NovelToon NovelToon
Sebel Tapi Demen

Sebel Tapi Demen

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Kisah cinta masa kecil / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:988
Nilai: 5
Nama Author: Azumi Senja

Naura, gadis enam belas tahun yang hidup bersama ayahnya setelah kehilangan sang ibu, menjalani hari-hari yang tak pernah benar-benar sepi berkat Hamka. Jarak rumah mereka hanya lima langkah, namun pertengkaran mereka seolah tak pernah berjarak.
"Tiap ketemu sebelllll..tapi nggak ketemu.. kangen " ~ Naura~

" Aku suka ribut sama kamu ..aku suka dengan berisiknya kamu..karena kalo kamu diam...aku rindu." ~ Hamka ~


Akankah kebisingan di antara mereka berubah menjadi pengakuan rasa?
Sebuah kisah cinta sederhana yang lahir dari keusilan dan kedekatan yang tak terelakkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azumi Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Slow Born

Sejak hari itu, Naura selalu menghindar, seolah sengaja memberi jarak.

Ia dan Hamka kini seperti dua garis yang dibuat sejajar..dekat, namun tak lagi bersinggungan.

Hamka tak lagi berdiri di depan gerbang rumah.

Tak ada pesan pagi.

Tak ada candaan kecil yang dulu selalu menyelip di sela hari.

Karena jujur saja, ada kecewa yang tak bisa ia sangkal.

Ia sudah menarik diri dari Helena. Sudah belajar menjaga jarak dari perempuan lain,demi satu nama yang terus ia simpan di kepala.

Sementara Naura…

justru masih terlihat dekat dengan laki-laki lain.

Hamka melihatnya.

Cara Naura dibonceng.

Cara mereka tertawa.

Cara jarak itu tampak begitu wajar seolah tak ada sisa apa pun yang perlu dijaga.

Dadanya mengencang setiap kali melihatnya.

Apa maunya perempuan itu?

Matanya jelas cemburu saat menatapnya.

Nada suaranya dingin setiap kali bicara.

Tapi kenapa langkahnya malah mendekat ke orang lain?

Hamka mengepalkan tangan di saku celananya.

Ia ingin bertanya. Ingin menuntut.

Tapi tak satu pun terasa pantas.

Dan ia sendiri yang memilih diam.

Meskipun menjaga jarak bukan berarti orang yang ditinggalkan akan menunggu.

Rindu itu masih ada.

Cemburu itu nyata.

Namun Hamka hanya bisa menelan semuanya sendiri..

menunggu, entah sampai kapan,

apakah Naura akan menoleh kembali…

atau benar-benar berjalan menjauh tanpa pernah melihat ke belakang.

Namun jarak ternyata bukan berarti hilang.

Hamka masih hafal jam pulang Naura. Masih refleks menoleh setiap mendengar gerbang tetangganya terbuka . Masih menyimpan nomor Naura di posisi paling atas tanpa pernah berani mengetik apa pun.

Setiap malam, jarinya sempat mengetik satu kata: Naw.

Lalu dihapus.

Diulang.

Dihapus lagi.

Karena kali ini, ia ingin Naura bernapas tanpa bayangannya.

Sementara itu, Naura menjalani hari-harinya seperti biasa,setidaknya di luar. Ia tertawa di waktu yang tepat, belajar, bercanda dengan teman-temannya. Tak ada yang tahu, tiap kali ponselnya bergetar, jantungnya masih berharap satu nama yang sama.

Hamka.

Tapi layar selalu sunyi.

Naura mulai terbiasa.

Atau berpura-pura terbiasa.

Ia masih melewati rumah Babe Ramli. Masih menunduk setiap melihat halaman itu. Masih menyimpan pertanyaan yang tak pernah ia ajukan.

Apa semua itu benar-benar salah paham?

Pertanyaan itu datang saat malam terlalu sepi.

Di waktu yang berbeda, Hamka memandang langit yang sama, bertanya hal serupa:

Kalau waktu bisa diulang… apa gue bakal lebih tegas dari awal?

Mereka sama-sama rindu.

Tapi kali ini, rindu itu dipelihara diam-diam.

Tak ada pesan.

Tak ada pertemuan.

Hanya jarak yang perlahan menguji:

apakah perasaan itu akan pudar…

atau justru menguat karena tak lagi dipaksakan.

Dan di antara jeda yang panjang itu, satu hal menjadi jelas..

beberapa cinta tak mati saat ditinggal.

Ia hanya menunggu waktu yang lebih dewasa untuk kembali ditemukan.

***

Naura sudah lama ingin bicara tentang perasaanya pada Haikal .Bukan pernyataan cinta,namun ia merasa bersalah jika laki-laki itu selalu ada membantunya .Ia tak mau zona nyamannya terulang lagi.

Naura menunduk, jemarinya saling bertaut gelisah. Ia menarik napas dalam sebelum akhirnya bicara, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meski dadanya berdesir tak nyaman.

“Kal… makasih ya selama ini,” ucapnya pelan. “Makasih udah mau ada, udah mau nemenin gue tanpa nuntut apa-apa.”

Haikal menatapnya, menunggu.

Naura mengangkat wajahnya, matanya jujur tanpa basa-basi.

“Gue minta maaf… kalau selama ini sikap gue bikin lo berharap lebih. Gue cuma bisa nganggep lo sebagai teman.”

Ada rasa bersalah yang menekan dadanya. Bukan karena Haikal memintanya membalas perasaan, tapi karena ia tahu..kehadirannya mungkin tanpa sadar memberi harapan.

“Gue nggak mau bohong,” lanjutnya Haikal terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil,bukan senyum yang dipaksakan, melainkan senyum orang yang sudah lebih dulu menyiapkan hatinya.

“Gue ngerti, Naw,” katanya ringan, nyaris tanpa beban. “Dari awal juga gue tahu… hati lo sudah terisi penuh ."

Naura menatapnya, sedikit terkejut.

“Jujur aja,” lanjut Haikal sambil mengangkat bahu, “jadi teman lo aja gue udah senang. Setidaknya gue nggak kehilangan lo.”

Ada kelapangan di cara Haikal bicara, seolah status tak lagi penting selama kejujuran dijaga. Ia tak marah, tak menuntut, tak memaksa.

Dan untuk pertama kalinya sejak lama,. “Gue nggak mau gunain kebaikan lo buat nutupin rasa kosong gue sendiri.”

Naura tersenyum tipis, getir.

“Lo pantas dapet seseorang yang bener-bener milih lo… bukan yang hatinya masih nyangkut di tempat lain.”

Ia tahu, meminta maaf tak selalu menghapus luka.

Tapi kejujuran..meski menyakitkan adalah satu-satunya hal yang masih bisa ia berikan.

Haikal terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil,bukan senyum yang dipaksakan, melainkan senyum orang yang sudah lebih dulu menyiapkan hatinya.

“Gue ngerti, Naw,” katanya ringan, nyaris tanpa beban. “Dari awal juga gue tahu… hati lo sudah terisi penuh sejak lama."

Naura menatapnya, sedikit terkejut.

“Jujur aja,” lanjut Haikal sambil mengangkat bahu, “jadi teman lo aja gue udah senang. Setidaknya gue nggak kehilangan lo.”

Ada kelapangan di cara Haikal bicara, seolah status tak lagi penting selama kejujuran dijaga. Ia tak marah, tak menuntut, tak memaksa.

1
Lani Triani
Lanjuut thoorrr😍
Azumi Senja
Ceritanya ringan ..manis ..bikin salting guling -guling... seruuu..rekomend deh pokoknya ❤️
Sybilla Naura
nah loo...😄
Sybilla Naura
jadi ikutan sediihh
Sybilla Naura
ngakakk 🤣🤣
Sybilla Naura
Baru baca baca aja udah seruuuu...
Sybilla Naura
Seruuuu 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!