Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memahami Batas
“Sial…” batin seorang gadis di salah satu meja bangsawan. Tangannya mengepal di atas meja, kukunya hampir menekan kulit sendiri. Ia telah memastikan semuanya berjalan sesuai rencana, bisikan tentang asal-usul Lily disebarkan dengan rapi, menu khusus disiapkan dengan peralatan asing, etiket yang ia yakin akan mempermalukan seorang putri dari hutan.
Namun semua berakhir tanpa kekacauan, dan tawa sinis yang ia tunggu-tunggu. Kemarahan yang ia harapkan berubah menjadi pengakuan diam-diam dari para bangsawan. Rencana yang telah ia susun dengan teliti untuk menjatuhkan gadis hutan itu gagal total.
“Tenangkan dirimu, Jandice.” bisik ibunya, sambil mematahkan sepotong roti dan memakannya dengan tenang. Nada suaranya datar, berpengalaman, seolah kegagalan barusan hanyalah hal sepele.
“Aku sangat kesal, Mama.” kata Jandice menggeram rendah.
“Masih banyak cara lain untuk menyingkirkannya.”
Jandice menarik napas dalam-dalam. Wajahnya masih memerah karena amarah yang tertahan. Matanya kembali menatap ke arah meja utama. King Cristopher duduk di sana, tegak dan berwibawa, sementara di sampingnya duduk si gadis hutan. Di tempat yang seharusnya menjadi miliknya.
Alunan musik di aula perlahan berubah. Dentuman cepat yang meriah mereda, berganti irama lambat yang mengalir halus, mengundang langkah kaki untuk saling mendekat. Satu per satu para bangsawan pria bangkit dari kursi mereka, mengulurkan tangan kepada pasangan masing-masing, memenuhi lantai dansa dengan tarian.
Di antara gemerlap itu, Jandice melihat celah. Ia merapikan lipatan gaunnya dengan hati-hati, memastikan setiap detailnya sempurna, lalu melangkah mantap menuju kursi kehormatan.
“Your Majesty,” katanya dengan suara lembut, “akan menjadi kehormatan besar jika kau berkenan berdansa dengan adikmu ini.”
King Cristopher menoleh, bukan pada Jandice melainkan pada Lily. Namun Queen Liliane sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan. Tatapannya tetap tertuju pada piring di depannya, seolah kedatangan Jandice bukan gangguan. Apa pun yang dilakukan Cristopher dengan wanita lain tidak memiliki arti apa pun baginya. Selama tidak merugikan, ia tidak akan peduli. Lagi pula bukankah batas itu telah ditetapkan dengan jelas sejak awal?
King Cristopher bangkit dari kursinya, menerima uluran tangan Jandice dan melangkah ke lantai dansa. Sorotan mata tamu segera mengikuti mereka. Jandice menoleh sekilas ke arah Lily, menghadiahkan senyum penuh kemenangan.
Lily mengernyit tipis. “Senyumnya jelek,” batinnya datar. “Mengapa ia terus memamerkannya padaku?”
Ia mengalihkan pandangan dan mengangkat tangannya memanggil pelayan.
“Apakah acara ini masih lama?” tanyanya singkat.
“Acara inti telah selesai, Your Majesty.” jawab pelayan itu menunduk hormat. “Dansa hanya bagian dari hiburan.”
“Kalau begitu aku sudah bisa undur diri.”
Pelayan itu tampak ragu sejenak. “Sebaiknya Anda tetap menunggu, Your Majesty.”
Lily bangkit dari kursinya, keputusannya sudah bulat. “Katakan pada mereka aku tidak enak badan.”
Ia tidak berbohong, kepalanya terasa berat. Terlalu banyak suara, terlalu banyak tatapan, dan terlalu banyak aturan dalam satu malam.
“Antarkan aku ke kediamanku.” katanya tenang.
Pelayan itu segera menunduk lebih dalam. “Baik, Your Majesty.”
Tanpa menoleh ke belakang, Lily meninggalkan aula perjamuan dan suaminya yang tengah berdansa dengan wanita lain. Ia berjalan pergi dengan langkah ringan, tanpa luka di hati apalagi rasa cemburu.
Kepergian Lily tidak luput dari pandangan King Cristopher. Di tengah lantai dansa yang dipenuhi cahaya lilin dan gaun berkilau, matanya menangkap sosok itu menjauh tanpa sekali pun menoleh. Tidak ada raut kecewa, seolah pesta megah ini hanyalah persinggahan singkat yang sudah selesai baginya.
Irama musik masih mengalun ketika Jandice mendekatkan tubuhnya.
“Terima kasih sudah bersedia berdansa denganku, Your Majesty.” katanya lembut, jemarinya mengerat di bahu Cristopher, terlalu percaya diri akan kedekatan yang ia bayangkan sendiri.
Cristopher menghentikan langkahnya. Dengan satu gerakan singkat, ia melepaskan pegangan Jandice. Jarak tercipta dengan jelas, dan tak bisa disalahartikan. Tatapan Cristopher tetap lurus, tanpa sedikit pun emosi yang bisa dibaca.
“Your Majesty?” suara Jandice melemah, kebingungan menyusup di balik senyum yang belum sempat ia turunkan.
“Aku memiliki urusan yang lebih penting.” jawab Cristopher datar.
Tanpa basa-basi, ia berbalik dan melangkah meninggalkan lantai dansa, meninggalkan aula yang masih dipenuhi bangsawan yang saling bertukar pandang dengan heran.
Jandice berdiri kaku di tempatnya. Jari-jarinya perlahan mengepal di balik sarung tangan sutra. Wajahnya tetap terjaga di hadapan semua orang, namun matanya menyala oleh emosi yang gagal ia sembunyikan.
“Brengsek…” gumamnya pelan, meninggalkan lantai dansa dengan emosi yang menggebu-gebu.
____
Pelayan mengantarkan Lily menuju Royal Chambers, kediaman khusus untuk Ratu Kingdom Conqueror. Pintu-pintu tinggi berukir emas terbuka perlahan, menunjukkan ruangan yang terbentang begitu indah hingga nyaris terasa tidak nyata. Dinding-dindingnya dilapisi panel kayu tua berukir rumit, dihiasi lukisan ratu-ratu terdahulu yang menatap lurus dengan ekspresi abadi. Tirai sutra tebal berwarna gading menjuntai rapi di setiap jendela besar, bergerak pelan tertiup angin malam. Semuanya bersih dan terawat.
“Selamat datang, Your Majesty.” kata dua pengawal yang berjaga di depan pintu, menunduk dengan sikap sempurna.
Lily mengangguk anggun, lalu melangkah masuk tanpa menoleh lagi. Di balik ketenangannya, satu hal mengusik pikirannya… Eri. Ia menyusuri ruangan dengan langkah cepat, matanya mencari-cari singanya. Namun tak ada apa pun di sana.
Dada Lily mengencang. Ia berbalik cepat, berniat keluar dan mencari Cristopher tanpa menunda sedetik pun. Namun baru satu langkah, tubuhnya menabrak sesuatu yang keras dan kokoh.
“Ah… sakit.” gumamnya, refleks mundur setengah langkah.
Ia menengadah dengan kesal. “Apa yang kau…”
Kata-katanya terhenti di udara.
“Ah… kau…” napasnya tercekat sesaat saat menyadari siapa yang berdiri di hadapannya.
King Cristopher berdiri tepat di ambang pintu, menjulang dengan postur tegak, bayangan tubuhnya jatuh memanjang di lantai. Tatapannya turun perlahan ke arah Lily, dingin dan penuh kendali.
Cristopher mengangkat dagunya sedikit. “Pelayan!” panggilnya singkat.
Beberapa pelayan istana langsung masuk dan berbaris rapi di belakangnya, menunduk menunggu titah.
Cristopher mengalihkan pandangannya ke Lily. “Pilihlah siapa yang akan menjadi pelayan di kediamanmu.”
Lily menatap barisan wajah-wajah asing itu, lalu tanpa ragu ia menggeleng tegas.
“Laory sudah cukup bagiku,” katanya tenang.
Suasana seketika berubah. Beberapa pelayan saling melirik, penuh keterkejutan. Belum pernah mereka mendengar seorang ratu memilih hanya satu pelayan pribadi di kediamannya.
“Kau yakin?” tanya Cristopher, nada suaranya datar namun mengandung tekanan.
Lily mengangkat wajahnya, menatap langsung ke mata Cristopher tanpa gentar.
“Apa aku terlihat sedang bercanda?” balasnya tanpa senyuman. Yang ada hanya ketegasan yang jujur.
Pelayan-pelayan istana menahan napas. Mereka menyaksikan sesuatu yang mustahil terjadi. Seorang wanita berdiri sejajar dengan Raja Penakluk mereka, menatapnya tanpa tunduk, tanpa gentar, tanpa kehilangan martabat.
Semangattt terus mbak penulis sehat selalu 💪💪🙏🙏🌹🌹
Terimakasih up nya hari ini 🙏🙏
Aq kasih kopi biar tambah semangat mengerjai raja yang ingin mengerjaimu Lili💪