NovelToon NovelToon
The Last Encore: Star Blood Universe

The Last Encore: Star Blood Universe

Status: sedang berlangsung
Genre:Vampir / Teen / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:452
Nilai: 5
Nama Author: Kde_Noirsz

"Di bawah lampu panggung, mereka adalah bintang. Di bawah cahaya bulan, mereka adalah pemburu."

Seoul, 2025. Industri K-Pop telah berubah menjadi lebih dari sekadar hiburan. Di balik gemerlap konser megah yang memenuhi stadion, sebuah dimensi kegelapan bernama The Void mulai merayap keluar, mengincar energi dari jutaan mimpi manusia.

Wonyoung (IVE), yang dikenal dunia sebagai Nation’s It-Girl, menyimpan beban berat di pundaknya. Sebagai pewaris klan Star Enchanter, setiap senyum dan gerakannya di atas panggung adalah segel sihir untuk melindungi penggemarnya. Namun, kekuatan cahayanya mulai tidak stabil sejak ancaman The Void menguat.

Di sisi lain, Sunghoon (ENHYPEN), sang Ice Prince yang dingin dan perfeksionis, bergerak dalam senyap sebagai Shadow Vanguard. Bersama timnya, ia membasmi monster dari balik bayangan panggung, memastikan tidak ada satu pun nyawa yang hilang saat musik berkumandang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 : The Human Ordinary

Satu tahun setelah pertempuran di Samudra Atlantik, kehidupan di Seoul kembali pada porosnya yang paling membosankan sekaligus paling berharga. Bagi Wonyoung, pagi hari bukan lagi dimulai dengan meditasi energi bintang untuk menekan rasa haus darah, melainkan dengan suara alarm ponsel yang menjengkelkan.

"Eonni, bangun! Kita punya jadwal latihan tari pukul sembilan!" teriak Leeseo sambil melompat ke atas tempat tidur Wonyoung.

Wonyoung menggeram kecil, menarik selimut hingga menutupi kepalanya. "Lima menit lagi, Leeseo-ya... Semalam aku menonton drama sampai jam dua pagi."

Itulah realitas barunya. Sebagai manusia, Wonyoung menemukan hobi baru yang sangat manusiawi: begadang menonton drama romantis sambil memakan camilan pedas. Akibatnya, ia sering terbangun dengan wajah sedikit sembab sesuatu yang dulu tidak mungkin terjadi pada seorang vampir.

"Gaeul-eonni sudah menyiapkan sarapan! Ada sup pereda mabuk karena semalam kalian makan ramyun terlalu banyak!" tambah Leeseo lagi.

Wonyoung akhirnya menyerah. Ia duduk dengan rambut berantakan. Ia menatap meja riasnya. Di sana, di dalam sebuah kotak kaca kecil, terdapat sisa-sisa piringan hitam yang kini benar-benar menjadi benda mati. Di sampingnya ada sebuah termometer digital. Wonyoung mengambilnya dan mengecek suhu tubuhnya.

36,5°C.

Wonyoung tersenyum. Angka itu adalah kemenangannya setiap hari. Suhu tubuh yang hangat, detak jantung yang stabil, dan rasa lapar yang nyata. Ia berjalan ke dapur, mencium aroma nasi putih yang mengepul dan suara gorengan telur.

Di asrama ENHYPEN, suasananya jauh lebih kacau. Jay sedang berdebat dengan Jake tentang siapa yang menghabiskan susu di kulkas. Ni-ki sedang asyik bermain game konsol dengan volume keras, sementara Sunghoon baru saja keluar dari kamar mandi, mengenakan handuk di lehernya.

Sunghoon duduk di meja makan, mengambil secangkir kopi hitam. Ia menatap tangannya yang memegang cangkir. Tidak ada lagi pendaran es yang keluar dari jemarinya. Tangannya kini terasa kasar karena sering digunakan untuk memotong kayu di halaman belakang markas lama mereka sebuah hobi baru untuk melatih kekuatan otot manusia.

"Hyung, Wonyoung-ssi mengirim pesan. Mereka akan sampai di gedung latihan lima belas menit lagi," ucap Sunoo sambil menunjukkan layar ponselnya.

Sunghoon segera menghabiskan kopinya. "Ayo berangkat. Jangan sampai kita terlambat lagi seperti minggu lalu karena Ni-ki tidak mau berhenti bermain game."

Saat mereka melangkah keluar asrama, matahari pagi menyinari wajah mereka. Dulu, sinar ini adalah musuh mematikan. Sekarang, mereka membiarkan cahaya itu meresap ke kulit, merasakan vitamin D yang menguatkan tulang fana mereka. Mereka masuk ke dalam mobil van sebagai idola biasa, membawa tas berisi sepatu latihan dan botol air mineral bukan lagi senjata karbon atau jimat pelindung.

Ruang latihan di gedung agensi baru terasa sangat panas. Kipas angin besar berputar di pojok ruangan, namun tidak cukup untuk menghalau hawa gerah dari enam belas orang yang bergerak secara intens. IVE dan ENHYPEN sedang menyiapkan penampilan spesial untuk merayakan satu tahun "The Human Encore".

"Satu, dua, tiga, dan... putar!" teriak koreografer.

GEDEBUK!

Wonyoung tersandung kakinya sendiri saat mencoba melakukan putaran cepat. Ia jatuh terduduk di lantai kayu yang keras.

"Wonyoung-ah!" Sunghoon langsung berlari dari barisan ENHYPEN dan berlutut di sampingnya. "Kau tidak apa-apa?"

Wonyoung meringis, memegang lututnya yang kini lecet dan mengeluarkan sedikit darah. Merah. Cerah. Dan rasanya... sakit sekali.

"Aw... ini benar-benar perih," bisik Wonyoung. Air mata kecil menggenang di matanya. Dulu, luka seperti ini akan hilang dalam hitungan detik. Sekarang, ia harus merasakan sensasi berdenyut yang bertahan lama.

"Biar aku lihat," Sunghoon mengambil kotak P3K dari pinggir ruangan. Dengan sangat telaten, ia membersihkan luka Wonyoung menggunakan cairan antiseptik.

"Sakit, pelan-pelan!" keluh Wonyoung sambil mencubit lengan Sunghoon.

"Ini namanya menjadi manusia, Tuan Putri," goda Sunghoon sambil meniup luka itu pelan agar rasa perihnya berkurang. "Kau harus belajar bahwa tubuhmu tidak lagi terbuat dari cahaya bintang, tapi dari daging yang rapuh."

Para member lain hanya bisa menggelengkan kepala melihat pemandangan itu. Jay mendekati mereka sambil memberikan botol air dingin. "Jangan drama, kalian berdua. Aku dulu tertindih lampu seberat 200 kilo saja masih bisa berdiri."

"Itu karena kau punya otot besi, Jay-hyung," timpal Ni-ki sambil tertawa.

Setelah luka Wonyoung dibalut plester bergambar kartun (pilihan Ni-ki), latihan dilanjutkan. Mereka berkeringat hingga baju mereka basah kuyup. Tidak ada lagi "keanggunan abadi". Mereka terengah-engah, wajah mereka memerah karena kelelahan, dan otot mereka bergetar hebat.

Namun, di tengah kelelahan itu, mereka tertawa lepas. Rasa lelah ini adalah bukti bahwa mereka telah bekerja keras. Setiap tetes keringat adalah upeti bagi kehidupan baru mereka. Saat istirahat makan siang, mereka memesan ayam goreng dan pizza dalam jumlah besar.

Wonyoung memakan potongan ayamnya dengan penuh gairah. "Aku bersumpah, rasa ayam goreng ini jauh lebih enak daripada energi Void manapun di alam semesta."

"Setuju," sahut Jake sambil mengunyah pizzanya. "Dulu kita hidup untuk bertahan. Sekarang kita hidup untuk menikmati."

Di sela-sela makan siang itu, mereka membicarakan hal-hal sepele tentang mode musim dingin yang akan datang, tentang liburan keluarga, dan tentang keinginan mereka untuk mengadopsi seekor anjing. Tidak ada pembicaraan tentang klan, perang, atau akhir dunia. Mereka benar-benar telah berhasil "lulus" dari takdir mereka.

Sore harinya, setelah latihan selesai, Sunghoon mengajak Wonyoung pergi ke suatu tempat yang spesial. Mereka berkendara ke pinggiran kota, menuju sebuah bukit kecil di mana sebuah pohon pinus tua berdiri kokoh. Pohon yang sama yang menjadi saksi bisu janji mereka 300 tahun yang lalu.

Dulu, tempat ini terasa dingin dan penuh dengan bayangan ketakutan akan masa depan. Namun sekarang, rumput di bawah pohon itu terasa empuk dan hangat oleh sisa matahari terbenam.

"Masih ingat tempat ini?" tanya Sunghoon sambil membentangkan kain alas untuk mereka duduk.

"Bagaimana aku bisa lupa? Di sini kau berjanji untuk menjagaku, tapi kemudian kau malah membekukan dirimu sendiri selama berabad-abad," balas Wonyoung sambil menyandarkan kepalanya di bahu Sunghoon.

Sunghoon tertawa kecil. Ia mengeluarkan sebuah kamera polaroid dari tasnya dan menjepret wajah Wonyoung yang diterpa cahaya senja. "Dulu kita tidak punya foto. Memori kita hanya disimpan dalam piringan perak yang menyakitkan. Sekarang, aku ingin menyimpan memori kita dalam bentuk yang bisa aku pegang."

Wonyoung melihat hasil foto itu. Ia terlihat sedikit berantakan setelah latihan, dengan plester di lututnya, tapi ia terlihat sangat bahagia.

"Sunghoon-ssi," panggil Wonyoung. "Apa kau pernah merindukan kekuatanmu? Maksudku... kemampuan untuk tidak merasakan sakit atau kemampuan untuk bergerak secepat kilat?"

Sunghoon terdiam sejenak, menatap horizon kota Seoul yang mulai menyalakan lampunya. "Kadang-kadang, saat aku melihat monster dalam film, aku berpikir betapa mudahnya jika kita masih punya kekuatan. Tapi kemudian aku melihatmu. Aku melihatmu bisa merasakan sakit, bisa merasa lapar, dan bisa menangis."

Sunghoon menggenggam tangan Wonyoung, merasakan denyut nadi di pergelangan tangannya. "Kekuatan sejati bukan tentang tidak bisa terluka. Tapi tentang tetap berani meskipun kita tahu kita bisa terluka. Aku lebih suka menjadi manusia yang rapuh bersamamu daripada menjadi abadi sendirian."

Wonyoung tersenyum, lalu ia merogoh tasnya dan mengeluarkan dua buah es krim batang yang sudah mulai agak lembek. "Untuk merayakan satu tahun kita menjadi manusia yang tidak berguna di medan perang, tapi sangat berguna di hati masing-masing."

Mereka memakan es krim itu sambil menonton matahari terbenam sepenuhnya. Di kejauhan, mereka bisa mendengar suara sirine ambulan dan klakson mobil suara-suara yang menandakan bahwa kehidupan terus berjalan.

Piringan emas di markas mungkin sudah mati, namun di bawah pohon pinus itu, sebuah melodi baru sedang ditulis. Sebuah melodi tanpa lirik sihir, hanya diiringi oleh suara napas dua orang manusia yang akhirnya menemukan rumah mereka.

"Mari kita hidup panjang, Sunghoon-ssi," bisik Wonyoung.

"Sampai rambut kita memutih, Wonyoung-ah," jawab Sunghoon.

Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka, mereka tahu bahwa janji itu bukan lagi sekadar sumpah klan yang mengikat, melainkan sebuah kemungkinan indah yang akan mereka jalani hari demi hari.

Meskipun dunia sudah kembali normal, agensi baru yang menaungi IVE dan ENHYPEN memutuskan untuk membangun sebuah museum kecil di lantai bawah tanah gedung mereka. Secara resmi, museum ini adalah arsip perjalanan karier dua grup tersebut. Namun, di bagian paling ujung, di balik pintu baja yang hanya bisa diakses oleh enam belas member dan Han, tersimpan sisa-sisa peradaban yang seharusnya tidak pernah ada.

Suatu malam, Jake dan Yujin berada di sana. Jake sedang melakukan perawatan rutin pada unit penyimpanan Silver Vinyl. Walaupun piringan itu sudah "mati", ia tetaplah artefak yang sangat sensitif.

"Kau masih mencoba mencari sisa energinya?" tanya Yujin sambil menyandarkan tubuhnya pada rak arsip.

"Bukan mencari energi, Yujin-ah. Aku hanya memastikan tidak ada frekuensi liar yang masuk dari luar," jawab Jake tanpa menoleh dari layar monitornya. "Dunia luar mungkin sudah tenang, tapi kita tidak pernah tahu apakah ada orang lain seperti Mr. Oh yang masih menyimpan fragmen Void."

Tiba-tiba, monitor Jake menangkap sebuah gelombang aneh. Bukan dari piringan perak, melainkan dari arah piringan hitam biasa yang merupakan sisa dari The Golden Record. Permukaannya yang tadinya polos mendadak menampilkan garis-garis tipis yang membentuk pola frekuensi suara.

"Jake, lihat!" Yujin menunjuk ke arah piringan itu.

Suara desis halus keluar dari speaker laboratorium. Bukan suara monster, melainkan potongan-potongan suara dari masa depan. Suara tawa penonton di stadion yang belum dibangun, suara tangisan bayi, dan suara gemuruh air laut.

"Ini... ini bukan memori," bisik Jake, tangannya gemetar. "Ini adalah gema. Piringan ini menyerap harapan manusia saat pertempuran terakhir, dan sekarang ia memantulkannya kembali sebagai 'kemungkinan'."

Yujin menyentuh permukaan piringan itu. Seketika, ia melihat sebuah visi singkat Ia melihat dirinya sendiri sepuluh tahun dari sekarang, berdiri di atas panggung sebagai produser musik, membimbing generasi baru Hunter-Idol yang tidak perlu bertarung dengan pedang, melainkan dengan pesan moral dalam lagu mereka.

"Jadi, perjuangan kita tidak benar-benar selesai," ucap Yujin dengan senyum haru. "Tugas kita sekarang bukan lagi membasmi kegelapan, tapi memastikan cahaya yang kita tinggalkan ini tetap menyala melalui musik kita."

Untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka, manajemen memberikan libur total selama satu minggu tanpa kamera, tanpa staf, dan tanpa jadwal tersembunyi. Mereka memilih Pulau Jeju sebagai tempat pelarian.

Di sebuah villa kayu yang menghadap ke tebing pantai, enam belas orang itu benar-benar menjadi manusia seutuhnya. Tidak ada kostum panggung; hanya kaus oblong, celana pendek, dan sandal jepit.

Jay dan Heeseung bertugas sebagai koki utama di halaman belakang, memanggang daging babi hitam khas Jeju yang aromanya memenuhi udara laut. Sunoo dan Leeseo sibuk berebut pelampung di kolam renang, sementara Ni-ki mencoba mengajari Gaeul cara berselancar di ombak yang kecil.

Wonyoung duduk di teras kayu, memegang sebuah buku novel yang belum sempat ia selesaikan. Ia menatap Sunghoon yang sedang mencoba menyalakan api panggangan dengan cara manual tanpa kekuatan es atau korek api ajaib, hanya dengan kayu dan batu pemantik.

"Butuh bantuan, Tuan Pemburu?" goda Wonyoung sambil menyesap jus jeruk dinginnya.

"Jangan mengejekku. Menyalakan api secara manual adalah ujian kejantanan manusia," jawab Sunghoon dengan wajah yang coreng-moreng oleh arang.

Akhirnya, api menyala. Sorakan kemenangan terdengar dari seluruh member. Mereka duduk melingkar di atas tikar besar di bawah langit malam Jeju yang bertabur bintang. Tidak ada lagi ketakutan akan bintang-bintang itu sebagai sumber kekuatan haus darah. Kini, bintang-bintang itu hanyalah dekorasi indah di atap dunia.

"Mari kita buat janji baru," ucap Jay sambil mengangkat gelas sodanya. "Bukan janji klan, bukan janji darah. Tapi janji bahwa sepuluh, dua puluh, atau lima puluh tahun dari sekarang, kita akan tetap berkumpul di pulau ini sebagai teman."

"Aku setuju," sahut Wonyoung. "Dan siapapun yang paling cepat keriput, dia yang harus membayar makan malamnya!"

Tawa pecah di tengah deburan ombak. Di momen itu, mereka menyadari bahwa kebahagiaan manusia itu sangat sederhana makanan enak, teman yang tulus, dan waktu yang tidak lagi mengejar mereka. Malam itu, mereka tidak tidur sebagai pahlawan, melainkan sebagai sekelompok pemuda-pemudi yang akhirnya memiliki masa muda yang selama ini dirampas dari mereka.

Di hari terakhir liburan mereka, Han memberikan sebuah ide, Menulis surat untuk diri mereka sendiri di masa depan dan menyimpannya di dalam sebuah kapsul waktu.

Wonyoung duduk sendirian di tepi pantai, membiarkan ombak kecil membasahi kakinya. Ia menulis dengan tinta biru di atas kertas yang sedikit beraroma lavender.

"Kepada Jang Wonyoung di masa depan," tulisnya. "Aku harap saat kau membaca ini, kau masih ingat rasa sakit di lututmu saat tersandung di ruang latihan. Aku harap kau masih ingat betapa manisnya es krim yang kau makan bersama Sunghoon di bawah pohon pinus. Jangan pernah lupakan bahwa kau pernah menjadi cahaya di tengah kegelapan, tapi lebih dari itu, jangan lupakan bahwa kau sangat dicintai karena kau adalah manusia."

Di sampingnya, Sunghoon menulis surat yang jauh lebih pendek namun dalam. "Untuk Sunghoon yang akan menua: Terima kasih telah memilih untuk menjadi fana. Luka-luka di tubuhmu adalah medali keberanianmu. Jaga dia, jaga Wonyoung, sampai detak jantung terakhirmu."

Satu per satu, member lain memasukkan surat mereka ke dalam kotak logam. Ni-ki memasukkan sepatu dansa pertamanya, Jake memasukkan sebuah chip memori kosong yang melambangkan kebebasan dari data Void, dan Leeseo memasukkan sebuah foto polaroid grup mereka yang tertawa di Jeju.

Mereka mengubur kapsul itu di sebuah koordinat rahasia di bawah pohon Camellia yang indah.

"Kapan kita akan membukanya?" tanya Sunoo.

"Saat dunia tidak lagi membutuhkan pahlawan, tapi hanya membutuhkan cerita tentang bagaimana cinta bisa mengubah segalanya," jawab Wonyoung sambil menggenggam tangan Sunghoon.

Saat mereka berjalan menuju bandara untuk kembali ke Seoul, mereka melihat sebuah papan iklan raksasa di jalan raya. Di sana ada foto mereka berenam belas, tersenyum lebar dengan slogan "IVE x ENHYPEN : THE HUMAN SYMPHONY GOES ON."

Mereka bukan lagi sekadar grup idola atau pemburu monster. Mereka adalah simbol harapan bahwa apapun masa lalumu, seberapa gelap pun asal-usulmu, kau selalu punya pilihan untuk menjadi manusia yang lebih baik di hari esok.

Dua tahun setelah peristiwa Atlantik, rutinitas sebagai idola papan atas dunia telah menjadi bagian alami dari napas mereka. Namun, bagi Sunghoon, ada satu hal yang tidak pernah berubah kebiasaannya untuk tetap berada di studio latihan paling lama, bahkan setelah lampu gedung mulai dipadamkan satu per satu.

Malam itu, Sunghoon duduk di lantai kayu studio, menatap pantulan dirinya di cermin besar. Ia tidak lagi melihat "Ice Prince" yang dingin dan tak tersentuh. Ia melihat seorang pria berusia awal dua puluhan dengan peluh yang membasahi kaosnya dan napas yang sedikit terengah.

Tiba-tiba, pintu studio terbuka pelan. Wonyoung masuk membawa dua gelas cokelat panas yang masih mengepul.

"Sudah kuduga kau ada di sini," ucap Wonyoung sambil duduk bersila di sampingnya. Ia menyerahkan satu gelas pada Sunghoon. "Kau sedang memikirkan apa? Wajahmu terlihat sangat serius."

"Aku hanya memikirkan tentang 'suara'," jawab Sunghoon setelah menyesap minumannya. "Tadi saat rekaman, aku menyadari sesuatu. Suara kita sekarang... terasa lebih dalam. Ada tekstur yang tidak kita miliki saat kita masih memiliki kekuatan klan. Seolah-olah setiap nada yang kita keluarkan membawa beban dari semua air mata dan tawa yang kita alami sebagai manusia."

Wonyoung tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Sunghoon. "Itu karena sekarang kita bernyanyi dengan 'jiwa', Hoon-ah. Dulu kita bernyanyi dengan 'energi'. Jiwa itu memiliki luka, dan luka itulah yang membuat musik kita terasa nyata bagi orang lain."

Di luar studio, di lorong yang sepi, Jake dan Heeseung lewat sambil membawa peralatan komposisi musik mereka. Mereka berhenti sejenak, mendengar percakapan lirih dari dalam studio.

"Kau dengar itu, Jake?" bisik Heeseung. "Mereka sedang membicarakan masa depan. Dulu, masa depan adalah sesuatu yang kita takuti karena kita pikir itu akan berakhir dengan kehancuran. Sekarang, masa depan adalah lagu yang belum kita tulis."

Jake mengangguk, menepuk pundak Heeseung. "Ayo kita selesaikan melodi baru itu. Aku ingin lagu selanjutnya bercerita tentang bagaimana rasanya bangun di pagi hari tanpa rasa takut."

Waktu terus berjalan, dan sebuah momen yang selama ini hanya menjadi mimpi di tengah pertempuran akhirnya tiba. Namun, ini bukan pernikahan yang disiarkan di seluruh dunia atau penuh dengan lampu kilat media.

Di sebuah kapel tua di pedesaan Prancis, tempat yang dulu pernah mereka bersihkan dari pengaruh The Void, sebuah upacara kecil diadakan. Hanya ada enam belas member, Han, dan beberapa staf terpercaya yang sudah seperti keluarga.

Sunghoon berdiri di depan altar, tangannya gemetar hebat. Ia pernah menghadapi monster raksasa tanpa berkedip, namun sekarang, melihat pintu kapel terbuka, jantungnya berdetak lebih kencang dari saat pertempuran di Atlantik.

Wonyoung melangkah masuk, mengenakan gaun putih sederhana dengan hiasan bunga melati segar di rambutnya. Tidak ada perhiasan sihir, tidak ada pendaran cahaya bintang. Ia hanya seorang wanita yang sedang berjalan menuju pria yang dicintainya.

Saat mereka berdiri berhadapan, Jay yang bertugas sebagai pendamping mempelai pria, berbisik kecil. "Jangan pingsan sekarang, Hoon. Ingat, kau manusia, kau tidak punya kekuatan regenerasi jika jatuh."

Sunghoon tertawa kecil, air mata mulai menggenang di matanya. Saat pendeta mengucapkan janji, Wonyoung menggenggam tangan Sunghoon. Tangan itu hangat, nyata, dan memiliki garis hidup yang kini sangat jelas.

"Aku menjanjikan hidupku padamu," ucap Sunghoon dengan suara bergetar. "Bukan untuk selamanya dalam keabadian yang dingin, tapi untuk setiap hari yang kita miliki, sampai napas terakhirku."

"Aku memilihmu," jawab Wonyoung. "Di setiap detik yang fana ini, aku memilih untuk mencintaimu."

Tidak ada ledakan cahaya ajaib saat mereka berciuman. Namun, di dalam hati setiap member yang menyaksikan, ada rasa syukur yang luar biasa. Mereka melihat puncak dari perjuangan mereka kemampuan untuk mencintai dan dicintai sebagai manusia biasa. Malam itu, mereka berdansa di bawah cahaya lilin, merayakan cinta yang berhasil menaklukkan takdir paling gelap sekalipun.

Tahun-tahun berlalu seperti lembaran buku yang dibalik dengan cepat. IVE dan ENHYPEN telah menjadi legenda dalam industri musik. Mereka akhirnya memutuskan untuk pensiun dari panggung besar dan fokus pada kehidupan pribadi serta membimbing talenta muda.

Suatu hari, di tahun 2050, seorang cucu dari salah satu staf agensi lama menemukan sebuah piringan hitam tua di gudang arsip. Piringan itu tampak biasa, namun saat diletakkan di atas pemutar, sebuah melodi yang sangat indah dan menenangkan keluar.

Di sebuah rumah nyaman di pinggiran kota, seorang pria tua dengan rambut perak duduk di kursi goyang di teras, memegang tangan seorang wanita tua yang masih memiliki binar kecantikan yang sama di matanya.

"Kau dengar itu, Wonyoung?" tanya pria itu, suaranya pelan namun penuh kasih.

"Itu lagu kita, Sunghoon-ssi," jawab Wonyoung sambil tersenyum, menyandarkan kepalanya yang kini berambut putih di bahu suaminya. "Lagu tentang bagaimana dua monster belajar menjadi manusia."

Di atas meja di samping mereka, terdapat sebuah foto polaroid yang sudah agak menguning. Foto enam belas pemuda dan pemudi yang sedang tertawa di Pulau Jeju puluhan tahun yang lalu. Meskipun banyak dari mereka yang sudah berpencar menjalani hidup masing-masing, ikatan yang mereka bangun di tengah darah dan keringat tidak pernah benar-benar putus.

Jake menjadi profesor di bidang teknologi suara, Jay memiliki restoran terkenal, Yujin adalah CEO agensi yang paling dihormati, dan Ni-ki dikenal sebagai maestro tari legendaris. Mereka semua menua dengan indah, membawa luka masa lalu sebagai kenangan yang berharga.

"Dunia sudah sangat damai sekarang," bisik Sunghoon.

"Karena kita meninggalkan melodi yang tepat untuk mereka pelajari," jawab Wonyoung.

Matahari terbenam di horizon, memberikan warna oranye keemasan yang sama seperti saat mereka berdiri di puncak Bukhansan dulu. Namun kali ini, tidak ada lagi pertempuran yang menunggu besok. Hanya ada ketenangan, cinta, dan sebuah kepastian bahwa meskipun raga mereka akan kembali ke tanah, kisah mereka The Human Symphony akan terus bergema di setiap detak jantung manusia yang berani mencintai di tengah kegelapan.

Piringan hitam di gudang arsip itu terus berputar, dan di bagian akhirnya, sebuah suara bisikan halus terdengar, seolah-olah angin yang membawanya.

"Terima kasih telah menjadi saksi perjalanan kami. Jadilah manusia yang berani, karena cinta adalah satu-satunya sihir yang benar-benar nyata."

Akhirnya, kisah epik Wonyoung, Sunghoon, dan seluruh member IVE x ENHYPEN telah sampai pada peristirahatan terakhirnya. Dari monster abadi menjadi manusia yang menua dengan indah, perjalanan ini adalah pengingat bahwa akhir yang fana seringkali lebih indah daripada keabadian yang hampa.

Like jika kalian merasa haru dengan akhir hidup mereka yang damai!

Komen "GOODBYE LEGENDS" sebagai penghormatan terakhir untuk tim Hunter kita!

Share seluruh rangkaian cerita ini jika kalian merasa terinspirasi oleh perjuangan mereka!

1
Ayu Nur Indah Kusumastuti
Semangat kak
Noirsz: semangat banget demi menghadirkan karya2 untuk para pembaca😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!