Harap bijak dalam memilih bacaan
Iblis Cinta Satu Malam, begitulah julukan yang diberikan oleh Rania pada pria playboy bernama Kaaran Dirga tersebut.
Dengan kekuasaannya, Kaaran bisa meniduri wanita mana pun yang dia mau dan dia tunjuk, tapi tidak dengan Rania. Karena penolakannya, gadis itu terpaksa harus berurusan dengan Kaaran dan para pengawalnya. Sampai-sampai Rania harus rela kehilangan pekerjaan yang sangat dia butuhkan karena gadis itu harus terus bersembunyi dan tidak ingin ditangkap oleh orang suruhan Kaaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Transfer Energi
Sesampaiku di toilet, ku lihat dia masih memuntahkan isi perutnya di wastafel. Aku jadi kasihan melihatnya.
"Uwek ...."
"Kamu ... kamu tidak apa-apa, 'kan?" ucapku, memberanikan diri untuk bertanya padanya, meski pun sebenarnya aku merasa sedikit canggung mengajaknya bicara duluan.
Dia tidak menjawab pertanyaanku, dan malah sibuk mengeluarkan sesuatu melalui mulutnya. Dari tekstur yang aku lihat, yang keluar hanya air. Apa jangan-jangan, dia tidak pernah makan apa pun dan hanya minum air putih saja?
Karena benar-benar kasihan melihatnya, aku pun membantu untuk memijat tengkuknya. Awalnya aku sedikit ragu, tapi akhirnya aku membantunya juga.
Setelah dia selesai dengan aktivitasnya itu, aku pun menanyakan bagaimana perasaannya.
"Aku sedang tidak baik-baik saja," jawabnya. Saat ini dia memang terlihat sangat lemas dan pucat.
"Mm ... aku ... aku minta maaf soal yang tadi," ucapku, tapi dia tidak menjawab permintaan maafku. Dia malah terdiam sambil memijat pelan pelipisnya, mungkin dia merasakan pusing di kepalanya, atau mungkin dia marah karena aku memperlakukannya seperti tadi.
"Mm ... apa kamu ... mau aku panggilkan dokter?" tanyaku padanya. Sejujurnya aku merasa bersalah padanya. Gara-gara aku, dia jadi seperti ini.
Sebelum menjawab pertanyaanku, terlebih dahulu dia menurunkan tangan yang dia pakai untuk memijat kedua sisi pelipisnya barusan.
"Tidak perlu, karena obat untuk menyembuhkanku tidak dimiliki oleh dokter," jawabnya, sambil menatapku dengan lekat dan tersenyum evil.
"Ap-apa maksudmu?" tanyaku tidak mengerti.
Aku mulai berjalan mundur saat melihatnya berjalan mendekatiku, dan dalam sekejap sebelah tangannya langsung melingkar di pinggangku dan memelukku dengan erat.
"Ka-kamu mau apa?" tanyaku, sedikit gugup saat melihat wajahnya hanya berjarak beberapa senti saja di depan wajahku.
"Tolong beri aku sedikit energi."
Cup.
...💕 ...
...💕 ...
Napasku terengah-engah saat dia melepaskan pang******. Jantungku berdetak tidak menentu. Entah mengapa ciu*an kali ini terasa sangat berbeda dari sebelum-sebelumnya.
"Terima kasih. Sekarang aku sudah merasa lebih baik," ucapnya, sambil tersenyum lalu melepaskan kedua tangannya yang melingkar di pinggangku.
...*** ...
Karena dia sedang tidak enak badan, ibu pun menahannya untuk bermalam di rumah kami. Dia dan asisten Roy tidur di kamar tamu lantai bawah.
"Nia, tolong bawakan teh herbal dan sup ayam ini untuk nak Kaaran, karena kata nak Roy, dia belum makan apa-apa setelah pulang dari Jerman," ucap ibu.
"Maksud Ibu?"
"Loh, kamu ini bagaimana sih, Nia? Memangnya kamu tidak tahu kalau sepulang dari luar negeri, mereka langsung menuju ke sini?"
Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. "Maaf, Bu, Nia lupa."
Bukannya lupa, aku memang tidak tahu. Aku hanya ingin menutupi agar ibu tidak curiga kalau kami sebenarnya tidak berpacaran seperti yang beliau ketahui.
"Ya sudah, bawa sana."
"Baik, Bu."
Aku pun mengangkat nampan berisi sup ayam dan teh herbal tadi menuju kamar tamu. Begitu sampai di depan pintu, ku lihat pintunya sedikit terbuka. Samar-samar aku mendengar dia dan asisten Roy berbicara. Aku tidak langsung masuk dan memilih menguping pembicaraan mereka sebentar.
"Tuan, katakan saja, Anda ingin makan apa? Saya akan memesankannya untuk Anda sekarang juga."
"Sudah aku bilang, aku tidak mau Roy! Harus berapa kali sih aku bilang?! Aku tidak mau makan, aku tidak berselera!" Dari nada bicaranya, dia terdengar seperti sedang memarahi asisten Roy. Mungkin dia tidak suka terus-terusan dibujuk seperti anak kecil.
"Tapi Tuan, Anda belum makan apa-apa dari kemarin, Anda bisa jatuh sakit kalau seperti ini terus."
"Roy! Aku bilang aku tidak mau! Kamu mau aku pecat?! Hah?!" teriaknya. Kali ini suaranya terdengar lebih keras dari sebelumnya.
Cih, tidak pernah makan dari kemarin tapi dia masih punya banyak tenaga untuk marah-marah. Dasar. Batinku, sambil tersenyum tipis.
"Baiklah Tuan, kalau Anda tidak mau makan, saya juga tidak bisa memaksa. Tapi izinkan saya memanggil dokter untuk memasangkan infus untuk An-"
"ROY!!! Bisa diam tidak?!" bentaknya lagi.
"Ekhem." Aku berdehem sambil memasuki kamar, karena kalau tidak, asisten Roy pasti akan terus dia marahi habis-habisan. Padahal, niat asisten pribadinya itu baik. Dia saja yang kepala batu dan kekanak-kanakan.
"Tuan, karena Nona Rania sudah ada di sini, lebih baik saya pamit untuk beristirahat di kamar sebelah. Kalau Anda perlu apa-apa, cepat hubungi saya." Asisten Roy langsung pamit hendak keluar dari kamar saat melihat kedatanganku.
Dia tidak menjawab ucapan asistennya itu, justru malah mengusirnya dengan gerakan tangan.
"Nona, saya pamit untuk beristirahat. Saya titip Tuan Kaaran, tolong bujuk dia untuk makan," ucap asisten Roy sebelum akhirnya dia keluar kamar, dan aku hanya menjawab ucapannya itu dengan sekali anggukan.
Aku berjalan mendekatinya, lalu meletakkan makanan yang aku bawa dia atas meja nakas tepat di samping tempat tidur.
Sesaat kami sama-sama terdiam, namun akhirnya aku yang memilih buka suara duluan.
"Mm ... ibu membuat sup ayam dan teh herbal untukmu. Sebaiknya kamu makan selagi hangat," ucapku. Entah mengapa saat berdekatan dengannya, aku selalu merasa canggung dan deg-degan.
Dia mendongak, lalu tersenyum sembari menatapku. "Aku baru mau makan kalau kamu yang menyuapi."
Ck, manja sekali. Karena tidak punya pilihan lain, aku pun segera duduk di pinggir tempat tidur lalu meraih mangkuk sup tadi dan bersiap untuk menyuapinya.
"Makanlah," ucapku seraya menyodorkan sendok berisi sup ke mulutnya."
B e r s a m b u n g ...
...__________________________________________...
...Guys! Kira-kira pembaca di sini ada yang penasaran gak dengan cerita dari sudut pandang Kaaran? Kalau ada, nanti akan aku bikinkan cerita tersebut setelah PoV Rania ini tamat. Dilanjutkan disini atau dibuat novel baru tergantung dari reaksi dan banyaknya jumlah pembaca.🙂...
...Jangan bosan-bosan kasih dukungan ya, biar aku tetap semangat nulisnya.😉😁...