperti biasa, pertarungan Mahen dan Bama meramaikan ruangan itu.

Dua cowok tersebut sedang beradu latto-latto yang dibeli kemarin. Namun, keduanya sama sekali tidak bisa memainkan benda bulat tersebut. "Apaan lo? Gak bisa tapi sok-sokan!" gerutu Mahen, menatap sinis ke arah Bama.

"Lo yang gak bisa!" balas Bama.

"Dasar wibu!" Mahen telah melepaskan kalimat yang akan membuatnya mati di tangan Bama. Kata-kata itu sangat tidak disukai oleh Bama.

Bama lantas mengehentikan tangannya untuk bermain benda tersebut, kemudian meletakkannya sembarangan di lantai. Bama menggeser tubuhnya mendekati Mahen dan merangkul pundak cowok itu. "Mau gue hancurin latto-latto milik lo?" bisik Bama.

Mahen menelan ludahnya susah payah. Dia tidak berani menatap mata Bama secara langsung. "Ayo, lomba latto-latto sama gue," ucap Mahen, berusaha mengalihkan pembicaraan.

"Gue bilangin sama lo sekali lagi. Gue bukan wibu. Gue cuma suka nonton anime." Ucapan yang penuh penekanan, membuat Mahen merinding. "Sekali lagi gue denger itu, habis latto-latto punya lo!" seloroh Bama.

"Mampus!" Aga menahan tawa melihat wajah panik Mahen. Begitu juga dengan para seniornya.

Dara saja hanya tersenyum tipis melihat tingkah anak remaja tersebut. "No," panggil Dara.

Dino yang sedang bermain game di handphone, segera menoleh ke samping. "Kenapa?" tanya Dino.

"Kamu bisa main latto-latto?"

Pertanyaan seperti apa yang Dara luncurkan dari mulutnya. Dino langsung menggelengkan kepala. "Jangan tanya hal aneh, Ra!" tutur Dino.

Suara gaduh dari luar membuat fokus mereka yang berada di dalam ruangan itu, menjadi pecah. Hamid dan Derwan sampai berdiri dari duduknya. Mahen dan Bama sedang bertarung, mereka harus berhenti.

"Ada apa, sih?" tanya Angga.

Suara kaca jendela pecah karena lemparan batu besar, sontak membuat jeritan keluar dari bibir Mahen.

Dino segera berdiri. Guratan keras mulai terlihat menonjol di leher laki-laki itu.

Dino berjalan dan membuka pintu. Kedua matanya membulat lebar. Lalu,  tujuh laki-laki itu menyusul dan berdiri di belakang Dino.

Dara yang penasaran, dia ikut mengintip di antara laki-laki itu.

Sekelompok pria bertubuh besar menakutkan berdiri di halaman, sambil menenteng beberapa benda berat seperti senjata. Mereka memasang wajah menantang, kemudian tersenyum miring ketika melihat ketua Ultimate Phoenix.

Dara tidak asing dengan wajah seorang pria yang berdiri di antara mereka. Dia menautkan kedua alisnya. Lalu, gadis itu bergetar dan berjalan mundur. Mahen menyadarinya, segera menghampiri Dara. "Kenapa, Kak?" tanya Mahen.

Dino yang mendengar, dia menoleh dan menghampiri Dara. "Ra, kenapa?"

Tubuh gadis itu bergetar. Bibirnya ingin bicara, tetapi sangat takut. "A--ada orang i--itu." Jari telunjuk Dara menunjuk ke luar, itu bergetar.

"Siapa, Ra?"

"Yang di tengah. Dia pembunuh Kak Agun." Dara tidak bisa menahan air matanya, dadanya terasa sesak. Dia menunduk karena takut dan mulai menangis.

Dino menoleh, melihat ke arah istrinya menunjuk. Orang yang di tengah, ia adalah Ambo dengan para orang-orangnya.

"Mahen, bawa Dara ke ke kamar!" pinta Dino.

"Loh? No, kenapa ke kamar?" tanya Dara, dengan panik.

"Aman, Ra. Lo ke kamar aja sama Mahen!" Dino membelai rambut lembut Dara. "Nurut sama gue!" katanya.

Dara mengangguk pasrah. Lalu, Mahen membawanya pergi ke kamar dan menutup pintu.

Dara yang malang, tubuhnya bergetar hebat. Air mata itu terus menetes, membasahi pipinya. Mahen mencoba menenangkan, sambil sesekali mengintip ke luar.

Lama sekali, Dino tak datang untuk menjemputnya. Dara sangat takut dan khawatir. Bibirnya tidak berhenti melantunkan doa, memohon keselamatan suaminya.

Masih sangat melekat peristiwa kejam di depan mata, pada dua tahun silam. Darah yang menetes dari tubuh kakaknya, wajah jahat dan menyeramkan para penjahat itu. Mereka tanpa ampun memukuli Agun hingga ia harus pergi ketika sedang diselamatkan.

Pikiran yang kacau. Hati itu bagaikan kertas terkena air. Dara terus menunduk hingga membuat Mahen bingung sendiri. "Kak, nangisnya udahan, dong," tutur Mahen. Namun, ia seperti tak dianggap.

Setelah menunggu puluhan menit, pintu kamar itu pun dibuka oleh sosok lelaki yang Dara tunggu kehadirannya. "Nono?" Dara langsung berlari menghampiri Dino dan memeluknya erat.

Menangis tanpa henti. Dara menumpahkan air matanya di dalam pelukan Dino. Lelaki itu menarik sudut bibirnya. "Udah, Ra!" kata Dino, dengan lembut.

.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!