NovelToon NovelToon
Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Dia Bukan Yang Terbaik Tapi Garis Waktu Tidak Dapat Menghapusnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: S. Sage

Keyra Anandita telah hidup di tahun terakhir SMA-nya sebanyak puluhan kali. Setiap kali ia berhasil mendapatkan nilai sempurna, beasiswa impian, dan pacar “terbaik”, dunia justru berakhir dan waktu kembali terulang dari awal.

Di loop ke-45, Keyra memutuskan berhenti mengejar kesempurnaan. Keputusan itu membawanya pada Raka Mahendra, cowok berisik yang selalu melanggar aturan—dan satu-satunya orang yang tampaknya menyadari bahwa waktu mereka tidak berjalan normal.
Bersama Raka, Keyra mulai menyelidiki rahasia di balik pengulangan waktu, menemukan bahwa dunia mereka mungkin bukan nyata, dan bahwa takdir tidak selalu memilih orang yang paling sempurna.

Dalam perjalanan penuh misteri, humor, dan cinta yang tumbuh di tengah kekacauan waktu, Keyra harus menentukan satu hal: apakah ia ingin hidup dalam garis waktu yang sempurna, atau memilih satu orang yang tidak pernah seharusnya menjadi bagian dari takdirnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Suara bel masuk sekolah berbunyi, namun kali ini ada yang salah. Nadanya bukan "tet-tet-tet" yang cempreng dan memekakkan telinga seperti biasa. Bunyi itu terdengar meliuk, merendah seperti kaset pita yang kusut, lalu terputus dengan suara *screech* statis yang menyakitkan.

Keyra refleks menutup telinganya. "Lo denger itu?"

Raka, yang baru saja hendak menyeruput sisa kuah bakso terakhirnya, mengernyit. "Speaker sekolah rusak lagi. Paling kabelnya digigitin tikus gudang. Udah, ayo cabut. Gue nggak mau Pak Bambang ngunci pintu kelas sebelum gue sempet nyalin PR lo."

Mereka beranjak dari bangku kantin. Namun, baru dua langkah mereka meninggalkan meja, hawa dingin yang tidak wajar menyergap tengkuk Keyra. Bukan dinginnya AC perpustakaan yang nyaman, melainkan dingin yang menusuk tulang, seolah pintu kulkas raksasa baru saja dibuka tepat di depan wajah mereka.

"Anjir, dingin banget," umpat Raka, menggosok lengan seragamnya yang pendek. "Perasaan tadi panasnya kayak neraka bocor. Kenapa tiba-tiba jadi kutub utara begini?"

Keyra mendongak, menatap ventilasi kantin. Tidak ada AC di sini, hanya kipas angin gantung yang berputar malas. Tapi anehnya, baling-baling kipas itu berputar terbalik. Dan bukan hanya terbalik, sesekali putarannya tersendat, seperti video yang sedang *buffering*.

"Ka..." Keyra menunjuk kipas itu, suaranya bergetar. "Liat kipasnya."

Raka mengikuti arah telunjuk Keyra. Matanya menyipit. "Rusak tuh. Udah gue bilang, sekolah ini butuh renovasi, bukan cuma nambahin CCTV buat nangkep yang telat."

"Bukan rusak, Raka. Itu... *glitch*."

Sebelum Raka sempat membantah, keributan terjadi di arah pintu keluar kantin yang menuju lapangan utama. Murid-murid yang tadinya berjalan santai kini berhenti, menunjuk ke langit sambil berteriak heboh. Suara mereka terdengar tumpang tindih, gaungnya aneh, seakan-akan ada dua lapisan suara yang keluar dari satu mulut.

Keyra dan Raka bergegas keluar. Pemandangan yang menyambut mereka di lapangan basket membuat napas Keyra tercekat.

Jakarta, kota metropolitan yang terkenal dengan polusi dan matahari yang menyengat, kini berwarna putih.

Butiran-butiran putih lembut jatuh dari langit yang berwarna abu-abu pekat—bukan abu-abu mendung hujan, melainkan abu-abu statis seperti layar televisi yang kehilangan sinyal. Butiran itu turun perlahan, menempel di aspal lapangan basket yang panas, mendesis sejenak sebelum menumpuk.

"Salju?" gumam Raka, nada suaranya kehilangan sarkasme biasanya. Dia mengulurkan tangan. Sebuah butiran mendarat di telapak tangannya yang kasar, tidak meleleh menjadi air, melainkan berkedip sebentar lalu menghilang seperti piksel yang mati. "Ini... apa-apan?"

"Garis waktunya rusak," bisik Keyra, matanya liar menyapu sekeliling. "Ini bukan sekadar anomali cuaca. Raka, kita harus pergi."

"Pergi ke mana? Salju turun di Jakarta, Key! Ini masuk berita nasional! Kita harus—"

Ucapan Raka terpotong ketika seorang siswi kelas sepuluh yang berlari kegirangan di tengah lapangan tiba-tiba berhenti. Bukan berhenti karena lelah, tapi *freeze*. Tubuhnya kaku dalam pose berlari, satu kaki terangkat di udara. Tidak bergerak, tidak bernapas. Lalu, dalam sekejap mata, siswi itu *teleport* dua meter ke belakang, mengulangi gerakan larinya, berhenti lagi, dan mundur lagi. Seperti rekaman yang rusak.

*Looping*.

Kepanikan yang sebenarnya mulai menjalar. Bukan kepanikan karena bencana alam, tapi ketakutan purba saat menyadari realitas di sekitar mereka palsu. Beberapa murid mulai berteriak histeris, sementara yang lain—mereka yang mungkin hanya 'figuran' dalam garis waktu ini—hanya berdiri diam dengan wajah kosong, menatap langit tanpa ekspresi.

"Key, itu orang kenapa?!" Raka mundur selangkah, menarik Keyra agar berlindung di balik punggungnya. Insting berandalannya keluar, siap menghajar apa pun yang berbahaya, meskipun dia tidak tahu bagaimana cara memukul 'kerusakan realitas'.

"Julian," desis Keyra. Dia tahu siapa yang bertanggung jawab, atau setidaknya, siapa yang tahu apa yang sedang terjadi.

Seolah dipanggil, sosok jangkung itu muncul dari balik koridor kelas XII. Julian tidak memakai seragam dengan rapi seperti biasa. Dasinya miring, rambutnya acak-acakan, dan wajahnya pucat pasi. Dia berjalan cepat menembus kerumunan murid yang sedang *glitch*, tidak peduli bahunya menabrak siapa pun.

Saat Julian melihat Keyra dan Raka, dia tidak tersenyum sinis. Matanya memancarkan ketakutan murni.

"Kalian harusnya nggak di sini!" teriak Julian, suaranya terdengar ganda, seperti ada gema logam yang menyertainya. "Gue udah bilang jangan ubah variabel kecil!"

"Lo yang ngatur semua ini, 'kan?!" Raka maju, mencengkeram kerah kemeja Julian. "Jelasin kenapa ada salju di Jakarta dan kenapa adek kelas gue jalannya mundur-mundur kayak undur-undur?!"

Julian menepis tangan Raka kasar. "Lepasin, bodoh! Ini bukan ulah gue! Ini *collapse*! Semesta menolak keberadaan Keyra di titik waktu ini karena dia seharusnya..." Julian menelan ludah, menatap Keyra. "...karena ingatan lo tentang masa depan terlalu detail. Beban datanya terlalu berat buat disangga tahun ini."

*KRETAK.*

Suara retakan keras terdengar dari atas. Bukan petir. Langit benar-benar retak. Garis hitam zigzag muncul di udara kosong di atas tiang bendera, memperlihatkan kehampaan ungu gelap di baliknya.

Salju turun semakin deras, kini bercampur dengan hujan piksel berwarna-warni. Suara statis semakin bising, membuat telinga berdengung sakit.

"Sistemnya mulai menghapus area ini untuk *reset*," kata Julian cepat, dia melihat jam tangan mahalnya yang jarumnya berputar gila-gilaan berlawanan arah jarum jam. "Kalau kita tetap di sini saat *render*-nya gagal, kita bakal kehapus sama kayak file *corrupt*."

"Bahasa manusia, Julian!" bentak Raka, meski tangannya kini menggenggam pergelangan tangan Keyra erat sekali, sampai memutih.

"LARI!" Julian berteriak, lalu berbalik arah menuju gerbang belakang sekolah.

Keyra tidak perlu disuruh dua kali. Dia menarik Raka. "Ikutin dia, Ka!"

Mereka berlari membelah lapangan yang kini semakin kacau. Pohon mangga di dekat pos satpam berkedip-kedip, berganti wujud antara pohon besar, bibit kecil, dan tunggul mati dalam hitungan detik. Aspal di bawah kaki mereka terasa tidak stabil, kadang keras, kadang lunak seperti lumpur isap.

"Awas!" Raka menyentak tubuh Keyra ke samping tepat saat sebuah tiang basket di depan mereka lenyap begitu saja, menyisakan lubang hitam menganga di tanah.

"Jangan berhenti!" teriak Keyra, napasnya memburu, uap putih keluar dari mulutnya karena suhu yang kini mungkin sudah di bawah nol derajat.

Mereka menyusul Julian di area parkir belakang. Motor-motor di sana sebagian besar sudah kehilangan tekstur, tampak seperti model 3D abu-abu yang belum selesai diwarnai.

"Julian! Ke mana?!" tanya Keyra.

"Perpus Kota!" jawab Julian tanpa menoleh. "Titik jangkar waktunya paling kuat di sana karena arsip sejarah! Sekolah ini zona merah, terlalu banyak variabel emosi remaja yang nggak stabil!"

Raka langsung melompat ke atas motor Ninjanya—satu-satunya benda di parkiran yang terlihat masih solid dan berwarna tajam. Mungkin karena Raka sangat menyayangi motor itu, eksistensinya dipertahankan oleh ikatan emosional pemiliknya.

"Naik!" perintah Raka pada Keyra. Dia menoleh ke Julian. "Lo punya kendaraan nggak, Tuan Penjelajah Waktu?"

Julian menunjuk mobil sedan mewah miliknya yang bannya separuh tenggelam dalam aspal yang mencair menjadi kode biner. "Sialan," umpatnya.

"Naik di belakang Keyra! Cepetan, gue nggak mau bonceng cowok sebenernya, tapi darurat!" Raka menyalakan mesin. Suara knalpotnya meraung, melawan suara gemuruh langit yang runtuh.

Julian, dengan harga diri yang sepertinya sudah dia buang bersama logika fisika hari ini, melompat naik ke jok belakang, membuat posisi mereka berhimpitan bertiga.

"Pegangan!" Raka tancap gas.

Motor itu melesat keluar dari gerbang sekolah tepat saat gedung utama SMA mereka mulai terdistorsi, meliuk seperti lukisan cat minyak yang terkena air, lalu meledak tanpa suara menjadi jutaan kubus cahaya.

Di jalan raya, kekacauan lebih parah. Mobil-mobil berjalan menembus satu sama lain. Lampu lalu lintas menyala merah-kuning-hijau bersamaan. Salju menumpuk di kap mobil, jalanan licin. Tapi Raka mengendarai motornya seperti orang kesurupan, menyalip di antara celah realitas yang masih utuh.

"Ke kiri, Ka! Jalan layang di depan putus!" teriak Julian dari belakang, menunjuk *flyover* yang ujungnya buntu, langsung menuju kehampaan putih.

Raka membanting setang ke kiri, ban motor berdecit ngeri di atas aspal beku. Keyra memeluk pinggang Raka erat-erat, membenamkan wajahnya di punggung cowok itu. Di tengah kehancuran dunia dan dingin yang membekukan ini, punggung Raka adalah satu-satunya hal yang terasa nyata dan hangat.

"Gue nggak bakal biarin lo kehapus, Key!" teriak Raka melawan angin. "Mau langit runtuh atau kiamat digital, lo tetep harus ngerjain PR Fisika lo besok!"

Keyra ingin tertawa, tapi air matanya menetes, langsung membeku di pipinya. Raka benar. Dia tidak butuh pangeran sempurna. Dia butuh orang gila yang berani mengebut di tengah badai salju Jakarta demi menyelamatkannya dari takdir yang rusak.

1
Tri Rahayuningsih
terjebak masa lalu yg tak ada habisnya...
Lili Aksara
Semangat selalu, kak. Jujur cerita ini unik sih
Lili Aksara
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!